6 Tips Berkelana ke Hutan Gunung

Ilustrasi hutan gunung

Berkelana ke hutan gunung bisa melepas penat. Khusus bagi para pecinta alam, pergi ke hutan gunung adalah sebuah keharusan. Di hutan gunung kedamaian sering ditemui. Rasa sejuk, tenang, dan indah menyapa para pendaki. Hutan gunung adalah anugerah sang pencipta. Tapi tanpa rasa tanggung jawab, itu bisa menjadi musibah.

Ya, berkelana ke hutan gunung tidaklah mudah. Butuh kekuatan fisik dan mental yang kuat. Hidup di hutan gunung itu tidak gampang. Jauh dari keramaian, sepi, dan jalanan yang terjal.

Hutan Gunung Medan Asyik Untuk Berkelana

Hutan adalah salah satu tempat yang banyak dijelajahi oleh para pecinta alam. Nuansa hutan yang masih alami dan jauh dari polusi akan memberikan kesegaran bagi para penjelajahnya. Berkelana ke alam bebas memang sangat menyenangkan, apalagi petualangan ini dilakukan bersama teman atau rekan kerja di kantor. Pengalaman bersama di alam yang masih natural pasti semakin menambah erat ikatan pertemanan atau persahabatan Anda dengan rekan kerja atau teman baik.

Untuk berkelana di hutan gunung, sebuah tim penjelajah membutuhkan seseorang yang telah berpengalaman. Karena alam bebas menyimpan banyak kesulitan hingga bahaya yang serius. Persiapan dan persediaan bahan makanan juga harus diperhatikan sebelum keberangkatan.

Di Indonesia banyak hutan gunung yang dapat dijelajahi karena kealamiannya yang masih terjaga dengan baik. Bila Anda berada di Jawa Timur cobalah untuk menjelajah Gunung Bromo. Gunung yang didiami suku Tengger ini akan menyajikan banyak panorama alam yang sangat indah. Berkelana di dalam hutan, mendaki bukit dan gunung, hingga menyusuri lautan pasir untuk menuju kawah Bromo yang masih mengepul. Semua petualangan tersebut dapat diraih langsung dengan melakukan perjalanan ke Gunung Bromo, terlebih lagi dengan berjalan kaki bersama anggota tim lainnya.

Tips Berkelana Ke Hutan Gunung

Berbagai kesulitan dan rintangan pasti akan ditemui saat berkelana ke hutan dan gunung. Nah, bagi Anda yang ingin berkelana ke hutan gunung berikut ini tips untuk mengatasi masalah tersebut.

1. Peta

Pastikan diri memiliki peta. Peta dibutuhkan untuk menjadi guidance (petunjuk). Peta akan sangat krusial ketika Anda tersesat dan hilang. Peta juga bisa menunjukkan posisi di mana Anda berada dan akan ke mana.

Sebaiknya setiap anggota tim membawa peta sendiri-sendiri. Ini bermanfaat untuk media belajar bagi yang belum berpengalaman, apalagi bila ada anggota tim yang terpisah dari rombongan. Maka saat itu dia sangat membutuhkan peta milik pribadi. Semakin detail peta yang dipunya maka itu lebih baik. Upayakan membawa atau membeli peta yang terbaru dari hutan yang akan dijelajahi, setiap tahun hutan dan gunung kemungkinan akan berubah.

Sebelum berkelana upayakan untuk mengadakan briefing bersama seluruh anggota tim, jadikan momen ini untuk mendapatkan informasi sejelas-jelasnya. Mulai dari rute yang akan dijalani, rintangan-rintangan yang ada, pos-pos tempat pemberhentian, dan lain sebagainya. Angkat seseorang menjadi seorang pemimpin yang tahu persis kondisi hutan dan gunung, serta mengetahui atau hapal dengan rute yang ada di dalam peta.

2. Kompas

Wah, peralatan yang satu ini wajib. Tanpa peta dan kompas, pendaki gunung ibarat si buta. Kompas berguna sebagai penunjuk arah barat, timur, selatan, utara. Petualang tentunya harus mahir menggunakan peralatan kompas. Ini mudah. Anda bisa minta diajari oleh para profesional di bidangnya.

Selain membawa kompas hasil buatan pabrik, cari tahu dan pahami tentang bagaimana cara mendapatkan arah mata angin dengan memperhatikan alam sekitar. Umumnya petualang yang profesional dapat membaca arah tanpa menggunakan kompas. Sebab mereka sudah mengetahui membaca arah dengan mengamati peredaran matahari, ataupun bintang pada malam harinya. Mintalah kepada yang telah menguasai teknik ini agar diajari.

Namun kompas tetaplah peralatan yang wajib dimiliki oleh seseorang karena bisa saja kondisi alam tiba-tiba memburuk seperti hujan deras, awan yang tebal, atau turunnya kabut. Semua fenomena sebelumnya tadi dapat mengakibatkan penjelajah membutuhkan kompas karena matahari dan bintang tidak dapat dilihat.

3. Medan perjalanan

Sebaiknya Anda telah hafal medan jalan yang akan ditempuh. Semahir apa pun Anda menggunakan peta dan kompas, tanpa penguasaan medan jalan akan sangat riskan. Jika buta sama sekali dengan jalan, sebaiknya minta ditemani oleh orang yang telah naik ke hutan gunung tersebut.

Jangan remehkan medan di hutan ataupun gunung, karena kedua alam tersebut dapat berubah menjadi tempat yang berbahaya bila malam menjelang. Bayangkan saat malam menjelang tetapi kita berada di pos yang salah, hewan buas atau kabut yang menyesakkan dapat mengganggu keselamatan diri. Maka disarankan bagi yang belum melakukan pendakian ke sebuah gunung untuk mengajak orang lain sebagai pemandu.

4. Barang

Berkelana ke hutan gunung bukanlah piknik. Jadi, bawalah barang secukupnya. Barang yang harus ada adalah jaket, sleeping bag, mi instan, senter, dan barang penting lainnya. Barang yang dibawa harus disesuaikan dengan medan jalan yang ditempuh. Jika Anda memiliki riwayat sakit, bawalah obat-obatan yang dibutuhkan.

Disamping barang-barang di atas ada beberapa perlengkapan yang harus dibawa oleh seseorang dalam pendakian gunung. Misalnya seperti kompor instan, korek api dan penggantinya, sarung tangan, masker penutup hidung dan mulut, penutup kepala dan lain sebagainya. Semua perlengkapan tersebut dibawa tergantung dari kemampuan diri dan medan yang akan ditaklukkan.

Sarung tangan dan penutup kepala sangat berguna sewaktu kita mengalami cuaca yang sangat dingin di gunung. Kedinginan dapat menjadi faktor yang menyusahkan bagi pendaki sendiri dan tim lainnya bila dia membutuhkan perawatan khusus.

5. Persiapan fisik

Sebelum Anda berangkat, siapkan kondisi fisik Anda dengan latihan seperti lari, sit up, dan latihan kebugaran lainnya. Fisik harus mumpuni sebelum hari H keberangkatan. Berkelana di hutang gunung butuh fisik yang kuat. Jalan terjal dan medan yang sulit mungkin akan merintangi perjalanan.

Apabila tubuh dirasakan sakit atau meriang sebaiknya mengundurkan jadwal pendakian, karena ini dapat membahayakan diri nantinya. Medan yang terjal serta membutuhkan tenaga ekstra tidak mungkin untuk dilewati oleh orang yang sedang sakit. Rawatlah diri sampai benar-benar sembuh, setelah itu terserah Anda untuk mendaki bersama tim kelana yang dipunyai.

6. Persiapan mental

Ada pepatah yang mengatakan bahwa ketika naik gunung, watak asli manusia akan terlihat. Ya, orang egois, toleran, arogan, akan muncul di sana. Jati diri sebenarnya akan terungkap. Anda harus bisa kuat ketika melihat teman kelelahan minta istirahat. Padahal, Anda masih segar bugar. Atau, ketika teman menggigil kedinginan. Apa mau memberinya mantel? Itulah sekelumit contoh kasus yang akan dihadapi. Persiapan mental yang cukup akan menjadikan diri siap menghadapi hal tersebut.

Persiapkan diri dengan sebaik mungkin jika saat ini punya rencana untuk berpetualang mendaki hutan gunung. Jangan berharap penuh pada teman atau pemandu yang ahli. Karena memang penjelajahan dan pendakian akan menghadirkan momen-monen sulit seperti teman atau pemandu yang jatuh sakit, saat inilah Anda yang menjadi pemeran utama dalam rombongan. Jaga kesehatan selalu dan selamat mendaki.

Speak Your Mind

*