Agama, Kepercayaan, dan Tuhan

Ilustrasi agama

Agama dalam Darah Manusia

Agama bagi umat manusia adalah isu abadi yang nilainya selalu tinggi walau bagi orang atheis sekalipun. Bukankah sejatinya, seseorang menjadi atheis karena bermasalah dengan agama? Lantas, apa itu agama?

Secara etimologis setiap bangsa memiliki bahasanya sendiri untuk mengungkap makna agama. Misalkan religion yang dari bahasa latin dapat diartikan ‘mengacu kepada Tuhan’. Pengertian serupa tampak pada bahasa Arab ‘Addin’ yang artinya tunduk pada Tuhan.

Secara terminologis, agama bisa disederhanakan sebagai tindakan pengabdian dari seorang manusia kepada Tuhannya, dalam sebentuk konstelasi atau tatanan peribadatan bersama dengan manusia lainnya.

Karena dilakukan bersama-sama, para sosiolog memasukan agama dalam kategori budaya, lebih sempit lagi, artefak budaya.  Yakni kreasi manusia untuk menghargai suatu kekuatan yang ‘belum’ atau tidak sepenuhnya mereka kuasai. Sehingga begitu jelas bahwa setiap manusia lahir ke bumi, kerumitan yang akan mereka hadapi adalah agama, dan bukan Tuhan.

Agama, dan Bukan Tuhan

Pada masa manusia prasejarah, pada relik yang dipelajari dari temuan arkeologis orang neadherthal, ataupun pada wujud peradaban sungai, dari Nil, Indus, Eufrat dan Tigris, Amazon, atau sungai Danube. Manusia selalu memperhatikan wujud kosmos. Yaitu sisi metafisik dari benda-benda yang tidak dapat digambarkan dalam realitas hidup mereka.

Perwujudan kosmos itu lambat laun ‘diartefakkan’ dibawa ke alam realitas dalam bentuk ritus dan mitologi. Yang paling awal adalah kematian. Upacara kematian diyakini merupakan upacara keagamaan yang paling tua. Karena rasa kehilangan manusia lebih menyakitkan dari segalanya.

Ritus kematian, seperti yang tampak pada keyakinan Mesir kuno 3000 SM, tubuh manusia yang rapuh dipertahankan/ diawetkan, karena tidak rela di ‘dunia lain’ tubuh manusia yang sudah tercabut rohnya itu, menjadi hantu tanpa tubuh.

Sementara kehadiran Tuhan sendiri, tidak begitu penting dibanding ritusnya. Sehingga ada anekdot bahwa dalam keyakinan agama manusia di awal peradaban, Tuhan itu ya bagaimana keinginan si manusianya.

Pada kepercayaan animisme dan dinamisme, Tuhan hadir dalam personifikasi benda dan tumbuhan. Berbeda dalam kepercayaan politheisme, Tuhan telah berwujud dalam kekuatan yang tidak bisa dikuasai manusia. Seperti Tuhan yang menguasai siang dan malam, Tuhan dalam wujud matahari, Tuhan dalam wujud kematian.

Lantas, semuanya disempurnakan oleh kepercayaannya anak-anak Ibrahim, yang menekankan bahwa Tuhan itu satu wujudnya. Dia yang Maha Segala. Kepercayaan Tuhan yang satu, merupakan kepercayaan yang mendominasi di dunia pada saat ini.

Agama Abad 21

Isu agama pada abad-21 merupakan isu kebangkitan dan keterpurukan. Sebagaimana yang diramalkan dalam buku Francis Fukuyama: “The End of History and the Last Man”. Manusia masa depan adalah manusia yang bergantung pada teknologi sebagai pengganti agama. Walau ada abad kebangkitan agama dan fundamentalisme agama, namun itu merupakan riak-riak kecil yang mewarnai pergulatan moral manusia.

Bagi Fukuyama, agama memang masih diyakini sebagai tools atau setidaknya game-nya para manusia yang sudah lepas akar dari agama yang terdahulu. Manusia modern akan memaknai agama sebagai perabot siap pakai. Dasar itu dia lihat dari kejadian manusia modern Tokyo. Manusia paling maju dan hi-tech dari umat manusia lain. Pada manusia hi-tech semuanya adalah selebrasi, termasuk agama manusia.

Pendapat Fukuyama apabila diberikan kepada kejadian yang menimpa gereja katolik dan pengaruhnya yang mulai pudar, tentu bisa dipahami. Namun, kebangkitan generasi shamanisme, generasi pencinta mahluk luar angkasa yang menciptakan agama baru ‘scientology’ yang sejalan dengan hi-tech Fukuyama, menegaskan bahwa walaupun agama kuno hilang, manusia akan tetap butuh beragama.

Agama dalam Islam

Agama dalam Islam mengandung arti ketauhidan, keharusan untuk menyembah Alloh SWT semata sebagai satu-satunya Tuhan yang benar dan layak untuk disembah. Islam datang untuk menunjukkan manusia akan kebenaran ini dan membawa manusia pada bentuk penyembahan yang benar yaitu hanya kepda Alloh.

Jika di masa terdahulu, kebanyakan manusia menyembah dewa-dewa, patung, bahkan benda-benda tertentu, dengan datangnya Islam maka Islam menghapuskan penyembahan yang salah ini dan diarahkan kepada penyembahan yang benar yaitu kepada Alloh azza wa jala.

Alloh SWT dalam Islam adalah sebagai Al-Khaliq atau pencipta. Allohlah yang telah menciptakan segala apa yang ada di bumi dan ada di langit. Alloh yang telah membuat segalanya ada dari mulanya tidak ada.

Alloh juga sebagai Al-mudabbir atau pengatur. Yaitu Alloh melengkapi segala manusia dengan segala aturannya untuk mengatur kehidupan makhluk hidup di dunia. Semua makhluk hidup harus tunduk dan menjalankan segala aturan ini.

Di dunia ini, Alloh memilih satu laki-laki dari golongan manusia sebagai perantara antara diri-Nya dengan seluruh manusia yang ada di bumi. Laki-laki inilah yang disebut dengan utusan-Nya di bumi atau yang disebut dengan Rasul.

Sebagai perantara antara Alloh dan manusia, Rasul dapat berkomunikasi langsung dengan Alloh untuk mendapatkan segala peraturan yang nantinya akan ia sampaikan kepada seluruh manusia di dunia. Rasul dalam Islam adalah nabi Muhammad saw.

Nabi muhammad telah diangkat menjadi rasul sejak beliau beliau berumur 40 tahun. Pengangkatan ini ditandai dengan diberinya beliau wahyu yang pertama di Gua Hira’. Dengan pengangkatan ini maka resmilah tugas Rasul sebagai penghubung antara Alloh dan manusia. Nantinya segala apa yang telah diberikan oleh Alloh kepada Nbi Muhammad akan disampaikan kepada seluruh umat manusia di dunia.

Alloh memilih adanya seorang laki-laki sebagai perantara atau penghubung-Nya dengan seluruh manusia di dunia untuk mentransfer peraturan yang telah ia tetapkan bagi manusia untuk diterapkan dalam kehidupan mereka di dunia.

Rangkuman peraturan ini termaktub dalam sebuah kitab suci. Kita mengenal ada empat kitab suci dalam Islam yang telah diturunkan Alloh kepada para rasul-Nya, ada kitab Zabur untuk nabi Dawud, Taurat untuk nabi Musa, Injil untuk nabi Isa dan Al-quran untuk nabi Muhammad.

Keseluruhan kitab suci tersebut mengandung peraturan-peraturan yang telah ditetapkan alloh untuk disampaikan oleh rasul-rasul-nya tersebut kepada seluruh manusia Yang ada di bumi ini.

Peraturan yang ada dalam kitab suci tersebut mengarahkan manusia untuk menjalani kehidupan di dunia dengan benar. Benar dalam artian sesuai dengan apa yang diatur oleh Alloh. Peraturan tersebut mengandung perintah dan larangan. Perintah yang harus dijalankan dan larangan yang tak boleh dilakukan atau harus ditinggalkan.

Dengan ini manusia percaya bahwa ia berasal dari Alloh. Allohlah yang maha kuat yang menciptakan segalanya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Allohlah yang memiliki kekuatan yang maha dahsyat yang mampu menciptakan gunung dan pegunungan yang besar, lautan yang luas dan menenggelamkan, langit yang juga luas dan tanpa batas, serta segala makhluk baik itu makhluk hidup atau pun makhluk yang mati.

Setelah manusia diciptakan, Alloh menaruh kita dalam sebuah kehidupan dunia di bumi ini. Untuk menjaga kita agar kita dapat selalu menjalani hidup dengan benar maka Alloh menyertai kehidupan kita dengan seperangkat aturan yang mengatur kehidupan kita. Untuk dapat menjalani hidup dengan benar maka kita harus selalu mengikuti petunjuk yang ada dalam aturan itu.

Dalam menjalani kehidupannya di dunia, terdapat batas akhir untuk dapat menjalaninya. Batas akhir inilah yang disebut dengan kematian. Kematian adalah tercabutnya ruh dalam diri manusia. Jasadnya menjadi tak bernyawa dan siap untuk dikembalikan ke asalnya yaitu tanah. Namun kematian ini bukanlah akhir dari kehidupan manusia. Ya memang kematian ini adalah akhir dari kehidupan manusia di dunia namun emnajdi awal untuk kehidupan lain yang lebih kekal dan abadi.

Sedangkan ruh manusia melayang jauh ke tempat yang jauh pula bernama alam akhirat. Disana ia akan dimintai pertanggung jawaban akan segala perbuatanny semasa ia hidup di dunia.

Pertanggung jawaban ini berkaitan dengan ketundukannya pada segala peraturan yang menyertainya di dunia. Apakah ia tunduk dan patuh pada aturan-aturan itu? Atau justru ia membangkang dari aturan itu dengan tak mematuhi perintah-perintah yang ada di dalamnya dan justru melakukan apa yang dilarang.

Pertanggung jawaban ini akan membawa manusia kepada kehidupan sejati. Kehidupan sejati ini memberikan dua pilihan tempat bagi manusia. Manusia yang semasa hidupnya adalah manusia yang taat dan patuh pada aturan yang telah diberikan kepadanya maka akan ditempatkan di tempat yang penuh dengan kenikmatan. Sedangkan manusia yang semasa hidupnya selalu ingkar dan tak mau patuh pada aturan tersebut maka akan ditempatkan di tempat yang penuh dengan siksaan.

Itulah makna agama dalam Islam.

Speak Your Mind

*