Analisis Wacana Terhadap Teks Laporan Jurnalistik

Menjadi seorang jurnalis gampang-gampang sulit. Selain harus mencari berita yang sedang hangat dibicarakan, atau mendapatkan berbagai peristiwa yang menarik perhatian masyarakat, mereka juga harus memberikan laporan jurnalistik untuk membuktikan hasil pekerjaan mereka dalam mencari berbagai berita.

Oleh sebab itu, dalam pekerjaan yang berhubungan dengan jurnalistik, dibutuhkan kepiawaian dan kecepatan dalam bergerak mencari berbagai informasi teraktual dan terpanas yang terjadi saat ini.

Informasi yang disajikan oleh para pelaku jurnalistik tersebut tentu saja harus merupakan ide atau gagasan pokok yang bisa diterima oleh masyarakat umum sehingga masyarakat merasa bahwa berita yang disampaikan memang layak untuk didengar, disimak, bahkan diperbincangkan kembali ke dalam sebuah wacana intelektual.

Dengan demikian, seorang jurnalis harus pandai-pandai memilih berita serta membuat berita tersebut memiliki daya tarik yang besar bagi masyarakat sehingga mereka mau membaca atau mendengarkan berita tersebut.

Ragam Informasi Jurnalistik

Dalam kegiatan jurnalistik, tidak ada pembatasan khusus yang membuat para jurnalis hanya bisa mengakses satu berita atau informasi saja. Mereka bahkan bisa mengeksplorasi berbagai hal yang menurut mereka bisa menjadi informasi yang berguna bagi kepentingan masyarakat jurnal.

Yang dimaksud laporan jurnalistik sendiri sebetulnya adalah beragam informasi yang telah ditangkap, dirangkum, dan dijadikan rancangan tepat bagi para pembaca atau pendengar berita agar struktur karya tulis yang disajikan bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Oleh karena itu, kegiatan jurnalistik berkaitan dengan pencarian informasi, cerita, peristiwa, dan laporan khas mengenai ketiga hal tersebut. Misalnya saja, seorang jurnalis hendak menuliskan sebuah berita mengenai wisata kuliner. Maka hal-hal yang perlu diketahui oleh jurnalis tersebut adalah berita kuliner seperti apa yang tepat untuk disajikan kepada masyarakat.

Sebagai contoh, jika jurnalis wisata kuliner tersebut sedang membuat berita pada bulan puasa, maka ada baiknya jika berita kuliner yang dicari dan didapatkan berupa aneka resep makanan buka puasa, menu sahur, atau tempat-tempat yang representatif untuk bisa menjadikan buka puasa lebih nikmat lagi.

Selain kuliner, ada juga informasi khusus mengenai kriminal yang biasanya disajikan oleh jurnalis atau wartawan kriminal. Dalam kasus informasi seperti ini, seorang jurnalis harus pandai-pandai mendapatkan berita kriminal.

Wartawan kriminal harus peka terhadap segala kejadian yang berlangsung cepat di lingkungan sekitar kita. Oleh karena itulah biasanya para jurnalis membekali diri mereka dengan beragam alat-alat komunikasi seperti kamera, alat perekam, catatan kecil, dan lain sebagainya untuk memudahkan mereka dalam mencari data dan membuat laporan jurnalistik.

Berbagai Contoh Laporan Jurnalistik?

Dalam hal memberikan  laporan jurnalistik, semua hasil karya yang dimuat dalam media apapun seolah tampak sama. Benarkah? Misalkan pemberitaan mengenai kedatangan presiden AS Barack Obama. Tidak ada satu jurnalis pun yang membuat berita yang sama. Semua memiliki kecenderungan untuk berbeda dari segi sudut pandang keredaksian.

Tentu saja format news disusun baku, 5 W + 1 H. Tapi, jurnalis sebenarnya menambahkan satu, aksentuasi. Keajaiban pelaporan, apabila aksentuasi berita berbeda, frame dan pengemasan, serta ideologi. Berikut adalah beberapa contoh laporan jurnalistik yang membedakan antara jurnalis yang satu dengan jurnalis yang lain.

Bagi Republika, kedatangan Obama adalah kedatangan penuh ‘kecurigaan’ dan pesanan ‘anti-Islam’. Bagi Kompas seperti halnya Koran Tempo, kedatangan Obama adalah sedikit mengadu akan nasib kerukunan beragama di Indonesia. Bagi Media Indonesia, Obama datang dengan dompet kosong dan berharap orang Indonesia mengisinya [baca mengusir produk Cina].

Hampir tidak ada media yang benar-benar ‘serius’ memandangnya dari sudut pandang Indonesia di mata dunia. Indonesia sebagai identitas yang satu. Di mana seluruh keresahan yang dikeluhkan masing-masing media massa nasional tertampung di dalamnya.

Laporan Jurnalistik yang baik, tetap mengacu kepada rakyat banyak [bukan demokrasi] dan kemanusiaan yang lebih besar dari sekadar ego kelompok. Contoh besar adalah kasus pemalsuan data tambang Busang di Kalimantan oleh perusahaan Bre-X. Semua wartawan meliputnya. Tapi hanya satu orang yang benar-benar meliput.

Bondan Winarno seorang ronin, jurnalis tanpa tuan melakukan pelaporan mucracking¸ membedah hutan Kalimantan, memastikan isu kematian seorang pejabat Bre-X yang kabarnya mati bunuh diri lompat dari helikopter ke belantara rimba kalimantan. Satu laporan ‘kecil’ dibukukan. Dan gegarnya sampai sekarang masih terasa, bahwa dunia koorporasi asing yang numpang hidup di Indonesia, punya potensi untuk jadi busuk dan membusuki para pribumi.

Laporan jurnalistik yang baik, berasal dari integritas wartawan, yang memahami bagaimana jurnalisme diperlakukan. Bill Kovach dan Tom Rosentiel wartawan Amerika Serikat, mengumpulkannya dalam sepuluh elemen jurnalisme. Mendukung kebenaran, verifikasi, loyalitas pada publik, dan seterusnya.

Integritas wartawan itu bagaikan batu di tangan Daud. Tidak ada pilihan lain, selain menjadi keras dan membunuh Jalut. Daud adalah rakyat kecil, suara kebenaran, sementara Jalut adalah jiwa lalim. Dan tugas wartawan menjadi keras terhadap jiwa lalim, menjadi batu yang siap dilemparkan oleh publik.

Laporan jurnalistik bisa dibangun dalam kerangka ideal penulisnya. Yang saya maksudkan di sini adalah imajinasi. Sebagaimana halnya Al-Aronowitz, seorang pengabar dunia musik. Atau yang penulis sukai, Truman Capote. Seorang bangsawannya para jurnalis, bila jurnalistik itu mengenal hirarki dan feodalistik. Atau ‘the King’ Hunter S. Thompson, yang melahirkan pola jurnalistik berdasarkan sudut pandang orang pertama, si jurnalis sendiri.

Imajinasi menimbulkan banyak kepekaan yang tadinya tidak muncul dalam peliputan harian seorang jurnalis, yang datar dan mungkin membosankan bagi orang luar. Padahal dari sudut pandang jurnalis sendiri, setiap melaporkan sesuatu dengan bekal imajinasi adalah pengalaman untuk menumpuk adrenalin dan meledakkanya di suatu tempat melalui wawancara tajam, pelaporan yang bernas, dan editor yang tiba-tiba matanya jadi buta,  lalu meloloskan tulisan itu apa adanya.

Benar sekali. Dalam dunia pelaporan atau peliputan, dengan gaya straight, feature, essay, atau mucracking, semua benda yang bergerak dan yang tidak bergerak adalah tantangan. Termasuk kepada mereka yang tidak doyan baca hasil liputan.

Berbagai Dimensi Analisis Tekstual Jurnalistik

Selain mendapatkan informasi mengenai berbagai hal, masyarakat juga bisa mendapatkan dimensi lain yang dapat membuktikan ideologi tertentu dari laporan jurnalistik. Misalnya saja, apakah berita tersebut bersifat netral atau pro terhadap salah satu pihak yang termuat dalam berita.

Dimensi yang dimaksud adalah bagaimana sebuah laporan jurnalistik memosisikan ‘keakuannya’ dalam proses penyebaran informasi di berbagai media tersebut sehingga pembaca diajak untuk masuk ke dalam pembacaan.

Berikut adalah tiga dimensi yang bisa dilihat dan dianalisis (menurut Nourman) dari berbagai jenis laporan jurnalistik yang biasa kita dapatkan dari media, baik media cetak maupun media elektronik.

1.    Dimensi Tekstual (Level Mikro)
Pada dimensi ini, analisis tiap elemen dititikberatkan pada tingkat kohesi dan koherensi gramatikal dan leksikal, serta pemakaian tata bahasa yang mendukung kekoherensian wacana. Partikel yang bisa menjadi tanda atau sinyal ideologi tersebut bisa berupa pronomina yang digunakan oleh pihak dalam berita, serta redaksi yang disampaikan oleh jurnalis dalam wacana tersebut.

2.    Dimensi Kewacanaan (Level Meso)
Dalam dimensi ini, analisis dititikberatkan tidak hanya pada kekohesian dan kekoherensian wacana, tapi juga bagaimana produksi teks berlangsung hingga penyebaran berita tersebut disampaikan pada khalayak ramai sebagai sebuah informasi penting yang wajib diketahui oleh masyarakat umum. Dalam hal ini, laporan jurnalistik berfungsi sebagai pemberi pengaruh yang besar terhadap penyebaran teks kepada masyarakat pembaca agar mau membaca wacana tersebut.

3.    Dimensi Praktis Sosial (Level Makro)
Dalam hal ini, laporan jurnalistik dapat dianalisis melalui situasi sosial yang berlaku pada saat terjadinya penyebaran teks dalam media. Dengan adanya situasi tersebut, ideologi pihak jurnalis dapat dilihat dari peristiwa yang dibewarakan lewat berita jurnalistik.

Speak Your Mind

*