Artikel Amdal – Definisi dan Penerapannya

Banyak sudah kita temukan artikel Amdal di berbagai media. Pembahasan tentang penerapan Amdal di suatu daerah bermasalah atau suatu pembangunan yang tersendat karena belum mengantongi izin Amdal atau pembangunan yang malah tidak memiliki Amdal sama sekali sehingga merusak lingkungan. Apakah definisi Amdal sudah benar-benar dipahami? Jika belum, bagaimana mengharapkan penerapannya sebaik yang tertera di atas kertas?

Artikel AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)

Sungguh luar biasa jika Amdal ini benar-benar dilaksanakan oleh sebuah instansi atau badan usaha yang ada di Indonesia. Kenapa? Karena jelas sekali bahwa materi Amdal menyangkut sebuah proses. Proses analisis, proses rencana pengelolaan, dan rencana pemantauan pelaksanaan.

Ketiga proses tersebut sudah ada landasan atau petunjuk teknis yang harus diikuti. Ini berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

Dari dasar tersebut, sekarang kita lihat apa yang terjadi di industri Indonesia, mulai penebangan hutan yang sangat liar, penambangan yang merusak ekosistem, industri tektil yang membuang limbah sembarangan sehingga menimbulkan banyak penyakit kulit. Belum lagi, industri skala rumah yang tidak mengantongi izin apapun serta masih banyak pelanggaran Amdal lainnya.

Ini salah siapa? Mestinya, yang salah adalah dua pihak terlibat, yaitu, badan hukum pelaksana dan pemerintah sebagai pemantau dan wasit. Siapa yang dirugikan? Yang dirugikan tentu saja masyarakat. Kalau sudah begini, itu berarti Amdal saat ini hanya merupakan hiasan dinding.

Kita ambil contoh salah satu kabupaten di Yogyakarta. Pemda setempat memang melakukan pemantauan, tetapi pemantauannya benar-benar tidak efektif karena mereka hanya mengirim formulir isian atau blangko kepada industri tertentu untuk melaporkan Amdalnya tersebut.

Petugas hanya duduk manis di kantornya. Inilah salah satu kelemahan pemantauan proses Amdal. Kemudian, kemampuan SDM pemantau terhadap sebuah proses aktivitas industri kurang menguasai, sehingga yang mestinya melebihi ambang batas dianggap wajar saja.

Di dalam blangko Amdal tersebut, biasanya ditanyakan beberapa parameter pertanyaan. Misalnya, untuk sebuah industri plastik. Berapa jumlah karyawan (jumlah wanita berapa, laki-laki berapa), sumber listrik yang di pakai berapa KW, dan apakah mempunyai energi cadangan genset atau tidak.

Jika ada berapa KW, apakah ada limbah kotoran kimia, asap, debu, pencemaran air, kebisingan suara, dan penerangan terpasang untuk setiap meter persegi. Model pembuangan sampah, model jam kerja, dan sebagainya.

Jika petugas hanya melihat yang tertera di atas kertas tanpa melihat, menilai, mengawasi, dan menganalisis apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan, yang terjadi adalah laporan Amdal yang abal-abal dan penuh rekayasa.

Saat ini, peraturan Amdal sudah ada. Peraturannya sudah jelas. Nah, masyarakat menunggu keseriusan pemerintah sebagai pemegang otoritas pemerintahan wilayah untuk memantau dan menegur pihak-pihak yang melakukan pelanggaran ambang batas suatu aktivitas industri. Jika semua ini dilaksanakan, air di sungai tetap jernih mengalir, kebisingan suatu industri tidak mengganggu masyarakat, udara masih tetap bersih, segar, dan sehat.

Tercemarnya Lingkungan

Hutan merupakan kumpulan pohon-pohon dan hewan yang berada dalam suatu kawasan yang saling berinteraksi, mereka hidup di atas tanah yang hidup dalam keseimbangan.

Selain sebagai tempat bagi flora dan fauna, hutan memberi banyak kebaikan bagi kita. Bisa menahan terjadinya banjir, sebagai keindahan alam, menghambat kerusakan lapisan bumi, sumber kehidupan dari hasilnya, pertanda lingkungan asri dan sehat.

Negeri yang terkenal dengan kekayaan alam dan diandalkan menjadi paru-paru dunia ini sekarang sedang mengalami krisis. Banyak pembalakan liar yang terjadi di tempat yang diandalkan sebagai hutan penyangga dunia. Hutan rimba Kalimantan yang sangat terkenal hampir setiap hari kehilangan ratusan, bahkan ribuan pohon yang ada di tempat tersebut.

Hutan ini akan tetap lestari bila kita mau melestarikannya. Namun, apabila tidak dilestarikan, maka akan timbul kepunahan terhadap ekosistem hutan tersebut. Kepunahan atau kerusakan hutan ini salah satunya bisa disebabkan oleh penebangan hutan secara liar.

Hutan Kalimantan menyimpan berjuta-juta keindahan dan berjuta-juta spesies flora dan fauna. Sebagai hutan tropis terbesar, hutan Kalimantan tentu menjadi santapan yang empuk dan lezat bagi para pemburu hasil alam. Saat ini, hutan Kalimantan sudah banyak yang tercemar.

Pencemaran hutan ini disebabkan banyak pembalak liar yang mengeksploitasi hasil hutan Kalimantan untuk kebutuhan dagang, menimbun rupiah dengan serakah. Juga pelaksanaan peraturan yang kerap dilanggar karena adanya “kerja sama” antara oknum pegawai pemerintah dan pengembang industri menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak.

Hutan Kalimantan saja yang masih tergolong besar sudah mengalami penyempitan luas. Apalagi hutan-hutan kecil lainnya di Indonesia yang mungkin lambat laun hanya akan menjadi sebuah taman.

Sesungguhnya tak hanya hutan Kalimantan yang menjadi sasaran para perusak hutan, banyak hutan lain di Indonesia yang telah rusak karena ulah para perusak ini. Mereka melakukan pencemaran hutan yang berakibat pada rusaknya ekosistem hutan. Sebagai contoh, banjir bandang di Wasior, Papua, tidak hanya disebabkan faktor alami semata.

Secara rasionalnya, air hujan yang turun dengan sangat deras tidak akan menyebabkan banjir jika lingkungan di sekitarnya memang terpelihara dengan baik. Banyak pohon-pohon yang dapat menyerap air jika hujan datang, dan sungai yang tidak dangkal akan mampu menampung air dalam jumlah yang banyak.

Kerusakan hutan tidak hanya pada habisnya pohon-pohon di hutan saja. Namun, kotornya hutan bisa membawa bencana yang memang tidak dirasakan secara langsung dan dirasa tidak berdampak. Kotornya hutan menyebabkan terjadinya pencemaran hutan.

Dalam beberapa statistik dari dinas terkait, hampir setiap hari ada pembalakan liar yang dilakukan. Sangat menyedihkan memang. Sebuah negara yang telah menjadi paru-paru dunia dengan kekayaan hutan melimpah, kini menjadi salah satu negara terpopuler dalam perusakan hutan.

Keadaan ini lebih banyak dilakukan di hutan-hutan hujan tropis Indonesia. Di hutan-hutan lain, jarang terjadi karena sumber daya alam yang memang tidak terlalu banyak di hutan-hutan selain hutan hujan tropis.

Salah satu akibat dari penebangan hutan secara liar adalah banjir dan untuk mencegah banjir, tindakan penebangan hutan secara liar harus dihindari. Jika penebangan liar tersebut dibiarkan, bukan tidak mungkin banjir akan terus terjadi dan akan membawa korban lebih banyak lagi.

Ketika bencana banjir datang, maka yang akan menanggung resikonya adalah manusia sendiri. Justru orang yang melakukan penebangan liar itu selamat, sementara yang kena banjirnya adalah manusia lain yang tidak tahu menahu akan penebangan liar yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab terhadap pelestarian hutan.

Keadaan ini sangat memprihatinkan karena bukan hanya mengancam negara kita dengan bencana, seperti banjir dan longsor, melainkan dapat mengakibatkan berkurangnya oksigen yang dihasilkan hingga menyebabkan terjadinya pemanasan global.

Selain itu, hutan yang rusak akan mengancam kehidupan bermasyarakat. Misalnya, peningkatan suhu panas bumi atau global warming, seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Hutan yang kita miliki harus dilestarikan, sehingga anak cucu kita bisa menikmati hutan yang kita miliki. Kita tidak boleh memanfaatkan hutan secara sembarangan. Kalau hutan yang kita miliki habis, maka akan terancam bencana, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Agar hutan kita tetap lestari, maka kita harus melestarikannya. Usaha-usaha yang dapat kita lakukan, misalnya dengan cara sebagai berikut.

  • Menanam kembali hutan yang gundul atau dikenal dengan istilah reboisasi. Daerah-daerah yang gundul atau mengalami kekeringan akan dapat kembali hijau bila dilakukan reboisasi, yaitu dengan menanam kembali daerah yang gersang dengan menanam tanaman yang sesuai dengan kondisi hutan.
  • Tidak menebang hutan secara sembarangan. Kita harus melakukan penebangan sistem tebang pilih, yaitu pada saat akan menebang pohon kita harus melihat terlebih dahulu ukuran yang sesuai dan mengganti dengan tanaman yang baru.
  • Mengurangi pemakaian bahan-bahan yang berasal dari pohon. Misalnya, penghematan pemakaian kertas dan tisu atau mendaur ulang kertas bekas menjadi barang yang bermanfaat.
  • Melakukan gerakan penanaman seribu pohon dan merawatnya, sehingga pohon tersebut tumbuh besar dan dapat bermanfaat untuk mengurangi global warming.
  • Menjaga hutan dari penebang liar dengan menjadikan hutan-hutan sebagai hutan lindung.

Masih banyak lagi yang dapat kita lakukan untuk mengurangi penebangan pohon. Dengan dimulai dari diri kita sendiri dan memberikan contoh kepada orang lain, sehingga secara tidak langsung kita mengajak kepada orang lain untuk bersikap peduli pada lingkungan.

Kalau bukan kita yang melestarikan sumber daya alam yang ada di negara ini, siapa lagi. Kita yang hidup di negara ini, yang melakukan dan merasakan akibatnya, yaitu kita sendiri. Jangan menyalahkan Kementerian Kehutanan apabila terjadi kerusakan hutan.

Untuk itu, marilah menjaga kelestarian negara kita ini bersama-sama. Ciptakan kembali negara Indonesia sebagai negara agraris dan terkenal dengan keindahan alamnya. Demikian artikel Amdal yang mengulas mengenai pelestarian lingkungan, terutama hutan di Indonesia sebagai jantung dunia. Semoga bermanfaat.

Speak Your Mind

*