Berburu Buku Cerpen Novel

Seringkali saat hendak membeli buku cerpen novel, kita terjebak oleh covernya. Misalnya, saat menemukan buku kumpulan cerpen, dengan cover dan endorsmentnya bagus, ternyata terasa biasa-biasa saja saat kita membaca isinya. Bahkan novel dengan cap ‘Best Seller’ dan dipajang di rak buku laris, tidak menjamin isinya bagus, keren dan mendidik.

Seringkali kita mendapati novel remaja yang isinya terlalu vulgar, konflik hanya berputar-putar di masalah cinta. Tentu cerita seperti ini tidak baik jika dibaca terlalu sering oleh remaja.

Terkadang ada juga sampul buku kumpulan cerpen yang misterius dan agak vulgar, tetapi isinya ternyata mendidik. Jadi, bagaimana, sih, memilih buku cerpen novel, yang covernya oke, isinya juga oke?

Tips Pencarian Buku Cerpen Novel

Agar tidak kecewa dengan buku yang dibeli, ada baiknya Anda mengikuti tips di bawah ini:

  1. Cover memang menjadi pemikat pertama dalam memilih novel. Tapi, ingat pepatah lama, “don’t jugde the book by it’s cover”. Jangan melihat buku dari sampul luarnya saja. Terkadang sampul yang sederhana dan tidak menarik justru menyimpan isi cerita yang fantastis.
  2. Jangan malas untuk membaca sinopsis buku cerpen novel yang hendak Anda beli. Biasanya sinopsis ada di bagian belakang buku. Bila tidak ada, Anda tinggal menggunakan fasilitas Google untuk mencari sinopsis buku yang diincar. Selain itu, cek juga pendapat-pendapat orang tentang buku itu. Bukan endorsement yang ada di sampul, melainkan pendapat pembaca umum.
  3. Apabila penulis buku cerpen novel incaran sudah sering Anda baca karyanya, tidak perlu lagi meragukan isi ceritanya. Namun, jika si penulis favorit Anda menulis buku kumpulan cerpen secara keroyokan, perlu dibaca kembali ulasannya. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi, seandainya hanya cerita penulis favorit Anda saja yang keren.
  4. Memilih buku cerpen novel tidak harus mencari buku yang best seller. Bila ingin membaca cerpen novel dengan genre-genre yang agak unik, Anda bisa memulai pencarian dari rak paling bawah atau paling tersembunyi. Biasanya cerita yang unik dan melenceng dari pasar, selalu tidak laku. Namun, perlu dicatat bahwa tidak laku bukan berarti ceritanya jelek.
  5. Lihat siapa penerbitnya. Biasanya ada penerbit yang selalu menerbitkan cerita dengan gaya yang sama. Misal penerbit A selalu menceritakan cerita gokil, penerbit B selalu memasukkan unsur seks dalam setiap ceritanya, penerbit C khusus menerbitkan buku islami, dan lain sebagainya.
  6. Lihat tebal tipisnya buku cerpen novel yang kita inginkan. Bila buku novel tebal, biasanya ceritanya lebih panjang dan lebih asyik untuk dinikmati. Tetapi bukan berarti novel yang tipis isinya jelek.
  7. Lihat harganya. Apabila ingin mencari buku cerpen novel yang berkualitas dan haus akan bacaan bermutu, maka Anda tetap harus menyiapkan budget yang sesuai. Karena buku dengan bacaan bermutu dan bagus, biasanya agak sedikit mahal. Apalagi bila bukunya termasuk best seller atau hard cover.

Sekarang, saatnya berburu buku cerpen novel yang bermutu ke toko buku. Bila Anda ingin membeli buku asli di bawah harga pasaran, tunggu saja book fair. Di sana Anda bisa mendapatkan aneka buku cerpen novel dengan berbagai macam harga. Tapi ingat, pastikan buku apa yang Anda incar.

Kumpulan Cerpen “Madre” Karya Dee

Dewi Lestari atau yang akrab dipanggil Dee merupakan salah satu penulis yang berhasil mengeluarkan berbagai bukunya yang fenomenal. Penulis yang lahir di Bandung pada tanggal 20 Januari 1976 ini pada mulanya bergerak di bidang musik bersama Rida Sta Dewi.

Lulusan Pendidikan Tinggi Universitas Parahyangan jurusan Hubungan Internasional ini aktif menulis sebelum novel pertama yang merupakan trilogi Supernova terbit. Beberapa cerita pernah dimuat di media massa seperti Cerpen “Sikat Gigi” yang dimuat oleh Buletin Jendela Nesletter dan cerpen berjudul “Ekspresi” yang dimuat di majalah Gadis, serta beberapa cerpen lainnya yang dipublikasikan lewat media online.

Beberapa karya yang sudah dipublikasikan kebanyakan merupakan sebuah novel, seperti “Supernova 1: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” dan terjual sebanyak lebih dari 75000 eksemplar sehingga masuk ke dalam nominasi KLA. Setelah itu, novel yang keduanya muncul dengan judul “Akar” yang diterbitkan pada tahun 2002 dengan kontroversi yang muncul akibat penggunaan aksara suci dalam umat Hindu yang digunakan sebagai gambar pada covernya. Buku seri ketiga dari Supernova ini berjudul “Petir” yang diterbitkan pada tahun 2005 dengan memunculkan 4 tokoh baru di dalamnya.

Karya selanjutnya dari Dee ini adalah cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen “Filosofi Kopi” dan “Madre”. Dalam kedua kumpulan cerpen tersebut, berbagai hal sederhana diangkat secara menarik melalui sisi yang tidak terlalu sulit untuk dimengerti, tapi juga tidak terlalu mudah untuk dipahami.

Karyanya yang terakhir berjudul “Rectoverso” yang mengusung konsep fiksi dengan musik yang di dalamnya terdapat 11 cerita dengan 11 lagu yang keduanya saling berhubungan satu sama lain.

Dee ini lebih dikenal sebagai penulis novel dibandingkan penulis cerpen karena kebanyakan karyanya berupa novel, bukan cerpen. Akan tetapi, ia bisa menghidupkan cerita-cerita pendeknya dengan berbagai karakter dan tidak kalah main dengan karakter yang dihadirkan dalam novel-novelnya,

Novel Karya Djenar Maesa Ayu

Salah satu cerpenis perempuan yang dikenal di Indonesia adalah Djenar Maesa Ayu. Ia beberapa kali menulis kumpulan cerpen dan satu kali menulis sebuah novel yang berjudul “Nayla”. Karyanya tersebut sepertinya merupakan karya yang fenomenal dan sempat menghadirkan polemik antara ahli sastra dnegan pembaca bukunya.

Namun, di balik kontroversi tersebut, Djenar hingga kini masih bisa katif dan produktif dalam menghasilkan karya sastra berupa cerpen. Akan tetapi, novel yang dihadirkannya juga tidak kalah saing dengan karya-karya cerpennya yang lain.

Cerpen Novel dalam Satu Wadah

Dee dan Djenar sama-sama menulis. Namun, Dee lebih sering menulis novel, sedangkan Djenar lebih sering menulis cerpen. Namun, keduanya sama-sama menempatkan posisi cerpen dan novel dalam satu wadah, yakni tulisan yang ingin mereka bawa dan publikasikan.

Kedua penulis tersebut sama-sama bisa menghadirkan situasi yang khas dalam setiap karyanya sehingga ketika Anda membaca karya Dee, maka Anda pun bisa memosisikan diri Anda sebagai karakter dari orang yang diceritakan tersebut. begitu juga pada saat Anda membaca karya Djenar.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan yang signifikan antara cerpen dengan novel hanyalah pada panjang dan pendeknya saja. Novel memuat lika-liku alur yang panjang, sedangkan cerpen hanya memuat satu alur saja sehingga pembaca bisa dengan cepat mendapatkan pesan yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui tulisannya.

Namun, terlepas dari hal tersebut, baik cerpen maupun novel, keduanya memiliki posisi yang kuat untuk bisa memberikan warna kehidupan sendiri terhadap masyarakat. Karakter yang terdapat dalam novel biasanya lebih banyak dan lebih kompleks jika dibandingkan dengan karakter dalam cerpen.

Membaca cerpen sama dengan melihat sebuah kondisi dalam waktu yang sangat cepat, sedangkan membaca novel sama dengan menelusuri jejak kehidupan seseorang dalam romansa kehidupan. Jadi, pembaca tinggal memilih saja di antara keduanya mau yang singkat atau yang panjang?

Speak Your Mind

*