Cangkok Tanaman: Keunggulan, Cara, dan Tips

Ilustrasi cangkok tanaman

Pernahkah Anda mempraktikkan teknik cangkok tanaman? Tanaman mempunyai kemampuan berkembang biak, baik secara generatif maupun vegetatif. Secara generatif, tanaman berkembang biak dengan cara kawin (seksual) atau pembuahan dengan sendirinya. Diawali dengan bertemunya putik dan serbuk sari sehingga terbentuk bakal buah dan bakal biji. Perkembangbiakan secara generatif mempunyai sifat anakan gabungan dari dua gamet yang telah melebur sehingga sang anak tidak akan sama persis dengan salah satu induknya.

Sementara itu, perkembangbiakan secara vegetatif merupakan perkembangbiakan aseksual atau tanpa kawin. Perkembangbiakan ini bisa secara alami, misalnya pada spora dan tunas, atau secara buatan, seperti cangkok dan menempel (okulasi). Perkembangbiakan secara vegetatif akan menghasilkan anakan dengan sifat yang persis sama dengan induknya. Salah satu perkembangbiakan vegetatif yang dibahas dalam artikel ini adalah cangkok tanaman.

Keunggulan Cangkok Tanaman

Memperbanyak tanaman dengan cara mencangkok mempunyai tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan model perkembangbiakan vegetatif, misalnya stek. Mengapa demikian? Karena pada proses pencangkokan tanaman, akar dirangsang untuk tumbuh sebelum sebuah batang tanaman dipotong dan ditanam. Meski tingkat keberhasilannya lebih tinggi, beberapa rumah budidaya tanaman menganggap cara pencangkokan tanaman jauh lebih merepotkan.

Perlu diketahui bahwa metode pencangkokan tanaman lebih aman untuk menjamin pertumbuhan tanaman anakan sebab saat dipisah dari indukan batang, anakan sudah mempunyai akar. Organ akar yang telah tumbuh inilah yang mampu menjaga asupan nutrisi tanaman yang diperlukan. Inilah yang membuat anakan lebih mungkin bertahan ketika ditanam di lingkungan terbuka. Meskipun demikian, diakui bahwa pencangkokan tanaman memang menghabiskan waktu pembibitan yang lebih lama.

Selain itu, beberapa persyaratan batang sebagai indukan tanaman harus dipenuhi. Misalnya, batang yang dipilih harus lebih tua dan kuat dari metode stek (misalnya pada tanaman mawar). Tidak lupa bahwa batang yang dipakai sebagai indukan harus tanaman dikotil atau tumbuhan dengan biji berkeping dua. Tanaman indukan juga harus mempunyai batang yang berkayu (berkambium), seperti mangga dan jambu.

Proses Cangkok Tanaman

Bagaimana proses cangkok tanaman? Ada beberapa tahapan yang harus ditempuh untuk mencangkok sebuah tanaman, yakni:

  1. Memilih batang tanaman yang kuat dan tua.
  2. Menyiapkan pisau yang tajam, plastik (lebih baik yang berwarna gelap), media tanam seperti tanah yang gembur, dan tali plastik.
  3. Mengupas kulit batang sekitar 3 hingga 4 cm untuk tempat media tanam. Ketika mengupas kulit batang, diupayakan hingga terlihat kayunya dan tidak ada lagi jaringan gabus ataupun getah tanaman yang tertinggal
  4. Memasukkan media tanam. Bisa berupa tanah yang subur, bisa juga humus daun. Selanjutnya, media tanam tersebut dibungkus dengan plastik dan ujung-ujungnya diikat dengan tali plastik.
  5. Berikanlah beberapa lubang pada plastik untuk sirkulasi udara di media tanam.
  6. Menyiram secara berkala media cangkok. Fungsinya adalah untuk menjaga kelembapan tanaman. Perlu diperhatikan, jangan sampai media tanam cangkok kering.
  7. Kurang lebih satu hingga dua minggu kemudian, akar akan tumbuh di media tanam dan terlihat dari plastik. Bila telah tampak, potonglah batang di bawah media tanam.
  8. Lepaskan plastik yang meliputi akar anakan dan masukkan anakan ke dalam lubang pertumbuhan di lahan terbuka atau pot.
  9. Rawatlah anakan tersebut dengan penyiraman dan pemupukan secara berkala.

Kiat Cangkok Tanaman Buah

Salah satu jenis tanaman yang paling banyak dicangkok adalah tanaman buah. Dalam proses pencangkokan tanaman buah, ada beberapa kiat agar Anda berhasil dan cangkokan yang dihasilkan berkualitas baik. Inilah beberapa kiat yang bisa Anda coba praktikkan:

  1. Pilih cabang, ranting, atau dahan yang sudah berkayu untuk dicangkok. Cabang, ranting, atau dahan seperti ini bisa dilihat dari warna kulitnya yang menua (dari cokelat muda menjadi lebih gelap). Namun pahami juga bahwa warna kulit tersebut berbeda-beda dan bervariasi pada setiap jenis tanaman.
  2. Pilih cabang, ranting, atau dahan yang tegak, membentuk sudut antara 45° sampai 90° dari permukaan tanah. Cabang, ranting, atau dahan yang demikian memudahkan Anda dalam mengerat kulitnya, pertumbuhan akarnya pun lebih cepat dibandingkan cabang, ranting, atau dahan yang tumbuhnya mendatar. Jika dicangkok tegak lurus terhadap permukaan tanah, akar akan tumbuh di berbagai sisi. Namun gaya gravitasi bumi menyebabkannya tumbuh tidak merata dan hanya berkumpul di bagian bawah cangkokan.
  3. Pilih cabang, ranting, atau dahan yang letaknya di bagian terluar tanaman tersebut. Letak itu memudahkannya terpapar cahaya matahari sehingga proses fotosintesis dapat berjalan maksimal. Akibatnya, fotosintat yang terbentuk menyebabkan pembentukan akar lebih cepat dan efektif.
  4. Kerat cabang, ranting, atau dahan dengan panjang secukupnya, antara 3 – 7 cm. Panjang keratan disesuaikan dengan ukuran diameter cabang, ranting, atau dahan tersebut. Semakin besar diameternya, semakin panjang keratan yang diperlukan. Namun hati-hati, jangan sampai terlalu panjang karena itu akan menyulitkan Anda dalam membungkus dan menggunakan bahan cangkok.
  5. Setelah dikuliti, biarkan bidang tersebut selama beberapa menit (sekitar 5 – 10 menit) supaya kambiumnya mengering sehingga terbentuk sebuah lapisan cokelat.
  6. Kerik lapisan kambium cokelat itu dengan arah mata pisau yang tegak lurus. Ini dilakukan untuk mendapatkan bidang cangkokan yang baik; rata, tidak berserat, dan bersih. Jika tidak dikerik, ada kemungkinan akar gagal tumbuh akibat masih mungkinnya terjadi hubungan antara jaringan floem pengantar fotosintat dari daun ke bidang cangkokan.
  7. Perkecil luka akibat pengerikan kambium, caranya gunakanlah pisau yang benar-benar tajam. Jika terlalu besar dan banyak luka yang muncul, jamur atau bakteri dapat menginfeksi area cangkokan dan menggagalkan proses cangkok ini. Luka akibat pengerikan berbentuk serat-serat kasar di sekujur bidang cangkokan.
  8. Gunakan pisau tajam dan lurus berbahan stainless steel dalam mengerat kulit cabang, ranting, atau dahan untuk membuat bidang cangkokan.
  9. Pilih media cangkok yang baik dalam menumbuhkan akar sekaligus mudah dicari di pasaran. Beberapa contoh media cangkok yang bisa digunakan adalah cacahan sabut kelapa berbentuk memanjang, sphagnum moss, serbuk sabut kelapa, lumut yang sudah dikeringkan, kompos dedaunan, kompos daun bambu, campuran pupuk kandang dan tanah liat, dan sebagainya.
  10. Media cangkok harus empuk dan gembur sehingga akar dapat tumbuh maksimal dan air tersimpan dengan baik sehingga kelembaban cangkokan terjaga dalam waktu yang cukup panjang. Dengan demikian Anda tidak perlu sering-sering menyiram air ke media cangkok.
  11. Gunakan plastik transparan untuk membungkus media cangkok. Tujuannya adalah untuk mempermudah Anda mengamati proses terbentuknya akar dan mengawasi tingkat kelembaban cangkokan. Ikat kuat plastik tersebut membentuk sebuah bulatan padat. Semakin kencang semakin baik, karena semakin cepat akar tumbuh. Pastikan semua bidang cangkok tertutup rapat oleh plastik untuk menghindari infeksi bakteri dan jamur.
  12. Saat media cangkok mengering tambahkan air dengan menyuntikkannya, bukan menyiram. Penyiraman berlebihan membuat media cangkok terlalu basah sehingga berisiko terjadinya pembusukan akar. Gunakanlah alat suntik (spuit) dengan cara memasukkan jarum suntiknya menembus plastik pembungkus di bagian atas cangkokan. Suntik secukupnya, hanya agar media cangkok terjaga kelembabannya.
  13. Lama-kelamaan, akar akan tumbuh dan memenuhi media cangkok. Warnanya berubah dari putih menjadi cokelat muda. Saat berubah warna inilah Anda harus memotong kemudian memisahkan cangkokan dari tanaman induk. Namun ingatlah bahwa perubahan warna ini tidak bersifat mutlak. Misalnya pada tanaman lengkeng, warna akar tidak berubah menjadi cokelat muda.

Itulah informasi dan tips seputar cangkok tanaman. Semoga bermanfaat!

Speak Your Mind

*