Cara Menulis Karya Ilmiah Ala Mulyadhi Kartanegara

Cukup banyak orang mengeluh ihwal menulis karya ilmiah. Mereka bingung bagaimana cara menulis karya ilmiah yang baik. Hingga, beraneka buku-buku panduan menulis karya ilmiah diborong dari toko buku atau perpustakaan untuk dibaca dan dijadikan panduan. Apakah ini salah? Tidak. Tidak salah membaca buku panduan menulis. Tapi, buku-buku panduan tersebut tidak menjamin seratus persen Anda bisa menulis karya ilmiah yang baik dan bernas.

Para Cendikiawan

Pernahkah mengagumi orang-orang cerdas yang senang membuat berbagai penelitian? Lalu hasil dari penelitian itu disebarkan ke masyarakat baik melalui tulisan di koran, majalah maupun di jurnal khusus tema tertentu. Mungkin ada yang bertanya-tanya bagaimana bisa membuat karya ilmiah yang diakui oleh bukan orang sembarangan itu. Bagi seorang pelajar sekolah menengah, hal ini mungkin terasa berat sehingga tidak banyak yang mau mempelajarinya. Tetapi bagi seorang mahasiswa, membuat karya ilmiah ini adalah suatu kewajiban.

Mereka harus mencari berbagai teknik, pendekatan, dan metodologi yang tepat dalam memecahkan masalah yang dipilih. Kalau metodologi yang digunakan tidak tepat, maka penarikan kesimpulan bisa saja tidak tepat dan diragukan. Lantas, lakon apa yang tepat untuk bisa menulis karya ilmiah yang baik? Adalah cara terbaik untuk belajar menulis karya ilmiah yang tepat dengan langsung belajar kepada para penulis yang biasa melakukannya.

Mulyadhi Kartanegara adalah salah satunya. Ia penulis produktif. Banyak sekali buku-buku ilmiahnya yang ditulis dengan renyah dan nikmat dibaca. Maka layak untuk menemukan dan mendalami cara menulis karya ilmiah darinya. Tidak gampang untuk membahasakan hal yang sangat ilmiah menjadi sesuatu yang mudah dipahami oleh orang awam. Banyak istilah yang harus dijelaskan secara gamblang agar orang yang baru belajar meneliti tidak kehilangan motivasi untuk melangkah.

Seperti banyak orang tahu bahwa para pelajar dan mahasiswa Indonesia itu bukan pembelajar yang sangat luar biasa seperti pembelajar dari Cina, India, Jepang, atau Amerika. Tingkat membaca pun tidak tinggi alias cukup rendah. Ini juga yang menjadi suatu keprihatinan tersendiri. Jangankan para pelajar dan mahasiswa, para guru pun terkadang harus diiming-imingi dengan kenaikan gaji atau kenaikan pangkat atau apalah agar mau mengadakan penelitian. Jika tidak ada perangsang, maka jangan harapkan akan banyak yang mau melakukan penelitian atas kemauan sendiri.

Lalu bagaimana guru-guru model seperti ini akan memberikan contoh yang baik. Bagaimana juga akan menjadi guru yang mampu menginspirasi kalau melakukan penelitian saja tidak mau. Para cendikiawan yang sesungguhnya bisa saja berasal dari berbagai disiplin ilmu. Satu yang membuat mereka mempunyai kesamaan, yaitu kesenangan mereka mewakafkan waktunya demi mendapatkan satu hasil penelitian yang bagus yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Ia berniat memberikan anugerah yang dimilikinya kepada lingkungannya.

Mereka yang berusaha membahasakan gaya ilmiah ke dalam bahasa yang sederhana. Memang agak sulit terkadang bagi seseorang yang telah mempunyai banyak ilmu lalu berusaha memberikan keterangan tentang ilmu itu dengan bahasa yang mudah dimengerti. Ada beberapa yang cukup berhasil termasuk Mulyadhi Kartanegara.

Pahamilah, Menulis Itu seni

Di dalam buku “Seni Mengukir Kata”, Pak Mulyadhi membeberkan resep menulis karya ilmiah yang baik dan renyah. Katanya, untuk memiliki tulisan ilmiah yang apik maka yang harus dilakukan dulu adalah memperbaiki persepsi tentang menulis. Menulis itu adalah seni. Karena ia memenuhi kriteria untuk dikatakan sebagai seni. Seni adalah sebuah tatanan prinsip dan cara-cara yang digunakan dalam melakukan seperangkat kegiatan. Menulis memenuhi unsur-unsur yang ada di dalam definisi tersebut.

Untuk bisa menulis efektif sangat dibutuhkan prinsip-prinsip tertentu. Yaitu, Kejujuran, istiqomah dalam kebenaran, motivasi yang benar, menguasai tata bahasa yang benar dan mampu menyusun pikiran secara runut. Jika melihat prinsip tersebut, rasanya menulis itu sangat sulit. Jika ingin menghasilkan karya ilmiah yang baik dalam sehari, tentu menulis itu sulit. Akan tetapi, bila dipahami dengan baik, menulis karya ilmiah itu tidak sulit jika bisa menemukan resepnya.

Bagi Pak Mulyadhi, dengan memahami karya menulis adalah seni, maka langkah utama yang mesti dilakukan adalah keaktifan untuk belajar menuangkan gagasan setiap hari di dalam tulisan. Artinya, dibutuhkan kemauan untuk menuliskan amunisi-amunisi atau gagasan-gagasan yang ditemukan dari buku-buku yang dibaca di dalam catatan harian. Amunisi-amunisi tersebut nantinya akan berperan untuk membentuk tulisan menjadi bernas dan bernyawa.

Pak Mulyadhi kerap menjadikan analogi belajar bermain gitar dengan belajar menulis. Seorang tak akan mungkin mahir dalam memainkan gitar dan menghasilkan suara petikan yang baik, jika ia tidak setiap hari melakukan praktik bermain gitar. Seratus buku petunjuk bermain gitar yang dibaca tidak akan mampu membuatnya pintar bermain gitar. Tetapi, jika setiap hari berlatih, meski dengan satu buku petunjuk, maka ia akan piawai dalam bermain gitar dan menghasilkan suara petikan yang nikmat didengar. Demikian halnya dengan menulis.

Karena itu, cara atau teknik menulis karya ilmiah yang baik adalah dengan aktif menuliskan amunisi-amunisi yang diperoleh dan dituangkan di dalam buku catatan harian. Cara ini terlihat mudah, tapi cukup banyak orang malas melakukan. Padahal, langkah mencicil gagasan-gagasan melalui catatan harian sangat berperan dalam memunculkan daya intuitif. Daya yang dapat membantu untuk meruntuhkan hambatan-hambatan dalam mengekspresikan pikiran-pikiran dalam menulis.

Tentunya, daya tersebut akan bisa dicapai melalui latihan-latihan intensif dan praktik menulis yang berkesinambungan setiap hari. Ingat, menulis adalah seni. Bila masih merasa malas untuk menulis, cobalah renungkan kata-kata Pramudya Ananta Toer. Salah satu sastrawan hebat dari Indonesia ini mengatakan bahwa kalau ingin tergilas oleh sejarah, tidak perlu menulis. Artinya adalah bahwa karya tulis itu akan lebih abadi. Dengan adanya komputer dan internet, seseorang yang telah menorehkan buah karyanya dan diterbitkan akan bisa melihat karyanya di internet.

Ketika ia telah tiada di dunia ini, bukan tidak mungkin karyanya itu masih tetap ada. Mungkin pembacanya akan mengira bahwa ia masih hidup walaupun sesungguhnya ia telah lama tiada. Lihatlah karya Imam Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, bahkan Khalil Gibran. Mereka seakan hidup abadi dengan adanya karya tulis yang menyentuh kalbu. Jangan anggap remeh tulisan dalam bentuk yang bagus dan berkualitas. Indahnya tulisan itu akan membuat tulisan itu menjadi bahan rujukan.

Apalagi ketika karya tulis itu merupakan rangkaian uraian dari penelitian yang mengungkapkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, maka akan banyak yang meniru langkah itu sehingga akan menjadi sebuah referensi yang akan banyak dipakai oleh orang banyak. Prof. Arikunto, seorang wanita yang senang mengadakan penelitian dan yang telah menulis banyak buku tentang penelitian, kini mulai menulis buku yang tidak terlalu tebal.

Kalau dahulu buku-bukunya cukup berat, seiiring dengan semakin malasnya orang membaca tulisan dengan konsep yang terlalu bertele-tele, bukunya pun tipis. Ia pun menulis tandem. Perubahan ini menunjukan bahwa para peneliti dan penulis itu mempunyai sikap yang dinamis.

Struktur Penulisan Karya Ilmiah

Setelah Anda terbiasa menuangkan gagasan maupun ide setiap hari di dalam catatan harian. Maka, ketika Anda ingin melalukan aktivitas menulis karya ilmiah ada beberapa hal yang mesti Anda penuhi. Yang paling penting adalah struktur penulisannya.

Secara umum, sistematika penulisan terbagi kepada lima bagian:
1. Bagian Pendahuluan. Bagian ini hanya mengulas tentang penjelasan tentang latar belakang masalah yang ingin dikaji, tujuan dan manfaat penelitian atau pembahasan.

2. Bagian landasan teori. Bagian ini hanya diisi dengan teori-teori atau dasar keilmuan yang digunakan untuk mendukung

3. Bagian Isi. Bagian ini adalah bagian terpenting untuk mengemukakan gagasan permasalahan yang hendak diuraikan. Jika karya tulis itu berdasarkan hasil penelitian, maka wajib disertakan  di dalamnya data-data dan analisis yang dilakukan.

4. Bagian penutup. Bagian ini berisi tentang kesimpulan dan saran

5. Bagian daftar pustaka. Bagian ini hanya memuat sumber-sumber rujukan yang digunakan. Sumber-sumber tersebut bisa berupa buku, jurnal, surat kabar, dan artikel yang didapat dari internet.

Jika kelima unsur di atas dipenuhi, maka diyakini karya ilmiah yang digagas mencukupi syarat. Karena itu, mari menulis karya ilmiah yang diawali dengan menuangkan gagasan-gagasan di dalam catatan harian sebelum diuraikan secara sistematis saat menulis karya ilmiah yang hakiki. Inilah teknik menulis karya Ilmiah ala Mulyadhi Kartanegara.

Speak Your Mind

*