Cerita Rakyat Luar Negeri, William Tell

Ilustrasi Cerita Rakyat Luar NegeriCerita rakyat tidak hanya ada di Indonesia. Setiap bangsa memiliki cerita rakyatnya masing-masing. Cerita ini ada yang sangat faktual namun ada juga yang dibumbui dengan mitos. Cerita ini bahkan sampai berkembang menjadi sebuah legenda. Salah satu cerita rakyat luar negeri yang terkenal adalah kisah William Tell.

Cerita rakyat ini ditulis Tschudi pada tahun 1570. Cerita ini berpusat pada William Tell, pria asal Burglen, Swiss. Dia terkenal sebagai seorang yang kuat, pendaki gunung yang ahli, dan pandai memanah. Saat itu, wilayah Uri, Swiss dikuasai oleh pihak Habsburg dari Austria.

Dia dan anaknya kemudian dikunjungi oleh Albrecht Gessler, penguasa dari pihak Habsburg Austria. Gessler memaksa Tell untuk tunduk kepadanya. William Tell menolak untuk tunduk kepada Gessler.

Gessler mengetahui kemampuan memanah dari Tell. Dia lalu menghukum Tell untuk memanah apel yang diletakkan di kepala anaknya, Walter Tell. Tell berhasil membelah apel menjadi dua dan mengatakan bahwa dia bisa melakukan hal yang sama pada suatu saat pada kepala Gessler.

Gessler marah dan membawa Tell ke istananya di Kussnacht untuk dipenjara. Namun, Tell berhasil kabur dengan cara melompat dari kapal yang mengangkutnya. Tell kemudian secara diam-diam melanjutkan perjalanannya ke arah Kussnacht. Ketika Gessler tiba, Tell membunuhnya dengan memakai busur panah kedua yang sempat akan dipakainya untuk memanah apel di atas kepala anaknya.

Dia membunuh Gessler di daerah antara Immensee dan Kussnacht. Tempat ini sekarang disebut dengan Hohle Gasse. Diceritakan juga bahwa Tell terus bertempur dengan pihak Austria pada tahun 1315 di Perang Morgaten.

Tschudi juga menceritakan bahwa Tell meninggal pada tahun 1354. Dia meninggal ketika mencoba menyelamatkan anak yang tenggelam di Sungai Schachenbach di daerah Uri. Kisahnya ini menjadi legenda bagi rakyat Swiss khususnya.

Kisah mengenai Tell juga berkembang dalam mitos Tiga Tell. Tiga Tell merupakan tokoh-tokoh simbolis dari perang yang melibatkan petani di Swiss pada tahun 1653. Mereka terinspirasi pada perlawanan Tell kepada pihak Habsburg dari Austria pada awal abad ke-14. Dikisahkan Tiga Tell ini merupakan simbol perlawanan yang sedang tertidur di sebuah goa di daerah Rigi.

Mereka akan muncul ketika rakyat membutuhkannya. Pada peristiwa perlawanan di Tellenlied tahun 1653 ini mereka juga dipercaya muncul di kalangan petani. Banyak pihak yang akhirnya menyamar dan mengaku sebagai Tiga Tell. Ada tiga orang bernama Eidgenossen Walter Fürst, Arnold von Melchtal, dan Werner Stauffacher yang mengaku sebagai legenda Tell.

Ada juga tiga laki-laki yang muncul di daerah Schüpfheim. Kemudian, ada yang mengaku sebagai Tiga Tell di daerah Freie Amter. Namun, peniru yang paling terkenal adalah Hans Zemp, Kaspar Unternahrer asal Schüpfheim, dan Dahinden Steck dari Hasle.

Mereka muncul pada pertemuan antarpetani selama perang dan melambangkan diri mereka sebagai Tell yang hadir pada pihak pemberontak untuk melawan penguasa. Unternahrer dan Dahinden kemudian lari ke pegunungan Alpen ketika pasukan penguasa pimpinan Sebastian Peregrin Zwyers muncul.

Zemp juga sempat melarikan diri ke Alsace. Para petani tetap melakukan perlawanan terhadap pihak penguasa yang diwakili Lucerne Schultheiss Ulrich Dulliker.

Dahinden dan Unternahrer kemudian muncul lagi sebagai Tiga Tell. Posisi Zemp sendiri digantikan oleh Hans Stadelmann. Dalam sebuah penyergapan, mereka berhasil melukai Dulliker serta membunuh anggota parlemen Lucerne bernama Caspar Studer.

Aksi ini sempat menghebohkan kalangan petani pada umumnya. Namun, aksi yang merupakan suatu yang luar biasa pada budaya Swiss lama ini belum cukup menghidupkan lagi api perlawanan.

Aksi ini memang tidak memiliki efek langsung di bidang politik. Namun, nilai simbolis yang ditunjukkan cukup jelas. Aksi ini menempatkan pihak Lucerne pada peran penjajah seperti Habsburg, Gessler, dan kaum petani pada pihak pejuang yang diwakili William Tell.

Unternahrer dan Dahinden kemudian tewas pada bulan Oktober 1653 oleh pasukan Lucerne pimpinan Kolonel Alphons von Sonnenberg. Sedangkan Stadelmann dieksekusi oleh pihak Spanyol pada tanggal 15 Juli 1654.

Cerita rakyat luar negeri, William Tell kemudian menginspirasi banyak orang juga dalam melakukan pemberontakan. Tokoh ini menginspirasi rakyat Prancis ketika melakukan revolusi. Bahkan, John Wilkes Booth, pembunuh Presiden Amerika Serikat, konon terinspirasi juga oleh aksi William Tell. Selama Perang Dunia II juga, William Tell sering disebut sebagai inspirasi perlawanan terhadap pihak Nazi Jerman.

Uniknya, Adolf Hitler sendiri ternyata bersimpati pada tokoh William Tell. Dia menganggap Tell merupakan simbol perlawanan dan mengutipnya juga dalam bukunya, Mein Kampf. Dia juga sempat memperbolehkan pementasan dengan lakon William Tell. Istri Herman Goering, yang merupakan petinggi Angkatan Udara Jerman, berperan sebagai istri dari William Tell.

Namun, Hitler kemudian melarang drama dari William Tell. Hal ini mungkin dikarenakan adanya percobaan pembunuhan terhadap dirinya yang dilakukan oleh orang Swiss bernama Maurice Bavsud. Bavsud kemudian bahkan sempat dijuluki dengan “William Tell baru”.

Cerita rakyat luar negeri, William Tell tetap hidup di benak rakyat Swiss. Sebagian besar rakyat Swiss percaya bahwa William Tell merupakan tokoh nyata dan bukan fiksi. Namun, banyak sejarawan yang menganggap bahwa William Tell merupakan sebuah dongeng saja. Mereka melihat bahwa cerita yang diusung bisa ditemukan dalam cerita rakyat sebelumnya di daerah Swiss dan sekitarnya.

Hal lain adalah tokoh seperti Tell dan juga Gessler tidak bisa ditemukan kenyataannya dalam sejarah. Cerita mengenai peristiwa Burgenburch juga tidak bisa dipastikan kebenarannya. Benteng-benteng yang diceritakan dalam kisah Tell memang benar-benar ada, namun kebanyakan sudah kosong ketika kisah ini diceritakan terjadi.

Namun, ada pihak yang ingin melakukan kompromi antara cerita rakyat dan sejarah. Arlold Scharer berusaha menjelaskan hal ini pada tahun 1986. Dia berpendapat bahwa William Tell merupakan tokoh yang ada. Dia adalah Wilhelm Gorkeit, tokoh nyata asal Tellikon, daerah Dallikon, Swiss modern. Kata “Gorkeit” sendiri menurut Scharer merupakan versi lain dari sebutan untuk para pembuat panah.

Namun sejarawan belum yakin atas pendapat ini. Anggapan ini sendiri tetap menjadi rujukan Rudolf Keller, Presiden Swiss, ketika menegaskan William Tell sebagai simbol perlawanan rakyat Swiss.

Namun, kisah Tell memang banyak kemiripan dengan mitos atau legenda di daerah sekitar Swiss, khususnya wilayah Nordik. Banyak kisah yang menceritakan seorang pemanah jitu dengan daya magis yang senang membantu rakyat tertindas. Mereka bersama-sama melakukan perlawanan terhadap penguasa atau penjajah yang tiran.

Kisah tentang seorang pahlawan yang terpaksa memanah apel di kepala anaknya merupakan kisah Egil dalam cerita Thidreks. Kisah ini berhubungan dengan mitos dewa Ullr dalam tradisi Eddaic. Kisah semacam ini juga muncul dalam kisah Adam Bell di Inggris, Palnatoki di Denmark, dan juga kisah Holstein.

Namun, berbagai kontroversi ini tetap tidak menghalangi kisah William Tell untuk populer, khususnya di Swiss. Belakangan ini bahkan ada kabar bahwa kisah Tell akan difilmkan oleh pihak Hollywood. William Tell tetap diakui sebagai tokoh sentral dalam patriotisme Swiss bersama Arnold Winkelried pada masa restorasi konfederasi Swiss.

Speak Your Mind

*