Cerpen-Cerpen Bermakna Filosofis

Ilustrasi cerpen cerpenMembaca cerpen? Cengeng, banci! Ngabisin waktu aja. Mending belajar!

Wow, sebegitu rendahnyakah cerpen? Membacanya pun dianggap menghabiskan waktu percuma. Tidak dianggap belajar? Tidak bermanfaat sama sekali? Entah dari mana pendapat ini. Atau, berawal dari apa pendapat semacam ini muncul. Akan tetapi, semoga tidak banyak orang berpendapat atau mempunyai pikiran seperti ini.

Mari kita telusuri sebab musabab munculnya anggapan bahwa membaca cerpen alias cerita pendek itu tidak sehebat membaca buku-buku teks tebal yang berisi teori-teori hebat yang akan menunjang sebuah penelitian atau bahan yang akan menggiring terciptanya teknologi baru.

  1. Cerpen-cerpen dianggap hanyalah sebagai imajinasi yang tak berujung ke dunia nyata.
  2. Cerpen-cerpen ditempatkan sebagai barang hiburan semata yang tak memberikan manfaat yang besar, terutama yang dapat menunjang kemampuan akademik seseorang.
  3. Cerpen-cerpen diidentikkan dengan kehidupan asmara yang membara. Intinya, hanyalah dari cinta ke cinta. Cinta dalam artian yang sangat sempit.
  4. Membaca cerpen dapat merusak gaya bahasa Indonesia yang baku.
  5. Cerita dalam cerpen dapat mempengaruhi gaya hidup.
  6. Cerpen hanya cocok dibaca oleh kalangan muda dan wanita yang tak mempunyai karier alias pekerja kantoran.
  7. Laki-laki yang hobi membaca cerpen dikategorikan sebagai banci dan tidak macho.
  8. Tidak banyak atau mungkin tidak ada sejumlah jari-jari tangan, jumlah majalah yang khusus hanya memuat cerpen-cerpen lagi sekarang. Itu menguatkan citra betapa cerpen-cerpen bukanlah barang yang laku diperdagangkan lagi.
  9. Cerpen-cerpen hanyalah berisi kata-kata yang terlalu didramatisasi. Kata-kata yang penuh emosional. Kata-kata yang tak simpel. Terlalu dilebih-lebihkan. Dunia terlihat terlalu sempit dalam cerpen-cerpen.
  10. Cerpen hanya berisi curahan hati penulisnya. Cengeng dan terlalu melihat diri menderita sekali.

Kalau diikuti kata hati, tulisan ini pun bisa menjadi sebuah cerpen. Paling tidak, sepuluh poin di atas dapat mewakili pendapat yang mengatakan bahwa cerpen-cerpen tidak bermanfaat dan banci.

Cerpen-Cerpen dalam Sastra Indonesia

Sastra Indonesia telah memberikan gambaran yang beragam dan menarik mengenai karya sehingga bukan hanya menghasilkan satu jenis karya sastra, tetapi juga membangkitkan jenis karya sastra yang lain. Jika pada mulanya karya yang dikenal masyarakat merupakan sastra serius, dewasa ini kita mengenal juga istilah yang disebut dengan sastra popular.

Dalam dunia sastra, “sastra popular” dan “sastra serius” selalu menjadi bahan perbincangan yang ujung-ujungnya menasbihkan bahwa “sastra serius” secara estetika dan nilai mempunyai maqam lebih tinggi dibandingkan dengan “sastra popular.”

Hal tersebut sebenarnya bukan parameter mutlak yang harus digunakan untuk menguji kelayakan sebuah karya sebab ketika karya sudah disodorkan kepada masyarakat (pembaca), hal tersebut menjadi sangat relatif. Dengan demikian, dalam makalah ini dibahas mengenai apa itu sastra serius dan popular dan bagaimana ciri-cirinya sehingga kita sebagai pembaca khusus dapat mengetahui perbedaan kedua kategori karya sastra tersebut.

Cerpen dalam sastra Indonesia juga memiliki genre yang berbeda-beda, seperti yang sudah disebutkan di atas. Ada cerpen bergenre sastra serius, yakni cerpen yang biasanya muncul di dalam koran mingguan atau ada juga cerpen bergenre sastra popular yang biasa muncul dalam majalah remaja.

Perbedaan antara dua genre tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri yang membedakannya, yakni :

Ciri-ciri karya satra serius, antara lain:

  1. Tema karya sastra tidak hanya berputar–putar pada masalah cinta asmara muda– mudi belaka, tetapi juga membuka diri terhadap semua masalah yang penting untuk menyempurnakan hidup manusia. Masalah cinta dalam sastra terkadang hanya penting untuk sekadar menyusun plot cerita belaka, sedangkan masalah yang sebenarnya berkembang di luar itu.
  2. Karya sastra jenis ini tidak berhenti pada gejala permukaan saja, tetapi selalu mencoba memahami secara mendalam dan mendasar atas suatu masalah yang secara tidak langsung berhubungan dengan kematangan pribadi si sastrawan sebagai seorang intelektual.
  3. Kejadian atau pengalaman yang diceritakan dalam karya sastra serius bisa dialami atau sudah dialami oleh manusia mana saja dan kapan saja sebab karya sastra serius membicarakan hal–hal yang universal dan nyata. Tidak membicarakan kejadian yang artifisial (yang dibikin–bikin) dan bersifat kebetulan.
  4. Sastra selalu bergerak, segar, dan baru. Ia tidak mau berhenti pada konvensialisme.
  5. Bahasa yang dipakai dalam sastra serius adalah bahasa standar yang bukan mode sesaat.

Sementara itu, ciri-ciri sastra popular adalah :

  1. Sastra popular, terutama jenis novel, biasanya terlalu menekankan plot cerita sehingga kadang-kadang mengabaikan karakterisasi, problem kehidupan, dan unsur-unsur novel lainnya.
  2. Biasanya cerita disampaikan dengan gaya emosional yang disusun dengan tujuan meruntuhkan air mata pembaca, akibatnya novel demikian hanya mengungkapkan permukaan kehidupan, dangkal, dan tanpa pendalaman.
  3. Masalah yang dibahas kadang-kadang juga artifisial. Isi cerita hanya mungkin terjadi dalam cerita itu sendiri, tidak dalam kehidupan nyata.
  4. Karena cerita ditulis untuk konsumsi massa, maka pengarang rata-rata tunduk pada hukum cerita konvensional, jarang kita jumpai usaha pembaharuan dalam jenis bacaan ini sebab hal tersebut akan meninggalkan massa pembacanya. Hal-hal tersebut merupakan cara-cara konvensional yang memungkinkan pembaca membangun dunia fiksi yang cukup mereka kenal agar merasa akrab.
  5. Bahasa yang dipakai dalam sastra popular adalah bahasa yang aktual, yang hidup di kalangan pergaulan muda-mudi zaman sekarang

Cerpen Penggugah Kehidupan

Padahal, bila diamati, begitu banyak cerpen bermutu yang dapat menggugah pikiran untuk lebih bijaksana dalam melihat sisi-sisi kehidupan ini. Gaya bahasa yang mudah dicerna dengan kalimat-kalimat yang baik yang mampu mengubah kehidupan. Masih banyak penulis yang merasa bertanggung jawab untuk membuat cerpen yang berkelas.

Cerpen bahkan bisa menjadi jembatan komunikasi antar-anggota keluarga. Bahasa tulisan terkadang lebih mengena pada sasaran dibandingkan dengan bahasa lisan. Tulisan lebih memiliki power dalam mempengaruhi otak manusia.

Buktinya, tidak sedikit tulisan yang dilarang beredar karena ditakutkan akan mempengaruhi cara orang berpikir. Tidak terkecuali cerpen. Jadi, walau bagaimana pun, jangan dianggap remeh keberadaan cerpen-cerpen. Tentu, kita masih harus memilih bacaan mana yang tepat dan pas untuk kita ataupun orang-orang terkasih yang ada di sekeliling kita.

Simbolisasi Spiritual atas Ikan dalam Cerpen Ikan Karya M.Irfan Hidayatullah

Cerpen berjudul Ikan karya M.Irfan Hidayatullah ini berkisah tentang seorang mantan koruptor yang terserang penyakit stoke sehingga tidak bisa berbuat apa pun untuk membongkar semua kejahatan politik teman-teman yang seprofesi dengannya. Dalam keadaan sekarat itulah ia bertransformasi secara psikologis sebagai ikan sehingga hidupnya seolah-olah sangat lemah dan tidak berdaya.

Dalam cerpen ini,ditemukan berbagai macam nada satir atas kelakuan moral para pejabat yang melakukan aksi korupsi sehingga imbauan tersebut secara tidak langsung, sebenarnya, memberikan ancaman terhadap para pelaku korupsi untuk berhati-hati atas tindakannya di kemudian hari. Namun pada pembahasan ini, saya lebih menitikberatkan analisis pada tokoh spiritual ikan yang sering disebut-sebut oleh tokoh ayah yang sedang mengalami keadaan psikologis dan fisik yang tidak baik.

Sebagian orang percaya jika bermimpi tentang ikan, tak lama lagi orang tersebut akan mengalami kelahiran. Dalam kepercayaan lain, orang berpendapat bahwa makna ikan di situmerupakan tanda adanya penyakit dan menurunnya kondisi kesehatan. Sementara dalam agama Kristen, Kristus kadang dilambangkan dengan symbol ikan sebagai makna spiritualitas.

Binatang ini mungkin membawa pesan dari alam bawah sadar dan menunjukkan seberapa baik kita mengendalikan lautan emosi. Ikan melambangkan nutrisi tubuh dan jiwa, serta pengendalian sisi dalam diri kita yang tidak diketahui.

Dalam cerpen ini, semua hal yang memaknai ikan seperti yang disebutkan di atas dapat dijadikan makna bagi tokoh ayah yang memang keadaannya sesuai dengan penggambaran yang telah disebutkan tersebut.

Makna kelahiran di sini bisa jadi merupakan sebuah tanda akan adanya kelahiran ruh yang baru, yakni ruh yang bersih dari segala tata laku dan pikiran yang buruk seperti terdapat dalam kutipan, Oh, betapa berdosanya aku.

Ya, tuhan ampunilah segala dosanya. Aku bersaksi dia adalah istri yang shalihah. (35) adanya kelahiran jiwa atau ruh baru tersebut ditandai pula oleh makna ikan berikutnya, yakni menurunnya kondisi kesehatan yang dialami tokoh ayah yangmemang sedang dalam keadaan stroke.

Sisi spiritual ini muncul saat tokoh ayah dipertemukan dengan teman-teman seprofesinya yang juga pernah melakukan korupsi, yakni saat dalam hati ia berkata mengenai kejahatan apa yang pernah dilakukan mereka dahulu sebelum ia jatuh sakit.

Dari penjelasan tersebut, dapat diambil simpulan bahwa penulis (M.Irfan Hidayatullah) berusaha mengungkap nilai spiritual seseorang yang bertaubat dan akan menghadapi ajalnya dengan simbol ikan dalam bayangannya yang muncul dari alam bawah sadar saat tokoh ayah merasa sangat pasrah dan tidak berdaya.

Speak Your Mind

*