Ciri-ciri Pecandu Blue Film

Blue film atau film porno tidak membawa manfaat apa-apa. Tidak mungkin suatu perbuatan dosa memberikan manfaat kepada manusia. Malah sebaliknya, seseoarng yang sangat baik sekali pun, ketika ia telah terjebak oleh tontonan yang memuakan tersebut, ia akan menjadi orang yang berbeda. Standar kebaikan yang pernah ia ketahui pun akan rusak dan ia bahkan akan melakukan dosa besar berupa zina. Tanpa ia sadari hasratnya menjadi menggelora untuk tidak takut lagi dengan dosa besar itu.

Bahaya Film Porno

Film porno adalah tayangan berupa adegan mesum, objek tanpa busana atau busana sangat minim yang dimaksudkan untuk meningkatkan gairah seksual penontonnya. Film ini telah begitu banyak menjerumuskan orang kepada wilayah yang paling hina. Awalnya mungkin merasa jijik menonton film seperti ini. Lama-kelamaan akan merasa ketagihan. Apapun akan dilakukan demi bisa menyaksikan adegan demi adegan yang membuat birahi mendidih.

Otak bahkan seolah tercuci sehingga tidak ingat siapa dan apa yang dilakukan. Tidak jarang malah merekam sendiri adegan hubungan suami istri yang dilakukan dengan orang yang tidak halal. Luar biasa sekali pengaruh adegan dalam film porno ini. Hal ini mungkin sama dengan narkoba. Efeknya dan kondisi kecanduannya tidak jauh berbeda. Gelora hasrat itu membawa orang ingin mempraktikan apapun yang telah ia tonton. Kalau pasangan sahnya tidak bisa melakukannya, ia akan mencar pasangan yang tidak sah yang bisa dia bayar.

Ajaibnya, kondisi ini tidak hanya terjadi pada kaum laki-laki. Kaum wanita pun merasakannya sehingga adanya arisan yang berhadiah tidur dengan seorang anak muda, yang dilakukan oleh para wanita di beberapa daerah, membuktikan kerusakan mental itu. Mereka merasa bahwa kalau bisa menikmati seks, maka tubuh menjadi segar dan akan awet muda. Berbagai adegan dalam bercinta malah menjadi satu tantangan yang harus ditahlukan.

Padahal rasanya para pemain di film biru itu merasa kesakitan ketika ia melakukan adegan yang diluar kebiasaan. Karena ia sedang bermain dalam film saja, ia pura-pura menikmatinya. Penipuan inilah yang tidak diketahui oleh para penonton yang tidak lagi rasional. Yang lebih mengerikan adalah kasus perkosaan yang semakin marak. Perkosaan itu terkadang dilakukan secara  massal hingga korbannya tidak sadarkan diri karena menanggung rasa sakit yang tak terperihkan.

Tidak hanya wanita yang menjadi korbannya. Anak laki-laki usia muda juga menjadi korban sodomi. Homoseksualitas semakin berkembang karena orang merasa sudah tidak puas dengan apa yang didapatkannya. Perasaan sulit mendapatkan kepuasan ini membuat banyak orang tidak hanya menonton film porno tetapi juga membuat cerita yang menjurus pada kehinaan. Dia mungkin tidak menyadari bahwa kalau ia senang bertingkah lakuk seperti itu, maka harga dirinya akan jatuh. Orang tidak lagi menaruh hormat kepadanya.

Tidak ada lagi akal sehat. Lingkungan sangat berpengaruh dalam hal ini. Seseorang yang mempunyai teman atau bahkan pasangan yang senang dengan film porno, maka ia pun akan tertular. Sekali melihat merasa jijik, lalu diam-diam melihat, hingga akhirnya melihat secara bersama dan mempraktikannya. Sangat disayangkan bisa hati dan jiwa yang bersih itu akhirnya ternodai oleh film yang tidak benar.

Dosa Besar

Kecanggihan teknologi tidak selamanya menguntungkan. Dikarenakan teknologi, tayangan blue film semakin mudah diakses melalui internet, bioskop, VCD/ DVD yang dijual bebas, bahkan melalu telepon genggam. Para remaja atau orang dewasa tanpa malu-malu merekam hubungan intim mereka. Kemudian dengan sengaja, atau tanpa sengaja, tayangan hasil rekaman itu beredar dan dilihat oleh jutaan mata dari berbagai kalangan dan usia.

Beberapa production house juga memproduksi film porno terselubung demi mengeruk keuntungan materi yang berlipat. Beberapa film remaja yang konon dibuat dalam rangka pendidikan seks ternyata isinya menjeremuskan, penuh adegan mesra dan intim di luar nikah. Belum lagi film-film horor yang diselipi adegan tidak senonoh yang bisa meningkatkan nafsu birahi. Mereka sudah tidak merasa berdosa lagi. Yang mereka rasakan hanyalah bahagia telah mendapatkan apa yang diinginkan.

Mereka menikmati setiap hubungan yang tidak halal itu. Tidak jarang dibanyak komunitas, pembicaraan yang menjurus kepada perbuatan yang hina ini , terdengar. Tidak hanya laki-laki yang piawai mengatakan kalimat-kalimat yang menjurus, kaum wanita pun seperti itu. Mereka pun tahu banyak istilah. Tidak ada lagi rasa malu dan rasa sungkan. Bahkan ada ajakan yang secara langsung dilontarkan. Ajakan untuk tidur bersama menikmati satu malam berbuat zina.

Hati yang telah tertutup itu membuat kehidupam menjadi kacau. Otak tidak bisa lagi berpikir jernih. Semuanya menjadi hitam dan tertutup selubung kenikmatan duniawai yang akan memusnakan rasa nikmat beribadah. Tingkah laku selanjutnya bisa ditebak. Ketika tidak mampu lagi melakukan adegan yang biasanya dilakukan, maka minum obat-obatan terlarang akan masuk ke agenda berikutnya. Seterusnya hingga penyakit menyerang dan semua kenimatan dicabut oleh Sang Maha Kuasa.

Tidak banyak orang yang akhirnya bertaubat dan menjalani terapi agar terbebas dari godaan untuk menonton dan membuat sendiri film seperti itu. Kalau pun ada, ia harus melalui berbagai halangan dan hatinya pun harus terbuka. Ia harus ikhlas menerima keimanan yang kembali bersemi. Kalau tidak, kematian yang tidak diinginkan dengan membawa amal yang sangat sedikit akan ia alami.

Film Porno = Narkoba – Penjara atau Mati!

Blue film tidak ada bedanya dengan narkoba. Berawal dari coba-coba melihat tayangan mesum, kemudian berlanjut untuk mengulanginya di kali kedua.  Semakin lama semakin penasaran dan ingin menonton adegan yang lebih syur lagi. Terus dan terus ingin melihat adegan yang lebih dahsyat daripada sebelumnya. Akhirnya jadilah ia pecandu film yang tidak karuan ini. Jika seseorang telah menjadi pecandu film jenis ini, kelainan yang jelas pun akan tampak dari berbagai sisi kehidupannya.

Pertama, ia menganggap bahwa pacaran, berciuman dan berpelukan adalah hal yang wajar. Bahkan tinggal satu atap dengan lawan jenis yang belum dinikahinya pun tidak menjadi masalah bagi dia. Ia bisa berpendapat seperti itu karena sering dicekoki  tayangan film porno yang isinya seputar pergaulan bebas dan kumpul kebo. Berganti pasangan demi mencari sensasi pun tidak masalah. Inilah pendapat hina yang membawa tiket ke neraka.

Kedua, arah pembicaraannya selalu mengarah kepada kegiatan seksual. Isi candaannya bermuatan istilah-istilah pornografi. Obrolan orang lain pun selalu diplesetkan ke arah sana. Otaknya seakan dipenuhi oleh kegiatan pornografi.

Ketiga, ia banyak menyimpan berkas film porno di gadgetnya, entah itu laptop, flash disk, harddisk komputer, memori telepon genggam, dan lain sebagainya. Ia selalu mencuri-curi waktu untuk menontonnya. Jika sehari dilalui tanpa menonton blue film, batin serasa tersiksa.

Keempat, munculnya penyimpangan seksual seperti onani dan masturbasi, yaitu kegiatan seksual yang dilakukan sendiri untuk menuntaskan hasrat birahinya akibat menonton blue film. Dampak negatif dari kegiatan tersebut adalah kerusakan otak karena senyawa yang mengatur kenikmatan terus dikeluarkan.  Jika otak rusak, maka orang tersebut akan menjadi pelupa, dan berkurang kecerdasannya. Belum lagi infeksi alat kelamin atau robeknya selaput dara serta keputihan jika perbuatan itu dilakukan berlebihan.

Perilaku menyimpang juga terlihat dari bagaimana ia memandang lawan jenis sebagai objek pelampiasan hasrat seksualnya. Tak heran beberapa kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual disebabkan karena pelaku ingin melampiaskan hasratnya setelah menonton  film porno.

Kelima, pecandu film porno terlihat sebagai orang yang tertutup dan mengisolasi diri karena menyimpan rasa bersalah. Tapi, bisa juga ia menjadi orang yang pandai bersosialisasi serta jual pesona demi memikat perhatian lawan jenis untuk melakukan seks bebas.

Keenam, ia akan rentan terjerumus pada pergaulan yang penuh maksiat dan dosa seperti perselingkuhan, homoseks/lesbian, seks bebas, aborsi atau pada alkohol dan obat-obatan terlarang. Sudah bisa dipastikan hidupnya tidak akan tenang karena mendapat tentangan dan penolakan baik dari segi agama maupun norma.

Lain halnya dengan orang-orang yang masih memiliki akal sehat. Ia lebih memilih keimanan dan menjauhkan diri dari maksiat. Meskipun godaan untuk menonton blue film lalu lalang dihadapannya, tapi ia memiliki keteguhan hati untuk tidak mendekatinya. Lebih baik mencegah diri dari menonton blue film daripada terjerumus secara perlahan tapi pasti yang akan berdampak buruk bagi kesehatan, emosi dan perilaku sosial.

Speak Your Mind

*