Contoh Karya Sastra – Kisah Indah dalam Karya

Ilustrasi contoh karya sastraKarya sastra tidak akan ada habisnya untuk dibaca. Banyak pengalaman berharga yang bisa kita dapatkan dari kisah karya sastra ini. Kita bisa menemukan berbagai kisah menarik dalam kumpulan contoh karya sastra. Ada begitu banyak contoh karya sastra ini, mulai dari novel, roman, puisi, cerita fabel, sejarah dan sebagainya. Semuanya memberikan makna tersendiri dalam kehidupan kita.

Contoh Karya Sastra – Cantik Itu Luka

Berikut adalah salah satu contoh karya sastra berbentuk novel berjudul Cantik Itu Luka. Sebagai sebuah novel, Cantik Itu Luka cukup menarik untuk dibahas. Novel yang ditulis Eka Kurniawan ini memandang kecantikan dari sudut yang berbeda. Siapa pun pasti menganggap kecantikan adalah sebuah anugerah sang pencipta. Dan, setiap perempuan pasti ingin terlahir cantik luar biasa. Namun, dalam novel ini ada seorang tokoh yang bernama Dewi Ayu. Sebagai tokoh utama, dia digambarkan penuh paradoks. Dia menganggap kecantikan yang dimilikinya adalah sebuah petaka, sebuah kutukan Tuhan. Dia tidak pernah menganggap bahwa kecantikan adalah sebuah anugerah. Justru kecantikan seorang perempuan adalah musibah.

Betapa tidak, Dewi Ayu yang mempunyai kecantikan laksana bidadari itu memacu berahi setiap laki-laki. Dan, dia dipaksa menjadi pelacur pada usia empat belas tahun. Dia harus melayani berbagai macam etnis dan karakter laki-laki setiap malamnya. Akhirnya, dia sadar bahwa kecantikan yang dimilikinya hanya untuk dinikmati laki-laki. Dia menjadi pelacur pada usia yang keenam puluh tahun.

Sebelum mati, dia sempat melahirkan. Aneh juga seorang perempuan tua berusia enam puluh tahun masih bisa hamil dan melahirkan. Saat bayi itu masih dalam kandungan, Dewi Ayu tidak menginginkannya. Dia sadar bahwa kecantikan surgawinya akan menurun kepada anaknya. Jika anaknya cantik, dia akan menjadi objek seks laki-laki atau menjadi pelacur seperti dirinya dan ketiga anaknya dulu.

Dewi ayu sempat melahirkan bayi perempuan sewaktu muda. Anak itu sangat cantik seperti bidadari. Namun, ketika dewasa anak itu menjadi pelacur seperti dirinya karena mereka sadar akan kecantikan yang bisa mereka jual. Atas kesadaran semacam itulah Dewi Ayu menganggap kecantikan hanyalah sebuah petaka untuk kaum hawa.

Anak yang sedang dikandung pada usia enam puluh tahun ini tidak ingin dilahirkannya. Dia banyak minum parasetamol dan air soda agar janin yang dikandungnya cepat mati. Namun, tetap saja janin itu tumbuh dalam rahimnya. Bahkan, ketika dia makan berkilo-kilo nanas muda untuk menggugurkannya, janin itu tetap hidup dalam perutnya. Dewi Ayu sempat mengorek kemaluannya dengan ranting agar bayi itu mati. Tapi, perjuangannya sia-sia. Bayi itu ingin dilahirkan ke dunia.

Akhirnya Dewi Ayu menyerah pada nasibnya. Dia akan melahirkan bayi itu. Dengan satu syarat, bayi itu akan tidak akan terlahir cantik, tetapi terlahir buruk rupa. Maka, tiap hari ia mengutuki bayi itu. ketika dia pergi ke kakus, dia melihat seonggok tahi. Dia ingin bayi yang dikandungnya seperti seonggok tahi. Dia melihat colokan listrik. Dia ingin hidung bayinya seperti colokan listrik. Dia mengutuki tiap saat janinnya itu.

Bayi itu akhirnya lahir juga dengan keadaan apa yang dia inginkan. Dia bangga dengan bayinya. Dia memberi nama bayinya si cantik. Bayi terlahir dengan wajah yang sangat buruk dengan kulit yang hitam seperti kena luka bakar. Bahkan, bayi itu sangat mengerikan untuk dilihat, sama mengerikannya seperti nereka. Dukun beranak yang membantu persalinannya berkata, “Dunia akan menjahatinya tanpa ampun.”

Setelah melahirkan bayi itu, Dewi Ayu ingin mati. Dia membungkus dirinya dengan kain kafan dan tidur di keranda mayat sendiri menunggu kematian dengan kesabaran yang agung. Akhirnya, Dewi Ayu mati setelah menunggu mati selama seminggu.

Dia bangkit kembali setelah 21 tahun terkubur. Dia ingin melihat keadaan anaknya yang buruk rupa. Seperti apa dunia memperlakukan perempuan jelek. Apa bedanya antara cantik seperti bidadari dan buruk rupa seperti iblis. Akankah laki-laki memperlakukan hal yang sama. Jawabannya ada dalam novel Cantik Itu Luka yang surealis, menggelitik, dan penuh paradoks.

Contoh Karya Sastra – Penggalan Gelang Giok Naga

Kita beralih pada contoh karya sastra lainnya yang berlatar belakang sejarah dan mitos. Contoh karya sastra ini diangkat dari novel karya Leny Helena yang mengisahkan perjalanan gelang giok naga dari generasi ke generasi. Konon gelang giok naga ini merupakan milik dari selir raja Dinasti Ching yang bernama Yang Kuei-Fei. Konon selir ini memiliki paras yang cantik di bandingkan dengan selir yang lainnya, serta selir yang mengubah takdir kerajaan.

Selir Yang Kuei-Fei merupakan selir kesayangan kaisar, sampai-sampai sang permaisuri pun cemburu padanya. terlebih lagi setelah mengetahui kabar jika selir Yang Kuei-Fei mengandung anak raja. Serta merta permaisuri merasa terancam dengan kehadiran selir Yang Kuei-Fei, karena dia tidak kunjung mengadung anak raja. Sehingga terjadilah peristiwa itu.

Sebulan telah berlalu. Yang Kuei-Fei berlari sepanjang koridor panjang. Cukup berhati-hati, dia menyembunyikan tubuhnya di balik pilar-pilar raksasa. Walaupun dia tahu tak ada seorang pun pengawal dalam Gu Gong setelah matahari terbenam, tetapi masih banyak kasim yang ditugaskan berjaga malam. Benaknya berusaha mengira-ngira letak kamar Kasim Fu. Dia memang belum pernah berada dalam kompleks kasim tingkat tinggi sebelumnya. kasim Fu memberi tahu letak kamarnya pada Yang Kuei-Fei, untuk dia manfaatkan dalam keadaan darurat. dan keadaan ini benar-benar darurat.

Tujuh pilar sebelah kanan setelah patung kerbau besar. Yang Kuei-Fei menghitung kembali pilar yang telah dia lalui. Setelah merasa yakin, dia melubangi kertas pelapis jendela dan mengintip ke dalam. Dia bisa melihat Kasim Fu sedang tidur terlentang. tanpa menunggu lebih lama, Yang Kuei-Fei membuka pintu. Kasim Fu memang pernah berkata bahwa dia tidak pernah mengunci kamarnya untuk mengantisipasi keadaan darurat. Belum lagi Yang Kuei-Fei menutup pintu, Kasim Fu telah berdiri siaga. Dia tahu.

“Dia meninggal…,” bisik Yang Kuei-Fei. Suaranya bagai derit pintu dengan engsel yang telah lama tidak diminyaki, tercekik oleh kepanikannya sendiri. “Bagaimana mungkin…? Apa yang terjadi?” Kasim Fu menuntu penjelasan.

“Tadi siang, setelah Anda mengunjungi Paviliun Bunga Mei, hamba diundang makan siang oleh Permaisuri Tsu di Istana Barat. Hamba menerimanya dengan senang hati karena beliau selama beberapa hari ini selalu menunjukkan sikap bersahabat, bahkan Permaisuri senantiasa memanggil hamba dengan sebutan ‘Adikku’.

“Permaisuri adalah nyonya rumah yang sempurna, tidak kurang dari seratus hidangan manjadi jamuan, yang semuanya sudah diketahui adalah kegemaran hamba. Pembicaraan kami juga tidak serius. Beliau hanya menanyakan kapan hamba mendapat haid hamba yang terakhir karena Kaisar tidak putus-putusnya selama sebulan penuh mengunjungi hamba”.

“Kasim Fu, walau kita bisa mengelabui dayang-dayang pembersih dengan darah ayam seminggu yang lalu, tampaknya Permaisuri tetap mencurigai hamba sedang mengandung darah daging Kaisar. Sebisa mungkin hamba menepis keraguan Permaisuri, seperti sudah Kasim Fu perintahkan. Kehamilan ini sebaiknya kita rahasiakan.”

“Setibanya hamba di Paviliun Bunga Mei, seorang dayang Permaisuri memberikan sebuah semangka besar. Semangka tersebut diletakkan dalam guci berisi air yang sudah diembunkan selama tiga malam sehingga ketika hamba membelahnya pada malam hari, dagingnya yang merah berair terlihat begitu segar laksana air mata naga”.

“Hamba sama sekali tidak bermaksud menghidangkannya pada Kaisar karena hari sudah malam dan memakan sesuatu yang dingin ketika matahari telah terbenam akan melanggar keseimbangan. Hamba hanya meletakkannya di meja untuk memberitahu Kaisar bahwa hamba bersahabat dengan Permaisuri. Karena beliau tahu, semangka hanya tumbuh di Istana Barat. Tak dinyana, ketika kedua dayang hamba telah keluar, dan hamba memainkan harpa Geng, Baginda Kaisar memakan semangka itu. Kemudian baginda tertidur, hamba beranikan diri mendekatinya…ternyata…Baginda…Baginda…tidak lagi bernapas. Kasim Fu, apa yang harus kita lakukan?” Yang Kuei-Fei mengatakan kita mencari dukungan.

Raut wajah Kasim Fu mengeras. “Tolol…,” desisnya tertahan. Penuh kegeraman dia pandangi Yang Kuei-Fei. “Kutuklah hamba. Namun, bagaimana mungkin seseorang meracuni sebutir semangka yang masih utuh. Anda sendiri berkata bahwa tak ada satu pun tanaman di sitana ini yang mengandung racun.

Masih sambil berpikir Kasim Fu berkata, “Ada dua kemungkinan. Semangka tersebut diracuni untuk membunuhmu karena Permaisuri cemburu kau telah terlebih dahulu mengandung keturunan Kaisar. Selain air, pohon semangka tersebut diberi arak khusus yang menjadikan buahnya berbahaya bagi pencernaan. Kemungkinan kedua, permaisuri memang ingin membunuh kaisar. Semangka itu tidak diracun, tapi petang tadi kuketahui Kaisar mengunjungi Permaisuri. Kita tidak bisa mengira siapa saja musuh kita saat ini. Harus kuakui, kau telah berhasil memengaruhi Kaisar untuk tidak memperluas jajahan, yang membuat pihak lawan kita tidak senang. Aku sama sekali tidak menyangka, Permaisuri ada dalam lingkaran persekongkolan ini. “Bagaimana pun, istana ini tidak lagi aman bagimu…bagi kita. Kita harus secepatnya menghilang…”

Kisah pun bergulir dari sini. Sampai gelang giok naga ditemukan kembali oleh generasi yang entah sudah keberba dari selir Yang Kuei-Fei. Kisah gelang giok naga yang berliku, dari satu pemilik ke pemilik yang lainnya. Mengubah takdir bagi generasi yang mengenakannya. Selanjutnya bisa Anda lihat selengkapnya, bagaimana pelarian selir dan Kasim Fu menjadi cikal bakal kisah heroik generasi selir Yang Kuei-Fei dan Kaisar Jia Shi.

Speak Your Mind

*