Dampak Dan Pencegahan Onani

Onani merupakan aktivitas yang banyak dilakukan remaja. Aktivitas yang berupa proses pencapaian orgasme atau kepuasan seksual secara individu ini, lebih identik dengan kaum pria. Untuk perempuan, aktivitas yang sama lebih dikenal dengan istilah masturbasi.

Banyak cara yang dilakukan para pelaku onani ini. Namun tujuannya sama, yakni mendapatkan kepuasan seksual tanpa harus berhubungan intim dengan pasangannya. Mengapa pelakunya sebagian besar adalah remaja laki-laki dan belum menikah? Hal ini disebabkan pada usia remaja, hormon seksual sedang mengalami pertumbuhan dan didukung oleh masih kuatnya fisik.

Untuk pria yang belum menikah, onani dipilih sebagai pelampiasan nafsu syahwat yang merupakan hal normal terjadi. Golongan ini memilih onani salah satu alasannya adalah untuk menghindari adanya hubungan seks di luar nikah.  Juga untuk mencegah terjangkit penyakit kelamin akibat berganti – ganti pasangan.

Dampak Onani

Secara ilmu kedokteran, belum ada literature yang merujuk pada dampak onani secara fisik. Bila ada yang beranggapan aktivitas onani akan menyebabkan ukuran alat kelamin pria berubah, itu hanyalah rumor. Karena memang belum ada penelitian yang bisa membuktikannya.

Hanya dari sisi kejiwaan, onani memiliki dampak terhadap perilaku seksual seseorang. Karena dalam aktivitas tersebut, pelaku cenderung akan berimajinasi kepada lawan jenis yang memiliki kesempurnaan baik fisik maupun perilaku. Akibatnya ketika fantasi tersebut tidak berhasil di dapat dalam kehidupan nyata, akan mengurangi gairah pelaku dalam aktivitas seksualnya.

Selain itu, onani juga bisa menyebabkan seseorang mengalami ancaman ejakulasi dini. Hal ini seiring dengan saluran sperma yang seringnya dilalui oleh sperma sehingga jalur tersebut lebih longgar daripada saluran sperma yang jarang dilalui. Ibaratnya, jalur yang makin sering menerima gesekan tersebut cenderung lebih longgar.

Pencegahan Onani

Untuk mengurangi kebiasaan onani, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Di antaranya :

  1. Perbanyak aktivitas, sehingga pikiran tidak diisi oleh lamunan-lamunan yang tidak perlu.
  2. Olahraga. Hal ini sangat bermanfaat untuk menyalurkan kelebihan energi yang dimiliki oleh kalangan remaja.
  3. Puasa. Dengan perut yang kosong, maka energi yang dimiliki bisa lebih dihemat untuk daya tahan puasa. Sehingga hasrat untuk “berbuat” pun bisa lebih dikurangi. Apalagi, dalam agama juga dianjurkan untuk berpuasa bagi siapa saja yang tidak mampu memerangi nafsu syahwatnya.

Speak Your Mind

*