Dimana Kekurangan Novel Laskar Pelangi?

Ilustrasi kekurangan novel laskar pelangi
Novel Laskar Pelangi adalah novel fenomenal dalam 10 tahun terakhir ini. Novel ini bersaing ketat dengan Novel Ayat-Ayat Cinta yang juga mengalami megabest seller. Yang artinya bahwa novel ini telah dibaca oleh ribuan atau bahkan jutaan orang. Sungguh sesuatu yang sangat luar biasa. Begitu terkenalnya novel ini, membuat Riri Riza dan Mira Lesmana sampai memfilmkan cerita 10 anak dari pulau Belitong ini. Tetapi, apakah ada kekurangan novel laskar pelangi yang bisa kita ulik?

Kehebatan Novel Laskar Pelangi

Sebelumnya, mari kita lihat dulu kelebihan dari novel berjumlah 494 halaman ini. Novel Laskar Pelangi ditulis oleh Andrea Hirata dan diterbitkan oleh penerbit Bentang, Yogyakarta.  Novel ini bagus sekali untuk dibaca karena menceritakan tentang perjuangan 10 orang anak miskin yang ingin terus bersekolah. Lengkap dibumbui oleh kisah-kisah jenaka dan mengharukan. Lantas dimana kekurangan novel laskar pelangi ini?

Masalah pendidikan menjadi sesuatu yang sangat manis dituturkan dalam novel ini. Indahnya dan manisnya memang baru bisa dirasakan ketika hasil dari pendidikan itu telah dirasakan pada saat ini. Ketika saat-saat itu dialami, pasti ada rasa getir. Apalagi melihat sekolah lain yang berada tidak jauh dari situ, terlihat megah dengan segal fasilitas yang begitu menunjang. Sebuah sekolah yang didukung penuh oleh sebuah perusahaan timah yang cukup besar dan sangat berjaya.

Sayang memang saat ini tidak bisa menyaksikan kehebatan dan kebesaran perusahaan tambang timah itu lagi. Dahulu, perusahaan itu sangat maju sehingga pulau Bangka dan Belitong menjadi terkenal dan makmur. Mungkin orang tidak banyak tahu bahwa ada kisah tentang pendidikan yang terlihat dianaktirikan. Namun, begitulah kenyataan hidup. Bahwa yang miskin akan semakin miskin dan yang kaya akan semakin kaya.

Andrea Hirata sangat tahu bahwa hanya dengan pendidikanlah maka nasib itu bisa diperbaiki. Orang yang mempunyai ilmu akan berusaha mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Dengan penghasilan yang cukup baik inilah ia akan menikmati sedikit keindahan dunia. Demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik itulah, orang harus mempunyai mimpi. Dalam novel ini, Andrea Hirata menggambarkan betapa impian itu adlaah suatu tambuk dan bahan bakar yang akan membuat orang bergerak terus dan berusaha mencari jalan menuju impiannya.

Kalau terasa lelah dalam menggapai impian itu, itulah pertanda bahwa impian itu sudah tidak lagi mimpikan. Kalau begitu, ganti dengan mimpi lain. Kisah seorang wanita yang bermimpi mempunyai rumah impiannya tanpa mengutang, membuatnya menabung selama puluhan tahun. Ia pun sempat mengalami peristiwa penipuan yang menghabiskan hampir seluruh hartanya. Impian mendapatkan rumah impian tanpa kredit atau utang itu terus dilakukannya. Walaupun ia sempat tergiur mengambil kredit ke bank, ia akhirnya kembali ke impiannya semula.

Ia juga sempat berpikir meminta pinjaman kepada orangtuanya. Tetapi mimpi mendapatkan ruamh tampa utang itu terus saja membayang. Ia bahkan sempat berpikir bahwa mungkin Tuhan tidak akan memberinya rezeki rumah tanpa utang. Namun, tiap kali ia mundur, tiap kali itu juga impiannya menariknya. Inilah yang dirasakan oleh orang-orang yang yakin bahwa impiannya akan menjadi nyata. Ia tidak akan melupakan mimpi itu ataupun surut ke belakang. Impian itu begitu menarik dan mengguncang jiwa.

Tarikan Mimpi – Jangan Takut bermimpi

‘Bermimpilah dan biarkan mimpi yang akan menarik Anda’. Begitulah kira-kira yang mungkin yang hendaka disampaikan penulis Laskar Pelangi kepada pembacanya. Pada awalnya, novel ini tidak dilirik karena temanya berbeda dengan tema novel lain yang sedang digemari. Namun, sekali lagi, kekuatan mimpi itu menarik sehingga banyak yang membacanya dan bahkan acara Kick Andy mengundang penulisnya dan membahas kisah dalam novel tersebut.

Tidak hanya sampai di sana tarikan dari mimpi-mimpi itu, Riri Reza dan Mira Lesmana membuat filmnya. Tidak hanya sebuah film yang berasal dari novel karangan Andrea Hirata, tetapi sudah ada dua film yang merupakan lanjutan dari kisah Laskar Pelangi. Jangan takut bermimpi. Seorang tukang jahit yang bermimpi tidak akan menjahit lagi dimasa tuanya, bekerja sebagai seorang tukang kebun dan menggarap kebun karetnya sendiri. Ia yakin bahwa suatu saat karet itu akan menghasilkan dan akan memberikan uang yang banyak. Ia hanya berpikir bahwa pendapatannya dari menjahit tidak akan cukup membiayainya berziarah ke Ka’bah. Keinginan dan impian itu begitu kuat sehingga ia terus menanamkan uangnya di kebuh karetnya.

Cemoohan dan tentangan dari keluarga tidak akan menyurutkannya karena impiannya telah menyeretnya ke pusaran kenyataan yang akan terlihat dimasa depannya. Akhirnya impian itu pun menjadi nyata. Kini ia telah umroh dan haji. Ia tidak lagi menjahit dan hanya mengamati kebun karetnya. Jangan remehkan cita-cita dan impian. Mereka adalah doa yang dipanjatkan kepada Sang Pengusa jagad raya. Tiada yang tidak mungkin bagi-Nya.

Hanya saja manusia harus jujur mengikhlaskan dirinya hanya kepada-Nya. Allah Swt itu sangat oencemburu. Jangan sesekali menyekutukannya. Pasrahkan diri dan yakinlah suatu saat kalau menjalani kehidupan dengan ikhlas, pasti ada hasil. Banyak yang telah membuktikannya sehingga tidak ada yang harus diragukan lagi dengan kekuatan impian itu. Doa yang terlahir dari dalam hati yang terdalam akan menarik ke pusaran kenyataan yang indah sehingga ucap syukur itu akan terdengar begitu menyentuh kalbu.

Inilah yang digambarkan dalam Laskar Pelangi. Tidak mengherankan kalau kini Laskar Pelangi diterbitkan dalam bahasa Inggris dan dijual di beberapa negara. Hebatnya lagi, Laskar Pelangi menjadi buku best seller internasional. Walaupun ada yang meragukannya dan bahkan membuat analisisnya di medaia digital dan hingga Anrea Hirata harus menempuh jalur hukum, tidaklah semua itu mengurangi keindahan kisah ke-10 anak Belitong dengan seorang guru yang mereka cintai.

Kekurangan Novel Laskar Pelangi

Bila ditilik-tilik, hampir sedikit sekali kekurangan novel Laskar Pelangi ini. Bagi sebagian besar orang, hal yang paling menganggu dari novel ini adalah penuturan gaya bahasanya yang berat dan terlalu penuh dengan metafora. Tetapi itu bukan suatu kekurangan. Inilah bentuk bertutur yang lain yang harus dipelajari oleh pembaca di Indonesia.

Namun karena sering dibicarakan dimana-mana, rasa penasaran membuat orang rela membaca novel yang masuk genre sastra ini. Terlepas dari kekurangan Laskar Pelangi yang penuh dengan metafora berlebihan, cerita ini sangat mendidik dan selalu direkomendasikan untuk dibaca oleh guru-guru sekolah terpencil. Tentu saja, semangat mengajar dan belajar dalam novel ini akan menggugah guru-guru honorer yang sempat malas untuk mendidik siswa-siswi mereka.

Satu lagi kekurangan Laskar Pelangi yang bisa kita tilik adalah banyaknya cerita yang melompat-lompat. Bagi sebagian penggemar Andrea Hirata, cerita melompat-lompat ini dianggap sebagai ciri khas dari seorang Andrea. Namun bagi pembaca awam, cerita yang melompat ini sungguh mengganggu keasyikan membaca. Ini juga cara lain mendidik diri melihat sesuatu dari pandangan yang berbeda.

Tak jarang pula, ada beberapa kalimat atau beberapa halaman yang sebenarnya tidak perlu ada di dalam novel itu. Yang kalau dihilangkan pun tidak akan berpengaruh besar terhadap cerita.  Satu lagi kekurangan Laskar Pelangi ini adalah, penuturan yang agak berlebihan bila mengingat yang menuturkannya ini adalah anak SD. Bahasa-bahasa ilmiah dan sastra yang berat.

Tapi ini mungkin salah satu kelebihan cerita ini. Kecerdasan Lintang yang terlalu hiperbola juga menjadi satu titik kekurangan novel Laskar Pelangi ini. Karena setting cerita adalah pulau Belitong yang miskin akses informasi.  Maka perlu ditanyakan, darimana Lintang bisa sangat pandai Bahasa Inggris dan kecerdasannya melampaui mahasiswa? Padahal mencari buku teks saja susah.

Dari Novel ke Film
Kekurangan Laskar Pelangi itu dipoles oleh Riri Riza dan Mira Lesmana dalam film dengan judul yang sama, Laskar Pelangi. Riri Riza membuat kecerdasan Lintang hanya sebatas kecerdasan anak SMP saja. Jadi tidak terlalu berlebihan. Harga buku yang mahal dan sulit dijangkau oleh kaum marjinal juga menjadi satu kekurangan dari novel Laskar Pelangi ini.

Namun meskipun begitu, novel ini patut diacungi empat jempol karena berhasil membius pembaca di seluruh Indonesia. Tentu saja membawa dampak positif terhadap semangat belajar dan mengajar para guru dan siswa di seluruh tanah air.

Speak Your Mind

*