Dinamika Iklim Dunia

Ilustrasi Iklim Dunia 

Iklim merupakan keadaaan rata-rata cuaca dalam jangka waktu 30 tahun. Iklim berbeda dengan cuaca. Penentuan iklim suatu wilayah membutuhkan data cuaca dalam jangka waktu 30 tahun atau lebih. Begitupun dengan iklim dunia.

Adapun cuaca merupakan keadaan udara dalam jangka waktu 24 jam. Meskipun berbeda tetapi keduanya saling berkaitan dan menjadi satu dalam pembahasan ilmu iklim atau klimatologi. Adapun unsur-unsur yang dapat dijadikan indikator proses cuaca dan iklim dunia adalah sebagai berikut.

  • Suhu dan temperatur udara, unsur ini berkaitan dengan penerimaan panas matahari oleh bumi yang meliputi sudut datangnya matahari, lamanya penyinaran matahari, bentuk muka bumi, banyak sedikitnya awan, amplitudo harian, dan suhu horizontal.
  • Tekanan udara, unsur ini merupakan gaya yang timbul akibat beratnya lapisan udara. Diukur dengan satuan mb (millibar).
  • Angin, unsur ini merupakan pergerakan udara dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah.
  • Kelembaban udara merupakan banyak sedikitnya uap air yang terkandung dalam udara. Terdapat 2 jenis kelembaban udara, yaitu mutlak dan relatif.
  • Hujan adalah hidrometeor atau presipitasi (dalam hidrologi) yang berwujud cairan yang jatuh mencapai permukaan bumi. Intensitas dan jumlah hujan merupakan unsur yang menentukan dalam proses cuaca dan iklim.

Kelima unsur inilah yang menentukan kondisi cuaca dan iklim di suatu wilayah.

Persebaran Iklim Dunia

Persebaran iklim dunia berkaitan dengan klasifikasi iklim. Klasifikasi iklim sendiri dibedakan menjadi iklim matahari, iklim fisis, dan iklim berdasarkan para ahli.

Berikut ini adalah penjabarannya.

Iklim Matahari

Pembagian iklim ini didasarkan pada letak astronomis. Iklim ini dibagi menjadi 4, yaitu sebagai berikut.

  1. Iklim tropis yang terletak pada 23 1/2 derajat LU – 23 1/2 derajat LS.Persebaran iklim ini di Asia tenggara, Afrika, beberapa wilayah Australia, wilayah Pasifik, dan sebagian Amerika Selatan. Wilayah-wilayah ini memiliki ciri menonjol dengan curah hujan yang tinggi sehingga memiliki hutan hujan tropis serta keanekaragaman flora dan fauna.
  2. Iklim subtropis yang terletak pada 23 1/2 derajat LU/LS – 40 derajat LU/LS.Persebaran iklim ini di Amerika serikat, Korea, Tokyo, Shanghai, dan sekitarnya.
  3. Iklim sedang yang terletak pada 40 derajat LU/LS – 66 1/2 derajat LU/LS.Persebaran iklim ini di negara-negara Eropa, Rusia, Kanada, dan sekitarnya.
  4. Iklim kutub yang terletak pada 66 1/2 derajat LU/LS – 90 derajat LU/LS.Persebaran iklim ini di Greenland, Kutub Utara, dan Kutub Selatan.

Iklim Fisis

Iklim fisis didasarkan pada pembagian daerah berdasarkan kondisi sesungguhnya sebagai pengaruh faktor-faktor fisis. Faktor-faktor fisis tersebut antara lain pengaruh daratan yang luas, pengaruh lautan, pengaruh angin, pengaruh arus laut, pengaruh vegetasi, dan pengaruh topografi. Berdasarkan kelima faktor tersebut, iklim fisik terbagi menjadi berikut.

  1. Iklim laut atau maritimPersebaran iklim ini di daerah tropis, subtropis, dan sedang. Pada ketiga daerah ini memiliki ciri yang hampir sama, yaitu amplitudo hariannya rendah, banyak awan sehingga sering terjadi hujan bahkan badai, dan suhu rata-rata tahunan rendah.
  2. Iklim darat atau kontinentalPersebaran iklim ini di daerah tropis, subtropis, dan sedang. Terdapat perbedaan ciri antara daerah tropis dan subtropis dengan daerah sedang. Pada daerah tropis dan subtropis memiliki ciri amplitudo suhu hariannya rendah sedangkan tahunannya besar dan memiliki curah hujan sedikit disertai topan atau badai.

    Adapun pada daerah sedang memiliki ciri amplitudo tahunan yang besar, curah hujan sedikit tanpa disertai topan atau badai, dan suhu udara rata-rata pada musim panas  cukup tinggi dan rendah pada musim dingin.

  3. Iklim pegununganPersebarannya ada pada daerah pegunungan seperti Tibet dan Dekan. Iklim ini memiliki ciri amplitudo harian atau tahunan yang kecil, umumnya berada di daerah iklim sedang, memiliki daerah banyak hujan dan bayangan hujan (daerah sedikit curah hujannya), serta terkadang di beberapa daerahnya turun salju.
  4. Iklim musonCiri yang menonjol dari iklim muson adalah pada 6 bulan sekali bertiup angin muson barat yang membawa banyak uap air sehingga menimbulkan banyak hujan. Pada 6 bulan berikutnya bertiup angin muson timur yang membawa sedikit uap air sehingga menimbulkan kemarau.

Iklim Menurut Koppen

Koppen membagi iklim berdasarkan temperatur dan curah hujan. Di mana untuk ciri-ciri temperatur dan curah hujan digunakan huruf besar dan kecil, yaitu sebagai berikut.

Ketentuan pemakaian huruf  besar didasarkan pada temperatur.

A= temperatur normal pada bulan terdingin paling rendah adalah 18 derajat Celsius. Suhu tahunannya mencapai 20 derajat Celsius – 25 derajat Celsius dengan curah hujan 60 cm/th.

B= temperatur normal pada bulan terdingin antara 18 derajat Celsius – 3 derajat Celsius.

C= temperatur pada bulan terdingin di bawah 3 derajat Celsius.

D= temperatur pada bulan terpanas di atas 0 derajat Celsius.

E= temperatur pada bulan terpanas di bawah 10 derajat Celsius.

F= temperatur pada bulan terpanas antara 0 derajat Celsius – 10 derajat Celsius

G= temperatur pada bulan terpanas di bawah 0 derajat Celsius

Ketentuan pemakaian huruf kecil didasarkan pada curah hujan.

b= iklim kering

f= selalu basah di semua musim

s= bulan kering pada musim panas

w= bulan kering pada musim dingin

m= adanya musim penghujan dan musim kemarau

Berdasarkan ketentuan di atas, Koppen membedakan iklim menjadi 5 kelompok, yaitu sebagai berikut.

  1. Iklim A, yaitu iklim khatulistiwa. Di mana terdapat iklim Af (hutan hujan tropis), Am (hutan musim), dan Aw (sabana).
  2. Iklim B, yaitu iklim subtropis. Di mana terdapat iklim Bs (Stepa) dan Bw (gurun).
  3. Iklim C, yaitu iklim maritim. Di mana terdapat iklim Cf (tidak ada musim kering), Cw (tidak ada musim dingin yang kering), dan Cs (musim panas kering).
  4. Iklim D, yaitu iklim kontinental yang terdiri dari Df (kontinental selalu basah) dan Dw (kontinental dengan musim dingin yang kering).
  5. Iklim E, yaitu iklim salju yang terdiri atas ET (tundra) dan EF (salju abadi).

Iklim Menurut Oldeman

Pembagian iklim menurut Oldeman menitikberatkan pada banyaknya bulan basah dan bulan kering secara berturut-turut sehingga sering dikaitkan dengan zona agroklimat. Penggolongan iklim menurut Oldeman ini lebih praktis karena dapat memberi petunjuk untuk pemanfaatan lahan pertanian. Oldeman membagi iklim berdasarkan 5 subdivisi.

  1. Subdivisi I: jumlah BK (bulan kering) < 2, jumlah BB (bulan basah)= 11-12, masa tanam bulan 11-12, dan kemungkinan penanaman tanaman pangan dapat sepanjang tahun.
  2. Subdivisi II: jumlah BK= 2-3, jumlah BB= 9-10, masa tanam bulan 9-10 dengan penanaman yang dapat dilakukan sepanjang tahun tetapi harus dengan perencanaan yang teliti.
  3. Subdivisi III: jumlah BK= 4-6, jumlah BB= 6-8, masa tanam bulan 6-8 dengan penanaman 2 tanaman secara bergantian masih mungkin dilakukan. Namun kondisi bero (lahan tidak dapat ditanami) dapat terjadi.
  4. Subdivisi IV: jumlah BK= 7-9, jumlah BB= 3-5, masa tanam bulan 3-5, dan kemungkinan hanya dapat ditanami tanaman pangan sebanyak 1 kali.
  5. Subdivisi V: jumlah BK= 9, jumlah BB= 3, masa tanam bulan 3 dengan kemungkinan penambahan sumber air dan sistem irigasi yang baik.

Iklim Menurut Schmidt Ferguson

Dalam pembagian iklim menurut Schmidt Ferguson dititikberatkan pada tipe curah hujan dan penggolongannya. Langkah penentuannya adalah menghitung Q (gradien tingkat kebasahan. Q diperoleh dari (jumlah BK: jumlah BB) x 100 %.

Sedangkan penentuan BK dan BB didasarkan pada klasifikasi Mohr, di mana BK adalah curah hujan < 60 mm dan BB adalah curah hujan >100 mm. Hasil Q kemudian dicocokan pada ratio Q, yaitu: 1) iklim A, jika Q=  0–14,3%, 2) iklim B, jika Q= 14,3–33,3%, 3) iklim C, jika Q= 33,3–60%, 4) Iklim D, jika Q= 60–100%, 5) iklim E, jika Q= 100–167%, 6) iklim F, jika Q= 167–300%, 7) iklim G, jika Q= 300–700%, dan 8) iklim H, jika Q > 700%.

Perubahan Iklim

Kita semua mengetahui bahwa cuaca dan iklim bersifat dinamis atau selalu berubah. Apakah sifat dinamis ini dapat diartikan seperti ini: “Iklim Indonesia yang tropis mungkin suatu saat akan berubah menjadi subtropis karena pergerakan lempeng sebesar 7 cm/th sehingga letak wilayah Indonesia berubah lintangnya ke daerah subtropis dan ini berlaku pada semua benua”? Tentu tidak demikian.

Dinamika cuaca dan iklim yang saat ini terjadi lebih disebabkan faktor antropogenik atau manusia. Jadi, bukan karena faktor alam seperti perubahaan aerosol akibat letusan gunung api atau pergerakan lempeng.

Aktivitas manusia terutama sejak revolusi industri telah mendorong berbagai pencemaran terutama pencemaran udara. Pencemaran udara inilah yang diindikasi sebagai faktor dominan perubahan iklim dunia atau iklim global.

Sebagai contoh, wilayah yang dahulunya masuk ke dalam wilayah beriklim kutub dengan salju abadi, kini menjadi wilayah yang hangat dengan pencairan es secara besar-besaran.

Penyebab dominan dari kondisi ini adalah konsentrasi CO2 di atmosfer yang semakin meningkat. Penggunaan bahan bakar fosil baik untuk kendaraan, industri peternakan, atau proses industri telah menyumbang jumlah CO2 di atmosfer.

Ditambah dengan alih fungsi hutan menjadi kawasan industri dan penebangan hutan secara besar-besaran untuk keperluan manusia menyebabkan berkurangnya pohon yang memiliki fungsi penyerap CO2 di udara.

Akibatnya, CO2 membentuk lapisan tersendiri di atmosfer yang menghalangi sinar UV keluar dari bumi. Inilah yang kemudian sering disebut sebagai efek rumah kaca. Di mana CO2 seperti plastik besar yang membungkus bumi dan menghalangi sinar UV keluar sehingga menyebabkan suhu bumi semakin panas.

Meningkatnya suhu bumi tentu saja memberikan dampak besar baik secara ekologi (lingkungan), ekonomi, iklim, kesehatan, dan sebagainya.

Salah satu dampak terbesar dari peningkatan suhu bumi ini adalah perubahan iklim global. Saat ini kita merasakan bagaimana musim semakin sulit diprediksi. Jika terjadi hujan, sering disertai badai sehingga bajir terjadi. Jika kemarau, air benar-benar sulit dicari sehingga kekeringan terjadi.

Penduduk di kawasan Pasifik pun harus kehilangan tempat tinggal karena wilayah mereka tenggelam. Hal ini diakibatkan mencairnya es di kutub sehingga permukaan air laut meningkat.

Bagi kawasan Pasifik yang memiliki ketinggian kurang lebih 2 mdpl, tentu tidak bisa terhindar dari bencana tenggelamnya pulau-pulau di kawasan mereka. Bukan hanya manusia, fauna di daerah kutub pun kehilangan makanan dan habitat mereka karena pencairan es secara besar-besaran.

Berbagai upaya telah dilakukan penduduk dunia melalui konferensi dan kesepakatan-kesepakatan global untuk mengurangi pencemaran udara, antara lain dengan kompensasi carbon. Artinya, negara-negara industri atau penghasil karbondioksida dalam jumlah besar akan memberikan dana untuk negara yang memiliki hutan hujan tropis.

Dana ini selanjutnya digunakan untuk pengelolaan hutan dan lingkungan. Beberapa industri kendaraan juga gencar melakukan terobosan untuk membuat kendaraan yang ramah lingkungan dan hemat bahan bakar. Reboisasi juga terus dilakukan di beberapa wilayah. Penekanan alih fungsi lahan hijau juga dilakukan dengan berbagai kebijakan.

Pada intinya, masyarakat dunia semakin sadar akan bahaya perubahan iklim global. Kesadaran dan tindakan penyelamatan lingkungan semacam ini harus terus ditingkatkan agar bumi mampu menopang kehidupan di masa mendatang.

Speak Your Mind

*