Drama Romeo Juliet dari Sisi Sosiologis

Kisah Romeo Juliet dianggap sebagai kisah percintaan anak manusia paling luar biasa sepanjang sejarah. Drama Romeo-Juliet ini ditulis oleh Shakespeare, yang kadang oleh beberapa sufi dipelesetkan secara sempurna menjadi Syekh Pir (Guru).

Tidak hanya itu, kisah yang amat legendaris ini bahkan dijadikan ikon bagi pasangan yang mencintai kekasihnya dengan perasaan yang sangat dalam hingga ia rela berkorban dan melakukan apapun demi tetap bersama dengan pasangannya tersebut.

Namun, dalam perjalanan kebudayaan, cerita ini tidak begitu saja memberikan dampak yang baik bagi sistem sosial masyarakat. Ada juga beberapa hal yang perlu dikaji ulang agar masyarakat terhindar dari mitos mematikan mengenai cinta mati antara dua sejoli tersebut.

Tidak heran jika cerita tersebut sering dijadikan objek kajian bagi para peneliti sastra dan budaya karena di dalam cerita ini, terdapat banyak makna semiotik yang bisa digali dari berbagai sudut pandang kehidupan.

Sebelum kita membahas berbagai hal di luar kisah legendaris tersebut, ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu sinopsis dari cerita yang hingga kini masih menjadi favorit para remaja yang sedang kasmaran.

Sinopsis Drama Legendaris Romeo dan Juliet

Seorang pemuda dari keluarga Montague bernama Romeo Montague bertemu dan jatuh cinta pada Juliet Capulet. Kedua keluarga (Montague dan Capulet) bermusuhan. Dengan demikian, Romeo dan Juliet tidak bisa berhubungan.

Kehidupan pasangan yang dimabuk asmara itu semakin rusak ketika Romeo memiliki “dosa asal” membunuh seorang Capulet. Dikisahkan, Mercutio sahabat Romeo dihabisi sepupu Juliet, Tybalt. Romeo membalas tindakan tersebut dengan membunuh Tybalt.

Kejadian ini tentu saja menjadi catatan tersendiri dalam percintaan mereka. Sementara itu, Juliet juga hendak dinikahkan dengan orang lain, Paris. Juliet berkonsultasi kepada Friar Laurence. Sang Friar mengusulkan rencana agar Juliet berpura-pura mati dengan meminum racun yang diolah sedemikian rupa.

Juliet memang akan “mati”, tapi sebenarnya ia hanya pingsan atau tidur sementara waktu. Dengan demikian, Juliet akan dimakamkan. Saat itulah Romeo akan menjemputnya dan membawa Juliet pergi.

Naas bagi Romeo, ia sama sekali tidak mengetahui rencana Friar Laurence karena surat yang dikirimkan Friar gagal sampai. Ia buru-buru mendatangi makam dengan membawa racun yang dibelinya dari The Apothecary, melihat Juliet yang “mati”, berkelahi dengan Paris hingga Paris mati. Melihat sang kekasih sudah “mendahuluinya”, Romeo menangis dan memutuskan bunuh diri. Ketika Juliet tersadar dan mendapati Romeo mati, ia bunuh diri pula.

Makna Dramatis dalam Drama Romantis Romeo dan Juliet

Banyak yang berpendapat bahwa kisah Romeo Juliet ditulis Shakespeare untuk menunjukkan betapa buruknya feodalisme; mengurung cinta yang merupakan kebebasan hakiki manusia.
Kematian Romeo dan Juliet yang tragis menggambarkan bahwa ketika kehidupan sudah dipenuhi sekat-sekat, perseteruan antarmanusia, kehidupan tersebut tidak mampu lagi menampung mimpi. Bunuh dirinya Romeo kemudian Juliet adalah bentuk pencarian mimpi tersebut, atau dalam kata lain, “jika cinta memang tidak bisa terjangkau; maka buatlah segalanya benar-benar tidak terjangkau”.

Para peneliti biasanya berpendapat bahwa ketika Shakespeare menulis Romeo and Juliet, Eropa tengah memasuki zaman Ressaisance. Pada saat itu, tatanan ekonomi dan sosial yang lama mulai berganti. Gereja Katolik, sebagai otoritas tertinggi Barat saat itu, diserang habis-habisan oleh Reformasi Gereja; yang membuka kedok Gereja dalam memperjualbelikan pahala dan dosa.

Sementara itu, orang-orang Eropa tengah melakukan penjelajahan dunia demi membuka cakrawala perdagangan yang lebih luas. Kemudian berimplikasi pada kolonialisme pada benua-benua Afrika, Asia, dan Amerika.

Di lain pihak, pengagungan Tuhan dan akhirat (hidup sesudah mati) berubah menjadi pengagungan manusia dan kepuasan hidup duniawi. Shakespeare dengan jitu membuat Romeo dan Juliet menjadi oposisi terhadap pandangan masyarakat baru ini sekaligus oposisi pula terhadap pandangan feodalisme yang berkausa di Eropa sebelumnya.

Kematian Romeo dan Juliet adalah pemberontakan kepada tatanan. Romeo dan Juliet seolah melontarkan pertanyaan, “manusia yang berhasil lepas dari sistem yang lama dan mulai terjebak sistem yang baru, bisakah kalian seperti kami yang tidak terkungkung apa pun? Ketika kungkungan terhadap kami meluas, kami merusaknya; merusak diri kami pun tak masalah karena cinta tidak boleh terkungkung”.

Lantas, berbagai pendapat pun kemudian mengalir dari berbagai sisi. Ada yang menganggap bahwa pemberontakan yang disiratkan dalam kisah tersebut merupakan sebuah pemberontakan yang bernilai negatif karena berakhir dengan sebuah tabu yang pada zaman tersebut adalah sebuah dosa besar (yakni bunuh diri).

Akan tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa dengan pengorbanan dan pemberontakan seperti itulah maka sebuah sistem yang salah mampu ditohok agar benar-benar memahami kondisi masyarakat yang ada di bawahnya.

Perdebatan seperti ini mungkin harus dikaji lagi dari berbagai sudut pandang, baik dari seghi sosiologis, psikologis, maupun teori dan pendekatan lain yang mampu menguak berbagai penanda dan petanda dalam kisah kanon tersebut.

Budaya “Cinta Mati” Romeo dan Juliet

Selain memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap khasanah sastra di dunia, kisah legendaris tersebut juga ternyata mampu menciptakan budaya massal di berbagai kalangan yang membuat makna “cinta mati” menjadi benar-benar bertendensi ke arah kematian.

Padahal, kisah tersebut sebetulnya bukan hanya meberikan makna percintaan bagi para pembacanya, tapi juga makna lain mengenai keutuhan sebuah sistem. Tanpa sistem yang baik, maka sebuah tubuh atau pertubuhan tidak akan bisa menjalankan apa yang ditujunya dengan sempurna.

Kebobrokan sistem menjadi satu tanda bahwa manusia dalam sebuah sistem sama halnya dengan organ intim dan alat vital dalam sebuah sistem fungsi yang terdapat di dalam tubuh.
Jika salah satu organ tubuh manusia mengalami disfungsi, maka bukan tidak mungkin tubuh pun akan mengalami kerusakan dan bahkan mengalami kematian. Oleh sebab itu, ada satu sistem kerja sama yang diharapkan mampu dibentuk oleh suatu sistem agar tujuan pelaksanaan sebuah sistem bisa berjalan dengan baik, sebagaimana mestinya.

Pemahaman seperti inilah yang kurang dipahami oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Hampir seluruh pembaca awam mengenal kisah legendaris Romeo dan Juliet sebagai sebuah penggalan kisah romantis yang menjunjung tinggi nilai cinta mati.

Tidak heran jika budaya cinta mati yang tidak mengenal logika bisa berhamburan dalam budaya percintaan di Indonesia karena hal tersebutlah yang ditangkap oleh kebanyakan masyarakat pembaca di Indonesia.

Penanda dan petanda yang seharusnya dianalisis lebih dalam dari kisah tersebut hanya dibahas secara permukaannya saja sehingga nilai-nilai konotatif dan denotatif dari kematian Romeo dan Juliet menjadi sama dengan nilai kematian sebenarnya yang kita temui dalam sebuah upacara kematian.

Lantas, apa yang dihasilkan dari budaya cinta mati tersebut? Tentu saja bukan hal yang melulu buruk. Ada sebuah pengorbanan dan rasa tanggung jawab terhadap orang yang dicintai yang muncul dari budaya tersebut.

Namun, kurangnya pendidikan serta kualitas pemikiran masyarakat di Indonesia ini membuat pengertian “cinta mati” sebagai sebuah nilai yang agung dan merupakan hal yang baik apabila seorang pasangan menghilangkan berbagai nalar demi membuat orang yang dicintainya bahagia.

Secara sosiologis, mungkin hal itulah yang bisa ditangkap oleh masyarakat budaya di Indonesia. Meskipun masih banyak hal lain yang sebetulnya bisa diambil sisi positifnya mengenai pemikiran sistemik yang mengungkung suatu nilai-nilai kehidupan dalam kehidupan masyarakat.

Namun, ada satu hal yang bisa diambil dari sudut pandang sosiologis, yakni mengenai refleksi sistem tatanan masyarakat yang berada pada masa Shakespeare. Hal tersebut merupakan bukti bahwa sastra merupakan cermin dari kehidupan nyata yang melatarbelakangi munculnya kesusastraan tersebut.

Bukan hanya sebatas hiburan mengenai percintaan, atau sindiran mengenai sebuah tatanan sosial yang tidak apik, tapi juga sebuah cermin yang secara tidak langsung memperlihatkan kepada dunia bahwa karya sastra adalah kehidupan yang diminiaturkan oleh manusia lewat bahasa.

Konflik sosial, budaya, dan politik dalam kehidupan masyarakat selalu menjadi isu yang tidak pernah lepas dari ketegangan sistem. Sebuah sistem yang baik maupun buruk akan tetap memiliki konflik tersebut yang pada akhirnya berkaitan pula dengan konflik budaya.

Segala aspek dalam kehidupan akan muncul dengan sendirinya lewat celah yang disediakan konflik tersebut. Sistem yang bekerja pada suatu massa akan melahirkan sistem lainnya yang terus menerus beranak-pinak hingga akhirnya manusia bisa sadar bahwa yang tinggal dari segala kekacauan adalah sebuah konflik.

Speak Your Mind

*