Fenomena Globalisasi Sosial Budaya

Globalisasi merupakan fenomena runtuhnya batas-batas geografis suatu negara. Maka terjadilah perpindahan nilai-nilai antar satu negara dengan negara lain dengan begitu mudahnya. Itulah mengapa, globalisasi sosial budaya sangatlah mungkin untuk terjadi di samping globalisasi informasi dan produk perdagangan.

Namun sayangnya, arus perpindahan tersebut acap kali hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak yang lain. Dalam hal perdagangan internasional misalnya, para kapitalis memanfaatkan globaisasi ini untuk memasarkan produknya ke sejumlah negara yang kurang produktif. Begitu pula dalam ranah sosial budaya, globalisasi sosial budaya yang terjadi merupakan potensi besar bagi munculnya neo-imperialisme. Mungkinkah Anda menjadi korban neo-imperialisme tersebut?

Berpacu Dalam Globalisasi

Saat ini proses globalisasi telah mewabah hampir ke seluruh dunia. Segala jenis lalu lintas yang keluar masuk dalam suatu negara sulit untuk dibendung lagi. Seakan-akan dunia telah menjadi satu arena pacuan. Dengan kata lain, ada negara yang menang, ada pula negara yang dikalahkan.

Apabila sudah begini, globaphobia menjadi sesuatu yang menakutkan bagi negara-negara ‘kecil.’ Dan uniknya, kebanyakan dari proses globalisasi ini berlangsung dengan cara yang menyenangkan. Anda perlu bukti? Bukankah Anda merasa senang jika dapat membeli tas vivian dan blouse zandra dari Paris? Bukankah Anda tergiur dengan cellular phone dari Cina yang murah meriah namun tetap capable dan cantik? Hmmm….

Sosial Budaya yang Mengglobal

Banyak sekali terjadi fenomena globalisasi sosial budaya yang terjadi di sekitar kita, tanpa kita menyadarinya. Jika sebelumnya sosial budaya tersebut terbatas pada satu negara, kini sosial budaya itu telah menjelma menjadi wacana dunia. Berikut beberapa diantaranya:

1.    Pengarusutamaan gender

Pengarusutamaan gender atau gender mainstream merupakan usaha untuk mempopulerkan wacana gender yang kemudian melakukan perubahan di dalamnya. Fenomena sosial yang berawal dari barat ini juga tengah bergelora hangat di negara kita, Indonesia.

Gender itu sendiri adalah sifat yang melekat pada laki-laki ataupun perempuan, di mana sifat tersebut merupakan hasil konstruksi atau bentukan dari lingkungan. Otomatis, gender tersebut berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Semisal adalah kebiasaan bekerja dalam keluarga.

Di Bali, yang bertanggung jawab untuk mencari nafkan keluarga adalah Sang Istri. Sementara di Jawa, mencari nafkah adalah tugas Suami. Berbeda pula dengan daerah-daerah di Amerika dan Eropa, suami dan istri mempunyai peran yang sama dalam mencari uang.

2.    Pola makan junk food

Disadari maupun tidak, kini makanan cepat saji sudah mulai akrab di lidah kita. Baik itu burger, pizza ataupun fried chicken. Apabila sebelumnya kita cukup dengan sayur asem dan tempe goreng, namun sekarang apa yang terjadi? Minimal harus ada olahan ayam di porsi kita. Junk food memang enak, tapi dampaknya tidak seenak rasanya lho…. Karena dalam jangka panjang, junk food ini bisa membuat Anda sakit ginjal, stroke, gangguan sel-sel otak dan lain sebagainya.

3.    Tren dan Fashion

Ah, terlalu mudah untuk menunjukan betapa gaya penampilan kita disetir oleh fashion dari negara lain. Busana yang terkesan memaksa untuk buka-bukaan sampai pada baju terusan yang menutup sekujur badan. Semua berasal dari negara luar. Coba perhatikan, Adakah orang-orang Indonesia yang memakai pakaian daerahnya dalam kehidupan sehar-hari? Jika memang ada, pasti akan sangat  menggelikan bukan???

Okey, sekarang Anda sudah tahu bahwa aspek sosial dan budaya itu benar-benar telah mengglobal. Dan bahkan Anda juga telah menyadari bahwa selama ini kita keasyikkan menjadi korban imperialisme negara lain. Anda pasti tidak mau terus-terusan membebek negara lain bukan? So, What next?

Yup, Anda sah-sah saja mengikuti budaya dan kebiasaan negara lain, tapi jangan cuman ditelan mentah-mentah. Sesuaikan dulu dengan pancasila plus nilai-nilai agama Anda. Jika bertentangan, tolaklah ia. Tapi jika tidak bertentangan dan Anda merasa nyaman dengannya, lanjutkan… He, he, he,

Pengaruh Globalisasi Sosial Budaya dalam Dunia Politik

Globalisasi tentu saja memberikan berbagai pengaruh terhadap arus kehidupan masyarakat, terutama bagi masyarakat Indonesia yang memiliki kekayaan budaya yang sangat banyak. Berbagai aspek kehidupan dipengaruhi oleh globalisasi sehingga hal tersebut menjadi sesuatu yang bisa menjabarkan kondisi kehidupan suatu negara atau kelompok masyarakat.

Dalam hal ini, praktik globalisasi juga tentu berpengaruh terhadap dunia politik yang ada di negara kita. Manusia selalu dihadapkan pada sebuah situasi politik dan budaya sosial yang rumit sehingga perlu dicari formula yang tepat agar kondisinya stabil.

Ada kalnya masyarakat Indonesia menganggap bahwa nasionalisasi merupakan hal yang penting untuk dilakukan demi kelestarian budaya dan sosial, namun pada kenyataannya, globalisasi sosial budaya juga tidak hanya memberikan dampak terhadap dua aspek kehidupan tersebut saja.

Dengan munculnya globalisasi, masyarakat juga mengharapkan adanya kemajuan budaya, sosial, dan semua aspek kehidupan agar bisa setara dengan peradaban di negara lain yang telah lebih dulu maju dan berkembang. Perkembangan politik saat ini bukan tidak mungkin diikuti oleh perkembangan budaya global.

Tingkat perekonomian yang semakin sulit dijangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah di Indonesia menjadi sesuatu yang juga berpengaruh terhadap kehidupan politik Indonesia. Mau tidak mau, orang-orang yang berkecimpung di dunia politik juga harus memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya dalam hal ekonomi.

Lantas muncullah istilah politisasi ekonomi yang berguna untuk menyetarakan tingkat perekonomian negara dengan tingkat perekonomian di negara lain.  Sayangnya, hal semacam itu tidak selalu memberikan keuntungan kepada masyarakat. Bahkan beberapa perilaku politik ekonomi cenderung mengabaikan dan merugikan kepentingan masyarakat golongan menengah ke bawah.

Berbagai kendala ekonomi membuat masyarakat yang tidak memiliki skill atau kemampuan apa pun untuk bisa memenuhi kebutuhan ekonominya lari ke dalam suatu tindakan kriminal yang tidak semestinya dilakukan jika globaisaso budaya sosial di Indonesia diarahkan dengan lebih baik.

Dengan demikian, globalisasi sepertinya menciptakan keterikatan satu sama lain antara sistem politik, sosial, budaya, dan ekonomi. Politik yang baik seyogyanya mampu menempatkan aspek sosial, budaya, dan ekonomi di tempat yang tinggi agar nasionalisasi tetap bisa dilakukan tanpa meninggalkan manfaat dari globalisasi.

Pengaruh Globalisasi dalam Bidang Teknologi

Globalisasi menuntut masyarakat di berbagai penjuru dunia untuk terus mengikuti perkembangan zaman, termasuk dalam hal peningkatan mutu teknologi yang bahkan sudah diaplikasikan di dalam berbagai lingkungan pendidikan dan pekerjaan di Indonesia.

Globalisasi berjalan setahap demi setahap untuk kemudian membuka wawasan baru bagi manusia dalam meninggalkan kondisi purba dan tradisional yang serba lambat. Namun, di sisi lain, hal tersebut juga tidak selamanya memberikan keuntungan dan kelebihan bagi kehidupan masyarakat.

Tingginya mutu teknologi yang ditawarkan oleh globalisasi justru membuat sebuah konflik dalam situasi masyarakat saat ini. Berbagai golongan masyarakat berlomba-lomba untuk bisa menikmati kualitas teknologi modern yang ditawarkan tersebut. tidak sedikit pula orang dari kelas menengah ke bawah mati-matian mencari uang hanya untuk bisa menikmati kecanggihan teknologi dalam berbagai bentuk gadget.

Hal tersebut tentu bukan semacam kemajuan yang diharapkan oleh masyarakat berkembang. Kondisi perekonomian yang masih labil sampai saat ini seyogyanya bisa ditutupi dengan melakukan upaya nasionalisasi dan globalisasi secara seimbang.

Pemerintah bisa memberikan berbagai penyuluhan dan upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai sistem globalisasi dan nasionalisasi yang keduanya perlu dilakukan agar kehidupan bisa tetap berjalan dengan baik.

Speak Your Mind

*