Film Indonesia, Dulu dan Sekarang

Ilustrasi film indonesiaHampir semua masyarakat Indonesia menyukai film. Mulai dari anak kecil, remaja hingga orang dewasa, semua menggemari hiburan yang satu ini. Tidak susah untuk menemukan berbagai jenis film Indonesia, apalagi saat ini cukup banyak sineas muda yang menghasilkan film dengan kreativitas masing-masing.

 

Apa itu Film?

 

Film (diucapkan sebagai fi-lem) adalah gambar yang hidup dan bergerak. Film juga bisa disebut dengan istilah ‘movie’ (diambil dari kata ‘move’ yang dalam bahasa Inggris artinya bergerak).

 

Karya seni film dibuat dengan cara merekam seseorang atau benda dengan menggunakan kamera. Setelah direkam, film dapat diputar ulang dan bisa dinikmati oleh penonton.

 

Gambar film yang dihasilkan oleh para seniman pada waktu awal kemunculannya hanya bisa menampilkan gambar saja tanpa adanya suara. Jadi dalam film tersebut kita hanya bisa melihat berbagai orang melakukan gerakan dan akting saja tanpa adanya suara sama sekali.

 

Tidak hanya tanpa suara yang mampu diberikan oleh film pada waktu itu, tetapi gambar yang ditampilkan juga tidak sebaik seperti yang ada saat ini. Saat ini kita sekarang bisa melihat film dengan tampilan gambar yang sangat bening dan berwarna. Tentu saja hal tersebut berbeda dengan yang terjadi pada waktu dulu yang tampilan gambarnya hitam putih dan tidak sebersih dan sebening seperti gambar dalam film sekarang.

 

Tidak hanya bening tetapi kecanggihan yang ada saat ini mampu mencoba menampilkan sebuah gambar 3 d. Maksud dari teknologi tersebut adalah kita seolah melihat sebuah gambar yang berada di layar tampak sangat hidup. Itulah kecanggihan dunia perfilman saat ini yang memang sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan yang ada pada awal dulu ketika film tersebut dibuat.

 

Namun ada sebuah catatan penting bahwa pada dulu meskipun belum bisa memperdengarkan suara dalam filmnya, tetapi film yang ada pada waktu tersebut telah mampu menampilkan karya yang terbaik. Hal tersebut membuktikan bahwa akting dan peran dari para artisan sangat berarti terutama sutradaranya yang telah mengarahkan itu semua sehingga menjadi sebuah film yang utuh.

 

Film Pertama di Indonesia

 

Saat ini kita banyak menjumpai berbagai judul film buatan Indonesia di bioskop-bioskop, tapi mungkin Anda belum tahu film apa saja yang mengawali sejarah perfilman Indonesia. Ini adalah sepuluh film pertama yang diproduksi di Indonesia.

 

  • Loetoeng Kasaroeng (Lutung Kasarung). Ini adalah film pertama yang dibuat di Indonesia pada tahun 1926 dan masih bisu. Walau diproduksi di Indonesia dan memakai aktor lokal sebagai pemainnya, film yang bercerita berdasarkan legenda Jawa Barat ini bukanlah film buatan Indonesia asli seutuhnya karena masih dibuat oleh dua orang Belanda bernama G.Kruger dan L.Heuveldorp.

 

  • Eulis Atjih. Film ini masih besutan sutradara Belanda bernama G.Kruger dan dibuat pada tahun 1927. Film dengan tema drama keluarga ini masih bisu dan hanya diselingi oleh musik keroncong yang diputar bersama-sama dengan film itu.

 

  • Lily Van Java. Film Tionghoa pertama ini bercerita tentang perjodohan. Diproduksi pada tahun 1928. Awalnya dibuat oleh orang Amerika bernama Len H. Roos yang saat itu berada di Indonesia, tapi kemudian dikerjakan oleh orang Tionghoa bernama Nelson Wong dan David Wong.

 

  • Resia Boroboedoer. Film bisu ini dibuat pada tahun 1928 oleh Nancing Film Co. Film ini berkisah tentang Young Pei Fen yang menemukan sebuah resia (rahasia) berupa buku milik ayahnya. Resia ini memaparkan tentang Borobudur, sebuah candi terkenal dan sangat megah yang menyimpan harta karun berharga berupa abu sang Budha Gautama yang disimpan dalam sebuah guci.

 

  • Setangan Berloemoer Darah. Film yang ceritanya belum banyak diketahui ini masih bisu dengan gambar yang hitam putih. Film buatan Indonesia ini diproduksi oleh orang Tionghoa bernama Tan Boen Soan pada tahun 1928.

 

  • Njai Dasima (Nyai dasima). Diproduksi tahun 1929 oleh Tan’s Film dan disutradarai Lie Tek Swie. Film ini bercerita tentang seorang istri simpanan dari pria berkebangsaan Inggris bernama Edward William yang kemudian diperistri oleh Samiun. Film ini diproduksi berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada sekitar tahun 1813-1820an di Tangerang dan Batavia (Betawi). Kisah nyata ini sempat ditulis oleh G. Francis pada tahun 1896.

 

  • Rampok Preanger. Film buatan Indonesia ini diproduksi pada tahun 1929 oleh Halimoen Film yang langsung disutradarai oleh Nelson Wong. Film yang masih bisu ini diperankan oleh Ibu Ining yang terkenal sebagai penyanyi keroncong di Radio Bandung (NIROM).

 

  • Si Tjonat. Film ini dibuat pada tahun 1929, masih disutradarai oleh Nelson Wong dan diproduksi oleh Batavian Motion Picture. Berkisah tentang kehidupan seorang tokoh yang dijuluki si Tjonat.

 

  • Si Ronda. Diproduksi pada tahun 1930 dan disutradarai oleh Lie Tek Swie dan A. LOEPIAS. Bercerita kehidupan seorang jagoan yang sarat kebudayaan Cina.

 

  • Boenga Roos dari Tjikembang. Ini adalah film buatan Indonesia pertama yang bersuara. Film yang disutradarai oleh The Teng Chun ini berkisah tentang hubungan antar etnis Cina dan pribumi.

 

Film Indonesia Saat Ini

 

Industri perfilman Indonesia sempat berjaya pada tahun ’80-an, salah satu film buatan Indonesia yang populer saat itu adalah Catatan Si Boy. Namun, menginjak tahun ’90-an, film buatan Indonesia mulai mengalami kemerosotan dan akhirnya masyarakat lebih menyukai film buatan luar negeri.

 

Kebangkitan film buatan Indonesia dimulai tahun 2000 lewat aksi penyanyi cilik dalam film Petualangan Sherina. Sejak saat itu, industri perfilman mulai meningkat dengan diproduksinya film-film lain seperti Ada Apa Dengan Cinta atau Jelangkung.

 

Perfilman Indonesia saat ini tidak selalu mengalami kesuksesan. Hal ini dikarenakan cukup banyaknya film berunsur pornografi atau kekerasan yang beredar di masyarakat.

 

Beberapa film yang diklaim sebagai film horor atau komedi, kadang menampilkan adegan sensual atau bahkan kesadisan. Akibatnya, film-film tersebut menuai kontroversi bahkan dicekal. Contohnya saja film Buruan Cium Gue (2005), Pocong (2006) atau Suster Keramas (2009).

 

Karya film buatan Indonesia yang hanya menampilkan sebuah adegan panas ini memang mampu menyedot pengunjung untuk menonton film tersebut. Namun hal tersebut hanya dalam skala kecil dan menjemukan karena penggarapannya tidak akan sebagus film-film pada umumnya.

 

Adanya sebuah hiburan dalam media elektronik seperti televisi ternyata telah mampu menggeser para film yang ada di perfilman Indonesia. Hal tersebut menyebabkan beberapa bioskop menjadi sepi dan akhirnya gulung tikar.

 

Tentu saja kondisi tersebut berbeda dengan kondisi pada waktu dulu ketika bioskop sangat ramai. Ketika bioskop sangat rama maka dunia perfilman menjadi ramai pula karena pendapatannya didapatkan dari situ.

 

Dunia perfilman yang ada di negeri ini saat ini mendapatkan sebuah saingan yang luar biasa dengan adanya media elektronik berupa televisi. Di televisi sendiri setiap hari kita melihat banyak sekali tayangan yang tidak kalah serunya dengan yang ada di bioskop.

 

Meskipun demikian, untuk film yang ada di televisi baik itu sinetron maupun laga aksi tetap tidak sebaik yang ada di bioskop. Tantangan tersebutlah yang harusnya dijawab oleh dunia perfilman kita.

 

Harus ada sebuah pembeda yang membuat seseorang mau menonton sebuah film yang telah dihasilkan oleh para seniman berbakat. Jika karya yang diciptakan tidak jauh  berbeda antara yang di televisi dengan yang ditampilkan di bioskop maka semua orang pasti akan kecewa.

 

Orang tetap akan memilih untuk melihat sebuah sinetron atau film barat ketimbang melihat film Indonesia itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan oleh kualitas dari hasil karya perfilman tidaklah jauh berbeda dengan yang ada di televisi sehingga penonton akan merasa jemu.

 

Jika kita mengaca pada dunia perfilman yang ada di barat atau hollywood, maka kita juga harusnya bisa belajar dari sana. Tantangan yang dihadapi oleh dunia perfilman di tempat tersebut juga tidak kalah jauh berbeda dengan yang ada di sini. Hanya saja, dari segi pendanaan dan teknologi yang diberikan sangat jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia.

 

Meskipun demikian, ada geliat yang mengarah ke arah positif terhadap dunia perfilman kita. Beberapa waktu lalu ada sebuah karya yang sempat membuat dunia perfilman kita menjadi gempar karena film tersebut mampu menembus hingga pasaran yang ada di luar negeri. Film tersebut adalah The Raid, yang merupakan sebuah film laga skala internasional.

 

Semoga perfilman kita menjadi sangat maju seperti pada era dulu dan tidak hanya melulu diisi dengan adegan yang mengumbar hawa nafsu belaka.

Speak Your Mind

*