Gay, Psikologis atau Genetis?

Pro-kontra mengenai permasalahan Gay memang sudah lama terjadi. Bahkan, hingga saat ini beberapa elemen masyarakat masih menolak kehadiran penyuka sesama jenis ini. Meski sekarang banyak dari kaum gay yang blak-blakan mengakui orientasi seksualnya, dan bahkan beberapa negara sudah mengesahkan pernikahan sesama jenis, gay tetaplah dipandang sebagai sosok yang menyalahi kodrat.

Tubuh manusia memang didesain Tuhan supaya semua fungsi badan dipakai sesuai ‘perannya’ masing-masing,. Tapi ternyata pada prakteknya tidak semulus itu. Apa yang mendorong kaum Adam menyukai sesama jenis, sudah lama menjadi tanda tanya. Bahkan dalam ketiga agama samawi, kisah homoseksualitas sudah terjadi sejak jaman Nabi Luth, yang notabene sudah terjadi ribuan tahun lalu.

Sejarah Homoseksualitas

Menurut penelitian Liana Mutiawaty,  homoseksual telah ada sejak jaman dulu. Di dalam Islam telah diterangkan bahwa kaum homoseksual sudah ada sejak jaman Nabi Luth. Al- Qur’an menjelaskan bahwa perbuatan homoseksual pertama kali dilakukan oleh kaum Luth. Perbuatan ini disebut Liwath atau ‘amal qauni Luthin yang artinya perbuatan kaum Luth. Riwayat dari Ibnu Abi Dunya, dari Thawus menyatakan bahwa mula-mula kaum Luth mendatangi wanita-wanita pada duburnya, kemudian mendatangi laki-lakinya. (Surtiretna, 2000). Ini berarti bahwa  kepuasan seseorang dalam melakukan hubungan seks yang normal sudah tidak lagi dirasa cukup sampai pada titik klimaksnya sehingga menimbulkan adanya hubungan yang abnormal yaitu hubungan antara laki-laki dengan laki-laki dan wanita dengan wanita.

Dede Oetomo (2001) dalam bukunya “Memberi Suara Pada Yang Bisu” memaparkan perkembangan homoseksual di Barat yang dimulai pada zaman Yunani Kuno. Dalam masyarakat Yunani Kuno, yang peradabannya merupakan akar peradaban Barat hingga kini pun cinta homoseks dianggap ideal dan dilembagakan. Mitologi Yunani penuh dengan kisah hubungan percintaan sesama jenis kelamin, seperti antara Zeus dan Ganymede, Herakles dan Iolaous (Hylas), dan Apollo dengan Hyakinthus. Para prajurit laki-laki diharapkan oleh masyarakat pada waktu itu untuk mempunyai sahabat laki-laki yang lebih muda, yang dicintainya kemudian dijadikan teman dalam berlatih, berlomba, dan bercinta. Hubungan cinta dengan sahabat muda ini dalam bahasa Yunani disebut dengan paiderastia yang artinya pais, yaitu anak muda laki-laki dan erastia, yaitu cinta.

Lumrah Mengikuti Alur Sejarah

Para filsuf seperti Plato dan Sokrates pun mempunyai sahabat muda, walaupun kemudian mempunyai istri dan anak. Bahkan Iskandar Agung (Iskandar Zulkarnaen), sang penakluk dari Macedonia, lebih menyukai hubungan emosional-seksual dengan sahabat maupun budak laki-lakinya.
Berbeda dengan Yunani, kerajaan Romawi Kuno dikenal dengan moralitas yang mengharamkan perbuatan homoseksual dan bahkan mengatur pengharaman itu melalui berbagai undang-undang. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa tidak ada kehidupan homoseksual di Romawi. Konon Kaisar Roma, Julius Caesar, pernah bercinta dengan Raja Nikomedes dari Bythinia. Selain itu juga sastrawan Romawi seperti Virgil, Horatius, Catullus, dan Tibullus pernah mengalami cinta homoseksual sehingga hal tersebut turut mewarnai karya-karya mereka.

Homoseksualitas di zaman Romawi dianggap negatif oleh masyarakatnya sehingga seringkali digunakan untuk merusak reputasi tokoh masyarakat yang hendak dijatuhkannya, atau sebaliknya, apabila tokoh tersebut diketahui sebagai seorang homoseksual, maka reputasinya akan rusak. Pandangan negatif mengenai homoseksual ini semakin menguat dengan adanya pemelukan agama Kristen oleh orang-orang Roma.

Homoseks dalam Budaya Indonesia
Masih Menurut Dede Oetomo (2001) dalam bukunya “Memberi Suara Pada Yang Bisu”, budaya-budaya Indonesia pada zaman lampau ternyata kaya akan pelembagaan homoseksualitas. Hal ini mirip dengan keadaan Yunani Kuno. Pandangan terhadap homoseksualitas dan perbuatan homoseksual tidak saja positif dalam berbagai budaya tradisional Indonesia. Akan tetapi justru budaya-budaya tersebut juga melembaga.

Seperti yang dilaporkan oleh sarjana ahli Aceh, Snouck Hurgronye, bahwa laki-laki Aceh amat menggemari budak dari Nias. Budak-budak laki-laki remaja dalam posisinya sebagai penari seudati disuruh melayani kebutuhan seksual laki-laki Aceh. Sebagian penari itu adalah anak-anak yang miskin dari pedalaman. Puisi seudati terkenal karena erotismenya, dan sebagian jelas-jelas mengacu kepada hubungan kelamin sesama jenis. Hal ini disebabkan karena kuatnya agama Islam di Aceh yang melarang adanya hubungan seksual dengan wanita selain istrinya. Akan tetapi hal ini justru menimbulkan adanya kaum homoseksual.
Selain di Aceh, di Minangkabau pun dikenal kebiasaan percintaan antara laki-laki yang lebih tua (induk jawi) dengan remaja laki-laki (anak jawi). Pranata ini erat kaitannya dengan kebiasaan tidur di surau untuk anak laki-laki yang sudah mencapai akil-baligh.

Di Jawa juga terdapat pelembagaan homoseksual yang dikenal dengan hubungan warok-gemblak, terutama di Ponorogo. Warok atau laki-laki dewasa memelihara gemblak remaja berdasarkan kontrak orangtua sang gemblak, misalnya melalui pemberian sapi. Warok melakukan hal itu demi ilmu kesaktiannya yang mewajibkannya untuk menjauhi wanita. Namun warok juga mempunyai istri dan memiliki keturunan, biasanya apabila ia tidak sedang mencari kesaktian.
Pelembagaan homoseksualitas di Jawa juga terlihat pada pentas kesenian seperti ludruk, gandrung. Juga ada bukti-bukti bahwa tarian bedhaya dulunya senantiasa ditarikan oleh remaja laki-laki yang sengaja dipilih yang lemah gemulai (kewanitaan). Hal ini kemungkinan besar erat hubungannya dengan tabu akan hubungan dengan wanita di luar pernikahan yang sah.

Penyebab Homoseksualitas
Asal muasal mengapa pria menjadi gay, ternyata ada lebih dari satu. Bailey, dalam bukunya Crookss & Baur, tahun 2006, menmberikan pandangan soal mengapa seseorang menjadi homoseksual. Pertama, dari sudut pandang genetis. Ada yang mengatakan kalau seorang gay memiliki faktor biologis, seperti hormon, yang membuatnya tertarik dengan sesama lelaki.

Pengaruh yang cukup besar datang dari pemikiran yang lebih toleran dari psikistri/psikolog. Pada mulanya Sigmund Freud beranggapan bahwa homoseksualitas sebagai patologi berupa terhambatnya perkembangan psikoseksual seseorang, tapi pada akhirnya ia beranggapan bahwa homoseksualitas bukan sebagai patologi. Sedangkan pemikir Prancis, Guy Hocquenhem, mengatakan bahwa masalahnya bukanlah homoseksualitas, tapi masyarakat itu sendiri yang menjadi masalah. Psikolog George Weinberg malah menciptakan istilah homofobia untuk menggambarkan patologi masyarakat itu. Bagi Weinberg, homoseksualitas adalah variasi psiko-sosio-seksual yang biasa saja, tetapi homofobialah yang patologi.

Pikiran Freud yang positif dan toleran itu diperkuat oleh penelitian Dr. Alfred C. Kinsey mengenai perilaku seks pada laki-laki dan perempuan pada tahun 1940-an. Kinsey terkenal dengan skalanya yang merupakan kesinambungan antara heteroseksualitas ekstrem (0) dan homoseksualitas ekstrem (6). Temuan Kinsey yang menghebohkan adalah bahwa 37% laki-laki Amerika adalah kurang lebih homoseksual dan 10% dari laki-laki Amerika adalah homoseksual eksklusif.

Pada Akhirnya

Gay juga bisa dilihat dari sudut pandang psikoanalisis. Para tokoh yang punya sudut pandang psikoanalisis atau dapat disebut kaum Freudian, setuju kalau bayi adalah Polymorphus Perverse. Artinya, arah dari seksualitas bayi sama sekali tidak memiliki perbedaan, baik laki-laki ataupun perempuan. Misalnya bayi laki-laki mengarahkan seksualitasnya pada objek seperti lubang kunci, gelas, dan benda-benda lain yang melambangkan seksualitas perempuan. Apabila terjadi kesalahan dalam mengarahkan seksualitasnya, ada kemungkinan homoseksualitas akan terjadi.

Terakhir ada pandangan yang menitikberatkan pengaruh dari lingkungan sekitar, atau pengaruh sosiokultural. Contoh paling sederhana adalah pengaruh ‘labelling’. Kalau kita memberi label pada teman kita bahwa dia seorang gay, lama kelamaan, meski dia laki-laki normal, akan berpikir tentang apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya. Dan dari proses itu, ada kemungkinan dia memiliki kepercayaan diri yang rendah atau mudah terpengaruh kata-kata orang lain. Dan jadilah dia seorang homoseksual.

Memang perdebatan soal gay sudah lama terjadi. Tapi toh semua pendapat yang diperdebatkan itu tidak ada yang salah. Seorang gay ada karena berbagai faktor. Yang perlu kita lakukan adalah menerima mereka apa adanya. Karena bukankah Tuhan menyuruh kita mencintai sesama manusia tanpa syarat apapun?

Speak Your Mind

*