Hikmah Khotbah Idul Adha

Bagi umat Islam, hari raya idul adha atau hari raya qurban adalah hari raya ke dua setelah hari raya idul fitri. Hari raya idul adha artinya adalah kembali kepada semangat untuk berqurban. Idul Adha merupakan kesadaran sejarah akan kehambaan yang dicapai nabi Ibrahim dan nabi Ismail alaihimus salam.Dalam hari raya ini umat Islam diperintahkan untuk berqurban.

Sebelum dilaksanakan qurban yaitu penyembelihan hewan qurban yang di Indonesia lazimnya adalah sapi dan kambing, umat Islam menjalankan sholat idul adha terlebih dahulu, dan setelah itu dilanjutkan dengan khotbah. Terdapat hikmah pada khotbah idul adha yang harus dipetik sebagai pelajaran oleh kaum muslimin.

Sekilas Riwayat  Idul Adha

Dalam khotbah idul adha selalu dijelaskan kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya nabi Ismail. Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS menyembelih kurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. “Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung.

Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ketika itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma’il, artinya “Allah telah mendengar”.

Pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).” Ibrahim juga bermimpi melihat dirinya menyembelih Ismail anak yang sangat dicintainya. Sebagai manusia beliau sempat risau dengan mimpinya itu, Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah (artinya, berpikir/merenung).

Setelah merenung, nabi Ibrahim Ibrahim sadar bahwa mimpi seorang nabi itu merupakan wahyu dari Allah S.W.T. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah. Ia pun bertanya pada putranya seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surat Ash-Shaffat ayat 102 yang artinya “Ibrahim berkata ‘hai anakku sesungguhnya aku melihat didalam mimpi,aku menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu’.”

Dalam menyampaikan perintah,nabi Ibrahim tidak memaksakan kehendak terhadap putranya, melainkan menyerahkanya kepada putranya. Dan jawaban seorang anak yang shaleh sungguh menentramkan hati sang ayah. Ismail pun menyatakan kesiapannya untuk mendukung ayahnya menjalankan perintah Allah.

Betapa tinggi akhlak dan sopan santun Ismail, seperti masih terdapat surat yang sama, As-Shaffaat ayat 102 yang artinya: “Wahai ayahku kerjakanlah yang diperintahkan Tuhanmu. Insya Allah engkau mendapatiku sebagai orang-orang yang sabar.”.

Sebelumnya iblis mencoba merayu dan menggoda Ismail agar tidak menuruti kehendak ayahnya. Namun tidak berhasil karena Ismail memungut sejumlah kerikil dan melemparkannya ke arah iblis. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji.

Allah menguji nabi Ibrahim dengan ujian yang sangat berat, tetapi dengan kesabaran, beliau menjalankanya tanpa ragu ataupun mengulur waktu, dan keduanya berserah diri kepada Allah SWT.

Namun berkali-kali mencoba menebas leher Ismail dengan pedang yang tajam, nabi Ibrahim takkunjung dapat melakukannya. Ketika pedang yang tajam itu dihujamkan ke batu, batu pun terbelah. Allah SWT berfirman dalam QS. Ash-Shâffâat, [37]: 106, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dibawa oleh Malaikat Jibril dan pernah dikurbankan oleh Habil. Melihat kesabaran nabi Ibrahim dan Ismail, semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir dan mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”.

Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).

Hikmah yang Dapat Dipetik

Banyak hikmah yang dapat dipetik dari kejadian kisah nabi Ibrahim, diantaranya adalah :

1. Ketaqwaan
Nabi Ibrahim adalah seorang yang memiliki ketaqwaan luar biasa hingga ia rela mengorbankan putra yang telah dinantikannya selama bertahun-tahun demi melaksanakan perintah Allah, Sebagaimana posisi binatang yang akan disembelih, nabi Ibrahim membaringkan anaknya Ismail untuk disembelih. Tetapi atas ijin Allah dengan kekuasaan-Nya telah menggantikan Ismail dengan seekor domba yang sempurna, besar, sehat,juga tidak cacat.

2. Kesabaran
Apa yang diperlihatkan oleh Ismail ketika ayahnya memintanya untuk disembelih atas perintah Allah, Ismail dengan tegas menyuruh ayahnya untuk tetap melaksanakan perintah tersebut, dan ini merupakan satu bukti tingkat kesabaran yang tinggi dari seorang Ismail.

3. Ikhlas
Apa yang diperintahkan Allah kepada nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail, adalah bentuk keikhlasan yang tinggi menerima semua perintah Allah tanpa sedikitpun mengeluh atau mengelak dari apa yang sudah diperintahkan-Nya.

4. Mencintai Allah lebih dari segalanya
Karena kecintaannya kepada Allah melebihi apa yang ada dimuka bumi, maka nabi Ibrahim lebih memilih untuk melaksanakan perintah tersebut walaupun harus mengorbankan anak yang dicintai.

Selain kisah dari nabi Ibrahim diatas, hikmah yang terdapat dalam khotbah idul adha adalah membangun semangat jiwa berqurban, yaitu menyatukan umat untuk membantu yang lemah, memberikan sebagian rizkinya untuk orang-orang miskin, dan memperkokoh ukhuwah islamiyah antar umat muslim.

Anjuran Untuk Tidak Makan Sebelum Sholat Ied

Sebelum menunaikan shalat Idul Adha umat muslim dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu. Karena di hari tersebut kita kaum muslimin yang mampu disunahkan untuk berqurban. Oleh karenanya, anjuran tersebut diterapkan agar kita nantinya bisa menyantap hasil qurban.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5: 352.Syaikh Syu’aib  Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Jika seseorang makan pada hari Idul Adha sebelum berangkat shalat ‘ied di tanah lapang (musholla), maka tidak mengapa. Jika ia tidak makan sampai ia makan dari hasil sembelihan qurbannya, maka itu lebih baik.  Tidak boleh berpuasa pada hari ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) sama sekali.” (Al Muhalla, 5: 89)

puasa pada hari ‘ied -termasuk Idul Adha- adalah haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama kaum muslimin. Sedangkan yang dimaksud dalam penjelasan di atas adalah tidak makan untuk sementara waktu dan bukan niatan untuk berpuasa.

Keutamaan berkurban

Allah SWT berfirman, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah” (QS Al-Kautsar: 1-2). Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan shalat di sini adalah shalat hari `Idul Adha, sedangkan yang dimaksud dengan menyembelih adalah menyembelih hewan qurban.

Diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, Ibnu Majah dan al Hakim dari Zaid bin Arqam, bahwsanya Rasulullah saw bersabda (yang artinya):

 Al Udhiyah (binatang kurban), bagi pemiliknya (yang berkurban) akan diberi pahala setiap satu rambut binatang itu satu kebaikan “.

Diriwayatkan oleh imam Abul Qasim Al Ashbahani, dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah saw bersabda (yang artinya):

“ Wahai Fathimah, bangkitlah dan saksikan penyembelihan binatang kurbanmu, sungguh bagimu pada awal tetesan darah binatang itu sebagai pengampunan untuk setiap dosa, ketahuilah kelak dia akan didatangkan (di hari akhirat) dengan daging dan darahnya dan diletakkan diatas timbangan kebaikanmu 70 kali lipat “.

Rasulullah saw bersabda (yang artinya):

“ Barang siapa berkurban dengan lapang dada (senang hati) dan ikhlas hanya mengharap pahala dari Allah, maka dia akan dihijab dari neraka (berkat udhiyahnya) “. (HR. Ath Thabarani dari Al Husein bin Ali)

Dalil dari hadits, dari Siti Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), ‘Tiada amal anak-cucu Adam pada waktu Hari Raya Qurban yang lebih disukai Allah daripada mengalirkan darah (berqurban). Dan bahwasanya darah qurban itu sudah mendapat tempat yang mulia di sisi Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka laksanakan qurban itu dengan penuh ketulusan hati.” (HR. At Tirmidzi)

Dari Anas RA, ia berkata, “Nabi SAW mengurbankan dua ekor kambing yang putih-putih dan bertanduk. Keduanya disembelih dengan kedua tangan beliau yang mulia setelah dibacakan bismillah dan takbir, dan beliau meletakkan kakinya yang berbarakah di atas kedua kambing tersebut:’ (HR Muslim).

Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan qurban bahwasanya qurban itu akan menyelamatkan pemiliknya dari kejelekan dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda (yang artinya), “Perbesarlah qurban-qurban kalian, sebab qurban itu akan menjadi kendaraan-kendaraan dalam melewati jembatan AshShirat menuju surga” (HR Ibnu Rif’ah).

Dalam satu riwayat disebutkan, Nabi Dawud AS pernah bertanya kepada Allah SWT tentang pahala qurban yang diperoleh umat Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT menjawab, “Pahalanya adalah, Aku akan memberikan sepuluh kebajikan dari setiap satu helai rambut qurban itu, akan melebur sepuluh kejelekan, dan akan mengangkat derajat mereka sebanyak sepuluh derajat. Tahukah engkau, wahai Daud, bahwa qurban-qurban itu adalah kendaraan-kendaraan bagi mereka di hari kiamat nanti, dan qurban-qurban itu pula yang menjadi penebus kesalahan-kesalahan mereka.”

Sayyidina Ali RA berkata, “Apabila seorang hamba telah berqurban, setiap tetesan darah qurban itu akan menjadi penebus dosanya di dunia dan setiap rambut dari qurban itu tercatat sebagai satu kebajikan baginya”.

Speak Your Mind

*