Hukum Islam Tentang Perkawinan

Langkah Awal Menuju Jenjang Pernikahan

Melangkah ke jenjang pernikahan mungkin adalah keinginan dan cita-cita semua orang. Baik pria maupun wanita menginginkan pesta pernikahan menjadi salah satu gerbang kebahagiaan untuk bisa mendapatkan kehidupan yang baru.

Akan tetapi, sebelum melangkahkan kaki ke jenjang tersebut, diperlukan niat dan tujuan yang baik dalam pernikahan sehingga pernikahan bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan yang dicita-citakan. Walaupun pada kenyataannya, permasalahan, perselisihan, dan lain sebagainya bisa saja menjadi ujian dan cobaan bagi pasangan untuk bisa membina hubungan rumah tangga menjadi lebih baik lagi.

Oleh sebab itulah para orang tua dan keluarga calon mempelai sering kali mempertanyakan niat dan tujuan pasangan sebelum mereka melangsungkan upacara pernikahan. Hal ini tentu saja disebabkan oleh keinginan keluarga agar pernikahan berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti.

Bagi sebagian orang, pernikahan adalah sebuah langkah untuk mempersatukan dua insane yang saling mencintai. Sementara itu, bagi sebagian orang lagi,pernikahan dijadikan sebuah sarana untuk bisa melaksanakan ibadah yang dianjurkan oleh Allah dan rasul-Nya.

Sayangnya, tidak semua orang berpendapat sama seperti orang-orang tersebut. Ada juga orang yang menikah dengan alasan harta dan kekayaan sehingga bisa menghidupi keluarganya yang kekurangan.

Hal tersebut banyak terjadi di zaman yang serba modern ini. Bahkan di beberapa tempat di Indonesia, ada orang yang melakukan pernikahan kontrak hanya untuk tujuan duniawi, seperti kebutuhan seksual atau kebutuhan materi saja.

Tujuan pernikahan seperti itu bahkan sudah tidak dianggap tabu lagi karena banyak yang melakukannya. Padahal, untuk mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan, niat dan tujuan adalah langkah awal yang penting dalam pernikahan.

Nikah kontrak tersebut biasanya dilakukan oleh masyarakat pribumi yang dinikahi oleh para pendatang dari luar negeri. Pernikahan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan batin dari si pendatang yang jauh dari pasangannya.

Oleh karena itu, banyak juga masyarakat Indonesia, terutama perempuan, yang mengalami berbagai kerugian akibat adanya nikah kontrak seperti itu.

Dengan demikian, pengetahuan kita mengenai hukum Islam tentang perkawinan sangatlah dibutuhkan agar kita tidak terjebak pada norma yang tidak sesuai dengan norma agama karena menurut pada norma masyarakat saja tidak cukup.

Terkadang, ada hal hal yang tidak sejalan antara norma agama dengan norma yang berlaku di masyarakat, terutama norma yang berlaku pada masyarakat modern.

Pada subbab selanjutnya dalam artikel ini, akan dijelaskan bagaimana hukum yang terkait dengan pernikahan di dalam agama Islam, serta resepsi pernikahan seperti apa yang seyogyanya dilakukan oleh kedua belah pihak mempelai agar pernikahan bisa diketahui banyak orang dan menjadi bukti nyata bahwa pasangan tersebt sudah sah sebagai suami dan isteri.

Berbagai Hukum Islam tentang Perkawinan

Melangkah memasuki gerbang pernikahan dalam Islam sangatlah mudah. Syaratnya cukup dengan persetujuan kedua belah pihak calon mempelai, mas kawin (mahar), dan tidak melanggar larangan perkawinan. Rukun menikahnya pun mudah, yaituada calon istri dan calon suami, dua orang saksi, wali perempuan, dan ijab kabul.

Walaupun syarat dan rukunnya mudah, Islam tetap memandang perkawinan sebagai sebuah lembaga sakral yang sangat agung. Lembaga ini sangat dijaga kesuciannya dalam Islam. Ada beberapa aturan yang melingkupi lembaga ini. Aturan itu terdapat dalam hukum Islam tentang perkawinan.

  • Haram

Suatu perkawinan adalah haram bila niat melakukannya untuk balas dendam. Misalnya, seorang laki-laki berniat menikahi seorang wanita hanya karena ingin melampiaskan rasa dendamnya kepada wanita tersebut. Misalnya, setelah menikahi wanita itu, lalu menceraikannya. Si laki-laki hanya ingin melihat si wanita menderita dan hancur hidupnya.

Niat menikah yang demikian sangat dilarang dalam hukum Islam. Niat suatu perkawinan atau pernikahan haruslah suci karena ingin menunaikan kewajiban dalam beragama, bukan untuk saling menyakiti. Selain niat yang tidak benar tersebut, suatu perkawinan haram bila salah satu mempelai tidak beragama Islam.

Memang masih ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa jika yang non-Islam adalah calon istri, tidak menjadi soal. Namun, tuntunannya sangat jelas bahwa menikahi seorang budak wanita muslimah jauh lebih baik dibanding menikahi seorang wanita non-Islam secantik bidadari.
Perkawinan juga haram bila dilakukan oleh dua calon mempelai seperti berikut ini.

  1. Mempunyai hubungan sedarah.
  2. Merupakan saudara sesusuan.
  3. Mempunyai hubungan melalui perkawinan, misalnya larangan menikahi saudara tiri atau ibu tiri.
  • Makruh

Suatu perkawinan makruh bila calon mempelai laki-laki dan wanita masih sangat muda (belum terlalu siap mental dan jasmani untuk menikah) dan sang calon mempelai laki-laki belum mempunyai pekerjaan yang bisa menopang hidup keluarga baru tersebut nantinya.

Pernikahan adalah pintu kemandirian. Setiap muslim hendaknya menjadi individual mandiri yang tidak bergantung kepada orang lain. Bila masih bisa ditunda, sebaiknya pernikahan seperti ini ditunda terlebih dahulu.

  • Sunnah

Bila ada seorang laki-laki atau wanita yang sehat jasmani dan rohani, sudah cukup umur, siap untuk menikah, mempunyai biaya untuk menghidupi rumah tangga mereka nantinya, sunnah bagi keduanya untuk menikah.

Hukum inilah yang biasanya dipenuhi oleh sebagian masyarakat Indonesia, terutama orang yang sudah menemukan pasangan yang dianggap tepat bagi mereka. Kemapanan seperti ini sangat baik untuk dijadikan alasan yang tepat bagi seseorang dalam melakukan pernikahan.

  • Wajib

Wajib hukumnya bagi seseorang yang sudah cukup umur, sehat jasmani dan rohani, mempunyai kemampuan membiayai rumah tangga, dan takut terjebak ke dalam perzinahan. Salah satu tujuan menikah adalah untuk menghindari zina.

Pernikahan wajib dilakukan apabila kedua belah pihak dari pasangan sudah merasakan berbagai desakan seksual yang berpotensi menjerumuskan keduanya ke dalam hal hal yang tidak diinginkan.

Pihak orang tua juga seyogyanya perlu melihat anak-anak mereka, terutama jika dalam keluarga diperbolehkan berpacaran karena walau bagaimana pun, berpacaran adalah satu hal yang berpotensi membawa manusia pada perbuatan zina.

Hukum Walimah (Resepsi Pernikahan) dalam Agama Islam

Semua pernikahan dalam Islam tidak ada yang bisa disembunyikan. Bagaimana bisa sembunyi kalau harus ada saksi dan wali. Rasulullah mengharapkan umatnya untuk merayakan pernikahan walaupun sederhana. Perayaan ini selain sebagai bentuk syukur juga untuk mengumumkan kepada khalayak bahwa kedua mahluk yang berlainan jenis tersebut sudah sah sebagai suami istri.

Bila keluarga kedua mempelai tidak sanggup, adalah suatu bentuk tolong-menolong bila kerabat dan tetangga pengantin membantu mengadakan walimah sederhana bagi kedua mempelai.

Jika ada istilah nikah sirri, maka pihak perempuan seharusnya berpikir dua kali untuk menerima tawaran tersebut karena bisa jadi, hal tersebut merupakan modus bagi laki-laki tidak bertanggung jawab untuk memperalat pihak perempuan dalam pernikahan.

Selain itu, proses resepsi juga sebetulnya memiliki makna yang penting bagi pasangan yang melakukan pernikahan dengan niat dan tujuan yang baik. Resepsi merupakan bentuk nyata dari kebahagiaan yang didapatkan oleh kedua mempelai dalam mengarungi rumah tangga yang akan dihadapinya kelak.

Lantas, jenis resepsi tersebut bermacam-macam. Bergantung pada kemampuan kedua belah pihak untuk mengeluarkan dana. Jika memang tidak bisa melakukan resepsi pernikahan seperti masyarakat pada umumnya, ada baiknya jika pihak keluarga melakukan upacara syukuran alakadarnya untuk memberi tahu para tetangga bahwa keduanya sudah sah menjadi suami isteri.

Hal ini juga bertujuan untuk menjaga diri dari pihak-pihak lain yang ingin menghancurkan biduk rumah tangga kedua pihak tersebut. Kehati-hatian inilah yang patut dipertimbangkan agar resepsi pernikahan tetap berjalan walaupun sederhana.

Speak Your Mind

*