Jalan Mudah Menuju Resensi Novel Fiksi

Siapa yang tidak suka membaca novel fiksi? Sepertinya semua orang akan dengan senang hati menyisihkan waktu untuk dirinya sendiri, keluar dari kegilaan dunia, dan untuk sejenak menganggap hidup ini baik-baik saja. Membaca novel fiksi tentulah alternatif yang menarik bagi mereka yang memiliki imajinasi aktif, tapi bukan berarti pengkhayal lho…. Yup, di sinilah resensi novel fiksi berperan penting. Resensi ini akan memberikan pandangan cukup objektif tentang suatu karya walaupun tidak menutup kemungkinan adanya subjektivitas dari si peresensi.

Informasi Awal

Paling tidak, dengan adanya resensi novel fiksi ini, calon pembeli novel fiksi tersebut bisa berpikir dengan lebih matang apakah akan membeli novel itu atau tidak. Resensi juga akan memberikan gambaran apa saja yang akan ditemui di dalam novel itu. Bukankah Anda pernah terkecoh oleh sebuah novel? Sampulnya saja yang nampak memesona, sinopsis kecilnya saja yang terlihat menggoda. Tapi setelah membaca novel secara keseluruhan, barulah terpikir tentang betapa Anda telah membuang-buang waktu plus uang untuk novel tersebut.

Dan Oh betapa baiknya Anda jika dapat mencegah hal tersebut terulang kembali pada orang lain, tentu dengan sebuah resensi. Resensi itu bagaikan informasi awal yang didapatkan oleh calon pembeli novel. Pada waktu-waktu tertentu, seseorang mengalami pergolakan batin yang berbeda-beda. Suatu waktu ia ingin mencari bacaan yang bisa membuatnya bangkit lagi dari keterpurukannya. Ada orang yang ingin mencari bacaan yang agak sama dengan alur hidupnya.

Tetapi ada juga orang yang berada pada keadaan psikologi yang sama, tidak mau membaca cerita dengan alur yang mungkin sama dengan apa yang sedang ia hadapi. Ia lebih memilih alur cerita yang sangat berbeda atau bahkan yang bisa menghiburnya tanpa harus membuatnya menangis dan meratapi apa yang sedang menimpanya. Kalau hanya berbekal gambar sampul dan sedikit sinopsis, mungkin masih ada yang kurang. Bisa jadi ia malah membaca sesuatu yang tidak ingin ia baca.

Itulah mengapa ia membutuhkan resensi. Dengan adanya resensi ini paling tidak ada getaran rasa penasaran ingin membaca langsung novel yang diresensi itu. Kalau pembaca telah sangat tertarik dengan gaya menulis seorang penulis, biasanya ia membeli novel bukan melihat isinya namun karena ingin menikmati karya terbaru dari penulis tersebut. Pembaca seperti ini memang berbeda. Resensi malah mungkin akan membuatnya keki. Ia tidak mau alur kisah yang akan dia baca sudah bisa tertebak.

Rasa penasarannya tidak boleh diganggu oleh apapun. Orang ini tidak mau memabca resensi atau pendapat yang berhubungan dengan novel yang belum ia baca. Ia ingin benar-benar menikmati kisah dalam novel itu dengan imaginasi dan pemahamannya sendiri. Beda dengan orang-orang yang baru saja ingin memasuki dunia membaca novel fiksi. Orang-orang seperti ini disarankan untuk mencari referensi isi novel dari berbagai resensi. Sayangnya memang tidak semua novel fiksi ada resensinya.

Pilihan Resensi

Para peresensi biasanya akan memilih karya yang sekiranya bagus dan hasil tulisannya akan dimuat di media massa. Kalau ia meresensi sebuah karya yang tidak ada apa-apanya, buat apa. Ia hanya menghabiskan waktunya yang sangat berharga. Peresensi juga biasanya akan memilih karya yang diterbitkan oleh penerbit tertentu, Bila perlu ia akan memilih buku yang diterbitkan oleh perusahaan yag sama yang menerbitkan media yang ia tuju sebagai tempat pengiriman resensinya.

Pandangan bisnis tetap saja bermain dalam hal ini. Resensi yang bagus itu akan bisa mengangkat pamor karya yang diresensi sehingga nilai jualnya pun  menjadi naik. Peresensi yang mampu memberikan rasa penasaran, adalah peresensi yang sangat disenangi oleh banyak orang termasuk oleh penulis dan penerbitnya. Sudha banyak bukti betapa adanya peningkatan penjualan sebuah novel setelah resensi novel tersebut dimuat di surat kabar atau majalah.

Tidak jarang juga peresensi yang berpengalaman mendapat pesanan buku atau novel yang akan diresensi. Biasanya peresensi ini akan memberikan gambaran yang lebih nyata terhadap novel tersebut agar calon pembaca tertarik dan membeli novel itu. Resensi pesanan ini terkadang menjadi rancu dengan sinopsis. Puji-pujian agak sering terlihat dalam tulisannya.

Tips

Baiklah, Mari kita mulai menelusuri jalan mudah menuju resensi sebuah novel fiksi. Tenang saja, siapapun bisa membuat resensi asalkan tahu metode dan format pembuatannya. Berikut ini adalah apa yang harus diperhatikan ketika akan membuat resensi novel fiksi.

* Perhatikan fisik buku secara sekilas
Seperti juga resensi nonfiksi, fisik buku wajib untuk Anda beri penilaian. Namun, bila Anda tidak menemukan hal menarik di sana, jangan memaksakan diri untuk menyertakannya dalam resensi sebuah novel fiksi Anda. Bukankah ini cukup mudah? Anda hanya perlu melihat-lihat bentuk dan komposisi buku. Dengan kata lain, Anda dapat meliburkan otak kiri Anda untuk sejenak.

* Bacalah novel tersebut secukupnya
Inilah salah satu mengapa resensi sebuah novel fiksi dapat disusun relatif lebih cepat dari pada resensi nonfiksi. Apabila sebelum menyusun resensi nonfksi Anda haruslah tahu betul isi buku yang akan diresensi, beda ketika Anda akan menyusun resensi sebuah novel fiksi.

Karena unsur-unsur instrisik sebuah novel pada umumnya tersebar merata ke seluruh bagian novel, Anda cukup mengambil satu fragmen sebagai sampel dari beberapa unsur tersebut. Kecuali bila Anda ingin menyelam bersama novel tersebut, silahkan saja dan tidak ada salahnya. Mengetahui kandungan apa yang akan dimakan, rasanya cukup baik daripada muntah setelah memakannya.

* Bubuhkan sinopsis yang menggoda
Kesalahan yang terlalu sering terjadi saat membuat resensi sebuah novel fiksi adalah terlalu banyak menyampaikan sinopsis cerita. Bahkan hampir-hampir saja resensi tersebut menjadi sebuah rangkuman novel. Bukan ini inti dari sebuah resensi. Resensi itu adalah satu telaah dari sebuah karya.

Sebenarnya Anda tidak perlu menggambarkan isi novel dari awal hingga selesainya alur, cobalah untuk merekam bagian novel yang menuju klimaks atau konflik, kemudian penggallah sampai di sini. Agar mengapa? Agar pembaca tergoda untuk mengetahui bagaimana kelengkapan cerita yang Anda pegal tersebut. Bisa juga dikatakan bahwa resensi ini seperti iklan dari sebuah karya. Semakin banyak yang membuat resensinya, semakin populerlah karya itu.

* Ulaslah bahasa yang digunakan
Salah satu karakteristik khas dari novel dan karya tulis fiksi lainnya adalah penggunaan bahasa. Bahasa sangat berpotensi untuk menambah keindahan sebuah cerita. Teramat ironis ketika cerita yang sebenarnya menarik menjadi rusak karena disampaikan dengan bahasa yang kronis. Bahasa ini juga dikaitkan dengan sasaran pasar novel fiksi tersebut. Apakah untuk remaja ataukah untuk dewasa atau untuk anak-anak.

Dalam resensi nonfiksi, mungkin Anda dapat menomorduakan unsur bahasa. Tapi untuk resensi sebuah novel fiksi, Anda sepatutnya menjadikannya nomor satu, atau kalau memang mendesak, jadikanlah nomor satu koma lima. Bahasa ini merupakan pembentuk keindahan dari cerita yang ada di novel tersebut. Tanpa bahasa yang indah, rasa yang diharapkan tumbuh di hati pembaca, tidak akan hadir.

* Timbanglah keunggulan dan kelemahan buku.
Berikanlah penilaian yang seimbang dan argumentatif atas kuaitas novel. Beberapa unsur yang dapat Anda pertimbangkan adalah tema, alur cerita atau plot, penokohan, sudut pandang, latar cerita atau setting, nilai-niai yang terkandung, dan gaya bercerita. Jika memungkinkan, sorot pula bagaimana profile Si Pengarang novel.

* Ajaklah pembaca untuk turut membaca novel tersebut
Bagian paling bontot dari resensi novel fiksi adalah saran untuk pembaca, Apakah Anda menyarankan pembaca untuk membaca novel tersebut atau sebaliknya. Namun sangat mungkin terjadi apabila seorang penulis resensi enggan untuk menyaranan pembaca agar jauh-jauh dari novel yang ia resensi.

Hal itu wajar dan manusiawi. Tapi bila Anda menyarankan pembaca untuk membacanya, sementara hasil analisa Anda tidak berkata demikian, maka kredibilitas Anda sebagai penulis resensi dapat diragukan. Dan akhirnya, “pembaca kecewa….”

Oleh karena itu, Anda dapat melapis-lapiskan pembaca novel. Sebagai misal, Anda menyarankan novel tersebut untuk di baca oleh kalangan X karena begini begitu, namun novel tersebut tidak layak untuk dibaca oleh kalangan Y karena begini begitu. Kalaupun ingin membaca, pembaca harus mempersiapkan diri dengan ilmu yang begini dan begitu agar bisa menyaring apa yang akan dibaca.

Speak Your Mind

*