Joglo, Rumah Adat Suku Jawa yang Eksotik

Jika berjalan-jalan ke daerah Yogyakarta, maka masih dapat Anda temui di beberapa kawasan, rumah adat suku Jawa yang bernama Joglo. Sebuah rumah yang berbentuk persegi panjang terbuat dari kayu, terbuka dengan beberapa ukiran khusus di beberapa bagiannya. Sebuah joglo bisa cukup besar, bisa juga berukuran sedang dan hanya cukup untuk puluhan orang saja. Joglo ini biasanya berada di halaman rumah dan dikhususkan untuk acara pertemuan keluarga, menyambut tamu, perayaan tertentu, dan lain-lain.

Rumah Joglo

Tidak sedikit juga joglo yang pernah ada di halaman rumah tertentu, dibongkar dan lalu dibangun lagi di tempat lain seperti rumah bongkar pasang. Joglo seperti ini biasanya berasal dari kayu-kayu jati lama dan mungkin juga kuno. Harganya selangit dan bisa mencapai miliaran rupiah. Kayu-kayu pembangun joglo itu bisa dipindahkan dan masih dalam kondisi baik karena memang berasal dari kayu jati nomor wahid. Ketika membangun joglo tersebut, biasanya tidak menggunakan paku sehingga kayu utuh dan tidak berlubang.

Ada juga joglo yang dibuat rumah. Joglo seperti ini biasanya disekat dan dibuat beberapa kamar dengan membiarkan bagian tengahnya kosong sebagai ruang keluarga sekalgus sebagai ruang tamu. Orang Jawa senang membuat ruang keluarga dan ruang tamu yang besar. Pepatah yang mengatakan ‘Mangan ora mangan sing penting nyumpul’, menjadi sesuatu yang begitu tertanam di hati orang Jawa sehingga mereka membutuhkan tempat yang lapang untuk bertemu dan bercengkrama.

Rumah Jawa itu ada yang penuh dengan ornamen ukiran yang begitu rumit, inda, dan sarat dengan pemaknaan. Walaupun mungkin tidak banyak lagi anak muda yang memahami makan yang terdapat pada ornamen di atap Joglo, mereka tetap menghargai, menghormati, dan berusaha menjaga warisan yang sangat berarti tersebut. Di desa-desa yang ada di beberapa wilayah di tanah Jawa, tidak jarang dijumpai rumah-rumah sederhana terbuat dari anyaman bambu berbentuk Joglo.

Biasanya rumah tersebut dibangun secara bergotong royong. Dengan keterbatasan dana dan keterbatasan sumber daya yang lain, biasanya rumah berdinding bambu atau gedeg itu tidak berlantai semen melainkan tetap berlantai tanah yang dipadatkan. Tempat tidurnya pun terbuat dari bambu dengan peralatan memasak yang berupa tungku dan perabotan lain yang juga sangat sederhana. Kemiskinan terkadang tidak terelakan sehingga mereka membangun rumah yang sangat sederhana itu.

Pembangunan rumah berbentuk joglo yang cukup sederhana ini juga tidak memakan waktu lama. Biasanya hanya sehari atau dua hari sudah selesai. Pertama, meratakan tanah, lalau memasang pondasi yang juga terbuat dari bambu yang cukup besar atau bambu lesung, lalu mengatur anyaman bambu menjadi dinding dan memasang atap yang terkadang terbuat dari rumbia atau daun kelapa kering. Biaya pembuatan sebuah rumah joglo dari gedeg ini terasa cukup besar bagi orang-orang pinggiran. Oleh karena itulah, mereka selalu bergotong royong ketika membangun rumah tersebut.

Kebersamaan telah menjadi salah satu sifat masyarakat Jawa. Joglo merupakan representasi dari sifat itu. Tidak heran demi menjaga budaya saling memberikan oertolongan kepada orang lain itu, membuat orang Jawa yang merantau ke luar pulau dan sukses, tetap mencari rumah joglo asli dan membelinya lalu dipasang lagi di tempat tinggalnya. Jangan heran kalau menemukan rumah joglo ini di wilayah Pulau Sumatera atau pulau-pulau lainnya.

Milik Bangsawan

Sebuah rumah dapat mencerminkan siapa pemiliknya serta status sosial si empunya di dalam masyarakat. Demikian juga makna yang terkandung dalam rumah joglo atau rumah adat suku Jawa tersebut. Zaman dahulu, rumah Joglo hanya dimiliki oleh kaum bangsawan atau orang kaya saja. Ini sebab bahan bangunan yang dibutuhkan untuk membuat sebuah Joglo tidaklah sedikit dan murah. Bentuk atap yang tinggi berbahan kayu jati atau jenis kayu mahal lainnya, membuat rakyat jelata mustahil memiliki biaya untuk membangunnya.

Selain itu, perawatan agar kondisi rumah tetap awet dan kuat juga tidak murah. Itu sebab mengapa rumah Joglo biasanya hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan dan orang berada saja. Walaupun saat ini banyak macam jenis Joglo yang berasal dari bentuk asli rumah adat suku Jawa ini, namun bentuk asalnya adalah sama. Yaitu terdiri atas empat buah tiang yang menyangga bangunan utama yang disebut Soko Guru.Terdapat susunan kayu di atas Soko Guru yang sering disebut Tumpang Sari. Fungsi tumpang sari mirip dengan penyangga plafon.

Ruangan dalam Joglo secara umum terbagi menjadi 3. Pendopo, pringgitan, dan omah jero. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda. Pendopo berfungsi sebagai ruang pertemuan. Pringgitan digunakan sebagai tempat pertunjukan seperti wayang kulit. Omah jero adalah ruangan yang bersifat pribadi. Biasanya khusus digunakan untuk pemilik rumah beraktifitas. Di dalamnya terdapat kamar atau senthong. Dalam bentuk asli rumah Joglo, hanya ada 3 buah senthong.

Ada teori yang mengatakan bahwa rumah Joglo tahan gempa. Teori ini ada benarnya jika dilihat dari bentuk asli rumah adat suku Jawa ini yang tidak menggunakan semen, melainkan sepenuhnya terbuat dari kayu. Penggunaan pasak-pasak sebagai pengganti paku juga membuat rumah ini lebih kuat menghadapi goncangan. Hampir seperti rumah-rumah yang terdapat di Jepang, yang rata-rata desainnya menggunakan kayu sehingga lebih kuat dan ringan.

Apapun, rumah Joglo adalah bukti bahwa nenek moyang kita adalah manusia-manusia kreatif yang tidak meninggalkan kearifan setempat dalam membangun sebuah rumah.

***
Pulau Jawa letaknya bersebelahan dengan Pulau Sumatera dan dipisahkan oleh selat Sunda. Di Pulau Jawa terdapat enam propinsi, yaitu DKI Jakarta/Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa Barat/Jabar, Banten, Jawa Tengah/Jateng, DI Yogyakarta/Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur/Jatim. Setiap propinsi memiliki rumah adatnya masing-masing. Kali ini, yang akan dibahas adalah khas khususnya Yogyakarta.

DI Yogyakarta/Daerah Istimewa Yogyakarta

Rumah adat Jawa di daerah DI Yogyakarta terbilang mewah dan megah. Pernahkah Anda melihatnya? Jika pernah, coba perhatikan besar dan tingginya tiang-tiang penyangga rumah adat itu. Tiang-tiang tersebut menjadi tanda bahwa rumah adat DI Yogyakarta sangat sempurna, baik bentuk maupun cara membuatnya. Rumah adat Jawa di Yogyakarta dinamakan rumah bangsal kencono atau rumah joglo. Bentuk rumah tersebut datar dengan tanah. Tidak berpanggung seperti rumah adat suku lain di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Bagian-Bagian Rumah
1. Pendopo.
Ruangan pendopo sering digunakan untuk acara penerimaan tamu, pertunjukkan seni berupa pementasan wayang, pertemuan, atau bahkan untuk musyawarah. Selain itu, di bagian paling pinggir  pendopo sering dipakai tempat bermain oleh anak-anak perempuan.

2. Ruangan pringgitan.
Ruangan pringgitan sering dipakai sebagai tempat untuk mementaskan wayang.  Terdapat sebuah gang kecil yang memisahkan pendopo dan pringgitan yang biasa disebut longkangan. Longkangan bisa digunakan sebagai jalan  untuk beberapa kereta atau mobil.

3. Kuncung.
Pendopo ini bisa menjadi tersambung dengan bagian pringgitan. Depan pendopo sendiri bisa dibuat tempat berupa pemberhentian kendaraan-kendaraan yang akan bertamu, tempat ini biasa disebut kuncung.

4. Dalem.
Dalem atau omah jero dipakai sebagai ruang keluarga dan tempat menerima tamu khususnya perempuan.

5.Pawon.
Pawon letaknya berada di belakang dalem. Selain ruangan ini digunakan untuk memasak. Pawon juga digunakan untuk menyimpan peralatan dapur dan bahan makanan seperti kelapa, palawija, beras, dan sebagainya

Ciri Khas Rumah Jawa di Yogyakarta
Rumah Joglo Yogyakarta yang merupakan rumah adat suku Jawa memiliki beberapa ciri khas, di antaranya:

1. Rumah joglo adalah rumah tradisional masyarakat Jawa dengan bentuk yang paling sempurna. Teknik pembuatannya juga cukup sulit sehingga menghasilkan bentuk bangunan yang sangat megah dan indah.

2. Joglo disokong oleh empat soko guru (tiang utama) untuk menyangga bagian blandar tumpang sarinya. Joglo memang sangat membutuhkan banyak kayu untuk membangunnya sebagai pondasi yang kuat. Brunjung merupakan bagian kerangka yang terdiri atas empat soko guru berujung sampai bubungan, yang biasa disebut molo atau suwunan.

3. Rumah adat orang Jawa ini tidak berbentuk panggung. Pondasi atau alas bangunannya (bebatur) dibuat dari tanah yang ditinggikan dan diperkeras atau disebut juga dengan istilah dibrug.

4. Tiang rumah dibangun di atas ompak, yaitu alas tiang yang terbuat dari batu alam dengan bentuk persegi empat, bulat, atau segi delapan.

Speak Your Mind

*