Jurnal Psikologi Perkembangan, Membangun Minat Anak

Perkembangan perilaku anak terjadi melalui proses peniruan. Faktor-faktor yang turut mempengaruhi terbentuknya perilaku anak ini adalah adanya orang yang dijadikan model atau dicontoh, yang berada di sekitarnya. Seperti orang ua ataupun saudara kandung. Tak sedikit jurnal Psikologi perkembangan yang menyorot pembentukan perilaku anak melalui proses peniruan tersebut. Walaupun ada berpendapat bahwa blue print anak yang didapatkan dari Tuhannya lebih berperanan penting, bagaimanapun lingkungan juga sangat penting.

Lingkungan

Jurnal Psikologi perkembangan anak banyak juga yang mnyoroti betapa pentingnya lingkungan terhadap perkembangan anak. Buktinya adalah bahwa anak sulung akan berbeda karakternya dengan anak nomor dua atau anak bungsu. Walaupun mereka terlaihir dari seorang ibu yang sama dan dari bibit ayah yang juga sama, kecerdasan mereka terkadang berbeda dan apa yang mempengaruhi mereka juga berbeda. Setiap individu itu terlahir dengan bawaan masing-masing sehingga mereka menjadi seseorang yang sangat berbeda.

Ada yang berpendapat bahwa lingkungan itu tidak akan banyak berdampak pada diri sendiri kalau diri sendiri mempunyai kekuatan untuk mengendalikan lingkungan. Apapun warna lingkungan itu, kalau seseorang tidak ingin mengambil warna itu, maka ia tidak akan terwarnai. Contohnya adalah ikan. Ketika ikan laut itu masih bernyawa, rasanya tidak asin. Air laut yang super asin pun tidak membuat rasa ikan laut menjadi asin. Ini adalah salah satu analogi perumpamaan betapa warna lingkungan sesuai dengan sikap.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana membuat anak bisa bersikap seperti itu? Pasti ada pengaruh dari sesuatu yang membuatnya mempunyai sikap itu. Ada lagi contoh dua saudara sekandung dari ibu dan ayah yang sama. Anak tertua menjadi seorang pemabuk, binal, nakal, dan akhirnya dipenjara sama persis seperti ayahnya. Ia mengatakan bahwa ayahnya adalah pengaruh yang sangat nyata dalam hidupnya. Sedangkan adiknya, sangat alim dan sangat baik. Sang adik inipun mengatakan bahwa ayahnya adalah idolanya. Nasib sang ayah yang tidak sejalan dengan tuntunan agama itu menjadi satu pegangan baginya agar ia tidak menjadi seperti ayahnya.

Ini juga merupakan satu contoh bahwa lingkungan tidak bisa mengubah seseorang menjadi jahat. Tetapi, jangan salah, pasti ada tangan lain yang membentuk anak tersebut agar ia mempunyai pemikiran seperti itu. Bagaimana mungkin seseorang yang dijadikan panutan umat Islam mengatakan bahwa siapa yang berteman dengan minyak angin, ia akan kecipratan wangi, kalau lingkungan tidak memberikan pengaruh apapun.

Lingkungan itu sangat penting. Ketika seseorang dalam masa pertumbuhannya ia akan membutuhkan lingkungan yang baik karena ia terlahir putih bagaikan kertas kosong. Semua bayi terlahir sama. Kalau ia mempunyain kecerdasan di atas rata-rata, lalu ia tidak mendapatkan lingkungan yang baik yang bisa mengembangkan kecerdasannya, maka bisa jadi perkembangannya tidak maksimal. Mengapa perlu mencari seorang guru dan tidak boileh belajar sendiri?

Tuhan sangat tahu bahwa kalau seseorang yang mencari ilmu sendiri tanpa seorang pembimbing, orang itu akan dibimbing oleh setan. Itulah mengapa sangat penting mencari lingkungan yang baik agar menjadi baik walaupun keputusan itu masih berada di tangan masing-masing. Pengetahuan yang didapatkan dari lingkungan itu akan mempengaruhi keputusan. Jadi, tidak benar juga kalau ada yang menapikan pengaruh lingkungan. Kalau begitu, buat apa ada sekolah dan orang-orang berusaha mencari sekolah yang baik untuk anaknya.

Kalau orang terlalu percaya diri dan yakin dirinya tidak akan terpengaruh lingkungan, ia mungkin tidak membutuhkan orang lain. Tidak ada satu orang pun yang bisa hidup sendiri. Orangtua adalah lingkungan karena mereka mempunyai kehidupan sendiri-sendiri dan membawa sifat sendiri-sendiri. Mulai dari sesuatu yang sangat terlihat ini saja orang tidak bisa mengatakan bahwa dia bisa sendirian dalam menentukan apa-apa yang berkaitan dengan dirinya. Buku pun adalah lingkungan.

Nanti, ketika ia akan memilih kehidupannya, ia bisa mengandalkan apa yang telah ada di benak dan otaknya. Referensi yang didapatkannya akan sangat berperanan penting dalam setiap langkah dalam hidupnya. Kesimpulannya adalah bahwa setiap individu mendapatkan blue print dari Tuhannya. Namun, lingkungan membentuknya dan berpengaruh pada hidupnya. Orangtua dan orang-orang dewasa yang ada di sekitar sang individu akan membentuk jiwa dan raganya sebelum ia sendiri mampu melakukannya pada dirinya sendiri.

Televisi

Salah satu hal yang sangat diyakini mampu membentuk kepribadian adalah televisi. Anak dapat bebas untuk mengaksesnya. Televisi ini dapat menjadi media peniruan yang dilakukan anak-anak. Saat tokoh idola yang ditonton di televisi melakukan sesuatu, anak pun akan segera meniru. Anda yang telah memiliki anak tentu paham dengan proses peniruan ini. Tokoh-tokoh jagoan dalam film kartun ataupun tayangan televisi begitu menarik dan mudah ditiru anak-anak.

Tidak heran kalau ada orangtua yang melarang atau paling tidak membatasi akses televisi yang bisa ditonton oleh anak-anaknya. Banyaknya acara yang membuat anak-anak menjadi sangat terlena oleh televisi sehingga tidak melakukan hal lain, telah mencapai tingkat yang cukup mengkhawatirkan. Bila hal ini terus dibiarkan, maka karakter anak akan menjadi sangat berbeda dengan yang diharapkan. Berhati-hatilah dengan apa yang bisa diakses oleh anak dari televisi.

Kata-kata yang dilontarkan oleh para pemain sinetron pun akan bisa ditiru oleh anak. Tentu saja orangtua akan menjadi kewalahan ketika anak mulai mengatakan jata-kata yang tidak senonoh atau kata-kata yang tidak sesuai dengan usia mereka. Kalau tidak bisa terhindarkan untuk menonton televisi, berlakukanlah diet televisi. Diet yang dilakukan untuk membatasi apa yang bisa diakses dari dunia televisi yang penuh dengan skenario itu.

Jangan heran kalau ada anak yang akhirnya sangat percaya dengan cerita yang ada di televisi karena sejak kecil ia telah ‘dididik’ oleh televisi. Berikan anak aktivitas lain yang lebih bermanfaat daripada hanya menonton acara yang tidak perlu. Misalnya acara musik yang menampilkan para penyanyi yang tidak mengenakan pakaian yang lengkap. Anak-anak wanita bisa saja meniru pakaian tersebut. Tentu saja pakaian itu akan mempengaruhi cara berpikir anak-anak.

Anak-anak yang mengenakan pakaian nan seksi, tentu saja akan akan berpikir berbeda dengan anak-anak yang mengenakan kerudung atau jilbab. Mereka pun akan berpikir dengan persfektif yang berlainan. Jadi, berhati-hatilah dengan apa yang ada di lingkungan. Jaga anak-anak dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Proses Imitasi

Dalam jurnal Psikologi perkembangan, perilaku peniruan semacam ini disebut dengan proses imitasi. Proses ini berlangsung dengan cara mengambil gambaran perilaku yang dilihat dan diperoleh anak-anak dari lingkungannya. Melalui tahap penyerapan, perilaku dari lingkungan, kemudian menginternalisasi menjadi perilaku anak.

Sebagai sebuah tahapan, proses ini cenderung bersifat netral. Artinya, kalau perilaku yang ditiru adalah perilaku baik, maka akan menghasilkan perilaku anak yang baik pula. Begitu juga sebaliknya, bila yang ditangkap dan diserap anak merupakan perbuatan tidak baik, dapat menghasilkan perilaku yang tidak baik pula. Para orang tua harus selalu peka dan memperhatikan perkembangan anak-anaknya.

Dalam konteks ini, orangtua dapat mengarahkan minat ataupun kegemaran terhadap suatu bidang dengan mengajak anak untuk melihat tayangan televisi. Misalnya, untuk mengetahui minat terhadap bidang olah raga tertentu, orang tua dapat mengamati bagaimana respon anak terhadap tayangan televisi tentang berbagai cabang olah raga. Apabila terlihat respon yang menggembirakan terhadap cabang olah raga tertentu, orang tua pun dapat membantu memupuknya dengan memberikan peralatan olah raga yang dimaksud.

Minat anak terhadap sesuatu, seperti olah raga, bisa dibangun sejak usia pra sekolah. Memang, sesuai dengan pertumbuhannya, minat olahraga bagi anak masih akan sering mengalami perubahan. Namun bila minat ini terbangun sampai menjelang usia 12 tahun atau pra remaja, bisa jadi olah raga itulah yang memang diminati anak. Pada umur pra remaja ini anak biasanya sudah mulai stabil terhadap minatnya.

Untuk mendukung atau memacu anak lebih berminat terhadap suatu jenis olah raga, para orang tua dapat memperkuat dengan konsep pujian tersembunyi. Misalnya, mengajak anak menonton pertandingan olah raga yang diminati atau mengajak foto bersama dengan tokoh olah raga diidolakannya. Letakkan foto tersebut di dinding kamar tidur anak. Dalam jurnal psikologi perkembangan, cara semacam ini dapat memupuk minat anak terhadap cabang olah raga itu secara lebih kuat.

Speak Your Mind

*