Jurnalisme Radio: Keunikan Media Radio

Ilustrasi jurnalisme radioDibanding dengan media cetak, sebenarnya media radio memiliki kelebihan yang tak bisa dicapai media cetak. Kelebihan tersebut di antaranya selintas dengar, lebih cepat penyajian berita/informasinya, secara langsung menyampaikan berita/informasi, dan dengan auditif yang sifatnya memungkinkan pendengar radio mengembangkan imajinasinya sendiri. Manakala mampu mengemas secara kreatif, maka keunggulan radio ini akan sulit ditandingi.

Namun demikian, terlebih di negara kita, perkembangan radio justru kalah canggih dibanding media cetak. Bahkan PWI pun baru mensahkan penyiar radio sebagai bagian dari korps wartawan pada paruh akhir 1990-an.

Apa itu jurnalisme radio?

Ada dua kata kunci dalam terminologi jurnalisme radio, yaitu jurnalistik dan radio. Menurut ensiklopedi Indonesia, yang dimaksud dengan radio adalah penyampaian informasi dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik bebas yang memiliki frekuensi kurang dari 300 GHz.

Jurnalistik menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti sesuatu yang menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran. Jadi, terminologi jurnalisme radio yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai radio journalism atau broadcast journalism, bisa diartikan sebagai proses produksi berita dan menyebarluaskannya melalui media radio.

Dasar Jurnalisme Radio

Berbeda dengan media cetak yang menyajikan tulisan, atau televisi yang menyajikan suara dan gambar, radio hanya menggunakan suara. Dengan demikian, konsep bertutur atau menyuarakan segala informasi menjadi dasar penyajian sebuah informasi di radio.

Ini yang menjadi dasar jurnalisme radio. Dengan demikian, sejak penyusunan naskahnya, informasi untuk radio berbeda untuk koran maupun majalah. Naskah informasi untuk radio disusun menggunakan bahasa tutur bukan bahasa tulisan. Apabila ini dilanggar, sebenarnya pendengaran pemirsa akan sangat sensitif merasakan bukan sedang mendengar tuturan melainkan sedang mendengarkan bacaan.

Hal kedua yang menjadi dasar penyajian dalam jurnalisme radio adalah bahwa media radio sebagai media sekilas dengar memiliki prinsip yang sensitif. Sebuah informasi di radio akan didengar dalam selintas dengar, sekilas, tidak bisa diulang.

Dengan demikian, informasi yang akan disampaikan pun harus dibuat sedemikian rupa dengan jelas, sederhana dan sekali ucap harus langsung bisa dimengerti. Inilah satu hal yang berbeda antara radio dengan media lainnya.

Penyajian Acara

Begitu pula dalam penyajian informasi berupa angka dan fakta, karena sifatnya selintas dengar itu pula, sedapat mungkin fakta-fakta harus diringkas tanpa mengurangi kaidah-kaidah informasi. Dan ketika akan menyajikan angka-angka, hindari menyampaikan angka yang rumit seperti angka-angka desimal.

Karena harus ringkas dan cepat, mau tidak mau, informasi dalam bentuk angka-angka yang akan disampaikan melalui media radio harus mengalami pembulatan dengan memperhatikan kebiasaan yang berlaku di masyarakat sehingga pembulatan angka tersebut menjadi tidak aneh ketika didengar.

Beberapa produk akhir dalam jurnalisme radio yang telah dikenal di antaranya adalah berita pendek dengan durasi 15-20 detik. Setiap radio biasanya punya istilah sendiri-sendiri. Reportase dari lapangan tentang berbagai hal yang dilaporkan langsung oleh reporter, baik dalam acara tersendiri secara utuh, maupun sebagai jeda, atau breaking news.

Produk lain seperti feature, juga dikenal dalam jurnalisme radio. Suara atau opini masyarakat tentang satu masalah tertentu, yang direkam oleh reporter kemudian disiarkan melalui radio, juga merupakan produk jurnalisme radio yang menarik.

Penggolongan Jenis-Jenis Acara Siaran Jurnalisme Radio

Jenis acara siaran radio sangat variatif dan beragam. Hal ini merupakan strategi radio dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan khalayak. Sesuai fungsinya sebagai sarana hiburan, pendidikan dan informasi, maka radio menggolongkan jenis-jenis acaranya sebagai berikut :

  1.  Siaran Pemberitaan dan Penerangan (News and Informations Programmes) :
    1. Warta berita (Straight News)
    2. Reportase (Current affairs)
    3. Penerangan Umum (General Informations)
    4. Pengumuman (Public Service)
  2.  Siaran Pendidikan (Educational Programmes)
    1. Siaran kanak-kanak (Children’s hours)
    2. Siaran remaja (Youth Programme)
    3. Siaran sekolah (School Broadcasting)
    4. Siaran Pedesaan (Rural Broadcasting)
    5. Siaran Keluarga Berencana (Famili Planning Programmes)
    6. Siaran agama (Religious programmes)
    7. Ruangan wanita (Women’s hours)
    8. Pengetahuan umum (Adult Education)
  3. Siaran Kebudayaan (Culture programmes)
    1. Kesusateraan (Literature)
    2. Kesenian daerah (Folklore)
    3. Apresiasi seni (Art appreciation)
  4. Siaran Hiburan (Entertainments)
    1. Musik daerah populer (Local music)
    2. Musik Indonesia Populer (National Music)
    3. Musik asing (Foreign music)
    4. Hiburan ringan (Light entertainment)
  5. Siaran Lain-lain (Miscellaneous) :
    1. Ruangan iklan (Commercial spot announcement)
    2. Pembukaan/penutup siaran (Opening/closing tune).

Penggolongan acara diatas sangat sesuai dengan fungsi radio itu sendiri sebagai sarana hiburan, penerangan dan pendidikan. Tetapi dalam penyajiannya perlu diperhatikan berbagai unsur yang dapat menarik minat pendengar untuk mengikuti acara-acara tersebut. Diantaranya adalah kata-kata (spoken words), musik (music), dan efek suara (sound effects) (Effendy, 1991).

Radio Siaran Sebagai Media Massa

Radio merupakan salah satu unsur dari proses komunikasi, dalam hal ini media massa, radio mempunyai ciri dan sifat yang berbeda dengan media massa lainnya. Jelas berbeda dengan surat kabar yang merupakan media cetak, juga dengan film yang bersifat mekanik optik.

Dengan televisi kalaupun ada persamannya dalam sifatnya yang elektronik, terdapat perbedaan, yakni radio sifatnya audial, televisi sifatnya audiovisual.

Penyampaian pesan melalui radio siaran dilakukan dengan menggunakan bahasa lisan. Kalupun ada lambang-lambang verbal yang dipergunakan jumlahnya sangat minim. Umpamanya tanda waktu pada saat akan memulai acara berita dalam bentuk bunyi telegrafi atau bunyi salah satu alat musik.

Keuntungan radio siaran bagi komunikan adalah sifatnya yang santai, karena radio sifatnya auditori (untuk didengarkan) lebih mudah orang menyampaikan pesan dalam bentuk acara yang menarik. Penyajian hal yang menarik dalam rangka penyampaian suatu pesan adalah hal yang penting karena publik sifatnya selektif. Begitu banyak pilihan diantara sekian banyak media komunikasi, dan begitu banyak pula pilihan acara dari sekian banyak acara dari setiap media.

Daya pikat untuk melancarkan pesan ini penting artinya dalam proses komunikasi, terutama melalui media massa, disebabkan sifatnya yang satu arah (one way traffic communications). Komunikasi hanya dari komunikator kepada komunikan. Komunikator tidak mengetahui tanggapan komunikan. Kelemahan ini bagi radio ditambah lagi dengan sifatnya yang lain yakni “sekilas dengar”.

Pesan yang sampai kepada khalayak hanya sekilas saja, begitu terdengar begitu hilang. Umpan balik atau feedback tidak mungkin terjadi pada saat itu. Pendengar yang tidak mengerti atau ingin memperoleh penjelasan lebih jauh, tak mungkin meminta kepada penyiar untuk mengulangi lagi. Karena kelemahan-kelemahan itulah maka radio siaran banyak dipelajari dan diteliti untuk mencari teknik-teknik yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut sehingga komunikasi melalui radio siaran lebih efektif.

Sifat Sifat Radio

Dalam rangka memproduksi siaran jurnalisme radio perlu diperhatikan sifat-sifat radio itu sendiri. Sifat radio sangat berbeda dengan media massa lainnya. Radio memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri yang nantinya akan feedback timbul dari pendengar. Adapun sifat radio siaran itu adalah :

  1. Auditori. Sifat radio siaran adalah auditori, untuk didengar, karena hanya untuk didengar, maka isi siaran yang sampai di telinga pendengar hanya sepintas lalu saja. Ini lain dengan sesuatu yang disiarkan melalui media surat kabar, majalah atau media dalam bentuk tulisan lainnya yang dapat dibaca, diperiksa dan ditelaah berulang kali. Pendengar yang tidak mengerti sesuatu uraian radio siaran tak mungkin meminta kepada pembicara agar mengulanginya lagi.
  2. Mengandung Gangguan Setiap komunikasi yang menggunakan saluran bahasa dan bersifat massal akan menghadapi dua faktor gangguan. Gangguan yang pertama ialah apa yang disebut “semantic noise factor” dan yang kedua adalah “channel noise factor” atau kadang-kadang disebut “mechanic noise factor”.
  3. Radio siaran sifatnya akrab, intim. Seorang penyiar radio seolah-olah ada di kamar pendengar yang dengan penuh hormat dan cekatan menghidangkan acara-acara yang menggembirakan kepada penghuni rumah. Sifat ini tidak dimiliki oleh media lainnya (Effendy, 1991)

Speak Your Mind

*