Keindahan Antologi Puisi Chairil Anwar

Membaca dan merenungi antologi puisi Chairil Anwar serasa melayang larut dalam keindahan, hanyut dalam kontemplasi, dan tercebur dalam sketsa metaforis bait-bait syair yang menggugah dan membatin.
Tak syak, sosok Chairil sebagaimana diakui oleh banyak kalangan penikmat sastra senantiasa menampilkan karya-karya berkelas tinggi, bercitarasa dan “glamor” dalam perbendaharaan dan diksi kata. Maka, kerinduan para penggemarnya dengan antologi puisi-puisi legenda penyair dan pengarang Indonesia.

Antologi puisi Chairil Anwar selalu mampu membuat banyak orang tenggelam dalam satire kehidupannya. Menyadarkan dalam kelupaan dan kealpaan. Bernegosiasi dan melakukan relaksasi perasaan dari kejemuan-kejemuan yang dihadapi. Tercebur dalam keindahan bahasa dan muatan makna yang terkandung dalam setiap kata, frase dan kalimat yang teruntai dalam setiap barisan katanya.

Senja di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta/Di antara gedung, rumah tua, pada cerita/Tiang serta temali, kapal, perahu tidak berlaut/Menghembus diri dalam mempercaya maut berpaut/Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kepak elang/Menyinggung muram, desir hari lari berenang/Menemu bujuk pangkal akanan.Tidak bergerak /Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak/Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan/Menyisir semenanjung, masih pengap harap/Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan/Dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Betapa keindahan langsung menyeruak dari bait-bait salah satu puisi karya ciptanya berjudul “Senja di Pelabuhan Kecil”. Puisi ini bahkan sampai membuat Taufik Ismail berkunjung ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk melihat suasana dan penggambaran yang sesuai dengan cerita dalam puisi Chairil Anwar itu. Namun, tak menemukan sepotong senja laiknya yang tergambar dan tersketsa secara rapi dan mencengangkan sesuai dengan bunyi-bunyi dalam bait itu.

Sebuah puisi yang bersetting di sebuah pelabuhan kecil dimana tak ada seorang nelayan pun yang hendak melaut. “Ini kali tidak ada yang mencari cinta”, menggambarkan manusia-manusia di sekitar pesisir itu berdiam, tidak melaut sehingga suasana di tepi laut itu sepi, muram, dan hanya ditemani oleh semilirnya angin pantai.

Sampai akhirnya, si “Aku” yang bercerita dalam puisi tersebut mengucapkan salam perpisahan pertanda dirinya akan meninggalkan jejak-jejak sepinya di kesunyian pelabuhan kecil itu.

Puisi Deru Campur Debu

Sayang tak bisa ditolak, karena komplikasi penyakit akibat gaya hidup yang serampangan Chairil Anwar hanya diijinkan Tuhan untuk melihat, mendengar dan merasakan segala fenomena di dunia tak lebih dari 26 tahun.

Namun, di usianya yang sangat pendek itu, ia tergolong manusia langka karena begitu banyak karya-karyanya. Supaya tak berserakan, maka diusulkan untuk dibuatkan saja antologi puisi Chairil Anwar untuk kembali menyapa para penggemarnya.

Dalam antologi puisi bersama dengan teman-temannya Asrul Sani dan Rivai Apin, puisi-puisi Chairil berjudul “Aku”, “Tiga Menguak Takdir”, dan “Kerikil Tajam dan yang Terampa dan Yang Putus” diterbitkan dalam tajuk Deru Campur Debu.

Hal itu merupakan sebuah upaya mengenang almarhum yang telah dianggap sebagai simbol pencetus puisi modern Indonesia. Selain itu, untuk mengobati rasa kangen dari para sastrawan-sastrawan lintas generasi untuk semakin mengenal sosok Chairil Anwar dari ragam karya-karyanya yang mengagumkan.

Antologi puisi Chairil Anwar banyak mengajarakan tentang kehidupan, cinta, cipta, dan keindahan.

Chairil Anwar dan Kebudayaan

Dalam bidang kesusastraan, terdapat kecenderungan yang sama seperti dalam bidang politik. Ketika seseorang telah menunjukkan kepiawaiannya dalam bersastra, maka terdapat semacam kedudukan di tengah masyarakat, khususnya orang-orang yang bergelut di bidang sastra.

Kecenderungan tersebut bahkan lebih terasa kuat di dalam dunia seni karena di bidang ini kebesaran seseorang kurang bergantung pada kerja sama organisasi seperti halnya pada dunia politik. Dengan demikian, wilayah kedudukan yang dimiliki tiap personal yang terangkum dalam dunia sastra akan lebih tinggi tempatnya secara politis.

Salah satu sastrawan yang terkenal karena puisinya adalah penyair Chairil Anwar yang bahkan hingga kini namanya masih melambung dan berbagai puisinya masih dibahas dan dikaji sebagai objek penelitian sastra.

Dalam kebudayaan, terutama kesusastraan, Chairil Anwar dipandang sebagai sosok pribadi yang tangguh dan berani karena mampu memberontak sisi lain dari sejarah dan dunia perpuisian yang sebelumnya bergerak dalam Pujangga Baru.

Ia bahkan dijuluki jalang karena salah satu puisinya yang mengatakan bahwa /aku ini binatang jalang/ dari kumpulan yang terbuang//. Puisi tersebut bahkan hingga kini menjadi semacam mitos yang sulit digeser dalam kebudayaan karena telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun, dalam beberapa puisinya, terdapat pula orientasi budaya yang gamang akibat munculnya pesona kemerdekaan yang belum pernah terangkul dalam puisi-puisi sebelumnya.

Jika dalam puisi Balai Pusataka dan Pujangga Baru, para penyair menyibukkan dirinya untuk bisa merdeka dari berbagai macam penjajahan serta memberikan seruan yang lebih bernilai religius, maka angkatan 45 ternyata memiliki sesuatu yang bisa dibilang berada di garis perbatasan.

Perubahan bentuk puisi Chairil Anwar merupakan salah satu bukti bahwa ada perubahan identitas bangsa Indonesia dari terjajah menjadi merdeka. Akan tetapi, di sisi lain, hal tersebut juga justru memberikan makna lain dalam kebudayaan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, mau dibawa ke mana bangsa Indonesia ini bergerak? Mungkin hal itu yang menjadi pertanyaan bagi para penyair angkatan 45 yang mulai merenungi nasib bangsanya yang sudah meredka, namun belum bisa memiliki apa-apa untuk dijadikan sebuah hakikat bernegara.

Orientasi budaya yang seperti ini sepertinya dirasakan pula oleh masyarakat zaman sekarang yang tengah tergamangkan oleh adanya peradaban dan modernisasi dalam ruang lingkup yang luas sehingga kebudayaan menjadi tersamarkan, bahkan terlihat seperti hilang.

Antara Eropa dan Indonesia

Kenyataan bahwa Chairil Anwar berada dalam dunia perbatasan adalah ketika ia banyak menyisipkan kata-kata baru yang belum muncul dalam bahasa Indonesia.

Selain itu, adanya kegigihan Chairil Anwar dalam membewarakan sajaknya merupakan wujud bahwa ia ingin menemukan kembali identitasnya sebagai bangsa Indonesia tanpa campur tangan bangsa Eropa yang dahulu telah menjajah negerinya.

Dengan kata lain, penjajahan sepertinya bukan hanya sebagai sesuatu yang menakutkan dan menguras keinginan untuk merdeka, tapi juga sebagai sesuatu yang mencemari tanah kelahiran bangsa Indonesia untuk bisa bangkit sebagai dirinya sendiri.

Bahkan dalam beberapa puisi cinta pun, Chairil senantiasa memperlihatkan betapa negara-negara Eropa telah memperlakukannya dengan amat mulia sekaligus kejam sehingga cinta pun tidak bisa lagi selembut seharusnya, tapi lebih getir daripada yang seharusnya.

Puisi-puisi perjuangan yang dibuat oleh Chairil bukan lagi semata-mata untuk mendokumentasikan apa yang telah dilakukan oleh para pejuang tanah air, melainkan bagaimana nasib bangsa ini ke depannya ketika para pejuang tersebut sudah tidak ada lagi, penjajahan dalam bentuk tindakan yang kejam sudah tidak ada lagi, dan manusia Indonesia masih mengingat zaman sejarah ketika orang tua mereka dijajah oleh bangsa lain.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hampir setiap puisi bisa menerka apa yang teradi pada zamannya, serta apa yang akan terjadi pada zaman berikutnya setelah para penyair tersebut telah tiada. Chairil Anwar berhasil memberikan fakta bahwa pada kehidupan selanjutnya, disorientasi budaya bangsa Indonesia akan segera terjadi dan masyarakat Indonesia akan menemukan konflik budaya yang lebih mencengangkan dibandingkan dengan penjajahan oleh bangsa lain.

Speak Your Mind

*