Kelebihan dan Kekurangan Membeli Majalah Komik

Ilustrasi majalah komikBelakangan ini, buku jenis komik memiliki penggemar yang luar biasa. oleh sebab itu, para penerbit berlomba-lomba menerbitkan komik. Mulai dari cetakan resmi yang terdaftar pada badan hak cipta, sampai cetakan bajakan.

Di antara komik-komik yang banyak dan menyerbu pasar, muncullah gendre baru, yaitu Majalah Komik. Jenis majalah yang sebenarnya populer di Jepang.

Majalah Komik

Majalah Komik ini dipopulerkan pada 2005 dengan kemunculan perdananya Majalah Komik cewek, Nakayoshi. Berikutnya menyusul Majalah Komik untuk cowok, Shonnen Magz. Bentuk Majalah Komik itu seukuran A5, lebih tebal dan isinya terdiri atas potongan-potongan komik dari berbagai judul.

Sebenarnya majalah Komik pernah diterbitkan dulu oleh Gramedia Majalah, sekitar 1995. Bentuknya seperti majalah pada umumnya, lebar, namun kertas yang dipakai adalah kertas koran, dan sangat tipis. Majalah ini muncul selama beberapa waktu, namun kemudian tenggelam dan menghilang.

Sebabnya, karena orang lebih suka membeli komik asli daripada bentuk majalah. Belakangan pihak penerbit mengubah tata cara, mereka pun memilih untuk menerbitkan majalah komik sesuai versi aslinya di Jepang (kecuali ukurannya).

Suka Duka Membeli Majalah Komik

Setelah sukses meluncurkan Nakayoshi, Shonen Magz, menyusul kemudian Hanalala, yang umumnya adalah kumpulan komik-komik Korea. Kemudian ada Cerry dan Star Shonen. Berbeda dengan pandahulunya, majalah Komik sekarang semakin banyak peminatnya.

Pasalnya, komik-komik yang ditampilkan adalah komik-komik jenis terbaru. Namun, walau peminatnya bertambah, bukan berarti para komik mania tidak dibuat kesal karena mesti sabar menunggu serial kesayangannya untuk diterbitkan dalam bentuk komik, seperti Detektif Conan, Inuyasha, Wild Life dan lainnya.

Standar perhitungan untuk penerbitan komik yang masuk Majalah Komik adalah sebagai berikut; Untuk dapat menikmati satu komik utuh, kita harus menunggu 3 sampai empat bulan.

Bagi para maniak komik waktu itu dirasa lama, ditambah lagi seakan-akan pihak penerbit memaksa pembeli untuk membeli Majalah Komik sekaligus komiknya sendiri sehingga menjadi pemborosan. Belum lagi tumpukan Majalah Komik yang memenuhi rak buku.

Majalah Komik secara tidak langsung menghabiskan jatah rak yang seharusnya bisa untuk mengoleksi komik. ditambah lagi, harga Majalah Komik bila dijual ulang jatuh dibanding harga komik biasa. Ironis sekali rasanya, karena ketika dibeli harganya mahal, pas di jual harganya jatuh.

Perkembangan Majalah Komik Indonesia

Buat kalian anak-anak muda sekarang, jangan merasa kecil hati dulu karena sekarang rajanya per-komikan Indonesia dipegang oleh Manga. Dahulu, pada era 70-60-an, perkomikan Indonesia maju pesat. Ceritanya pun beragam, dari mulai silat, mistik, fantasi, super hero, kocak, pewayangan dan sebagainya.

Bahkan, ada surat kabar yang secara mingguan menerbitkan kolom komik pada sisipannya, yaitu, koran Pos Kota. Setiap hari minggu koran itu dengan setia selalu menyuguhkan komik-komik strip. Dari koran tersebutlah populer nama Doyok, Ali Oncom, Pitung dan sebagainya. Pokoknya saat itu ladang komik tumbuh dan berkembang lumayan pesat.

Itu sebelum sebuah penerbitan melirik komik-komik buatan luar, macam Manga dari Jepang. Ketika komik Manga muncul dengan ciri khasnya yang unik, perlahan-lahan komik Indonesia seperti digilas dan tersingkir. Dan lebih-lebih lagi, komikus Indonesia mulai melirik gaya pembuatan komik Manga. Akhirnya komik Indonesia pun kehilangan identitas, lalu menciptakan kemandulan tersendiri. Pedih nian.

Perkembangan dunia komik di Indonesia, saat ini memang sangat dipengaruhi oleh keberadaan komik manga yang berasal dari Jepang. Hal ini dapat dilihat dari sisi komik manga itu sendiri dan komik Indonesia yang ada.

Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan manga memang begitu pesat hingga dapat memberikan pengaruhnya kepada dunia perkomikan yang ada di negara lain. Jika kita melihat atau pergi berjalan-jalan ke toko buku, akan kita lihat betapa banyaknya komik manga yang ada di sana. Hal ini karena produksi komik manga itu sendiri yang dilakukan dengan besar-besar dan juga karena faktor dari konsumen sendiri yang lebih menyukai komik manga.

Sedangkan dari sisi komik Indonesia pengaruh dari komik manga ini dapat dilihat dari bagaimana gambar yang ada di dalam komik dibuat atau divisualisasikan. Walaupun itu adalah komik Indonesia yang mencoba untuk membuat cerita mengenai apa yang ada di Indonesia, tetap saja gambar yang ada meniru pada apa yang ada di gambar komik manga.

Gambar ini seperti visualisasi mata yang dibuat lebar layaknya penggambaran mata di dalam komik manga. Atau hal detail lain yang masih saja ditiru pembuat komik kita dari komik manga.

Ketika kita melihat gambar komik, sejatinya ada dua hal yang merajai gambar komik yang ada di dunia. Dan dua hal ini emang dapat dibedakan dengan jelas antara kedunya. Yaitu komik manga dan juga komik buatan amerika.

Sebelum komik manga merajai dunia perkomikan yang ada, komik amerikalah yang telah mendahului. Komik amerika lebih banyak disukai dan juga dijadikan sebagai film kartun yang ada. Kedua jenis komik ini secara gambar memang memiliki perbedaan dan masing-masing selalu dengan ciri khas mereka. Dan setiap orang yang melihat, dengan teliti dapat mengetahui perbedaan dari keduanya.

Saat ini, ketika komik manga merajai dunia perkomikan maka pengaruhnya begitu besar ke dalam negara kita. Komik yang dibuatpun mengikuti gaya komikus dari Jepang. Jika tidak melakukan hal ini maka mereka dapat dipastikan tidak akan dilirk oleh penerbit karena dianggap tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dari pasar dan konsumen.

Komik Indonesia juga mengalami sentuhan seperti halnya yang adadi dalam komik manga. Selain melalui gaya penggambaran karakter yang ada, yang dapat dilihat dari pengaruh komik manga ke dalam komik indonesia adalah tetap saja mengenai gaya desain dari komik itu sendiri yang tetap mencontoh apa yang ada di dalam komik manga.

Komik indonesia memang memiliki cerita yang khas dengan apa yang ada di Indonesia seperti yang sudah disebutkan ada komik tentan jaka Sembung, salah satu tokok yang begitu melegenda di dalam cerita di indonesia.

Namun, ada juga komik yang menceritakan tentang tema yang umum atau yang memang mengambil latar belakang dari apa yang ada di Indonesia. Sebut saja mengenai tokoh pewayangan ataupun tokoh perjuangan kita.

Mengapa Tidak Ada Majalah Komik di Indonesia?

Sangat disayangkan sekali. Menjamurnya jenis majalah Komik Jepang tidak membuat pihak penerbit mengambil inisatif untuk menerbitkan majalah Komik versi Indonesia. Seharusnya setelah kemunculan versi Jepang ini membuat pihak penerbit mencoba untuk membidik lahan untuk Komik versi Indonesia.

Diharapkan hal itu membuka peluang bagi para komikus Indonesia. Selain itu, Menerbitkan majalah Komik buatan Indonesia bisa membantu para komikus memiliki ladang pekerjaan yang rutin. Ditambah lagi hal tersebut dapat memupuk rasa untuk mencintai karya buatan negeri sendiri. Memang, untuk itu para komikus Indonesia harus mempertajam kemampuan mereka dalam membuat komik, terutama tema yang lebih Indonesia.

Kalau musik kita sudah bisa menjadi raja di negeri sendiri. Perfilman kita sudah bisa bangkit dari keterpurukannya dan mulai diminati, harusnya komik juga. Majukan komik Indonesia. Bagaimana, Anda setuju?

Anak asli Indonesia dapat dipastikan memiliki kemampuan yang tinggi untuk membuat komik. Hal ini dapat dibuktikan dengan si penggambar di balik komik Spiderman yang begitu melegenda dan laris manis di pasaran dunia. Tidak bukan adalah orang Indonesia asli keturunan dari suku Jawa.

Sedikit sekali keinginan dari kebanyakan generasi muda kita untuk membaca, terlebih dengan adanya perkembangan teknologi digital. Anak muda kita lebih suka untuk duduk berlama-lama di depan layar komputer untuk melakukan aktivitas lain di luar membaca.

Sedikit sekali anak remaja yang memiliki ketertarikan untuk mau membaca. Padahal dengan membaca banyak hal positif yang akan mereka dapatkan. Seperti bertambahnya ilmu dan pengetahuan mereka tentang sesuatu.

Inilah salah satu bukti nyata betapa besar kontribusi membaca bagi pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Hal ini akan dapat bermanfaat jika di sekelilingnya ada yang membutuhkan tentang informasi itu, ia dapat langsung mentransfer apa yang telah ia dapat dari membaca.

Hal ini memang tak banyak disadari oleh kalangan generasi muda kita. Melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan lebih disukai. Walaupun dengan melakukan hal itu, tak banyak yang akan mereka dapat yang dapat digunakan untuk meningkatkan ilmu dan pengetahuan mereka tentang sesuatu.

Begitulah budaya membaca yang telah banyak dipinggirkan dalam kehidupan masyarakat kita. Hal ini secara langsung atau tak langsung memberikan imbas pada pasang surutnya dunia majalah komik Indonesia kita.

Speak Your Mind

*