Kesalahan yang Biasa Dilakukan Pembeli Tanah

Ilustrasi pembeli tanahSemua orang tentu berharap bisa membeli tanah dan membangun properti sebagaimana yang diimpikannya. Namun, Anda sebagai pembeli tanah jangan pernah salah melakukan transaksi yang akan merugikan diri Anda sendiri. Terlebih, jika tanah yang akan dibeli itu akan Anda jadikan sebagai tempat tinggal.

Bayarlah Tanah dengan Harga yang Pantas

Memiliki sebidang tanah adalah keinginan wajar setiap orang. Kemudian diperuntukkan untuk apa tanah yang dibeli itu biasanya adalah pemikiran berikutnya. Dan kondisi ini menciptakan beberapa kemungkinan yang terjadi. Apakah Anda sedang sangat membutuhkan tanah dalam tekanan waktu atau Anda membeli tanah dalam kondisi yang santai tanpa tuntutan apapun. Maka keduanya akan menciptakan situasi yang berbeda saat bertransaksi.

Pembeli tanah pada saat bertraksai sering membuat kesalahan. Yaitu membayar harga tanah dengan mahal. Namun tidak sesuai dengan kelas tanah, peruntukan tanah, dan letak strategis tanah tersebut.

Karena setiap lokasi pasti memiliki keunikan tersendiri. Maka Anda harus bisa menilai dengan benar keunikan tanah tersebut. Sehingga Anda bisa menentukan nilai yang pantas sebagai penawaran yang bisa Anda berikan.

Jangan pernah berpikiran bahwa harga yang telah ditawarkan penjual adalah harga yang sesungguhnya, atau setidaknya dekat dengan nilai tanah itu sendiri karena dalam setiap penawaran pasti memiliki celah untuk negosiasi. Karena itu gunakanlah secermat mungkin celah tersebut. Untuk menego dan menawar harga pertama yang disebutkan oleh si penjual tadi. Hal ini sangat umum dan wajar dilakukan. Karena dasar daripada transaksi jual beli adalah, suka sama suka dan tanpa paksaan.

Penjual, tentu saja, selalu memberikan harga sesuai dengan keuntungan yang ingin mereka raih. Bisa jadi harga itu berlipat-lipat mahalnya dari harga setempat yang sebenarnya. Karena itu Anda pun patut mendapatkan hak Anda untuk memperoleh harga yang layak yang dapat Anda peroleh.

Point pertama

Bayarlah tanah dengan harga yang layak. Dan lakukan proses negosiasi lebih dulu sebelum membayar sejumlah uang kepada penjual.

Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Sah-sah saja Anda memiliki ketertarikan pada sebidang tanah pada awal kali Anda melihatnya. Tapi, itu tidak cukup menjadi pijakan tanpa Anda melihat fakta yang ada. “Jatuh cinta pada pangan pertama” mungkin berlaku pada sejarah cinta manusia pada lawan jenis, namun untuk urusan pembelian properti, Anda sebaiknya tak melakukannya.

Jika Anda tertarik pada sebidang tanah, terlebih jika tanah itu akan Anda gunakan untuk membangun tempat tinggal, Anda harus segera mengumpulkan fakta terkait dengan kenyamanan Anda dan keluarga selanjutnya.

Setidaknya Anda, sebagai pembeli tanah, harus memerhatikan hal-hal berikut:

  • Bagaimana riwayat penjualan tanah tersebut, aman atau tidak kepemilikannya?
  • Bagaimana keadaan masyarakat sekitar yang kelak akan menjadi tetangga Anda?
  • Bagaimana akses jalan kawasan tersebut?
  • Apakah kira-kira akan ada perkembangan yang baik, dalam hal akses, harga, dsb., dalam jangka lima tahun ke depan?
  • Pikirkan kembali dengan kepala dingin setelah Anda melihat lokasi tersebut. Jangan segera melakukan penawaran saat itu juga.

Point kedua

Jangan terkecoh oleh kecantikan lokasi. Anda harus melakukan survey yang teliti atas tanah yang Anda taksir.

Membeli Tanah dengan Pengaruh Testimoni

Jangan memutuskan untuk membeli tanah berdasarkan testimoni atau kesaksian para pembeli pada brosur yang ditawarkan oleh para pengembang. Anda harus berpikir bahwa pengembang merupakan pelaku bisnis yang juga menginginkan keuntungan dalam bisnisnya.

Testimoni yang ditulis dalam brosur atau iklan-iklan perumahan tentu saja tidak semuanya berisi kebohongan. Namun sebagai pembeli tanah, akan lebih baik jika Anda meninjau sendiri lokasi dan mengumpulkan kelebihan dan kekurangan pada fakta yang Anda dapatkan tanpa terpengaruh sepenuhnya dengan testimoni-testimoni tersebut.

Umumnya pengembang hanya menguraikan apa yang ada dalam testimoni secara general. Sehingga ia tidak bisa dibilang salah dalam mengungkapkan, namun tidak seluruhnya juga benar. Kalimat yang dipakai dalam brosur, testimoni atau pamphlet, adalah bahasa-bahasa iklan yang sangat umum dan general. Seperti, daerah bebas banjir (faktanya: benar bebas banjir bila sedang tidak hujan), dekat dengan jalan tol (faktanya: benar dekat dengan jalan tol bila dicapai dengan motor hingga ke gerbang perumahan), dan sebagainya. Itu hanya beberapa dari contoh kasus yang ada.

Point ketiga

Jangan membeli tanah karena testimoni. Ibarat membeli kucing dalam karung. Pengecekan langsung ke lokasi menghindari Anda dari rasa kecewa.

Membeli Tanah yang Tidak Berkekuatan Hukum

Peringatan pertama dan terakhir bagi calon pembeli tanah: jangan pernah membeli tanah sengketa.

Tanah sengketa di sini banyak macamnya:

  • Tanah yang tidak jelas kepemilikannya.
  • Tanah wakaf yang dijual.
  • Tanah yang jelas-jelas disengketakan oleh beberapa pihak.
  • Tanah peruntukan yang sedang dimatikan fungsinya.
  • Tanah yang tanpa surat-surat dan kelengkapan dokumen.
  • Tanah tanpa kekuatan hukum

Semua jenis-jenis tanah tersebut, justru paling banyak ditransaksikan. Karena itu sebagai calon pembeli Anda harus benar-benar teliti dan waspada sebelum memutuskan.

Banyak terjadi kasus sengketa tanah karena pembeli tanah kurang memperhatikan riwayat perpindahan atau pembelian tanah sebelumnya. Pembelian tanah secara perorangan memiliki kemungkinan terjadinya sengketa yang tinggi.

Biasanya disebabkan oleh garis waris dan pemalsuan dokumen. Akan lebih sempurna mengasuransikan tanah Anda agar terlindung dari masalah suatu saat, jika di Indonesia sudah terdapat asuransi jenis ini.

Point keempat

Belilah tanah yang memiliki surat-surat dan dokumen yang lengkap. Meski si penjual mengaku itu tanah miliknya, namun tidak ada pembuktian hukum melalui dokumen dan surat-surat tanah, sebaiknya batalkan transaksi.

Kesimpulan

Sebagai pembeli tanah, pastikan Anda tidak membayar terlalu mahal untuk harga tanah yang Anda inginkan. Selanjutnya, jangan lupa untuk meluangkan waktu Anda serta menimbang baik buruk, pro dan kontra, melihat segala fakta yang ada sebelum Anda memutuskan untuk membeli.

Sebagai ilustrasi akhir dari artikel ini, Anda dapat mengambil intisari dari penjelasan-penjelasan sebelumnya, yakni :

  • Point pertamaMembayar tanah yang dibeli dengan harga yang layak. Dan melakukan proses negosiasi lebih dulu sebelum membayar sejumlah uang kepada penjual. Selalu gunakan celah untuk menego harga yang ditawarkan oleh si penjual, makelar ataupun broker.
  • Point keduaJangan terkecoh oleh kecantikan lokasi. Anda harus melakukan survey yang teliti atas tanah yang Anda taksir. Banyak hal yang harus Anda waspadai sekitar lokasi tanah Anda, seperti: tanah bekas kuburan, tanah dekat TPA (tempat pembuangan akhir sampah), tanah area banjir, tanah rawan longsor, dan sebagainya.
  • Point ketigaJangan terkecoh oleh testimoni. Ibarat membeli kucing dalam karung. Pengecekan langsung ke lokasi menghindari Anda dari rasa kecewa. Yang harus Anda lindungi berikutnya, adalah keluarga Anda. Karena itu jangan ada penyesalan di akhir yang akan ditanggung pula oleh keluarga Anda, apabila Anda melakukan kesalahan.
  • Point keempatBelilah tanah yang memiliki kelengkapan surat-surat dan dokumen yang jelas. Meski si penjual mengaku itu tanah miliknya, namun tidak ada pembuktian hukum melalui dokumen dan surat-surat tanah, batalkan saja transaksinya.

Sebaiknya Anda juga mengasuransikan tanah Anda agar dapat melindungi properti Anda jika suatu saat terjadi masalah. Dan jangan pernah melakukan kesalahan yang biasa dilakukan calon pembeli tanah. Ingat!

Speak Your Mind

*