Kesulitan Menulis Naskah Pidato Bahasa Jawa

Menjadi orang Jawa itu sulit! Ada banyak hal yang harus dilakukan dan dikuasai agar dapat bergaul secara proporsional untuk setiap lapisan masyarakatnya. Bergaul secara proporsional berarti Anda harus mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakatnya. Salah satu hal yang seringkali menjadi kesulitan adalah ketika Anda harus berpidato dengan menggunakan Bahasa Jawa.

Anda merasa kesulitan saat melakukan hal tersebut? Jangankan untuk berpidato dalam Bahasa Jawa, untuk berbicara saja mungkin juga mengalami kesulitan. Untuk hal tersebut, seringkali Anda harus mencari buku naskah pidato Bahasa Jawa sebelum berpidato.

Naskah pidato Bahasa Jawa memang sangat dibutuhkan untuk jaman sekarang. Hal ini dipandang perlu sebab sudah sangat banyak orang Jawa yang tidak Jawa lagi. Generasi muda sekarang sama sekali tidak mengenal Bahasa Jawa. Mereka telah terlena pada pola kehidupan modern. Mereka menganggap bahwa Bahasa Jawa sudah ketinggalan jaman sehingga tidak dapat mewakili pola pergaulannya di masyarakat.

Generasi sekarang lebih suka berbahasa gaul, yaitu pola bahasa yang lahir dari pergaulan mereka. Bahasa gaul ini sebenarnya lebih ditekankan pada upaya untuk pengakraban diri. Mereka tidak ingin komunikasi yang terjalin mengalami kesulitan.

Mereka harus menyusun sebuah pola komunikasi khusus yang tidak semua orang tahu memahami, kecuali anggota komunitas mereka. Mereka tidak menggunakan naskah pidato Bahasa Jawa saat harus berorasi di komunitasnya. Bagi mereka Bahasa Jawa sangat sulit!

Orang Jawa Tidak Bisa Berbahasa Jawa

Bahasa Jawa adalah bahasa ibu, yaitu bahasa yang banyak digunakan sebagai dasar bagi pertumbuhan bahasa komunikasi, khususnya yang tinggal di Jawa. Setiap hari, sejak bangun tidur hingga tidur Anda tidak lepas dari Bahasa Jawa. Apalagi, ketika Anda menyadari bahwa banyak kata Bahasa Jawa yang ternyata sudah diadopsi secara langsung ke Bahasa Indonesia.

Oleh karena itulah, naskah pidato Bahasa Jawa sebenarnya dapat saja diadopsi ke Bahasa Indonesia. Atau, karena ingin berpidato dengan Bahasa Jawa, maka Anda dapat menyusun pidato dalam bahasa Indonesia dulu, baru selanjutnya diterjemahkan dalam Bahasa Jawa.

Seharusnya Anda merasa malu sebab sampai saat sekarang banyak orang yang ingin belajar Bahasa Jawa. Namun, justru malah tidak mengenal bahasa ibu Anda. Jangankan bahasa lisan, bahasa tulis saja begitu kesulitan untuk melakukannya. Lidah sudah terlanjur kaku untuk mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Jawa.

Maka tidak heran, jika untuk melakukan pidato Bahasa Jawa, maka mereka harus menyontek dari naskah pidato bahasa jawa. Bahkan mungkin harus mencari orang khusus untuk menyusun naskah pidato Bahasa Jawa tersebut. Dengan sangat tergesa dan segera, mereka menyuruh orang lain untuk menyusunnya.

Belajar Bahasa Jawa

Kondisi keberadaan Bahasa Jawa dalam kehidupan di masyarakat memang perlu mendapatkan perhatian. Hal ini karena kemampuan berbahasa jawa yang sangat mengkhawatirkan. Jika kondisi ini dibiarkan, tentunya eksistensi bahasa jawa di dalam kehidupan masyarakatnya terancam punah. Hingga ke depannya Anda akan kesulitan untuk menemukan naskah pidato Bahasa Jawa di lingkungan jawa. Mungkin, Anda akan menemukan naskah tersebut, justru di negara lain, misalnya Belanda yang sangat perhatian dengan Bahasa Jawa.

Pada saatnya orang-orang Jawa tidak mampu lagi mempergunakan bahasa ibunya untuk berbahasa lisan. Mereka pun tidak dapat mengutarakan gagasan dalam bahasa lisan. Kalaupun mengutarakan naskah pidato Bahasa Jawa, maka naskah tersebut harus melalui berbagai tahapan yang rumit. Bahkan, naskah pidato Bahasa Jawa tersebut adalah susunan orang lain dan Anda tinggal membacanya.

Sebagaimana halnya atas sesuatu yang bukan buatan sendiri, pada saat Anda membaca naskah pidato Bahasa Jawa tersebut pasti tertatih-tatih dan keseleo lidah. Tidak heran jika banyak pendengar pidato bahasa jawa tersenyum simpul, bahkan tidak sedikit yang tertawa mendengar aksen ataupun logat pembacaannya.

Tentunya, jika seorang jawa mengucapkan Bahasa Jawa dengan aksen dan logat yang salah, maka itu bukan lagi sebuah lelucon yang patut ditertawakan. Anda perlu prihatin atas hilangnya kebanggaan diri atas kepemilikan sesuatu yang sangat adi luhung, tetapi sangat terabaikan. Bahkan, membaca naskah pidato Bahasa Jawa saja Anda banyak melakukan kesalahan, bagaimana jika berpidato tanpa naskah?

Memperhatikan kondisi tersebut, maka sudah seharusnya Anda menyadari diri bahwa perlu memperbaiki apresiasi dan persepsi kata terhadap bahasa ibu. Rasa kebanggaan terhadap bahasa ibu harus mulai ditumbuhkan dan ditingkatkan sebagai sebuah kondisi yang membangkitkan kepercayaan atas kemampuan diri.

Anda harus belajar berbahasa jawa lagi agar dapat menjadi orang jawa. Anda harus merangkul lagi Bahasa Jawa sebagai bagian integral diri. Selanjutnya, justru Anda yang harus membuatkan naskah pidato Bahasa Jawa untuk orang-orang yang ingin belajar Bahasa Jawa. Andalah yang menjadi sumber belajar mereka dan bukan mereka.

Jangan sampai terjadi kebo nyusu gudel. Jangan sampai orang jawa belajar Bahasa Jawa dari orang lain, apalagi dengan orang asing. Kita ini kebonya (induknya) dan orang asing adalah gudelnya (anaknya). Harusnya Gudel nyusu Kebo!

Belajar Membuat Naskah Pidato Bahasa Jawa

Menulis naskah pidato bahasa Jawa, pada saat ini barangkali menjadi sebuah hal yang sangat sulit dilakukan oleh sebagian besar masyarakat, khususnya generasi muda. Hal ini mengingat, semakin sedikit orang yang mampu menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar.

Masyarakat pada saat ini lebih menyukai menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar komunikasi daripada menggunakan bahasa daerah. Selain itu, tidak banyak proses pendidikan formal yang memberikan pengajaran mengenai cara menulis pidato bahasa Jawa dengan baik.

Di sekolah, pelajaran bahasa Jawa hanya menjadi sebuah pelajaran sisipan. Waktu pembelajaran pun menjadi sangat terbatas setiap minggunya. Dengan demikian, tidak banyak kesempatan yang bisa dimiliki oleh generasi muda untuk belajar berbahasa Jawa dengan baik. Terlebih belajar menulis naskah pidato bahasa Jawa.

Di satu sisi, sebuah kebanggaan muncul manakala melihat generasi muda saat ini pada usia dini sudah mampu berbicara asing dengan lancar. Sebuah bahasa yang pada beberapa waktu lalu menjadi salah satu momok pelajaran di berbagai sekolah. Namun kini seakan menjadi pelajaran favorit, dengan dibuktikan makin banyaknya siswa yang menguasai bahasa internasional ini.

Di satu sisi, kebanggaan tersebut ternyata juga diiringkan pada sebuah realita yang mau tidak mau dihadapi. Kenyataan bahwa pada saat ini, kemampuan berbahasa Jawa di kalangan generasi muda juga sedang mengalami krisis. Meskipun bagi masyarakat Jawa Tengah khususnya, Bahasa Jawa adalah bahasa pengantar bagi sebagian besar penduduk dalam berkomunikasi.

Namun jika dikaji lebih mendalam, muncul sinyalemen bahwa pada saat ini sudah muncul krisis berbahasa Jawa yang sangat kronis. Tengok saja, berapa banyak anak muda yang mampu berbahasa jawa secara benar. Sebagian besar, mereka hanya mampu berbahasa jawa menggunakan bahasa jawa ngoko. Bahasa ini adalah bahasa yang digunakan untuk berkomuminasi dengan relasi yang sebaya.

Untuk kemampuan bahasa jawa ngoko, barangkali belum terlalu banyak terlihat sisi krisisnya. Namun jika dilihat lebih mendalam, penguasaan untuk jenis bahasa jawa lainnya, semisal bahasa madyo atau bahkan kromo inggil, terasa sekali bahwa sangat sedikit generasi muda yang masih bisa menguasainya.

Dalam pergaulan sehari-hari, sudah sangat sedikit kalangan muda yang mampu berkomunikasi dengan orang yang lebih tua menggunakan bahasa kromo inggil. Padahal penggunaan bahasa jawa kromo inggil ini memiliki makna yang sangat mendalam. Di antaranya sebagai wujud penghormatan generasi muda kepada orang yang lebih tua.

Kalangan muda saat ini lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Alasannya adalah bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan lebih akrab dengan keseharian sehingga lebih mudah dimengerti.

Di sisi lain, peran orang tua dalam mengajarkan bahasa jawa secara mutlak, yaitu pengenalan bahasa jawa kromo, madyo dan ngoko, masih sangat kurang dalam hal kepedulian. Banyak orang tua sekarang yang lebih khawatir jika anaknya tidak bisa berbahasa inggris dibandingkan jika tidak bisa berbahasa jawa kromo.

Orang tua akan lebih toleran jika seorang anak berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa jawa ngoko. Namun akan sangat kebingungan jika si anak tidak mampu diajak berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Inilah yang perlu dibenahi dalam pola pemahaman berbahasa khususnya kepada orang tua.

Bahwa mengenal dan menguasai bahasa asing khususnya inggris memang perlu. Namun jangan sampai pula, hal ini lantas mendominasi sebagai skala prioritas yang berakibat seorang anak kehilangan kesempatan untuk mengenal bahasa aslinya. Apalagi, bahasa merupakan salah satu wujud kebudayaan yang harus dijaga agar tetap lestari keberadaannya.

Dan merupakan kewajiban bagi semua pihak untuk mampu menciptakan sistem yang kiranya mampu menjaga kelestarian sebuah budaya bernama bahasa Jawa. Jangan sampai, kasus keroncong yang justru lebih dipopulerkan oleh warga berkebangsaan Jerman harus terulang. Dalam arti, jangan sampai pada nantinya bahasa Jawa justru akan menjadi bahasa asing di tanah tempat lahirnya bahasa itu sendiri.

Salah satu yang bisa diwujudkan adalah mendirikan pusat pengembangan Bahasa Jawa. Di mana pada media tersebut, dijadikan sebagai sebuah motor penggerak untuk kembali mempopulerkan bahasa Jawa. Sehingga pada nantinya, orang tidak lagi merasa malu berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dan tidak kalah bergengsi dibandingkan dengan menguasai bahasa asing.

Pada pusat bahasa Jawa inilah, selain sebagai tempat pembelajaran bahasa Jawa juga dijadikan sebagai penyusunan strategi yang berkaitan untuk mengangkat gngsi bahasa jawa. Seperti misalnya dengan menyelenggarakan berbagai festival yang bernuansa bahasa Jawa, membuat media komunikasi dalam bahasa Jawa dan lain sebagainya.

Pusat Bahasa Jawa ini nantinya bisa bekerja sama dengan pemerintah baik untuk bidang kebudayaan maupun pendidikan. Di bidang kebudayaan, bahasa Jawa akan dilihat sebagai salah satu hasil karya manusia yang harus dijaga dari kepunahan dan pencurian pihak lain. Di antaranya dengan cara mencari dan menyimpan segala hal yang berkaitan dengan sejarah bahasa Jawa sejak masa lalu hingga sekarang ini.

Pencarian sejarah ini berkaitan dengan proses untuk mencari jejak penyebaran dan sistem penyebaran bahasa jawa. Sehingga nantinya akan bisa dicari sebuah metode yang tepat sesuai dengan tilas sejarahnya, dalam kembali memunculkan kejayaan bahasa Jawa.

Di sisi lain, terkait dengan bidang pendidikan, pusat bahasa Jawa harus bisa menyajikan literature dan referensi tentang bahasa Jawa. Hal ini penting guna memunculkan ketertarikan dan minat para generasi muda untuk mau terus belajar bahasa Jawa secara baik dan benar.

Lebih jauh lagi, pada nantinya pusat Bahasa Jawa bisa dijadikan media bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke wilayah Jawa Tengah untuk belajar bahasa Jawa. Sehingga nantinya bukan masyarakat jawa yang harus belajar berbahasa asing saat berkomunikasi dengan para wisatawan. Namun para wisatwanlah yang harus berusaha untuk menggunakan bahasa jawa saat menikmati pariwisata di Jawa Tengah.

Jika ini mampu diwujudkan, bukan mustahil nantinya Bahasa Jawa akan mampu dikenal hingga ke berbagai penjuru dunia. Secara tidak langsung, hal ini akan menjadi alat promosi bagi nama Jawa Tengah dan dunia pariwisata di Jawa Tengah dan Indonesia pada umumnya.

Namun yang lebih utama dituju dari pembentukan pusat bahasa Jawa adalah memelihara Bahasa Jawa dari kepunahan dan kerusakan. Dan ini harus bisa dilakukan sejak sekarang, sejak sebelum kerusakan akan bahasa Jawa itu terlalu berlarut.

Sebab bahasa Jawa pada dasarnya bukan sekedar alat komunikasi. Namun di dalamnya mengandung banyak filsafat mengenai sistem sosialisasi dalam lingkungan. Seperti yang sudah diwujudkan dalam pembentukan beberapa jenis bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan kelompok yang berbeda pula.

Ini merupakan cara untuk menunjukkan rasa saling menghormati kepada orang yang lebih muda atau juga lebih muda. Dan sistem bahasa yang membedakan sistem pengucapan seperti bahasa Jawa (ngoko, madyo, kromo), tidak bisa ditemui sebagaimana dalam bahasa lain.

Contoh kata makan yang bisa disampaikan kepada segala macam usia. Sedangkan pada bahasa jawa, jika ditujukan kepada orang yang lebih tua kata makan akan disampaikan dengan kata dahar. Untuk rekan sebaya, menggunakan bahasa madyo maem. Sedangkan dalam bahasa ngoko bisa diucapkan dengan mangan.

Demikianlah, salah satu budaya bahasa yang mengajarkan kesantunan kehidupan. Rasanya terlalu sayang untuk menyaksikan bahasa tersebut harus punah dan kehilangan pemakainya di tanah asalnya sendiri. Senyampang belum terlalu larut, mulailah dipikirkan untuk mengangkat bahasa daerah ini. Daripada sekedar berbangga dengan menguasai bahasa asing. Sebelum kita belajar bahasa jawa dari orang asing tentunya.

Speak Your Mind

*