Komunikasi Antarpribadi – Konsep Cermin Diri

Ilustrasi komunikasi antarpribadiKomunikasi antarpribadi sejatinya dibutuhkan oleh setiap manusia. Manusia, sejatinya adalah seorang pengamat. Pengamat bagi siapa? Ia adalah pengamat bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, dalam konteks komunikasi antarpribadi atau komunikasi interpersonal, manusia berperan sebagai subjek dan objek persepsi sekaligus.

Komunikasi Antarpribadi – Konsep Cermin Diri

Sebagai objek yang diamati, manusia akan berusaha membayangkan atau menafsirkan dirinya sebagai orang lain. Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini dinamakan looking-glass self (cermin diri). Layaknya berada di depan cermin, kita akan melakukan beberapa hal.

Pertama, kita berusaha menganalisis kondisi kita yang tampak, misalnya kita sampai pada kesimpulan bahwa kita cantik, ganteng, atau sebaliknya. Kedua, kita berusaha memposisikan diri sebagai orang lain dan membayangkan apa persepsi orang terhadap kita, misalnya orang takjub dengan kecantikan atau kegantengan kita. Ketiga, kita merasakan sensasi emosi berupa rasa bangga, senang, lebih percaya diri, atau sebaliknya, kecewa.

Melalui proses pengamatan tersebut, kita akan sampai pada suatu kesimpulan tentang gambaran dan penilaian—termasuk yang kita pikirkan dan rasakan—terhadap diri sendiri. Inilah yang oleh para ahli psikologi dinamakan konsep diri. Konsep diri adalah semua yang kita pikirkan dan kita rasakan tentang diri kita. Konsep diri ini, disadari atau tidak, akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku kita.

Salah satu hal yang dapat mempengaruhi konsep diri adalah penampilan. Sebenarnya, penampilan pun tidak hanya menentukan konsep diri kita tetapi juga persepsi orang lain terhadap diri kita. Orang yang berpenampilan rapi, wangi, berdasi, dan glamor cenderung akan lebih percaya diri dibanding dengan orang yang penampilannya kusut, kumal, dan kotor. Persepsi orang pun sudah dapat ditebak, sebagian besar akan lebih menghargai yang pertama dan merendahkan yang kedua.

Kefgan dan Touchi-Specht menyebutkan adanya tiga fungsi penting dari penampilan. Pertama, sebagai pembeda (diferensiasi). Penampilan akan membedakan dirinya, kelompoknya, dan golongannya dari orang lain. Penampilan pun—semisal busana yang dikenakan dan berfungsi sebagai pembeda—akan memberikan peneguhan terhadap konsep diri.

Seseorang yang merasa dirinya santri cenderung memilih peci, kafiyeh atau “topi haji” sebagai penutup kepala. Ia pun akan memilih baju koko, celana katun, atau sarung. Dengan berpenampilan seperti itu, dia membedakan diri dari anak-anak funky.

Fungsi yang pertama, tidak bisa tidak, akan mempengaruhi fungsi kedua, yaitu fungsi perilaku. Penampilan sedikit banyak akan mempengaruhi cara pandang dan perilaku orang yang memakainya. Kita bisa menebak apa yang akan dirasakan seseorang saat berpenampilan ala santri: berpeci, pakai sarung, berbaju koko, dan menenteng kitab Suci dengan ketika berpenampilan gaul: memakai blue jeanst-shirt, dan memakai topi koboy.

Perilaku seseorang ketika berpenampilan santri, setidaknya akan memaksa ia berperilaku dalam batas-batas kaidah kelompok santri. Ia akan sulit berbuat macam-macam, misalnya menggangu wanita di jalan.

Selanjutnya, penampilan pun mencerminkan emosi pemakainya, dan pada saat yang sama akan mempengaruhi emosi orang lain. Tanpa sadar kita seringkali beraksi atau memandang orang lain secara berbeda karena penampilannya. Lewat penampilan, kita akan mengelompokkan orang-orang yang kita temui sebagai gelandangan, ustad, dokter, bahkan “jurkam” (juragan kambing).

Penampilan adalah pesan, sekaligus penegas identitas diri. Ia terlihat sebelum telinga mendengar. Penampilan kita, selain berbicara kepada diri sendiri, juga berbicara kepada orang lain. Ia pun membantu menentukan apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita.

Itulah mengapa, Dr. David J. Schwartz dalam bukunya Berpikir dan Berjiwa Besar mengungkapkan bahwa penampilan adalah dasar pertama yang dimiliki orang lain untuk menilai, sekaligus kesan pertama yang akan menentukan penilaian selanjutnya.

Penampilan kita benar-benar berbicara. Ketika kita tampil “meyakinkan” dengan busana rapi, serasi dan bersih, saat itu pula kita mengungkapkan hal-hal positif. Orang-orang di sekitar kita pun, secara tidak langsung, akan mengatakan, “Orang ini layak dihormati dan dipercaya. Betapa tidak, dia mampu menghormati dirinya sendiri. Karena itu, saya pun akan menghormatinya.”

Sebaliknya, saat penampilan kita “berantakan”, kita pun secara otomatis mengungkapkan pesan-pesan negatif tentang diri sendiri. Kita adalah orang jorok, kurang berharga, dan mudah ditipu. Maka, berhati-hatilah dalam berpenampilan. Pilihlah penampilan terbaik menurut prinsip-prinsip moral terbaik sehingga konsep diri kita pun menjadi semakin baik.

Seputar Komunikasi Antarpribadi

Komunikasi antarpribadi mengacu kepada komunikasi dengan orang lain. Komunikasi antarpribadi dibagi lagi menjadi komunikasi diadik, komunikasi publik, dan komunikasi kelompok-kecil. Model Jendela Johari memberi fokus pada keseimbangan komunikasi antarpribadi atau komunikasi interpersonal.

Komunikasi antarpribadi atau komunikasi interpersonal meliputi:

  • pidato;
  • komunikasi nonverbal;
  • penyimpulan; dan
  • parafrase.

Sebuah komunikasi antarpribadi yang baik mendukung proses-proses seperti berikut.

  • perdagangan
  • konseling
  • pelatihan
  • bimbingan
  • pemecahan konflik

Komunikasi antarpribadi adalah subyek dari beberapa disiplin ilmu dalam bidang psikologi,khususnya analisis transaksional. Komunikasi antarpribadi bisa dihambat karena gangguan komunikasi atau bisa juga disebabkan olah kesombongan, sifat malu, dan lain sebagainya.

Klasifikasi Komunikasi Antarpribadi

Komunikasi antarpribadi memiliki beberapa klasifikasi, yaitu interaksi intim, percakapan sosial, interogasi/pemeriksaan, dan wawancara.

  • Interaksi intim adalah komunikasi antarpribadi yang berlangsung di antara teman baik, anggota keluarga, dan individu-individu yang telah memiliki ikatan emosional sangat dekat dan kuat.
  • Percakapan sosial dalah salah satu klasifikasi dari komunikasi antarpribadi berupa interaksi untuk membahagiakan seseorang dengan cara sederhana. Tipe komunikasi antarpribadi ini sangat penting untuk mengembangkan hubungan informal dalam sebuah organisasi. Contoh dari komunikasi antarpribadi ini adalah dua individu atau lebih yang sedang berbincang mengenai isu politik, teknologi, dan lain-lain.
  • Interogasi atau pemeriksaan adalah jenis komunikasi antarpribadi berupa interaksi seseorang yang sedang ada dalam sebuah kontrol (meminta atau menuntut informasi dari orang lain). Contoh dari komunikasi antarpribadi ini adalah seorang atasan di sebuah perusahaan menginterogasi karyawannya yang dituduh mengambil barang-barang perusahaan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kebenaran dari tuduhan tersebut.
  • Klasifikasi komunikasi antarpribadi yang terakhir adalah wawancara. Wawancara merupakan salah satu bentuk komunikasi antarpribadi yang melibatkan dua orang dalam percakapan berupa tanya jawab. Contoh dari komkunikasi antarpribadi seperti ini adalah wawancara yang dilakukan oleh atasan kepada bawahannya terkait suatu pekerjaan.

Tujuan Komunikasi Antarpribadi

Komunikasi antarpribadi memiliki beberapa tujuan, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Komunikasi Antarpribadi – Menemukan Kepribadian

Menemukan diri sendiri atau kepribadian merupakan salah satu tujuan dari komunikasi antarpribadi. Jika menjadi bagian dari pertemuan interpersonal dengan orang lain, Anda akan banyak belajar tentang diri sendiri dan orang lain. Komunikasi antarpribadi akan akan memberikan peluang kepada setiap orang untuk mengatakan tentang yang disukai atau tentang pribadi Anda.

2. Komunikasi Antarpribadi – Menemukan Dunia Luar

Komunikasi antarpribadi akan membuat seseorang mengenali dunia luar melalui komunikasi dengan orang lain. Banyak informasi yang diperoleh dari komunikasi antarpribadi walaupun banyak juga informsai didapat dari media massa.

3. Komunikasi Antarpribadi – Membentuk dan Menjaga Hubungan yang Penuh Arti

Membentuk serta menjaga hubungan dengan orang lain merupakan salah satu keinginan manusia yang terbesar. Oleh karena itulah, sebagian besar waktu manusia dipakai dalam komunikasi antarpribadi untuk membentuk dan memelihara hubungan sosial dengan sesama.

Speak Your Mind

*