KPR Syariah – Miliki Rumah Jadi Mudah

Dari tahun ke tahun, harga rumah semakin hari semakin meningkat. Hal ini dikarenakan permintaan akan kebutuhan rumah pun meningkat. Banyak pengembang properti yang mengembangkan kompleks perumahan, mulai dari komplek perumahan mewah sampai komplek perumahan sederhana. Nah, untuk memiliki sebuah rumah, dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu tunai dan KPR. Untuk masalah KPR, dibagi lagi menjadi 2, yaitu KPR konvensional dan KPR syariah.

Secara umum, KPR syariah berbeda dengan KPR yang biasanya. Konsep syariah yang diusung dalam KPR syariah seolah menjadi pilihan alternatif dari jenis KPR konvensional yang bisa dikatakan cukup memberatkan. Namun, solusi memiliki rumah melalui sistem kepemilikan KPR berbasis syariah ternyata tidak 100 persen aman. KPR berbasis syariah pun menyimpan masalah besar.

Kredit Pembiayaan Rumah (KPR) Ditinjau dari Syariat

Proses penyaluran Kredit Pembiayaan Rumah biasanya melibatkan tiga pihak, yakni nasabah, pengembang perumahan, dan bank atau lembaga pembiayaan. Jika Anda ingin memiliki rumah secara KPR, setelah melalui proses administrasi, umumnya Anda akan diwajibkan membayar uang muka atau down payment (DP) sebesar 20 hingga 30 persen dari harga jual. Setelah DP dibayarkan, bank atau  lembaga pembiayaan akan melunasi sisa pembayaran rumah. Selanjutnya, Anda menjadi nasabah dari bank atau lembaga pembiayaan. Ya, nasabah untuk melunasi biaya pelunasan kredit rumah.

Jika dilihat secara sekilas, pada proses akad kredit tersebut, Anda tidaka akan menemukan masalah. apalagi sekarang ini lembaga pembiayaan KPR berbasis syariah bermunculan dan mengklaim bahwa lembaga KPR berbasis syariah itu berserikat dengan Anda sebagai nasabah dalam proses pembelian rumah.

Anda telah memberikan DP sebesar 20 hingga 30 persen untuk pembelian rumah, berarti Anda telah membeli 20 hingga 30 rumah tersebut. Sementara itu, bank atau lembaga pembiayaan berbasis syariah membeli sisanya. Selanjutnya, lembaga keuangan atau bank akan menjual kembali kepada Anda. Namun, jika lebih mencermati, niscaya Anda akan menemukan berbagai keganjilan secara hukum syariat. Berikut ini hal-hal yang layak untuk dipersoalkan secara syariat.

1. Adanya Uang Muka atau Down Payment (DP)

Jika dikaji lebih dalam, saat membayar DP kepada pengembang, apa yang pikirkan tentang DP tersebut? Apakah benar untuk uang muka atau modal Anda untuk membeli rumah? Semua orang termasuk bank atau lembaga pembiayaan  menyadari bahwa uang Anda yang dibayar sebagai DP adalah uang muka, buka penyertaan modal. Jika kenyataannya demikian, sejatinya Anda selaku nasabah telah membeli rumah secara utuh.

Artinya, secara syariat, dengan dibayarnya DP, berarti pembeli atau nasabah telah dianggap memiliki rumah yang telah dibelinnya. Kesimpulan ini didasari pada ketentuan hukum jual beli dalam syariat bahwa barang yang telah dijual secara sah menjadi milik pembeli, meskipun belum lunas. Hal ini dikarenakan dalam aturan jual beli secara kredit, barang akan resmi menjadi milik pembeli meskipun belum lunas. Dengan demikian, kehadiran dan keterlibatan bank atau lembaga pembiayaan KPR syariah atau pun yang konvensional patut untuk dipersoalkan.

Dalam fenomena KPR, Anda dipastikan bahwa peran lembaga keuangan atau bank tersebut hanya sebatas membiayai Anda dalam membeli rumah karena bank atau lembaga pembiayaan secara aturan tidak diperkenankan melakukan kegiatan dalam bisnis riil, termasuk membeli rumah. Pada saat yang sama, Anda pun mempersoalkan adanya DP dari sudut pandang yang lain.

Mengapa bank atau lembaga pembiayaan penyalur KPR syariah atau KPR konvensional selalu mensyaratkan adanya DP? Bukankan lebih baik membantu masyarakat jika lembaga pembiayaan atau bank menanggung seluruh dana pembelian rumah dan selanjutnya dikreditkan di masyarakat?

2. Nasabah Membayar Lebih

Perlu diketahu bahwa selain membiayai atau mengutangi, pada praktiknya, lembaga keuangan atau bank penyalur KPR konvensional maupun KPR syariah memungut keuntungan dari nasabah KPR. Apalagi jika lembaga pembiayaan atau bank penyedia kredit itu berbasis syariah karena menurut syariah mengambil kuntungan itu riba dan hukumnya haram.

3. Akad Penjualan Hanya Sekali

Klaim bahwa lembaga keuangan atau bank dalam proses KPR melakukan penyertaan modal dalam pembelian rumah, tampaknya tidak sesuai dengan fakta. Hal ini dibuktikan dengan Anda tidak pernah membeli bagian dari mereka yang dibayarkan oleh bank atau lembaga pembiayaan. Kalaupun lembaga pembiayaan atau bank bersikeras telah melakukan penyertaan modal, kemudian menjual kembali kepada Anda, hal itu tetap menjadi masalah besar.

Jika klaim bank atau lembaga pembiayaan KPR syariah maupun KPR konvensional terbukti benar, berarti mereka telah menjual barang sebelum sepenuhnya diterima. Hal itu jelas dilarang menurut syariat.

Memiliki rumah dengan menggunakan sistem KPR syariah ataupun KPR konvensional merupakan salah satu solusi terbaik. Namun, di balik semeua itu, proses KPR syariah atau KPR konvensional menyimpan masalah mengenai kehalalannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa menabung merupakan solusi yang tepat untuk mewujudkan keinginan Anda untuk memiliki sebuah rumah. Lebih baik lagi jika Anda mencari pemodal yang ingin menawarkan kredit rumahnya secara langsung kepada Anda tanpa campur tanga pihak ketiga.

Tips Mendapatkan KPR Syariah

1. Sediakan Waktu yang Cukup untuk Memilih Rumah

Jika Anda ingin memiliki rumah dengan sistem KPR syariah, haruslah memiliki waktu yang luang untuk memilih rumah yang diidamkan dan disesuaikan denga criteria yang diinginkan oleh pihak bank syariah. Seringkali, jika tergesa-gesa memilih rumah sehingga tidak memperhatikan kondisi dan lokasi rumah tersebut, kemudian diajukan, makan aplikasi pengajuan kredit KPR syariah akan ditolak.

2. Perhatikan kebutuhan Luas Rumah Jangan Sampai Mubazir

Jika ingin mengajukan kredit KPR syariah, Anda harus memperhatikan kebutuhan luas rumah yang akan dibeli. Sesuaikan luas kamar dengan kebutuhan keluarga. Dengan kata lain, jumlah kamar harus sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Hal ini dikarenakan menurut ajaran Islam, memiliki sebuah rumah tidak boleh banyak kamar yang kosong. Selain tiu, akan menambah besar biaya yang harus dikeluarkan jika rumah yang akan dibeli terlalu besar.

3. Menghitung Plafond KPR Syariah yang Sesuai dengan Pendapatan

Jika ingin memiliki rumah dengan sistem KPR syariah, sesuaikan dengan pendapatan Anda baik berupa gaji atau penghasilan dari usaha yang Anda jalankan. Dengan kata lain, sesuaikan plafond KPR syariah yang akan Anda ambil dengan pendapatan Anda. Jadi, pembayaran kredit KPR syariah harus sesuai dengan pendapatan Anda selama sebulan.

Biasanya, bank penyedia KPR syariah menganut kaidah angsuran tidak boleh lebih dari 35-40 persen dari total pendapatan Anda. Lebih baik, sebelum mengajukan kredit KPR syariah, Anda harus memberitahukan kepada marketing bank syariah berapa besar pendapatan Anda sehingga bank akan dengan mudah memberikan plafond kredit dan jangka waktu yang diperlukan yang sesuai dengan kemampuan financial Anda.

4. Anggaran Dana

Masalah anggaran dana sering menjadi kendala bagi setiap keluarga yang ingin memiliki rumah dengan sistem KPR berbasis syariah maupun KPR konvensional. Jadi, dengan mengetahui anggaran dana yang disiapkan, Anda akan lebih mudah mengatur keuangan Anda.

Biasanya, anggaran dana yang harus disiapkan diperuntukan membiayai biaya-biaya sebagai berikut.

  • Biaya adminisgtrasi dan provisi,
  • Biaya asuransi jiwa dan kebakaran,
  • Biaya survey,
  • Biaya akta notaris,
  • Biaya AJB dan biaya balik nama,
  • Pajak BPHTB yang harus disetor ke kas negara.

5. Lokasi Rumah

Pemilihan lokasi rumah pun sangat berpengaruh dalam proses kredit KPR syariah. Lokasi rumah yang akan diambil dalam proses kredit berpengaruh pada plafon pengajuan kredit Anda.

6. Legalitas

Tips terakhir dalam proses pengajuan kredit KPR syariah adalah memperhatikan legalitas rumah yang akan dibeli dengan cara kredit KPR syariah. Pastikan rumah yang dalam proses kredit memiliki surat-surat yang lengkap, misalnya sertifikat sendiri, PBB, dan IMB-nya.

Itulah penjelasan mengenai serba-serbi pembelian rumah dengan sistem kredit KPR syariah. Semoga penjelasan tersebut dapat membantu Anda dalam menentukan proses kredit kepemilikan rumah secara kredit.

Speak Your Mind

*