Macam macam pola asuh

Terdapat macam-macam pola asuh anak yang diterapkan oleh orangtua. Semua tentu memiliki tujuan yang baik, yaitu bagaimana agar sang anak menjadi anak yang baik, dapat diterima semua kalangan, dan sukses di masa depan. Tidak ada orangtua yang baik yang rela melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang tidak mempunyai ilmu apa-apa dan hanya menjadi sampah masyarakat. Apalagi ketika anak itu menjadi anak yang melakukan kriminalitas. Hati orangtua mana yang tidak akan kecewa dan sedih melihat keadaan ini.

Pola Asuh di Rumah

Pola asuh akan sangat mempengaruhi kepribadian anak dikemudian hari. Ketika anak diberikan kesempatan untuk lebih berinteraksi dengan teman-temannya, maka anak akan bisa mengeksplorasi lingkungan lebih luas. Dari teman-temannya ia juga belajar tentang lingkungan tempat teman-temannya tinggal. Dari pergaulan ini, anak akan merasa bahwa ia tidak hidup sendirian. Ia mempunyai lingkungan yang bisa mendukungnya.

Ketika ia mempunyai kekuatan dari teman-temannya, ia akan mengerti bahwa saat ia mendapatkan kesulitan dalam hidup, ia mempunyai tempat untuk bersandar. Sangat penting untuk memahami keadaan sosial ini. Anak yang terisolasi dari lingkungannya akan merasa sendirian. Ia akan merasa bahwa kalau ia mendapatkan masalah, masalah itu seolah begitu besar. Padahal sebenarnya tidak jarang bahwa masalah hanya sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan.

Anak-anak yang tidak mendapatkan pola asuh yang baik akan menjadi anak yang tumbuh tanpa merasakan cinta. Saat anak lebih banyak bersama dengan orang-orang yang mendukung hidupnya, ia akan mengenal dunia. Ia juga akan memberikan cinta tidak hanya untuk dirinya tetapi juga untuk orang lain. Sebaliknya, anak yang tumbuh dengan rasa takut dan rasa tidak nyaman, tidak akan tumbuh dengan baik. Ia akan merasa takut dalam melangkah.

Padahal rasa takut ini akan membunuh kreativitas dan juga semangat untuk terus maju. Orangtua perlu mengerti bahwa kehidupan masa kecil itu akan sangat berpengaruh kepada masa depan anak. Ada baiknya setiap individu yang berniat untuk melangkah ke jenjang pernikahan perlu mempersiapkan diri menjadi orangtua dan mempelajari pola asuh yang terbaik. Selain mengenal lingkungannya, hal yang utama yang harus ditanamkan adalah pengetahuan tentang Tuhannya.

Anak yang mengerti tentang Tuhannya akan merasa bahwa ia tidak pernah sendiri dalam hidup ini. Bahkan ketika tidak ada siapapun membantunya ia tahu bahwa Tuhannya akan selalu membantunya. Adanya pemahaman tentang ketuhanan ini akan membuat anak mempunyai prinsip dalam hidup. Anak akan berusaha untuk tidak mengkhianati Tuhannya. Ia juga tidak akan menjadi anak yang mengkhianati kepercayaan dari orangtuanya. Ia akan menjadi anak yang bertanggung jawab tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga kepada Tuhannya.

Contoh adalah pola asuh yang sangat penting. Kata-kata bisa dikalahkan oleh tindakan yang nyata. Ketika orangtua mengatakan bahwa berbohong itu dosa dan anak mengerti dan menerima pernyataan itu, lalu orangtua tanpa sengaja mengajarkan bagaimana berbohong, maka anak langsung belajar untuk berbohong. Begitu juga ketika orangtua mengatakan bahwa mereka harus menyembah Tuhannya dengan baik, namun, orangtua tidak memberikan contoh yang nyata, maka anak tidak akan menyembah Tuhannya dengan baik.

Orangtua yang mengajarkan teori tentang sopan santun namun tidak memberikan contoh bagaimana bertindak dengan sopan, maka anak akan mulai bertindak tidak sopan dan bahkan akan sering menentang orangtua. Tidak mudah untuk mengejarkan sopan santun karena pengaruh yang begitu luas dari lingkungan termasuk dari program televisi yang begitu banyak menyiarkan hal-hal yang tidak sopan. Film atau sinetron yang menanyangkan bagaimana anak menjadi pembangkang adalah salah satu hal yang akan membuat anak berlaku yang sama terhadap orang lain.

Kata-kata seperti, ‘Masalah buat elu?’ adalah salah satu contoh bagaimana kesopanan ini menjadi sesuatu yang sangat genting untuk diajarkan dengan cara yang lebih terprogram. Kurikulum di sekolah memang tidak secara eksplisit menyaratkan mengajarkan tentang sopan santun, namun hal ini tidak menjadi alasan orangtua mengalami kesulitan dalam mengajarkan sopan santun kepada anaknya. Ketika anak terbiasa dengan kesopansantunan, anak akan merasa ada yang salah ketika ia tidak berlaku sopan.

Ragam Pola Asuh

Ada yang mengatakan bahwa ada 2 macam pola asuh, yaitu otoriter dan demokratis. Sedangkan dari tujuan, juga ada 2 macam, yaitu tanpa tujuan serta mendidik dan membangun untuk tujuan tertentu. Secara umum, pola asuh yang otoriter melihat bahwa anak sebagai bentuk objek yang harus diarahkan dan dibimbing dengan cara yang sangat keras. Anak akan dihukum berat kalau tidak melakukan apa yang orangtua telah perintahkan.

Tentu saja tidak akan menjadi sesuatu yang menyenankan ketika anak terkungkung dengan aturan yang membuat jiwanya tertekan. Pada masa ketika keterbukaan telah menjadi jalan hidup, otoriter membuat anak menjadi merasa tidak sama dengan yang lain. Ia tentu saja akan merasa tidak percaya diri bergaul dengan anak-anak yang terbiasa dengan aturan yang tidak terlalu ketat. Anak yang hidup dalam pola otoriter ini merasa takut untuk melakukan sesuatu.

Lebih jauh tentang kedua pola asuh ini, adalah sebagai berikut.

Otoriter
Salah satu dari macam-macam pola asuh adalah pola asuh bergaya otoriter. Apabila orangtua memiliki keinginan dan harapan yang tegas tentang apa saja yang harus dilakukan sang anak. Tak jarang orangtua bahkan menentukan pula, bagaimana anak harus bereaksi atau beropini terhadap suatu situasi atau kejadian.

Pada umumnya anak kurang menyukai pola asuh semacam ini. Mereka menjadi kurang ekspresif dan aspiratif. Tak jarang mereka tidak tahan dan mencari komunitas lain di luar rumah, yang mau menerima mereka. Akan tetapi banyak juga anak yang cocok dengan pola asuh ini.

Mereka yang ingin memiliki tujuan jelas, tetapi belum memiliki arah atau preferensi sendiri dengan senang hati mengikuti apa yang orangtua tentukan. Mereka sangat yakin bahwa yang dikatakan orangtua pasti baik untuk mereka.

Demokratis
Lain halnya dengan pola asuh demokratis. Orangtua memberikan seluas-luasnya hak pada anak untuk berpendapat dan bereaksi terhadap suatu situasi. Keluarga yang menerapkan pola asuh semacam ini, acap kali diadakan rapat keluarga, bahkan untuk hal-hal seperti menentukan warna cat rumah, di sini kamar siapa, di situ kamar siapa, susunan acara liburan, dan lain-lain.

Kebanyakan anak nyaman dengan pola asuh semacam ini karena merasa dilibatkan dalam menentukan kehidupan keluarga. Akan tetapi jika orangtua tidak menentukan batasan sejauh mana anak bisa bebas berekspresi, bisa juga ‘kecolongan’. Orangtua yang menerapkan pola asuh demokratis perlu menetapkan rambu-rambu bagi anak

Tujuan Dalam Pola Asuh

Tujuan ini sangat penting. Tanpa tujuan maka pola asuh ini hanya akan berjalan mengikuti arus tanpa ada rem yang bisa menghentikan ketika ada yang salah dari pola asuh yang telah diterapkan. Tujuan juga yang akan membuat orangtua terus termotivasi untuk tetap menerapkan pola asuh yang telah diterapkan sebelumnya. Orangtua yang sangat menyadari pentingnya pola asuh ini akan berusaha konsisten untuk terus berusaha membimbing anak-anaknya agar tetap pada jalan yang benar

Sebaliknya apabila tidak ada tujuan, orangtua membiarkan anak tumbuh apa adanya tanpa bimbingan dan tanpa arah. Anak biasanya akan melawan orangtua karena merasa orangtua tidak mempunyai kekuatan apa-apa.

Tanpa Tujuan
Sebagian orangtua membebaskan anaknya untuk menentukan arah kehidupannya. Semua mengalir begitu saja seperti air tanpa perencanaan yang jelas. Yang dilakukan di tiap-tiap masa pertumbuhan tidak menuju ke suatu arah tertentu, melainkan anak melakukan apa saja yang disenanginya pada saat itu. Pola asuh semacam ini biasanya tanpa sadar diterapkan oleh orangtua yang keduanya sibuk dengan pekerjaan, hingga tak lagi memiliki waktu untuk mengarahkan sang anak.

Orientasi Jelas
Sebagian lagi menetapkan orientasi yang tegas bagi anak. Orangtua dengan pola asuh ini biasa membuat jadwal bagi anak. Mulai jadwal kegiatan sehari-hari, jadwal belajar di rumah, hingga peta hidup 10-15 tahun ke depan. Anak yang terbiasa dengan pola asuh semacam ini akan tumbuh dengan dinamis. Di kemudian hari mereka akan terbiasa berpikir sistematis dan penuh rencana.

Macam macam pola asuh anak bisa Anda pilih. Penentuan pola asuh anak sepenuhnya ada di tangan Anda. Sesuaikan dengan kondisi, pasangan, dan anak Anda. Jangan menyamaratakan semua anak. Masing-masing mereka unik dan istimewa. Masa depan mereka ada di tangan Anda.

Speak Your Mind

*