Membumikan Fikih Puasa

Ilustrasi fikih puasaFikih puasa wajib difahami secara komprehensif oleh umat muslim karena menjadi dasar diterima atau tidaknya ibadah puasa. Ibadah shaum (dalam bahasa Arab) secara etimologi bermakna “menahan diri” dari makan, minum, berbuat maksiat, dan hal lainnya yang bisa menggugurkan pahala puasa bahkan membatalkannya.

Sebagai legitimasinya, makna shaum sendiri digunakan dalam makna ayat Surat Maryam: 26, “Maka makan dan minumlah kamu wahai Maryam, dan tenangkanlah hatimu. Dan jika kamu bertemu seseorang, maka katakanlah bahwa sedang berpuasa dan tidak akan berbicara dengan siapapun”.

Keutamaan Bulan Puasa

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran ataupun Al-Hadis mengenai keutamaan-keutamaan puasa, yang salah satunya dijelaskan bahwa dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah bersabda: Penghulunya bulan adalah bulan Ramadhan dan penguhulunya hari adalah hari Jumat (HR. Thabrani).

Hadits tersebut secara implisit menyampaikan bahwa keutamaan di bulan Ramadhan melebihi bulan lainnya. Di mana di bulan sejuta ampunan dan sejuta hikmah tersebut Allah senantiasa menurunkan berbagai rahmat kepada seluruh umat muslim.

Di hadits lainnya, yang diriwayatkan oleh Thabrani, Khuzaimah, dan Baihaqi, Rasulullah juga bersabda: Jika saja manusia tahu apa yang terdapat di bulan Ramadhan (puasa), maka pastilah mereka akan berharap bahwa seluruh bulan adalah bulan Ramadhan.

Betapa bodohnya manusia yang tidak mau memanfaatkan berbagai potensi pahala di bulan Ramadhan untuk mengerjakan perintah Allah sebanyak-banyaknya.
Keutamaan lain di bulan Ramadhan, yakni siapapun yang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dengan penuh ikhlas dan pengharapan, niscaya segala dosa-dosanya akan diampuni Allah SWT.

Sebagaimana yang tercermin dari hadits Nabi dari Abu Hurairah: Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan harap, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang shalat malam, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.

Sunah dalam Berpuasa

Dalam fikih puasa, ketika berbuka puasa maka disunahkan untuk menyegerakan berbuka puasa dan sebaliknya melambatkan sahur. Ketika bedug maghrib dipukul tanda adzan maghrib tiba dan saatnya berbuka, disunahkan untuk menyegerakan berbuka dengan minum atau memakan makanan ringan sebagai pembatal puasa sebelum melaksanakan shalat maghrib.

Selain itu, beberapa hal yang disunahkan ketika menjalankan puasa yakni menghindarkan diri dari berlaku maksiat seperti mengghibah, berjudi, atau berbuat tak senonoh yang berpotensi dapat membatalkan puasa kita. Sebaliknya, disunahkan untuk memperbanyak bacaan al-Quran, sari tilawah, beritikaf di masjid, dan bersilaturahmi.

Perkara yang Dibolehkan

Fikih puasa juga membahas hal-hal apa saja yang membolehkan bagi seseorang tidak melaksanakan puasa. Diantaranya:

  • Yang sedang dalam perjalanan jauh (musafir). Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, ada yang mengatakan boleh berbuka dengan syarat menempuh perjalanan lebih dari 89-90 km dan perjalanan dilakukan sebelum fajar menyingsing. Sebaliknya, ada juga ulama yang tetap membolehkan berbuka meski perjalanan dimulai siang hari (setelah melewati fajar menyingsing).
  • Orang yang sudah udzur (tua) sehingga tidak kuat ketika harus menjalankan puasa. Untuk yang demikian, maka bisa diganti dengan membayar fidyah kepada 60 orang anak yatim.
  • Orang yang sedang sakit parah dimana apabila dipaksakan untuk berpuasa dikhawatirkan penyakitnya tersebut akan tambah parah. Maka orang tersebut diperbolehkan tidak berpuasa asalkan puasa yang ditinggalkannya tersebut diqhodo di bulan-bulan setelahnya.
  • Wanita yang sedang hamil dan menyusui.
  • Orang yang dipaksa untuk tidak berpuasa (ikrah), misalnya para budak, dsb.

Puasa Syawal Sekaligus Meng-qadha Puasa Ramadhan

Sejatinya, di dalam Islam sudah diatur bahwa waktu yang disiapkan untuk meng-qadha puasa Ramadhan terbentang luas hingga datang Ramadhan berikutnya. Sedangkan kesempatan untuk melakukan puasa sunnah syawal hanya terbatas pada bulan Syawal saja.

Cukup sering terdengar perdebatan di khalayak ramai, bahwa sebelum selesai puasa qadha Ramadhan tidak boleh melakukan puasa sunnah. Ada pula yang mengatakan, puasa qadha sambil puasa syawal. Manakah yang tepat?

Keduanya tidak ada yang salah. Bila ingin melakukan puasa qadha dulu baru puasa sunnah Syawal adalah hal yang sangat baik. Namun bila mau menggabungkan puasa qadha dengan puasa sunnah Syawal sekaligus pun tidak menjadi masalah. Kedua puasa tersebut tetap sah.

Yang menjadi masalah sebenarnya adalah, bagaimana jika Ramadhan berikutnya sudah berlalu, kemudian tidak sempat menggantinya, Apakah ada Kaffarat akibat keterlambatan mengganti puasa tersebut?  Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Mereka terbagi ke dalam dua kelompok.

Kelompok pertama berpendapat, orang yang meninggalkan puasa wajib meng-qadha puasanya dan sebagai kaffaratnya memberi makan seorang miskin. Ini adalah pendapat imam Malik, Syafi’I dan Ahmad. Kelompok kedua berpendapat dengan mewajibkan qadha puasa, sedangkan kaffaratnya tidak ada. Dalilnya surat Al-baqarah ayat 184 yang tidak ada sedikitpun menyebutkan kaffarat, cuma ada menyebutkan mengganti puasa. Imam Abu Hanifah berada di kelompok kedua ini.

Keutamaan Puasa

Di dalam Islam, puasa bukan hanya terkhusus pada bulan Ramadhan. Islam memberlakukan juga puasa sunnah di luar Ramadhan. Di antaranya, puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Arafah, puasa Daud, puasa Senin Kamis, dan lain-lain.

Puasa merupakan bentuk pengontrolan diri yang diperintahkan Allah pada manusia. Di samping itu, puasa adalah salah satu media untuk menunjukkan ketaatan pada Sang Maha Pencipta yang memiliki banyak keutamaan. Di antara keutamaan puasa adalah:

1. Ibadah yang Khusus dipersembahkan kepada Allah Swt. dan hanya Allah yang tahu balasannya

Hal ini dijelaskan di dalam Hadis Rasulullah Saw. Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Allah telah berfirman,”Tiap-tiap amal anak Adam untuknya sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pembalasan padanya.” (HR. Ahmad, Muslim dan Nasa’i)

2. Amalan yang paling utama pahalanya

Puasa adalah ibadah istimewa yang luar biasa pahalanya, hingga ada pintu yang disediakan bagi orang yang berpuasa. Yaitu, pintu ar-rayyan. Plus, ditambah lagi dengan hadis dari Abu Ummah ra. berkata, ‘Aku menemui Rasulullah Saw dan bertanya: perintahkanlah kepadaku amal perbuatan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.’ Rasulullah Saw. bersabda, ‘Hendaklah engkau berpuasa karena sesungguhnya tidak ada amalan yang pahalanya melebihi puasa’. kemudian ketika aku mendatanginya untuk kedua kali beliau bersabda, ‘Hendaklah engkau berpuasa.” (HR. Ahmda, Nasa’I dan Hakim)

3. Orang yang berpuasa dijauhkan dari api neraka

Hal ini dipahami dari hadis yang bersumber dari Abu Sa’id bin Khudri ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali pada hari itu Allah akan menjauhkan api neraka dari wajahnya 70 tahun perjalanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Masuk surga melalui pintu ar-rayyan

Seperti yang sudah disebutkan, bahwa Allah Swt. menyediakan salah satu pintu di surga khusus untuk orang yang berpuasa. Namanya pintu ar-rayyan. Sumber hadisnya dari Sahl bin Sa’id meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Rayan. Pada hari kiamat terdengar seruan: ‘Manakah orang-orang yang berpuasa?’ Maka ketika orang terakhir dari orang yang berpuasa masuk, maka pintu itu pun tertutup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Memberi syafaat di hari kiamat

Hadis yang bersumber dari Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah ASaw bersabda, “Puasa dan Al-Qur’an memberikan syafaat bagi hamba di hari kiamat. Puasa berkata: ‘Wahai Tuhanku, aku telah menghalanginya dari makanan dan syahwat di siang hari, maka perkenankanlah aku untuk memberinya syafaat. Al-Qur’an berkata: ‘Wahai Tuhanku, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari maka perkenankanlah aku untuk memberinya syafaat.” (HR. Ahmad)

Sekilas Fikih Puasa Senin Kamis

Salah satu puasa sunah yang sering dilakukan umat Islam adalah puasa Senin Kamis. Banyak orang memilih melakukan puasa Senin Kamis sebab dirasa tidak memberatkan karena adanya 2-3 hari yang menyelinginya. Puasa ini juga mudah dilakukan karena mudah diingat hari pelaksanaannya, tidak terbatas pada bulan atau tanggal tertentu.

Selain itu, puasa Senin Kamis adalah puasa yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah Saw. semasa hidupnya Beberapa keutamaan puasa Senin Kamis yang dijumpai di dalam hadis.

1. Puasa yang sering dilakukan Rasulullah Saw

Dipahami dari hadis yang bersumbe dari Abu Hurairah ra. berkata, Sesungguhnya Nabi Saw paling sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis, saat ditanya, beliau bersabda, “Seluruh amal dibentangkan pada hari Senin dan Kamis, ketika itulah Allah mengampuni setiap muslim dan mukmin, kecuali dua orang yang sedang bermusuhan. Allah berkata, ‘Tangguhkan untuk mereka berdua.’

2. Hari kelahiran Rasulullah Saw. dan hari beliau menerima wahyu

Diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah Saw. ditanya tentang puasa hari Senin, beliau bersabda, “Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu juga aku menerima wahyu.” (HR. Muslim)

Inilah artikel singkat tentang fikih puasa dan segala hal yang berhubungan dengan puasa. Semoga bermanfaat bagi sobat Ahira.

Speak Your Mind

*