Menapaki Madzhab Lukis Ekspresionisme Indonesia

Ilustrasi ekspresionismeEkspresionisme, sebuah paham seni yang berasal ekspresi emosi-emosi seniman terhadap kenyataan yang diekspresikan melalui berbagai media.  Paham ini berupakan salah satu cabang seni rupa untuk membentuk karya seni melalui media-media yang bisa dilihat dan diraba, seperti: lukisan, arsitektur, sastra, musik, dan film.

Efek-efek emosional ini cenderung pada luapan kemarahan dan bentuk depresi seorang seniman daripada efek emosi kebahagian. Kesan yang dinikmati tercipta melalui rangkaian konsep garis, bentuk, bidang, tekstur, warna, dan cahaya yang penuh dengan nilai estetika.

Seni lukis adalah salah satu induk dari seni rupa. Sebuah pengembangan dari seni drawing. Seni Rupa sendiri terdiri pada: painting atau seni lukis, print making atau seni grafis, drawing atau seni gambar, ceramic atau seni keramik, sculpture atau seni patung. Lalu berkembang juga ke fotografi, video art atau seni video, instalasi , enviromental art atau seni lingkungan, dan performance art.

Seniman perupa beraliran ekspresionisme pada abad 20-an, yang terkenal di antaranya: Heinrich Campendonk, Rolf Nesch, Wilhelm Lehmbruck, Ludwig Meidner, Max Beckmann dari Jerman. Oskar Kokoschka dan Egon Schiele dari Austria. Willem Hofhuizen, Charles Eyck, Jan Wiegers dari Belanda. Alexei Jawlensky dan Wassily Kandinsky dari Rusia. Edvard Munch dari Norwegia. Gust De Smet dan Albert Droesbeke dari Belgia.

Latar Sejarah

Awalnya, para pelukis Indonesia terpengaruh pada lukisan-lukisan bertema romantisme dari seniman-seniman Belanda. Nama R. Saleh Syarif Bustaman sangat terkenal di negara Eropa. Sebagai figur pelukis romantisme ala Eropa yang digunakan oleh banyak pelukis Belanda. Raden Saleh, salah satu orang Indonesia yang beruntung pada zamannya, menjadi pelukis istana yang disegani.

Arah tema lukisan berubah ketika masa revolusi mulai didengungkan oleh para pejuang kemerdekaan. Ekspresi lukisan Indonesia berangsur-angsur beralih ke tema-tema “kerakyatan”. Seni lukis memotret nyata kehidupan rakyat yang menderita akibat penjajahan asing. Merekam semangat-semangat perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan dan terlepas dari cengkraman kuku penjajah. Karena keadaan negeri sangat sakit dan menderita, sapuan-sapuan lukisan cenderung membentuk lukisan abstraksi yang sederhana.

Era ekspresionis mulai muncul ketika para pelukis lebih memilih membebaskan karya-karya mereka dari kepentingan ideologis politik tertentu. Gerakan perlawanan seni ini dikenal dengan Gerakan Manifesto Kebudayaan. Hal ini terjadi karena adanya pemaksaan ideologi komunis pada era 50-an.

Aliran ekspresionis bukan ditempatkan sebagai media pesan propaganda. Tetapi sebagai sarana dan media ekspresi pembuat lukisan, inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah “keyakinan dasar” bagi pelukis ekspresionis.

Layaknya Affandi

Di Indonesia, Affandi Koesoema (1907 – 1990) dikenal sebagai pelukis Indonesia yang terkenal di dunia dengan ekspresionis yang khas. Pria peraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore (1974), disebut pula sebagai orang yang memberikan gaya baru dalam paham seni tersebut.

Pria kelahiran Cirebon ini termasuk sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia. Melakukan keliling dunia dalam rangka pameran tunggalnya di Eropa, Amerika, Australia, dan India. Selama hidupnya, Affandi telah membuat karya lukisan lebih dari 2.000 karya. Dia termasuk seniman produktif yang berkarakter.

Sekarang, jika Anda memiliki hobi melukis. Cobalah mempelajari seni lukis aliran ekspresionisme ini. Buka tube cat. Tumpahkan langsung cairan cat. Mulailah sapu apik dengan jari-jari Anda. Bermain dan mengolah warna dengan penuh emosi. Tentang ekspresi yang pernah Anda lihat dan rasakan. Tumpahkan ekspresi emosi Anda, layaknya Affandi.

Selamat melukis!

Speak Your Mind

*