Mengenal Asam Sitrat dalam Dunia Industri

Ilustrasi asam sitratDalam dunia pendidikan, siswa SMU sudah diajarkan mengenal asam sitrat. Asam sitrat (C6H8O7) merupakan asam organik lemah yang dapat ditemukan pada daun dan buah tumbuh-tumbuhan bergenus Citrus. Selain terdapat pada buah-buahan semacam nanas dan markisa, asam sitrat dengan konsentrasi tinggi terdapat pada jeruk lemon dan limau.

Bentuknya kristal atau serbuk putih yang merupakan senyawa intermedier dari asam organik. Asam sitrat mudah larut dalam air, spriritus, dan ethanol. Ia tidak berbau dan berasa asam. Jika dipanaskan, asal sitrat meleleh kemudian terurai yang selanjutnya terbakar sampai menjadi arang.

Asam sitrat dapat digunakan sebagai bahan pengawet yang alami pada keju dan sirup. Dapat juga digunakan untuk mencegah proses kristalisasi dalam madu, gula-gula, serta untuk mencegah pemucatan berbagai makanan, misalnya buah-buahan kaleng dan ikan.

Asam sitrat dapat dipakai untuk mengatur tingkat keasaman pada berbagai pengolahan makanan dan minuman, seperti produk air susu, selai, jeli, dan lainnya. Larutan asam sitrat yang encer mampu berfungsi sebagai pencegah pembentukan bintik-bintik hitam pada udang.

Penggunaan asam sitrat pada makanan cenderung aman karena senyawa ini bersifat alami dan terdapat pada semua jenis makhluk hidup. Keamanannya juga telah diakui oleh badan pengawas makanan, baik nasional maupun internasional. Kelebihan asam sitrat mudah dimetabolisme dan dikeluarkan dari tubuh.

Asam Sitrat dan Dunia Industri

Asam banyak digunakan dalam industri pangan. Kebutuhan dunia akan asam sitrat terus meningkat 2-3% dari tahun ke tahun. Sampai 1920, semua asam sitrat diambil dari lemon dan jeruk. Kini, asam sitrat juga dihasilkan melalui fermentasi menggunakan mikroorganisme, yakni Aspergillus Niger.

Aspergillus Niger adalah jamur yang digunakan secara komersial untuk pertama kalinya pada 1923. Dalam memenuhi permintaan yang terus meningkat, efisiensi proses ferementasi terus dipelajari dan ditingkatkan.

Proses fermentasi asam sitrat terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah pertumbuhan miselium dan tahap kedua adalah fermentasi pembentukan produk dengan penyerapan karbohidrat. Pada tahap kedua, karbohidrat yang dihasilkan itulah yang kemudian diubah menjadi asam sitrat.

Saat ini, produksi asam sitrat secara komersial masih menggunakan mutan aspergillus niger. Namun, ada pula yang menggunakan Saccharomyces Lipolytica, Penicillium Simplicissimum, maupun A. Foeitidus. Guna meningkatkan kemampuan produksi, sering dilakukan proses mutasi. Mutasi yang umum dilakukan adalah dengan iradiasi ultraviolet dan nitrosamine selama 5 menit sampai 45 menit. Kultur selalu dijaga dalam medium PDA.

Tips fermentasi asam sitrat pada praktikum siswa:

  • Siswa harus memperhatikan faktor pendukung selain komponen utama, yakni mikroorganisme, dalam fermentasi. Faktor-faktor pendukung yang perlu diperhatikan itu adalah komposisi nutrisi media, kondisi lingkungan, Mangan dan logam lainnya, pengaruh senyawa pengkelat terhadap ion logam, pH, tipe dan konsentrasi gula, ammonium nitrat serta aerasi.
  • Gunakan alat pelindung seperti sarung tangan atau kacamata pelindung saat menangani proses-proses tersebut karena paparan terhadap asam sitrat kering ataupun larutan asam sitrat pekat dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata.

Speak Your Mind

*