Menulis Artikel Ilmiah Itu Gampang!

Ilustrasi menulis artikel ilmiah

Apa Itu Artikel Ilmiah?

Artikel ilmiah terdiri dari dua kata yaitu artikel dan ilmiah. Artikel didefenisikan sebagai sebuah karangan (karya tulis) yang memuat fakta (kadang juga didukung dengan data) dan disampaikan secara lugas serta apa adanya. Sedangkan ilmiah bermakna sesuai dengan standar keilmuan baik proses pencarian data maupun proses penulisan naskah.

Jadi Menulis Artikel Ilmiah bisa didefenisikan sebagai upaya membuat karangan yang memuat data dan fakta yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan, peninjauan dan disampaikan secara runtut sesuai dengan metode penulisan karya ilmiah yang baku.

Tahapan-Tahapan dalam Menulis Artikel Ilmiah

Sebuah artikel ilmiah harus melewati proses peninjauan atau pengamatan agar diperoleh data yang valid. Sehingga nantinya bisa dijadikan bahan rujukan dalam penulisan karya ilmiah lain sebagai bahan pembanding.

Oleh karena itu, proses menulis artikel ilmiah harus melewati beberapa tahapan:

1. Tahap Persiapan (pre writing)

Pada tahap persiapan ini ada beberapa kegiatan diantaranya, yaitu:

2. Menentukan Ide/Topik

Ide merupakan bahan dasar untuk membuat sebuah karya tulis. Ide ini bisa ditemukan di mana saja, selama kita bisa bersikap kritis dan berpikir ilmiah.

3. Menemukan dan Merumuskan Permasalahan

Langkah selanjutnya adalah menemukan masalah dari ide atau topik yang sudah kita tetapkan sebagai bahan tulisan. Selanjutnya setiap masalah dirumuskan dalam sebuah rumusan masalah. Perlu diingat rumusan masalah yang dihasilkan jangan sampai menyimpang dari topik yang  ditetapkan.

4. Membuat Out Line

Out line atau kerangka karangan ini bermanfaat agar penulis mudah dalam menyusun artikel ilmiah secara sistematis.

5. Mengumpulkan Data

Data mutlak diperlukan dalam penyusunan artikel ilmiah agar artikel tersebut bisa dipertanggung jawabkan secara keilmuan. Data bisa diperoleh dari berbagai sumber seperti pustaka, koran, website, brosur. Data juga bisa di dapat di lapangan melalui survey, wawancara dan pengamatan.

6. Tahap Menulis (writing)

Setelah berhasil mengumpulkan data-data yang dibutuhkan langkah selanjutnya adalah meramu semua data dan informasi tersebut dalam bentuk tulisan. Penulisan sebaiknya berpedoman pada out line yang sudah disusun. Penulisan harus menggunakan bahasa yang baku dan tidak bertele-tele.

7. Tahap Penyuntingan (post writing)

Setelah proses penulisan selesai, bukan berarti pekerjaan menulis artikel ilmiah juga selesai. Namun masih ada satu tahap lagi yang harus dilewati oleh seorang penulis yaitu tahap penyuntingan (editing)

Penyuntingan ini bertujuan untuk memperbaiki berbagai kesalahan dan kekurangan dalam artikel. Hal yang harus menjadi perhatian diantaranya isi artikel, sistematika penyajian dan bahasa yang digunakan.

Gampang bukan? Menulis artikel ilmiah tidak jauh berbeda dengan menulis artikel biasa. Hanya saja, dalam artikel ilmiah penulis dikawal oleh sistematika tulisan yang sudah baku. Jadi jangan phobia dengan istilah ilmiah. Keep writing!

Contoh Penulisan Isi Artikel Ilmiah

Menulis artikel ilmiah itu juga perlu dilatih supaya kita bisa mahir membuatnya. Jika selama ini masih memerlukan pedoman dengan melihat tulisan orang lain, dengan terus menulis artikel ilmiah, Anda akan terbiasa dan ke depannya sudah bisa membuat artikel ilmiah dengan baik. Seperti contoh kutipan artikel ilmiah di bawah ini, Anda mungkin bisa menjadikannya sebagai masukan.

Iklan, Budaya Populer dan Hiburan sebagai Realitas Sosial

Memasuki perkembangan budaya yang terus bergerak, menggiring kita pada budaya populer. Budaya populer ditandai dengan maraknya perkembangan dunia hiburan yang memanfaatkan media massa sebagai media dan alat penyebarannya, sehingga makin dikenal dan lambat laun menjadi populer di tengah masyarakat, salah satunya adalah iklan. Budaya populer itu sendiri dikelompokkan menjadi empat aliran, yaitu:

  • Budaya dibangun berdasarkan kesenangan namun tidak substansial, dan mengentaskan orang dari kejenuhan kerja sepanjang hari.
  • Kebudayaan populer menghancurkan budaya tradisional.
  • Kebudayaan menjadi masalah besar dalam pendangan ekonomi Marx kapitalis.
  • Kebudayaan populer merupakan budaya yang menetas dari atas (Ben Agger, 1992: 24).

Mengapa budaya populer ini saat ini seakan mewabah dalam ruang sosial masyarakat? Kita lihat saja dari segi iklan yang tayang diberbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak iklan yang dikonsumsi oleh masyarakat setiap harinya. Sehingga tidak mustahil jika iklan lantas menjadi sangat populer, terutama fungsinya sebagai media kapitalis.

Tidak berhenti pada iklan saja, sebuah budaya yang akan memasuki ranah hiburan pun secara tidak langsung telah memuat unsur populer. Budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan sebagai by pass dalam penyebaran pengaruhnya dalam masyarakat (Ben Agger, 1992: 24).

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa iklan adalah bagian dari budaya populer (Jib Fowles, 1996: 11). Selanjutnya Jib mengatakan, banyak iklan yang menggunakan atribut budaya populer, menggunakan kategori yang berbeda dari makna simbolis dari budaya tersebut.

Berbagai iklan, baik di media cetak maupun media elektronik terutama iklan komersil, cenderung memperlihatkan budaya instan. Contohnya iklan rokok, makanan ringan, fashion, kosmetik, elektronik, yang bisa digunakan langsung oleh masyarakat tanpa harus mengetaui bagaimana proses pembuatannya.

Perkembangan iklan juga tidak terlepas dari budaya populer, sehingga umur barang-barang atau produk instan juga tergantung pada seberapa jauh barang itu populer di masyarakat.

Hal ini berdasarkan pemikiran dari Jib Fowles yang mengatakan bahwa, memahami popularitas dalam budaya populer, pertama harus mempertanyakan bagaimana argumentasi individu terhadap budaya tersebut, kemudian bagaimana audiens melihat budaya tersebut (Jib Fowles, 1996: 104).

Dengan demikian, maka budaya populer tidak saja berhubungan dengan kesukaan pribadi, akan tetapi menjadi pilihan-pilihan terbanyak dari masyarakat dan audiens. Bisa saja budaya tertentu bukan menjadi pilihan pribadi, akan tetapi menjadi budaya populer karena lebih banyak digemari oleh kelompok masyarakat tertentu.

Hal tersebut menunjukkan bahwa, budaya populer menjadi terklasifikasi dalam masyarakat yang berbeda-beda. Contohnya benda populer dari masyarakat Alifuru di pulau Seram Maluku adalah garam dan kain berang (kain merah untuk ikat kepala laki-laki Alifuru).

Sebaliknya, benda populer masyarakat pedesaan di Jawa adalah tanah pertanian, sapi, dan keris. Terakhir benda populer di perkotaan sangat beragam, seperti rumah, mobil, pakaian dan sebagainya. Benda-benda populer tersebut mereproduksi budaya populer sebagaimana yang telah dijelaskan.

Namun sebaliknya, budaya populer juga mereproduksi benda populer, walaupun benda populer tersebut hanya bagian terkecil saja dari budaya populer, namun kehadiran benda-benda ini menentukan perilaku masyarakat bahkan menentukan stereotip masyarakat terhadap sesuatu, tidak terkecuali perempuan.

Berdasarkan hal-hal di atas, jika begitu iklan sebagai bagian dari budaya populer, tidak saja sekadar sebagai media komunikasi, namun yang terpenting adalah muatan konsep komunikasi massa yang terkandung di dalamnya.

Terlebih lagi konsep komunikasi massa harus mampu mewakili maksud produsen untuk memublikasikan produk-produknya, serta konsep tersebut harus dipahami oleh pemirsa sebagaimana yang dimaksudkan oleh si pencipta iklan tersebut.

***

Media Baru

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, secara tidak langsung juga mengubah paradigma masyarakat berkomunikasi. Media baru yang berbalut digital dan berjaringan telah mampu menggantikan komunikasi tatap muka menjadi komunikasi melalui dunia maya. Kemudahan akses yang begitu cepat dan akurat, membuat proses komunikasi bisa berjalan meski jarak membentang.

Perkembangannya dewasa ini komunikasi dunia maya melalui situs pertemanan tersebut telah membawa kepada masyarakat yang memiliki kebutuhan komunikasi yang membludak dan cenderung keluar dari koridor komunikasi yang dilakukan untuk saling bertukar makna, mempengaruhi perilaku dan saling bertukar pesan.

Kecenderungan yang terjadi, selain komunikasi yang dijalin untuk bertemu dengan orang-orang yang sudah kita kenal, tak sedikit media situs pertemanan digunakan sebagai alat untk melakukan komunikasi yang tidak positif seperti penipuan, pemalsuan identitas, dan sebagai sarana pamer berbalut eksistensi diri.

Komunikasi melalui media atau komunikasi dunia maya bukan berarti tidak memiliki keterbatasan. Salah satunya keterbatasan komunikasi dunia maya berupa kesalahpahaman penerima pesan ketika mengolah pesan dari orang lain yang jauh di sana.

Ditambah lagi, apa yang disampaikan itu belum tentu benar-benar terjadi, atau hanya sekadar iseng hanya untuk mengetahui reaksi teman-teman dunia maya kita tentang apa yang kita alami. Komunikasi yang hanya mengandalkan pesan verbal dan mengeliminasikan isyarat nonverbal, terkadang membuat kesalahpahaman menjadi luas.

Semakin manusia bisa berkomunikasi dengan cara-cara yang canggih dan interaktif, semakin mereka ingin bertemu, karena tantangan komunikasi dunia maya tidak bisa digantikan dengan kebutuhan untuk berkomunikasi secara langsung.

Jika pada mulanya kita bisa percaya bahwa denga merasionalisasikan komunikasi kita akan mereduksi pemindahan, biaya, waktu dan tenaga, kita sekarang baru sadar bahwa manusia semakin butuh untuk bertemu secara langsung.

Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi sudah sepatutnya dilakukan dengan cara yang bijaksana. Kita juga harus menyadari arti penting dari komunikasi tatap muka untuk mengurangi ketidakpastian dan kesalahpahaman berkomunikasi kita dengan orang lain.

Speak Your Mind

*