Menyikapi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Kekerasan dalam rumah tangga atau biasa dikenal dengan istilah kdrt, merupakan salah satu masalah yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat. Biasanya pihak wanita yang sering menjadi korban KDRT. Namun, tak jarang laki-laki juga bisa menjadi korban KDRT.

Kekerasan dalam rumah tangga KDRT menjadi salah satu penyebab utama perceraian. Tentu hal ini merupakan kondisi yang sangat memprihatinkan. Bagaimana bila masyarakat kita sudah enggan untuk berumah tangga disebabkan karena trauma terhadap kekerasan dalam rumah tangga KDRT.

Padahal, tujuan dua orang berbeda jenis membentuk rumah tangga, adalah untuk saling melengkapi dan bukan untuk saling menyakiti.

Bentuk-Bentuk KDRT

KDRT tak hanya berbentuk segala macam penyiksaan fisik namun juga non fisik. Penyiksaan fisik misalnya: memukul, menampar, meninju, hingga membunuh.

Sedangkan penyiksaan non fisik, misalnya: selingkuh, berkata-kata yang sangat menyakitkan, tidak memperlakukan dengan baik, tidak adil dalam bersikap, tidak bertanggung jawab, dan sebagainya.

Penyiksaan secara batin ternyata lebih menyakitkan daripada penyiksaan secara fisik. Bila penyiksaan fisik bisa diobati, tak begitu dengan penyiksaan batin yang lukanya kadang tak bisa disembuhkan seumur hidup.

Sebab-Sebab Pemicu KDRT

Sebab-sebab adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), antara lain:
•    Tak ada lagi komunikasi yang baik antara suami istri. Dalam berumah tangga, komunikasi menjadi salah satu hal yang penting. Kurangnya komunikasi menyebabkan munculnya kesalahpahaman. Bila tidak disikapi dengan baik, kesalahpahaman tersebut bisa menimbulkan KDRT.
•    Perselingkuhan. Perselingkuhan yang dilakukan oleh salah satu pihak, suami atau istri juga menjadi penyebab KDRT. Pasangan yang merasa dikhianati oleh pasangan yang lainnya biasanya menyiksa untuk tujuan balas dendam.
•    Laki-laki adalah segalanya. Dalam masyarakat kita, masih berparadigma bahwa laki-laki adalah segalanya, sedangkan perempuan adalah makhluk yang lemah yang bisa diperlakukan semaunya. Pendapat seperti inilah yang menjadi pemicu kdrt. Suami merasa bisa melakukan apa saja termasuk menyiksa istri, dengan alasan untuk mendidik istri menjadi lebih baik.

Menghindari KDRT

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bisa dihindari dan tidak perlu ditakuti. Kedudukan suami dan istri adalah sama di mata hukum. Siapa saja yang merasa disakiti berhak melaporkan pasangannya tanpa perlu merasa takut dan malu.

Namun, sebelum KDRT itu terjadi, diupayakan pasangan suami istri melakukan tindakan preventif. Beberapa tindakan preventif yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri antara lain:
•    Menjalin komunikasi yang baik. Manusia tidak akan pernah tahu apa yang ada di dalam pikiran manusia lainnya, sekalipun itu adalah suami istri. Oleh sebab itu, komunikasikan segala hal kepada pasangan kita untuk menghindari pertikaian yang bisa memicu KDRT.
•    Tidak meladeni kemarahan pasangan. Pertengkaran bisa terjadi bila kedua belah pihak saling “menyetujui”. Bila salah satu pihak saja yang menyulut kemarahan sedangkan pihak yang lain diam atau tidak melayani, maka pertengkaran tidak akan terjadi.
•    Saling mengingatkan bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah dan malah sebaliknya.
Menjalin Keluarga Harmonis
Menjalin kehidupan rumah tangga yang harmonis tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Akan tetapi, hal itu membutuhkan niat yang baik serta proses yang panjang sehingga bisa menjalin keluarga yang harmonis.

Kebanyakan orang merasa bahwa cerita cinta merupakan hal yang indah untuk dijalani. Akan tetapi, ketika menemui sebuah jalan yang berliku, kebanyakan dari mereka justru merasa bahwa cinta yang mereka pilih adalah sesuatu yang salah. Dengan begitu, berbagai kegiatan negatif pun muncul dari salah satu pasangan atau keduanya untuk menghindari apa yang mereka pikirkan.

Oleh sebab itu, diperlukan kesadaran yang tinggi untuk bisa membedakan antara obesis, nafsu, hasrat, dan perasaan cinta. Ketertarikan fisik merupakan sebuah alasan mengapa seseorang memilih pasangannya yang lain. Akan tetapi, hal itu tidak akan berlangsung secara lama karena kecantikan atau ketampanan fisik akan berubah seiring berjalannya waktu.

Diperlukan pula pemahaman secara intelektual dan emosi untuk bisa menerima pasangan sebagai orang yang dipilih untuk hidup bersama sampai akhir hayat. Pemahaman seperti inilah yang nantinya akan mengubah berbagai macam pikiran negatif menjadi pikiran yang positif sehingga hubungan yang dijalin pun akan semakin baik.

Setelah mengenal pasangan dengan baik, maka Anda akan mampu menerima berbagai konsekuensi hidup sehingga bisa lebih bijaksana dalam menghadapi berbagai hal yang tidak diketahui sebelumnya.

Saling Mengerti, Memberi, dan Menerima

Saling mengerti merupakan hal yang perlu ditanamkan dalam hati dan pikiran tiap individu untuk lebih memahami pasangan sehingga bisa terjalin perasaan untuk saling memberi dan menerima. Pemberian yang baik tentu didasarkan bukan hanya pada materi, tapi juga pada kemajuan kepribadian diri dari masing-masing pasangan.

Kepribadian yang terbuka akan mampu membuat pasangan menerima setiap kekurangan dan memberikan masukan untuk bisa membuat pasangannya menjadi lebih baik dan bahkan jadi yang terbaik. Hal ini tentu dilakukan harus tanpa paksaan dan atas dasar kesadaran masing-masing.

Dengan memberi dan menerima, maka perselisihan pun akan dapat dihindari sebisa mungkin karena tiap kali seseorang hendak berselisih, maka ia akan mengingat berbagai macam hal yang telah dilalui bersama pasangannya.

Proses seperti ini mungkin gampang-gampang sulit karena di satu sisi, manusia memiliki ego yang kadang bisa mengalahkan akal sehat untuk mau melakukan sesuatu menurut keinginannya saja.

Akan tetapi, di sisi lain, manusia juga sadar bahwa diri mereka tidak sempurna sehingga membutuhkan pasangan yang siap menerima kekurangannya dan memberikan berbagai kemungkinan untuk bisa memperbaikinya menjadi lebih baik lagi.

Buat Kegiatan Romantis

Bagi sebagian pasangan, mungkin hal romantis akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak diperlukan. Akan tetapi, kebanyakan orang menginginkan hal itu untuk membuktikan cinta dari pasangnnya.

Kegiatan atau hal romantis sendiri sangat relatif. Ada yang mengatakan bahwa romantis dilihat dari tindakan tanpa kata-kata, ada juga yang menganggap bahwa kata-kata manis merupakan salah satu hal romantis yang indah untuk dilakukan.

Terlebih dahulu Anda perlu mengetahui karakter pasangan Anda. Apakah ia lebih menyukai kasi daripada kata-kata, atau sebaliknya, jika ia lebih menyukai kata-kata, maka sering-seringlah membuatkan puisi atau syair lagu untuk kemudian dipersembahkan kepada pasangan.

Namun, apabila Anda mendapatkan pasangan yang lebih suka aksi atau laku daripada kata-kata, maka Anda perlu mempersiapkan berbagai kejutan untuk diberikan kepada pasangan agar lebih romantis.

Jenis pasangan pun ada yang terbuka dan tertutup. Ada pasangan yang ingin terlihat mesra di hadapan umum, ada juga yang ingin terlihat bersahabat di depan umum, dan ada yang justru tidak ingin terlihat mesra ataupun bersahabat di hadapan orang lain.

Hal-hal seperti ini juga perlu diperhatikan agar Anda dan pasangan tidak salah paham saat pasangan memperlakukan Anda di depan umum. Jika kedua belah pihak sudah menyetujui bagaimana hubungan mereka dikemas di hadapan publik, maka keduanya akan merasa nyaman meskipun memilih untuk tidak memperlihatkan kemesraan di hadapan umum.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemesraan bukanlah hal utama dalam rumah tangga. Pengertian dan komunikasilah yang menjadi hal penting agar kehidupan rumah tangga terhindar dari kekerasan dalam rumah tangga.

Berbagai hal di atas jika dilakukan dengan niat baik akan memberikan hasil yang juga baik. Jadi, mulailah komunikasi yang baik dari sekarang agar kehidupan rumah tangga menjadi lebih harmonis dan romantis.

Speak Your Mind

*