Merenungi Spirit Asal Mula Manusia

Ilustrasi asal mula manusia
Sebagaimana terekam dalam Al Qur’an, secara gamblang akan ditemui bagaimana Islam jauh-jauh hari telah mengajukan konsep teoritis tentang asal mula manusia. Terbukti, apa yang dijabarkan oleh Allah melalui Al Qur’an kompatibel dengan ilmu pengetahuan. Manusia itu berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Manusia itu bermula dari setetes mani dari sang ayah dan sebuah sel telur dari sang ibu. Ketika Maryam, ibunda Nabi Isa as, tidak melalui proses yang normal ketika mengandung, itu adalah kekuasaan Allah Swt semata.

Kekuasaan Allah Swt

Tidak hanya Maryam yang mendapatkan keajaiban dari Allah Swt. Nabi Adam as pun merupakan suatu kejaiban yang hanya Allah SWt yang tahu. Nabi Adam tidak mempunyai ayah dan tidak mempunyai ibu. Ia adalah manusia pertama diciptakan. Sedangkan manusia lainnya, melalui proses yang sama, yaitu terjadi mulai dari hasil pembuahan sel sperma dan sel telur. Kalaupun kini ada proses yang berbeda dengan menggunakan teknik kloning, hasilnya tidak bisa sama dengan proses yang alami.

Bayi yang dikloning itu akan mengalami berbagai abnormalitas sehingga tidak akan bertahan lama. Keabnormalitasan ini menjadi suatu peringatan bahwa kekuasaan dan hak penciptaan itu tetap ada di tangan Tuhan dan manusia tidak bisa mencoba menjadi seperti Sang Pencipta. Kalaupun dikatakan secara fisik sangat bagus dan tampak indah, organ dalamnya rusak. Bahkan dalam beberapa kali percobaan, bayi-bayi itu terlihat seperti seekor kodok atau malah seperti dajjal yang mempunyai mata satu di dahi.

Para ilmuwan yang tidak mempunyai hati itu ternyata tidak menghentikan kegiatannya. Mereka malah terus berpikir bagaimana membuat bayi hebat yang tidak mempunyai sifat sedih. Hormon bahagia akan menjadi salah satu hal yang diteliti. Padahal dalam Al Quran Allah Swt berfirman bahwa manusia itu akan dicoba dengan perasaan cemas dan khawatir. Itu artinya adalah bahwa setiap manusia itu akan mengalami rasa khawatir dan cemas.

Dengan mengingat Allah Swt, mereka akan merasa tenang. Intinya adalah bahwa rasa cemas dan khawatir itu akan membuat manusia kembali kepada Sang Pencipta, berlindung, dan berpasrah diri pada-Nya. Kalau manusia hanya ingin mendapatkan kebahagiaan, ia harus bisa mengolah perasaannya dan tetap berpikiran positif. Bahwa Tuhan tidak selalu memberinya sinar mentari pagi yang sejuk nan hangat. Pada suatu siang, sinar itu akan terasa panas. Adanya perubahan ini akan membuat manusia semakin dinamis.

Tetapi untuk sebagai orang, perubahan dinamika hidup itu mungkin dianggap sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan. Oleh karena itulah mereka mencoba menjadi seperti sutradara bagi hidupnya. Religiusitas dianggap berbeda dengan spiritualitas. Tidak heran kalau banyak yang tidak terlalu percaya dengan adanya Tuhan. Mereka hanya menganggap bahwa ada zat yang maha tinggi dan maha hebat yang mampu memberikan segalanya dan menciptakan segala sesuatu melebihi kehebatan ilmu pengetahuan manusia.

Unik dan Misterius

Manusia adalah makhluk yang unik sekaligus misterius. Julukan unik dan misterius itu telah menghantarkan manusia untuk terus mencari hakikat manusia dan jawaban teka-teki siapa manusia sejatinya. Perbedaan titik pijak atau cara pandang yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda.  Namun, bila jawabannya disandarkan pada agama, khususnya Islam, maka pijakna itu jelas, yaitu Al-Quran.

Keyakinan awal yang wajib dikedepankan adalah bahwa Allah pencipta alam semesta berikut seisinya, tak terkecuali manusia. Itu artinya, ada potensi kefitrahan di setiap ciptaannya. Lebih-lebih dalam diri manusia.  Spirit Allah Swt ada pada manusia. Alasannya, di awal proses penciptaan, Allah meniupkan ruh-Nya. Pada saat itu semua ruh itu percaya bahwa Allah Swt adalah Tuhan mereka. Hanya saja ketika mereka terlahir, orangtuanyalah yang menjadikan mereka menganut kepercayaan yang berbeda.

Dengan demikian, ada fitrah ketuhanan dalam diri manusia. Spirit inilah yang patut direnungi dan direfleksikan dalam kehidupan. Hanya dengan cara demikian penemuan kesejatian manusia tidak akan terbentur tembok. Paling tidak, teka-teki siapa manusia bisa terjawab, manusia bukan lagi misterius. Berbeda dengan orang-orang yang mengira bahwa manusia ini bahkan berevolusi dan pada awalnya berasal dari sejenis kera atau monyet. Padahal manusia itu tetap seperti ini dan tidak pernah seperti monyet. Besar dan tinggi saja yang berbeda.

Ruh dan Materi
Konsep Al Qur’an tentang penciptaan manusia bisa dilihat dari beberapa ayat kunci seperti surat Shaad (38) ayat 71-72, Al-hijr (15) ayat 28-29, Al-hajj (22) ayat 5, Al-mu’minuun (23) ayat 13-14, Al-insan (76) ayat 2, dan lain-lain. Selain Al Qur’an, ada juga hadis nabi yang mendukung argumen teoritis Al Qur’an.

Disebutkan dalam surat As-saad ayat 71-72, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka, apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Ku tiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu menyungkur dengan bersujud kepadanya”.

Masih sepengertian dengan ayat di atas, Allah berfirman: “dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” . Al-hijr (15) ayat 28-29.

Dalam kesempatan lain dikatakan juga, “hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah.

Kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim. Apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi.

Kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan.  Dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan, kamu lihat bumi ini kering. Kemudian apabila telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (Al-hajj ayat 5).

Ayat lain yang juga mendukung ayat-ayat di atas adalah “Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka, Mahasuci-lah Allah, Pencipta yang paling baik” (Almu’minuun ayat 13-14).

Selain itu, ayat lain yang tak kalah pentingnya adalah surat Al-insan ayat 2. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur ang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat”.

Ayat-ayat di atas kemudian disokong dan diperkuat oleh hadis nabi,  “dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari.

Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya).” (HR. Bukhari-Muslim).

Fitrah Ketuhanan

Argumen teoritis dan konseptual seputar awal atau asal mula manusia terletak pada integrasi antara ruh dan materi. Dua konsep kunci itu sejatinya satu paket dan satu kesatuan, yakni ruh dan tanah. Ruh dimaksud adalah ruh Allah. Dengan demikian pada dasarnya manusia memiliki potensi fitrah yang berasal dari Allah. Sedangkan tanah disini memiliki arti simbolik. Artinya, penciptaannya tidak seperti membuat patung yang terbuat dari tanah. Tidak mudah memahami semua ini. Tanpa adanya keimanan, hal seperti ini mungkin akan membuat otak memberontak.

Tanah adalah faktor penting tumbuh kembangnya manusia. Dari tanah, berbagai macam protein atau sari makanan dikonsumsi manusia. Melalui proses metabolisme dalam tubuh, sari-sari makanan itu kemudian menghasilkan hormon, hubungan seksual, kemudian terjadi perjumpaan antara sperma dan ovum. Perjumpaan inilah yang menghasilkan wujud atau bentuk manusia paling sempurna.

Speak Your Mind

*