Nasihat Kehidupan dari Teman

Saya memiliki banyak teman dalam menjalani hidup ini, saya bersyukur setiap teman-teman memberikan banyak pelajaran hidup. Saya menyebutnya sebagai inspirasi nasihat kehidupan. Nasihat kehidupan ini saya rangkum dalam berbagai kejadian dan percakapan-percakapan ringan sehari-hari.

Bagi saya yang menarik karena setiap hal yang terjadi pada teman-teman itu selalu direkam dalam memori ini. Saya percaya setiap hal baik atau buruk selalu memberikan pelajaran. Terutama setiap kata-kata yang terus terngiang dari mulut-mulut yang tulus memberikan saran bagi saya.

Nasihat kehidupan yang menginspirasi saya mungkin lahir dari pemikiran mendalam atau bisa jadi karena ketidaksengajaan dalam mengungkapkan segala sesuatu yang mendalam dan filosofis. Menjadi sangat menarik ketika berhasil melihat banyak sisi-sisi lain yang ada dalam setiap teman tersebut.

Nah, saya sengaja menuliskannya dengan inisial karena izin menginspirasi mereka mungkin tanpa sadar. Misalnya sebut saja CP, dia selalu memberikan nasihat kehidupan dalam bentuk kata-kata yang baik. Waktu itu, kita sedang berkuliah dan menjalan aktivitas sehari-hari di Jalan Setiabudi, Bandung. Nasihat masih saya ingat adalah ”Dont wait untill tomorow what you can do today”.

Saya tahu karena dia sering membaca buku motivasi sebelum saya mengenal buku motivasi tersebut. Terbukti memang, dia lebih cepat menyelesaikan kuliah, saya baru lulus setahun kemudian. Seiring waktu, kutipan ”Dont wait untill tomorow what you can do today” adalah kata-kata umum yang sering muncul baik itu di buku-buku motivasi.

Selain itu, ada juga HM, sewaktu saya membuat Bulletin, dia berkata kepada saya ”Sedikit ide yang kau tuang dalam karya, lebih berarti dari seribu kata yang kau ucap”. Saya terpacu membuat karya karena ucapan dia. Sampai saat ini, ucapan dia itu masih saya ingat. Saya mengenal HM sejak pendidikan dasar di sebuah pecinta alam.

Dalam pendidikan dasar tersebut, saya masih mengingat bahwa dia adalah sosok yang filosofis. Misalnya, pada saat mau berangkat ekspedisi, HM berkata: “Siapkan logistik dan perbekalanmu dengan baik, jangan takut berat membawa. Membawa ransel berat meringankan kamu saat di alam terbuka. Sebaliknya, membawa ransel ringan akan membuatmu berat saat di alam terbuka nanti”.

Saya renungkan perkataan dia, setelah merenung saya mengetahui bagaimana harusnya membawa beban berat dari ransel yang akan meringankan di alam nanti. Bisa saja mendaki gunung seadanya tanpa harus repot-repot membawa perlengkapan. Cukup baju yang melekat ke tubuh dan beberapa perbekalan lainnya yang tidak begitu banyak.

Namun, tahukah Anda bahwa mendaki gunung itu penuh dengan risiko bahaya yang mengancam jiwa? Sudah banyak kejadian pendaki gunung yang tewas karena kekurangan logistik dan persiapan yang tidak matang. Bagaimana mungkin mendaki gunung seadanya.

Jika dipikir kembali, mendaki gunung itu berarti menempuh perjalanan panjang yang menanjak. Logika normalnya, jika perjalanan menanjak maka beban yang ada di badan kita harus dilepaskan satu per satu hingga akhirnya badan kita menjadi ringan. Ringan berarti perjalanan lancar.

Namun itu secara itu logika, pada umumnya bahwa menanjak atau mendaki berarti beban kita harus dikurangi agar perjalanan lancar. Logika akan menjadi terbalik ketika mendaki gunung. Semakin banyak perlengkapan safety kita berarti semakin berat beban kita, tetapi semakin ringan kita ketika menerima bahaya sewaktu-waktu.

Misalnya, saat terjadi badai dingin malam hari, bagi yang membawa persediaan baju hangat danĀ sleeping bagĀ akan terasa lebih ringan dibandingkan dengan pendaki yang membawa sarung sekadarnya saja. Selain itu, saat perut menagih makanan, bagi mereka yang membawa logistik banyak akan terasa ringan karena tinggal ambil dari persediaan. Sementara bagi mereka yang membawa seadanya, tanggung risiko jika kelaparan.

Anda akan berat berada di alam terbuka tanpa persediaan logistik yang memadai. Jadi lebih baik berat membawa perlengkapan dan persediaan logistik yang memadai, tetapi akan menjadi ringan ketika sudah berada di alam terbuka daripada ringan karena membawa perlengkapan seadanya dan logistik semaunya, tetapi akan menjadi berat ketika sudah berada di alam terbuka.

Mendaki gunung penuh dengan risiko yang mengancam setiap saat. Persiapkan dengan baik segala perlengkapan, logistik makanan, serta fisik dan mental sebelum melakukan pendakian gunung. Persiapan yang bagus akan mendukung kegiatan pendakian dengan lancar.

Selain itu, ada juga BW yang memberikan nasihat kehidupan praktis. Sejalan dengan jiwanya yang selalu memandang praktis dalam menghadapi masalah. Dia pernah berkata: ”Sudahlah jangan dipikirkan masalah besok, yang penting sekarang makan, masalah besok makan atau tidak, kita pikirkan saja besok”.

Sangat praktis dan tidak bertele-tele. Nasihat baik dan terus saya ingat terutama ketika dia berkata: ”Bukan seberapa keras masalah mendatangimu, tetapi seberapa cerdik kamu memecahkan masalah itu”. Kemudian nasihat lainya, ”Sekarang bukan saatnya bekerja keras, tetapi bekerja cerdas”. Praktis, bukan?

Saya mengaplikasikannya ketika terlalu penat berpikir. Praktis, itulah yang saya ingat nasihat kehidupan dari dia. Praktis tidak berarti mengabaikan teori. Saya percaya secara teoritis, dia itu sangat menguasai hingga mampu mengeluarkan sisi praktisnya dari hal yang rumit.

Sejenak saja berpikir, terkadang saya merasa dia terlalu praktis dan tidak berpikir panjang. Namun ternyata, inilah nasihat kehidupan yang menarik dari dia. Sangat praktis dan menarik, bukan?

Ada saja yang terjadi bisa kita ambil hikmahnya. Setiap hal bisa diambil hikmahnya dan pelajarannya. Ini menyangkut bagaimana seseorang memandang pengamalan yang terjadi pada sebagai pelajaran atau sebagai ujian atau sebagai musibah atau bahkan semuanya? Jika dilihat lebih luas, nasihat kehidupan itu datang dari banyak sisi.

Tinggal bagaimana kita membuka diri untuk menerima setiap pelajaran tersebut. Pertanyaannya sampai kapan kita membutuhkan nasihat kehidupan? Jawabannya selama kita hidup. Jika melihat kenyataan bahwa kehidupan ini tidak ada yang sempurna. Selalu ada hal yang disebut salah, kurang, tidak baik, dan sebagainya. Selama itulah kita membutuhkan nasihat kehidupan.

Nasihat kehidupan ini bisa datang kapan pun di mana pun Anda berada. Teman adalah orang terdekat yang bisa kita ambil banyak pelajarannya. Pengalaman yang berasal dari teman bisa menjadi pelajaran bagi kita. Pengalaman adalah guru terbaik. Teman adalah tempat berbagi yang baik untuk melihat lebih banyak pembelajaran-pembelajaran penting selama kita hidup.

Tentu saja pengalaman sendiri juga bagian terpenting yang bisa kita ambil hikmahnya. Mengabaikan pengalaman sendiri sebagai pelajaran tentu saja salah besar, dari pengalaman kita sendiri mungkin banyak orang yang belajar. Bahkan, pembelajaran terbaik yang harus diajarkan dalam pendidikan di sekolah juga harus berdasarkan pengalaman.

Siswa yang mengalami langsung pembelajaran akan lebih berkembang dibandingkan siswa yang hanya mengetahui lewat teori buku-buku saja. Mengenalkan pengalaman-pengalaman penting untuk pembelajaran sangat berguna daripada mendengarkan pemaparan teori saja.

Pengalaman lebih mendekatkan siswa pada kenyataan, sementara teori biasanya lebih jauh bahkan mungkin tidak terjangkau oleh siswa pada waktu itu. Mengajarkan pengalaman bisa melalui sharing bersama orang-orang yang sukses, atau langsung melihat ke lapangan. Misalnya, belajar matematika langsung melihat bentuk-bentuk matematika di kehidupan, atau belajar biologi tanaman dengan langsung melihat tanaman sekitar, mengidentifikasi dan menggolongkan langsung di lapangan pada saat itu juga.

Begitu pun saya yang belajar dari banyak pengalaman. Masih banyak pengalaman teman-teman saya yang mewarnai corak berpikir dan bertindak saya saat ini. Mereka pun tidak pernah menyadari memberikan kata-kata yang membuat saya belajar banyak. Selain kata-kata, tindakan pun saya ambil pelajaran.

Saya amati setiap tindakan dan gerakan mereka ketika mendapati masalah, ada yang reaksioner, ada yang perlahan tapi pasti, ada juga yang apatis. Mereka membuat saya bersyukur mengalami fase kehidupan bersama mereka.

Speak Your Mind

*