Nasyid dan Universalitas Sebuah Lagu

Ilustrasi lagu

Mavi Marmara, Melekat di Ingatan

Masih ingat tragedi kemanusiaan internasional yang dialami kapal Mavi Marmara milik Turki yang membawa ratusan relawan internasional untuk Palestina beberapa waktu lalu? Sebuah gebrakan serentak dunia internasional untuk menembus blokade Gaza yang dilakukan Israel atas Palestina semenjak tahun 2007. Tragedi ini sungguh membuat rasa ngilu di hati para aktivis kemanusiaan diseluruh penjuru dunia.

Tak hanya itu, para pencinta musik pun mengabadikan peristiwa bersejarah ini melalui lagu. Banyak orang mengatakan, bantulah kemerdekaan Palestina dengan cara apapun yang kamu bisa, jika memiliki kekuasaan, maka serulah kebiadaban Israel dengan kekuasaanmu, jika memiliki harta benda yang cukup, maka sumbangkanlah sebagian dari padanya untuk rakyat Palestina. Jika Anda seorang penulis, maka tulislah sebuah fakta yang membuka kaca mata dunia atas pelanggaran hak-hak asasi manusia yang terjadi di Palestina.

A Song for Mavi Marmara, Sebuah Lagu

A Song for Mavi Marmara, inilah sebuah lagu karya anak negeri bergenre pop religi yang dilantunkan oleh para munsyid (penasyid). Lagu ini ditulis sebagai bentuk kepedulian para musisi tanah air terhadap aksi teror yang dilakukan Israel atas ratusan relawan internasional beberapa bulan lalu. Berikut kutipan lirik lagu yang ditulis oleh ketua Asosiasi Nasyid Nusantara Kalimantan Timur ini:

Dark monday Mavi Marmara, the proof of peace, the proof of brotherhood, but the holy mission, was destroyed by the 15r43l… Dark monday dark monday froze, red blood was blending, red blood was glowing, save Gaza Palestine, on the humanity mission ship…| Peace the world’s Gaza Palestine, save the world’…s Gaza Palestine… | (Gaza Palestine, 2010 May 31) Comp: Sri Widiarto |Arransement Music & Vocal by : Muslim Studio Depok | Vocal: Indonesia Nasyid All Star

Nasyid, Memulai Sebuah Keuniversalan

Lagu adalah sebuah cara yang sangat universal dalam mengekspresikan sesuatu maksud. A Song for Mavi Marmara ditulis sebagai bentuk gebrakan para musisi bergenre nasyid terhadap nilai keuniversalan sebuah musik. Selama ini mungkin musik begenre nasyid hanya layak dinikmati oleh kalangan penggiat masjid atau para muslim taat dan fanatis.

Nasyid hanya pantas diputar di acara-acara majlis taklim dan pengajian keagamaan. Indonesia Nasyid All Star ingin mendobrak anggapan salah itu. Sekali lagi, musik bergenre nasyid dapat dinikmati oleh semua kalangan. Nasyid juga bisa berbicara soal isu kemanusiaan dunia, soal bencana, soal kemiskinan dan seterusnya.

Sebab, hakikat pesan yang ingin disampaikan sebuah nasyid juga cukup komprehensif. Tak layak jika genre musik yang satu ini hanya menjadi bahan konsumsi satu kelompok saja. Untuk menjawab itu, genre musik ini juga harus berani menjawab tantangan zaman. Harus mampu berbaur tanpa ikut melebur. Dahulu, aliran musik bergenre nasyid ini hanya identik dengan alat-alat musik perkusi seperti rebana.

Namun hari ini kita lihat, para munsyid sudah tidak asing lagi memain peralatan musik modern seperti gitar, biola dan sebagainya. Apakah ini sebuah tanda pergeseran nilai dan muatan dari nasyid itu sendiri? Ada banyak alternatif jawaban yang bisa kita tebak. Lagu-lagu nasyid dewasa ini berusaha untuk memulai sebuah keterbukaan.

Keterbukaan dalam arti yang positif, musik ini akan dapat dinikmati oleh siapa saja hingga pesannya pun akan lebih tersampaikan kepada banyak khalayak. Namun disatu sisi, hendaknya genre musik ini mampu mempertahankan karakteristik nya yang khas, tidak mudah terlebur nilainya dengan genre-genre musik yang lain, yang dapat menggeser nilai-nilai plus dari sebuah nasyid.

Speak Your Mind

*