Pelestarian Lingkungan Cagar Budaya

Pelestarian lingkungan hanyalah semboyan belaka tanpa ada aksi nyata. Pernahkah Anda mendengar, satu candi peninggalan Hindu Budha yang ada di Dieng diboyong ke Belanda? Itulah salah satu contoh betapa aksi pelestarian lingkungan cagar budaya sangat kurang. Sehingga, satu candi pun bisa berpindah ke negeri orang tanpa ada upaya pencegahan dari pemerintah.

Padahal, Indonesia merupakan negara yang memiliki cagar budaya terluas di dunia. Bayangkan, hampir setiap provinsi memiliki situs bersejarah dan museum yang menyimpan benda bernilai sejarah tinggi. Namun, oleh masyarakat dan pemerintah upaya pelestarian lingkungan hanya sebatas semboyan saja, tanpa ada upaya menyadarkan betapa pentingnya menjaga warisan dari nenek moyang.

Ambil contoh saja kitab-kitab kuno yang dibuat oleh pujangga besar Nusantara, banyak yang tersimpan rapi di museum Perancis, dan Belanda.

Masih ada banyak serentetan kasus-kasus pencurian benda-benda cagar budaya oleh orang tak bertanggung jawab. Mungkin mereka melakukan aksi kriminal karena lemahnya pengawasan area situs sejarah oleh pemerintah maupun masyarakat setempat. Upaya pelestarian adalah pengawasan dan penjagaan cagar budaya.

Pentingnya Pelestarian Lingkungan

Dimungkinkan kelak generasi muda Indonesia, ketika akan mendalami budaya Jawa, mereka harus repot-repot terbang ke Belanda, guna mencari literatur kitab Jawa kuno. Mengapa bisa demikian? Ternyata, perpustakaan dan museum di Belanda menyimpan ribuan karya sastra Nusantara. Di tambah lagi pemikir sejarah Nusantara banyak yang berasal dari Belanda pula.

Peristiwa ini sangat kontradiksi dengan keadaan di Indonesia, tepatnya museum di sini. Koleksi pustaka kuno banyak yang hancur dimakan usia, tanpa ada upaya penyelamatan yang baik. Selain itu, kesadaran generasi muda dalam mendalami budayanya sendiri menurun.

Bangsa Indonesia juga sempat meradang ketika negeri tetangganya mengakuisisi batik adalah bagian dari kekayaan budaya Malaysia. Itulah kelemahan bangsa ini dalam menjaga pelestarian lingkungan budaya. Budaya merupakan identitas bangsa. Kalau aset budaya banyak dicuri, menandakan jati diri bangsa ini sedang terdegradasi. Kalau dibiarkan seperti ini, bangsa Indonesia tak memiliki sesuatu yang dibanggakan, bangsa ini kehilangan identitas nasionalisme.

Mimpi buruk ini lekas disudahi, usut tuntas pencurian benda-benda purbakala, dan tegakkan kembali UU perlindungan peninggalan purbakala. Tanamkan kesadaran mencintai produk budaya dalam negeri, termasuk pelestarian lingkungan cagar alam yang merupakan cikal bakal identitas bangsa Indonesia.

Lemahnya penjagaan cagar budaya termasuk museum yang notabene pengurusannya di bawah pemerintah justru kerap kemalingan. Sistem keamanan museum harus diawasi dengan ketat, karena di sana tersimpan identitas sejarah manusia Indonesia yang sebenarnya.

Profesionalitas pegawai museum sudah saatnya diperbaiki. Kalau perlu, kirim mereka ke luar negeri guna mempelajari bagaimana cara membangun manajemen museum agar lebih hidup. Demikian juga dengan sistem keamanan museum dan situs cagar budaya dibenahi kembali, pasang piranti-piranti pengamanan di sekitar kompleks lingkungan cagar budaya.

Mendalami Budaya Sebagai Bentuk Pelestarian Lingkungan

Maraknya budaya asing yang masuk ke Indonesia, secara langsung akan mengikis rasa kepedulian terhadap budaya sendiri. Tak selamanya budaya asing itu baik dinikmati, banyak juga unsur-unsur budaya asing yang tak sesuai dengan norma-norma masyarakat Indonesia. Jadi, jangan begitu saja menerima masukan dari luar.

Agar budaya Indonesia tak terkikis, solusi tepatnya adalah mempelajari karya-karya seni budaya milik kita sendiri. Misalnya belajar bahasa Jawa dengan baik, membiasakan menggunakan bahasa daerah, membuat karya tulis atau buku yang berkaitan dengan sejarah budaya masyarakat setempat. Ambil contoh saja menulis buku sejarah berdirinya Kampung Kapitan di Palembang.

Menggelar festival budaya merupakan wujud dari pelestarian lingkungan budaya. Seperti yang kerap dilaksanakan oleh penduduk pinggir Gunung Merapi. Festival Danau Toba di Sumatera Utara dan lain sebagainya. Gelaran festival budaya merupakan gerakan positif yang bisa membangun jiwa nasionalisme generasi muda bangsa. Kerapnya festival yang diadakan di berbagai daerah di Indonesia, bisa menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesa adalah bangsa yang melindungi budayanya.

Kasus-kasus Pencurian Benda Bersajarah

Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, ditambah lagi bangsa yang mau belajar dari kesalahan masa lalunya. Banyak sekali kasus pencurian benda purbakala yang ternyata melibatkan mafia perdagangan barang sejarah. Di pasar gelap, benda- benda bersejarah seperti fosil, arca, dan perhiasan dari masa kerajaan di Nusantara diperjualbelikan dengan harga selangit.

Benda-benda tersebut dikirim ke luar negari. Di sana banyak kolektor yang mau membeli dengan harga tinggi. Iming-iming tawaran duit banyak dari kolektor sangat menggoda bagi orang yang sedang kesulitan ekonomi. Tak pelak, mereka gelap mata dan mencuri warisan budaya negeri di museum dan cagar budaya. Inilah bukti kasus kontraproduktif terhadap kampanye pelestarian lingkungan budaya.

Berikut ini merupakan deretan kasus-kasus pencurian benda purbakala yang terjadi pernah menghiasi surat kabar nasional.

1. Pengelapan Benda-benda di Museum Radya Pustaka Surakarta

Salah satu kasus kriminal yang pernah menghebohkan masyarakat Solo adalah hilangnya properti museum Radya Pustaka di Solo. Benda-benda bersejarah yang merupakan koleksi museum ternyata digelapkan alias benda yang asli dicuri kemudian guna mengelabui lantas diganti dengan benda purbakala imitasi.

Tersangka yang melakukan penggelapan adalah pegawai museumnya sendiri. Hal yang lebih memprihatinkan, tindakan tersebut di bawah sepengetahuan kepala museum. Kegiatan tersebut dilakukan dalam waktu yang lama. Hingga akhirnya, praktik penggelapan koleksi museum terbongkar oleh kepolisian. Namun sayangnya, koleksi museum sudah banyak yang dijual ke luar negeri.

2. Hilangnya Benda Bersejarah di Museum Sonobudoyo

Museum Sonobudoyo yang berada di Yogyakarta pun tak luput dari incaran maling. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2010, di mana pada waktu itu, kondisi museum tak dijaga intensif oleh security museum. Selain itu, kondisi CCTV juga tengah rusak. Sehingga, pencuri tak terdeteksi sama sekali.

Alhasil, barang berharga milik Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat yang dititipkan di Museum Sonobudoyo, banyak yang raib digondol maling. Barang yang hilang adalah perhiasan kuno yang terbuat dari emas, dua patung emas peninggalan zaman Hindu Jawa. Inilah bentuk kelemahan pengamanan museum milik pemerintah. Padahal, letak Museum Sonobudoyo berada di tengah kota, tak jauh dari kantor polisi. Sampai sekarang pun pihak polisi belum mampu membongkar kasus pencurian terbesar ini.

3. Jual Beli Fosil di Sangiran

Sangiran merupakan area situs yang paling luas. Pada area itu, banyak ditemukan benda-benda purbakala. Fosil hewan maupun peralatan terbuat dari batu yang dahulu pernah dipakai oleh manusia purba. Kerap penduduk setempat ketika mencangkul menemukan fosil maupun perkakas kuno. Ada yang dilaporkan ke Balai Pelestarian Situs Purbakala, banyak juga yang langsung dijual ke kolektor benda purbakala.

Tawaran harga yang tinggi bagi fosil maupun benda purbakala lain, menjadi daya tarik bagi penduduk setempat menjual ke pasar gelap, daripada diserahkan ke pemerintah.

Bayangkan saja, kerangka fosil mammoth, kolektor berani membeli menawar 10 juta rupiah. Siapa yang tak tergoda dengan tawaran tersebut. Minimnya kesadaran pelestarian lingkungan alam, mengakibatkan fosil dari sangiran jatuh ke kolektor luar negeri.

Ternyata, masih banyak lagi kasus ilegal pencurian benda-benda cagar budaya yang terjadi di daerah lain. Sebagian besar disebabkan karena faktor ekonomi. Kemiskinan yang mengimpit mereka, sehingga menjadi gelap mata. Demi menghidupi anak istri, perusakan benda cagar budaya yang notabene dilindungi UU, tetap dilanggar juga.

Oleh karena itu, mari kita tanamkan kesadaran menjaga pelestarian lingkungan alam kepada masyarakat yang tinggal di sekitar situs dan museum. Kalau hanya mengandalkan polisi dan teknologi semata, rasanya tak menjamin keamanan. Ajak mereka turut berperan aktif mengamankan situs cagar budaya. Itulah contoh mudahnya menjaga pelestarian lingkungan cagar budaya.

Speak Your Mind

*