Pembersihan Harta dengan Zakat Mall

Ilustrasi zakat mallZakat adalah memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu kepada orang-orang yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan atau syariat Islam. Kemudian apa itu zakat mall? Kita lihat penjelasan di bawah ini.

Kata ‘zakat’ berarti membersihkan atau menyucikan, seperti dalam Surat Al Ahzab ayat 33, Allah SWT berfirman:

…Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Macam-Macam Zakat

Zakat merupakan bentuk ibadah lain setelah salat yang bertujuan untuk mengingat Allah Swt dan bersyukur atas segala rahmat dan nikmat yang telah diberikan dan akan diberikan oleh-Nya. Zakat merupaka sebagian dari Zikrullah, upaya untuk mengingat Allah Swt. Secara umum, ada dua macam zakat, yakni sebagai berikut.

    • Zakat Fitrah, yaitu zakat yang wajib dikeluarkan umat muslim di seluruh dunia selama bulan Ramadhan sampai menjelang Idul Fitri. Zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 kilogram makanan pokok yang ada di daerah yang bersangkutan. Misalnya, di Indonesia makanan pokoknya beras, maka zakat yang dikeluarkan adalah sekitar 3,5 liter beras.
  • Zakat Mall, yaitu zakat harta yang dikeluarkan jika sudah mencapai nisab, jumlah kekayaan maksimal dan haul, batas waktu zakat.

Klasifikasi Zakat Mall

Kata maal berasal dari bahasa Arab yang berarti harta. Zakat mall dikenakan atas harta yang dimiliki individu atau lembaga berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan secara hukum. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh harta yang akan dikeluarkan, di antaranya sebagai berikut.

    • Harta tersebut dimiliki penuh oleh seseorang, bukan merupakan harta gabungan dengan orang lain.
    • Harta tersebut berpotensi untuk dikembangkan dalam usaha.
    • Mencapai nisab, jumlah kekayaan maksimal yang bisa dikeluarkan zakatnya. Bila tidak mencapai nisab, harta tersebut dianjurkan untuk menjadi sedekah.
    • Orang yang akan mengeluarkan zakat mall harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan pokoknya.
    • Harta tersebut tidaklah menjadi bagian dari hutang atau bukan sebagai pembayar utang.
  • Memenuhi syarat haul, batas waktu untuk ternak, harta simpanan, dan harta perniagaan adalah satu tahun untuk kepemilikannya. Sedangkan hasil pertanian, buah-buahan, dan barang temuan atau rikaz tidak ada batas waktunya.

Selain itu, harta yang akan dikeluarkan untuk zakat mall ada beberapa objek atau jenisnya. Objek zakat maal di antaranya adalah sebagai berikut.

    • Emas dan perak.
    • Harta perniagaan, yang didapat dari usaha individu ataupun korporasi.
    • Hasil tambang.
    • Hewan ternak.
    • Hasil pertanian.
    • Zakat profesi.
  • Barang temuan atau rikaz.

Apabila syarat dan jenis harta zakat mall sudah terpenuhi, maka zakat terseut diberikan kepada orang yang tergolong mustahik. Orang-orang yang tergolong mustahik atau yang berhak menerima zakat adalah sebagai berikut.

    • Fakir, orang yang tidak punya pekerjaan tetap dan hidupnya sengsara.
    • Miskin, orang yang punya pekerjaan, tapi tidak bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya.
    • Amil zakat, pengurus zakat.
    • Muallaf, orang baru memeluk Islam.
    • Hamba sahaya, budak.
    • Gharim, orang yang berutang.
    • Ibnu Sabil, orang-orang yang berjuang di jalan Allah, seperti misalnya orang yang sedang mengelola pesantren atau mendirikan masjid.
  • Musafir, orang yang sedang dalam perjalanan jauh dan kehabisan bekal. Perjalanan yang ditempuhnya bukan untuk tujuan maksiat.

Ajaran Hidup Sederhana dari Rasullah

Dari penjelasan di atas, jelas sudah apa yang dimaksud dengan zakat dan apa saja yang termasuk ke dalam zakat mall. Zakat tersebut tentu saja harus diniati karena Allah. Terkadang seseorang yang berlimpah harta suka melupakan pada kewajiban zakatnya. Padahal Rasullah mengajarkan kepada umatnya untuk bersedekah dan hidup sederhana.

Bersedekah, memberi dan berbagi kepada sesama memiliki tempat tersendiri dalam hati insan mulia ini. Beliau pernah menegaskan dalam hadits tentang akhlak yang disampaikannya bahwa, “Kunci kesuksesan seorang Muslim adalah kegemarannya dalam memberi dan kemampuannya dalam berempati terutama kepada mereka yang kekurangan“. (HR Thabrani)

Tinta sejarah telah menuliskan betapa Nabi Muhammad SAW merupakan seorang pendakwah yang pandai mengajak orang pada kebaikan. Beliau banyak menasbihkan hadits tentang akhlak, salah satunya akhlak dalam menyantuni anak yatim. Pada saat bersamaan, beliau pun merupakan seorang praktisi sejati.

Artinya, apa yang beliau perintahkan untuk dilakukan umatnya, niscaya akan beliau amalkan terlebih dahulu sebelum orang lain mengamalkannya, termasuk dalam hal kedermawanan. Beliau selalu memberi contoh dari hadits tentang akhlak yang diucapkannya.

Ketika wafat, Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan warisan apa-apa untuk keluarganya, selain beberapa potong pakaian usang dan sebuah baju besi yang dijaminkan kepada seorang Yahudi.

Pada masa hidupnya beliau seringkali kelaparan. Andai pun makan, apa yang dimakannya itu hanya sedikit karena sebagiannya lagi beliau sedekahkan. Beliau benar-benar menjalankan hadits tentang akhlak yang beliau ucapkan, bahkan hingga tutup usia.

Aisyah pernah berucap, “Rasulullah tidak pernah kenyang sepanjang tiga hari berturut-turut. Kalau seandainya kami mau pasti kami kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain daripada dirinya (sendiri).” (HR Baihaqi)

Nabi Muhammad SAW tidak berpakaian mewah, kecuali pakaian dari bahan kasar. Nabi Muhammad SAW pun tidak tidur, kecuali dialasi pelepah daun kurma yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi kasur. Itulah mengapa, karena kasar, “kasur” tersebut selalu meninggalkan bekas di pipi Nabi ketika beliau bangun dari tidur.

Beliau sangat takut jika di rumahnya tersisa sedikit saja harta yang belum dibagikan. Tentang hal ini, Abu Dzar bertutur. “Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah SAW di sebuah tanah lapang di Madinah, hingga di hadapan kami terlihat Jabal Uhud.”

Nabi menyapaku dan menyampaikan sesuatu, sesuatu yang kemudian menjadi hadits tentang akhlak bersedekah yang diamini, “Tidak akan pernah membuat senang memiliki emas seperti Jabal Uhud ini, jika sampai melewati tiga hari dan aku masih memiliki satu dinar, kecuali yang aku gunakan untuk melunasi utang. Jika aku memilikinya, pasti akan aku bagi-bagikan semuanya tanpa sisa dan aku katakan kepada hamba-hamba Allah begini, begini, begini (beliau mengisyaratkan arah kanan, kiri dan belakangnya)’.” (HR Bukhari Muslim).

Dari rangkaian kisah ini, dari rangkaian hadits tentang akhlak bersedekah dan kedermawanan ini, kita mungkin bertanya-tanya, kedermawanan macam apakah ini? Sebersih apakah hati orang yang mau menjalaninya? Siapa pula pemimpin yang mau hidup bersahaja sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW?

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Abdullah bin Abbas menyebut Rasulullah SAW sebagai manusia paling dermawan di antara manusia yang paling dermawan. “Kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadhan. Bagaikan angin berhembus; saking mudahnya.” (HR Bukhari)

Bagaimana mudahnya Rasulullah SAW dalam memberi dan menciptakan rangkaian hadits tentang akhlak, dapat kita simak dari penuturan seorang sahabat bernama Rabi’ binti Ma’udz bin Urfa. Ia bercerita bahwa ayahnya pernah menyuruh dia untuk membawakan satu sha’ kurma basah dan mentimun halus kepada Nabi Muhammad SAW.

Pada saat yang bersamaan, Nabi Muhammad SAW tengah menerima utusan dari Bahrain yang membawa hadiah berupa aneka perhiasan emas yang mahal harganya.

Ketika melihat Rabi’, Nabi Muhammad SAW segera mengambil emas-emas itu sampai telapak tangan beliau dipenuhi emas. Apa yang terjadi? Di luar dugaan Rabi’ binti Ma’udz, beliau memberikan emas-emas ini kepadanya. “Maka, beliau memberikan perhiasan atau emas sepenuh telapak tanganku, lalu bersabda, ‘Berhiaslah engkau dengan ini…!” (HR. Thabrani dan Ahmad).

Mengapa Rasulullah SAW demikian mudah dalam memberi? Satu dari sekian banyak jawaban adalah karena besarnya kecintaan beliau kepada Allah dan kepada umatnya. Nah, berdasarkan hadits tentang akhlak yang beliau ucapkan, kedermawanan adalah sarana yang paling pas untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan kepada semua hamba-Nya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kepemurahan dan kedermawanan akan mendekatkan diri kepada Allah Swt, kepada sesama manusia, dan kepada surga−Nya, serta akan menjauhkan dari siksa neraka.” (HR Tirmidzi).

Sebaliknya, beliau pun sangat membenci sifat kikir. Berikut ini adalah sabda Rasul yang kemudian diamini sebagai hadits tentang akhlak yang berkenaan dengan sifat kikir.

“Hati-hatilah (hindarkanlah dirimu) dari sikap kikir, sesungguhnya umat sebelum kamu itu rusak disebabkan sikap kikir. Sungguh kikir itu telah menyuruh mereka memutuskan hubungan maka mereka memutuskan, memerintahkan mereka untuk serakah, maka mereka serakah, dan menyuruh mereka untuk berbuat fujur (penyelewengan), maka mereka pun menyeleweng.” (HR Abu Dawud dan Hakim)

Demikian pengertian mengenai zakat mall dan ajaran Rasullah mengenai sedekah. Semoga uraian tersebut bermanfaat bagi Anda untuk semangat bersedekah, terutama zakat, yang selalu diniati oleh Allah.

Speak Your Mind

*