Pengalaman Melaksanakan Ibadah Umrah

Ilustrasi Pengalaman Umrah
Pengalaman umrah saya terjadi pada pertengahan April 2008. Saat itu, saya berangkat bersama bersama almarhum ayah, ibu, kakak, kakak ipar, dan adik. Rencana tersebut sudah menjadi cita-cita kami sekeluarga sejak beberapa tahun sebelumnya. Alhamdulillah, ayah memperoleh rezeki hingga kami semua bisa berangkat. Itu adalah kali pertama bagi saya, kakak, kakak ipar, dan adik pergi ke luar negeri. Jadi, kami harus membuat paspor terlebih dahulu.

Pengalaman Mendapatkan Panggilan

Apakah setiap muslim itu akan mendapatkan panggilan menuju Ka’bah? Mungkin iya, mungkin tidak. Banyak orang yang terlihat mampu, kenyataannya ia tidak berminat menuju Ka’bah dan malah menggunakan uangnya untuk berkeliling dunia dan berleha-leha serta berfoya-foya dengan apa yang ia dapatkan dari hasil kerja kerasnya. Ia merasa bahwa kebahagiaan itu adalah apabila ia bisa menerapkan konsep ‘Work hard, play hard’ dengan menggunakan hartanya menikmati dunia.

Ada juga orang yang telah berjuang mati-matian untuk mendapatkan harta demi membiayai dirinya ke Mekkah, namun, ia tidak juga mampu mendapatkan jatah melihat Ka’bah secara langsung. Dilain pihak ada yang mendapatkan kesempatan melihat Ka’bah ini dengan sangat mudah. Ia mendapatkan hadiah umroh dari orangtuanya atau mendapatkan undian dari pemerintah untuk berumroh karena dinilai telah berjasa bagi negara. Namun, apakah mereka berbahagia dan merasa sangat beruntung ketika berada di sana?

Belum tentu. Banyak juga yang merasa tidak mendapatkan kebahagiaan dan bahkan merasa sangat tersiksa. Udara yang panas dan ibadah yang begitu panjang membuatnya lelah fisik dan lelah batin sehingga waktunya banyak dihabiskan di hotel yang nyaman dan malah ‘bertawaf’ di hotel yang megah. Mereka juga berbelanja barang-barang yang dikira tak ada di Indonesia. Waktunya dihabiskan demi memuaskan waktunya untuk melihat daerah lain dan bukannya beribadah dengan khusuk dan dengan hati yang merendah kepada Sang Pencipta.

Lalu ketika kembali ke tanah air tentu saja tidak ditemukan perubahan yang berarti karena memang tempaan yang didapatkan di Mekkah bukannya tempaan yang sebenarnya. Ia tetap tidak senang dan tidak mau beribadah ke masjid. Ia juga tetap tidak mau mengubah gaya hidupnya yang glamor. Memang hidayah itu hak Allah Swt, namun, manusia hendaknya berusaha mendapatkan hidayah itu dengan kerja keras menuju keridhoan-Nya. Tidak mudah memang mendapatkan ketenangan dengan beribadah. Godaan itu banyak dan dunia terasa juah lebih indah.

Cinta dunia yang berlebihan ini membuat banyak orang merasa lelah ketika tidak meraih apa yang diinginkannya. Padahal bila hati ini lebih condong kepada akhirat, maka hati akan lebih tenang dan dunia terlihat biasa saja. Hal inilah yang dikatakan sebagai rasa bahagia yang sesungguhnya.

Perjalanan Menuju Ka’bah

Perihal agen perjalanan umrah tidak menjadi masalah yang memusingkan karena sepupu kami menjalankan bisnis tersebut di Jakarta sejak bertahun-tahun lalu. Jadi, tentu saja kami memilih perusahaannya, terlebih karena beliau pun ikut serta menemani. Tiga hari sebelum waktu keberangkatan, kami sekeluarga ke Jakarta untuk tinggal di rumah sepupu kami dan mengikuti kegiatan manasik serta berbelanja berbagai keperluan yang belum lengkap.

Selama tiga hari itu, saya dan keluarga sibuk menghafalkan doa-doa dan membaca hal-hal yang berkaitan dengan ibadah umrah. Saya banyak bertanya kepada ayah dan ibu yang telah melaksanakan ibadah haji mengenai persiapan fisik, mental, serta detail ibadah yang akan dilakukan di Tanah Suci. Ketika tiba waktunya berangkat ke Jeddah dari Bandara Soekarno-Hatta, perasaan saya sudah gugup tak karuan. Maklum, saya merasa banyak dosa dan sangat ketakutan akan memperoleh balasannya secara langsung di Tanah Suci.

Namun, saya berusaha tenang dengan meyakinkan diri bahwa ibadah ini adalah untuk memperkuat keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah. Saya berniat hendak memohon ampun kepada-Nya dan berdoa untuk kehidupan saya selanjutnya di hadapan Ka’bah.

Setelah duduk di dalam pesawat, saya mulai tenang dan menikmati perjalanan menuju Jeddah, adapun waktu perjalanan adalah 9 jam, dengan selisih waktu 4 jam. Artinya, saya take off dari Soekarno-Hatta pukul 15.45 WIB, tambahkan 9 Jam, berarti saya tiba di Jeddah pukul 23.45, dikurangi 4 Jam (perbedaan waktu), jadi tepatnya saya mendarat pukul 20.45 waktu Jeddah.

Setelah selesai urusan imigrasi dan bagasi, kami menuju bus jemputan. Di dalam bus, telah menunggu pemandu yang bekerja sama dengan agen perjalanan kami. Pemandu kami telah tinggal di Arab Saudi selama 12 tahun dan berpengalaman memandu jamaah haji serta umrah. Di Jeddah, kami menginap semalam. Esok paginya, agen perjalanan telah menjadwalkan kegiatan berbelanja di Pasar Cornish/Balad sebelum melanjutkan perjalanan ke Mekkah siang harinya.

Saat berjalan-jalan dan berbelanja di Pasar Cornish, kami sempat membeli ayam goreng tepung khas Saudi yang bernama Al-Baik. Kemudian, kami check-out dari hotel dan kembali duduk di bus menempuh perjalanan menuju Mekah. Sebelum berangkat, tak lupa kami mandi sebersih mungkin tanpa wangi-wangian, mengenakan pakaian ihram, dan bersiap mengambil miqat di tengah perjalanan.

Setiba di Mekah, kami langsung menuju hotel, menyimpan barang-barang dan langsung berangkat ke Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah. Kesan pertama saya begitu memandang Al-Haram dari luar adalah rasa takjub yang luar biasa. Saya merasa ada di alam mimpi karena akhirnya bisa melihat masjid yang agung tersebut dengan mata kepala sendiri.

Sambil memasuki masjid melalui gerbang King Abdul Aziz (ingatlah nama pintu masuk Anda, karena Anda harus keluar lewat pintu yang sama supaya tidak tersesat), kami dibimbing membaca doa-doa oleh ustadz pemandu maupun beberapa ulama yang ikut dalam rombongan. Ketika akhirnya memasuki Masjidil Haram, hati saya semakin dipenuhi rasa haru yang semakin meluap dalam bentuk air mata. Sedikit demi sedikit, Ka’bah yang agung semakin jelas terlihat.

Tubuh saya tidak kuasa berdiri tegak, demikian pula keluarga saya dan rombongan lain. Bersama-sama kami bersujud mengucap syukur karena diberi kesempatan yang luar biasa itu. Setelah melaksanakan shalat sunah dua rakaat, kami mulai melaksanakan thawaf. Bersama-sama dengan ribuan umat Islam lain, kami berjalan mengelilingi Ka’bah. Bibir mengecup tangan untuk kemudian dilayangkan ke arah Ka’bah, wujud kerinduan kami akan kedekatan dengan Allah Swt.

Thawaf

Ketika thawaf, tidak apa jika kita bersentuhan secara tidak sengaja dengan orang-orang yang bukan muhrim karena memang demikian keadaannya. Seusai thawaf, kami shalat dua rakaat di hadapan Ka’bah, namun agak ke bagian pinggir. Air mata terus berderai selama melaksanakan shalat tanpa bisa dibendung. Ketika berdoa, saya memohon keridhaan Allah Swt untuk mengampuni dosa-dosa saya, keluarga, dan semua orang yang saya sayangi. Tak lupa membacakan titipan doa yang diberikan teman-teman dan saudara di Tanah Air.

Aktivitas lainnya adalah sa’i, yaitu berlari-lari kecil di antara bukit Shafa dan Marwah yang berada di lokasi Masjidil Haram. Kami harus berlari bolak-balik sebanyak 7 kali sambil membaca doa-doa. Subhanallah, meski orang-orang berdesakan, udara panas, kami bisa menyelesaikan sa’i dengan lancar secara bersama-sama. Setelah itu, kami melakukan tahallul, yaitu memotong sejumput rambut kepala.

Kami tinggal di masjid hingga tengah malam untuk shalat fardhu, shalat sunah, dan membaca Al-Quran. Rasanya damai sekali, dan hati terasa tenang mengetahui kami memiliki cukup banyak waktu untuk beribadah di tempat paling luar biasa di dunia ini. Kami tinggal di Mekah selama kurang lebih 4 hari dan berkesempatan melaksanakan umrah sebanyak 3 kali. Agen perjalanan sangat berbaik hati mengantarkan kami ke tempat-tempat pengambilan miqat sambil melakukan wisata ke beberapa lokasi seperti Jabal Tsur, Jabal Uhud, Pasar Qurma, dan sebagainya.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Madinah, Kota Rasulullah Saw. Di kota Sang Nabi, kami menghabiskan sebanyak mungkin waktu di Masjid Nabawi karena kunjungan ke Madinah hanya 2 hari. Tidak lupa, kami mengunjungi Raudhah untuk berdoa di sana. Suasana Masjid Nabawi sangat menyejukkan dan menenteramkan, membuat kami merasa dekat dengan Nabi Muhammad yang mulia.

Tak lupa, kami pun mengunjungi Masjid Quba dan beberapa tempat bersejarah lainnya di Madinah sebelum berangkat ke Jeddah untuk kembali ke Indonesia. Hari-hari yang kami habiskan di Tanah Suci memang tidak panjang, tetapi tentunya akan selalu tersimpan di dalam hati sebagai perjalanan yang paling indah. Alhamdulillah

Speak Your Mind

*