Perjuangan dalam Film Garuda Di Dadaku

Ilustrasi film garuda didadaku
Garuda adalah lambang Negara kita. Emblem dengan logo garuda yang disematkan dalam seragam nasional pemain sepakbola Anak-anak U-13, membuat Bayu (yang dimainkan oleh Emir Mahira) berusaha mati-matian untuk menjadi pemain sepakbola handal. Dalam film Garuda Di Dadaku, kita dapat merasakan aroma perjuangan sang Bayu yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. Apapun itu, yang namanya perjuangan adalah sesuatu penghargaan pada kehidupan. Tanpa perjuangan, artinya tanpa kehidupan.

Motivator

Setiap waktu ada saja berita yang mengabarkan adanya orang yang frustasi lalu bunuh diri. Padahal melihat keadaannya secara fisik, tidak ada yang kurang. Kelihatan hidup bahagia bersama dengan keluarga. Tinggal di perumahan elit dengan mobil yang bagus dan penuh dengan prestise. Kedudukan sebagai direktur perusahaan bonafid. Dikenal taat beribadah dan senang bergaul. Tetapi lantas ditemukan menggantung di rumahnya dan dipastikan bunuh diri dengan segala ciri-ciri yang melekat pada orang yang mati bunuh diri.

Mungkin perkiraan orang bahwa kehidupan yang mapan itu membahagiakan. Ternyata ada juga yang merasa tidak bahagia. Kecukupan yang dirasakannya malah membuat hatinya berlubang yang terasa hampa. Ia merasa tidak harus berjuang lagi. Ia tidak mampu mengembangkan sisi dirinya sebagai manusia yang harus melakukan banyak hal agar bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia melihat dunia ini begitu mudah sehingga ia ingin meninggalkan dunianya.

Tidak setiap kemudahan lalu menimbulkan kebahagiaan. Dalam penderitaan dan perjuangan itulah terdapat kebahagiaan. Ada rasa lengkap ketika mampu mendapatkan keberhasilan sekecil apapun itu. Beberapa film memang lantas menggambarkan perjuangan ini dengan cukup dramatis. Terkadang ada rasa iba. Namun, percayalah bahwa ketika keyakinan apa yang akan diraih memang ada di ujung penantian dari perjuangan panjang, maka semangat meraihnya tak akan terbendung lagi.

Semua upaya dan tenaga dikerahkan demi mendapatkan apa yang dicita-citakan. Bagi orang lain, cita-cita itu mungkin bukan dianggap sebagai sesuatu. Berbeda dengan orang yang memang mengharapkannya. Ia tidak peduli apa kata orang. Yang ada di benaknya adalah bagaimana ia meraih apa yang diharapkannya. Misalnya, di dalam sebuah film dengan judul Eagle. Film itu mengungakapkan betapa sebuah simbol negara yang dilambangkan dengan bongkahan yang berwujud burung elang telah membuat harga diri seseorang hancur.

Bagi orang lain, bongkahan logam itu hanya seonggok logam. Tetapi bagi orang Roma, itulah harkat dan martabatnya. Inilah sesuatu yang harus diambil pelajaran. Pembelaan kepada negara itu adalah pembelaan pada harga diri sendiri sehingga harus diperjuangkan dengan saksama. Bagi seorang atlit, mengenakan seragam timnas itu adalah sesuatu yang sangat membanggakan. Latihan yang keras dihadapi demi memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara.

Film dengan judul Garuda di Dadaku ini berhasil menggambarkan bahwa ada satu kebanggaan yang tak bisa terlukiskan ketika mampu membela tanah air lewat olahraga. Seorang anak yang masih belia begitu inginnya menancapkan lambang garuda itu di dadanya. Rasa cinta ini luar biasa. Cinta itu bisa melesatkan orang biasa menjadi luar biasa. Tak terkirakan bagaimana cinta ini mampu membuat satu lompatan quantum yang dahsyat.

Kedahsyatan cinta itu mungkin bisa juga digambarkan lewat orang-orang yang begitu taat kepada Allah Swt. Mereka bangun ditengah malam ketika orang lain sedang terlelap tidur. Mereka bermunajad dengan khusuknya. Tidak salah kalau orang-orang yang melakukan sesuatu yang lebih dari orang lain akan dibalas dengan sesuatu yang lebih besar pula. Ini adalah satu hukum alam yang tidak bisa diputus. Ketika ada kerja keras dan keyakinan, maka keberhasilan ada di situ.

Kalaupun di dunia tidak mendapatkan apa yang diinginkan, yakinlah bahwa tidak ada yang sia-sia di sisi Tuhan. Semua ada perhitungannya sehingga orang yang terlihat tidak mampu melakukan apa-apa karena keterbatasannya, ia mungkin adalah mahluk yang sangat disayangi oleh Tuhannya karena ketaatan dan kesabarannya menerima semua yang telah digariskan. Keberadaannya memberikan keberkahan pada tempat tinggalnya sehingga ketika ia meninggal dunia, tempat itu malah tidak seindah sebelumnya.

Tidak ada seseorang pun yang boleh meremehkan orang lain bagaimanapun bentuknya. Tidak ada yang tahu kedudukan seseorang di sisi Tuhannya. Siapa tahu orang yang tidak dianggap itu malah mempunyai keimanan yang sangat luar biasa sehingga doanya terijabah dengan sangat mudah. Sedangkan orang yang dianggap sangat baik dan sangat beriman, ternyata bukan orang yang baik di sisi Tuhannya. Ia mungkin saja melakukan kebaikan demi manusia dan bukan demi Tuhannya.

Film Garuda di Dadaku ini cukup baik menampilkan sisi kemanusiaan seorang anak dengan segala cita-cita dan kemampuannya dalam meraih cita-citanya. Sekuel dari film ini pun menarik untuk disimak sehingga menjadi salah satu tontonan yang lumayan bagus. Tidak hanya anak-anak yang bisa mendapatkan hikmahnya, orangtua dan orang dewasa lainnya pun bisa mendapatkan kebaikan dari film satu ini.

Alur Cerita

Perjuangan Bayu dalam  film dengan judul Garuda Di Dadaku dimulai ketika Kakeknya (diperankan oleh Ikranagara) melarang keras Bayu bermain bola dan memangkas cita-cita Bayu menjadi pemain bola nasional. Kakeknya ingin agar Bayu menjadi orang sukses dan memasukkan Bayu ke dalam berbagai kursus. Almarhum Ayah Bayu sendiri dahulu adalah pemain sepakbola dan gagal sehingga harus banting tulang mencari uang menjadi supir taksi. Itulah sebabnya sang Kakek selalu beranggapan bahwa pemain bola hanya akan menjadi orang miskin.

Trauma tersebut tidak hanya terjadi dalam film. Banyak orang yang mengalami hal yang sama sehingga ia takingin hal itu terjadi pada anak dan turunannya. Padahal, dunia ini berputar dan kehidupan ini selalu berubah. Tidak ada satu kekekalan yang abadi. Perubahan itulah yang membuat dinamika kehidupan menjadi sangat menarik. Para pembuat film sangat pandai dalam merekam jejak kehidupan yang dialami oleh masyarakat sehingga kisah dalam film bisa dekat dengan kisah dalam alam nyata.

Kedekatan emosional inilah yang membuat banyak penonton mampu menitikan air mata tanpa disadarinya. Penonton pun bisa sangat membenci sesuatu yang ditampilkan oleh karakter tertentu karena memang mungkin karakter itu ada di dalam kehidupannya yang sebenarnya.

Beruntungnya Bayu mempunyai sahabat bernama Heri (yang diperankan oleh Aldo Tansani). Meskipun cacat, Heri sangat menyukai sepakbola dan ia mendukung cita-cita Bayu. Heri pun menjadi manager Bayu dan selalu membantu Bayu untuk latihan. Bayu sering menggiring bola melintasi gang demi gang sempit sampai tiba di lapangan tenis. Di sana Bayu sering berlatih bermain bola. Heri juga suka menyembunyikan aktivitas latihan bola Bayu dari Kakeknya Bayu. Persahabatan mereka inilah yang menjadi bumbu manis dalam kisah di Garuda Di Dadaku.

Di saat semangat Bayu sedang turun, Herilah yang memberikan support begitu besar, sehingga Bayu bisa bangkit dan terus berjuang. Sampai akhirnya Bayu bertemu dengan Johan, pelatih sekolah sepakbola, Arsenal. Pelatih itu diperankan oleh Ari Sihasale. Maka dari sinilah, pintu cita-cita Bayu terbuka. Tetapi Bayu harus lebih keras berlatih demi menjadi pemain sepakbola nasional dalam film penuh gelora, Garuda Di Dadaku ini.

Behind The Scene

Film Garuda Di Dadaku yang skenarionya ditulis oleh Salman Aristo dan diproduseri oleh Shanty Harmayn ini masih terasa unsur sinetronnya di bagian awal. Pemain terlihat bermain dengan kaku. Kebosanan di 45 menit pertama film berhasil diselamatkan oleh akting Bang Dullah yang diperankan oleh Ramzi. Namun di 45 menit setelahnya, film terasa utuh dinikmati.

Secara keseluruhan, alur cerita  Garuda Di Dadaku sudah apik dan didukung oleh cinematography yang bagus. Soundtrack film yang diramu oleh duo pasangan musisi Aksan dan Titi Sjuman membantu film ini terlihat sangat hidup. Lagu berjudul ‘Garuda Di Dadaku’ yang dinyanyikan oleh Netral semakin membuat semangat perjuangan Bayu di lapangan hijau, lebih terasa.

Buat Anda sekeluarga yang ingin membawa anak-anak ke bioskop, Anda bisa menjadikan film dnegan judul  Garuda Di Dadaku ini sebagai alternatif. Semoga film-film anak yang bermutu bisa terus maju dan menjadi tuan di negeri sendiri. Setelah film anak Laskar Pelangi, semoga Film ini juga bisa menginspirasi dan meningkatkan semangat nasionalisme.

Speak Your Mind

*