Perkembangan Jurnal Sastra

Pekembangan sastra Indonesia saat ini cukup dinamis. Banyak sekali penulis muda berbakat yang bermunculan saat ini. Salah satu cirinya adalah banyaknya buku-buku teenlit yang bertebaran di toko-toko buku.

Kebanyakan penulis tersebut masih berusia belia. Bahkan, ada yang masih duduk di bangku SMA. Karya mereka memang hanya bisa dikategorikan sastra poluper yang mencerikan hal-hal sederhana dengan persoalan keseharian mereka. Namun, sudah selayaknya kita acungkan jempol untuk mereka karena tidak semua orang bisa menulis. Apalagi, fiksi yang membutuhkan daya imajinasi tinggi.

Lantas, apa sih perbedaan sastra serius dan sastra populer? Kenapa mesti ada dua istilah yang membedakan sebuah karya sastra? Toh, sama-sama sebuah narasi fiksi.

Sastra serius adalah karya sastra yang menceritakan sebuah kasus dengan lengkap dan uraian-uraian bermutu dengan latar budaya yang jelas. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang baik dan benar atau menggunakan bahasa keseharian dengan idealis tertentu.

Contoh karya-karya sastra serius adalah karya-karya Ahmad Tohari dengan Ronggeng Dukuh Paruk, Seno Gumira Adjidarma dengan Kitab Omong Kosong, Putu Wijaya dengan novelnya Tiba-tiba Malam, Oka Rusmini dengan Kenanga,dan Ayu Utami dengan Larung dan Saman.

Sastra serius biasanya membahas sebuah persoalan dari kacamata intelektualitas yang dilihat dari berbagai sudut pandang sehingga ketika membacanya kita membutuhkan pemikiran yang serius dalam mencerna masalah yang dibahas dalam prosa fiksi tersebut.

Sastra populer adalah karya sastra yang menceritakan kehidupan sehari-hari, masalah pribadi atau keluarga yang bisa dipecahkan dalam novel itu sendiri. Bahasa yang digunakan biasanya bahasa keseharian yang digunakan komunikasi lisan antarindividu, terutama bahasa remaja. Yang menggunakan istilah ‘elo’ dan ‘gue’ dalam menggunakan sudut pandang sebuah novel.
Meskipun demikian, banyak juga sastra populer yang tidak menggunakan bahasa tersebut. Salah satunya adalah karya-karya Mira W dan Agnes Jesica, pengarang sastra populer yang cukup terkenal dan banyak disukai masyarakat.

Cerita-cerita yang dihadirkan tidak begitu kompleks yang membutuhkan pemikiran berat atau pemecahan filsafat. Cerita yang dibawakan lebih santai dan sifatnya sebagai hiburan meskipun tidak menutup kemungkinan dalam sastra populer pun banyak pesan moral dan informasi yang dapat kita terima.

Sekarang orang lebih mudah lagi untuk mempubilasikan karyanya. Jika dulu berbicara soal jurnal sastra, berarti kita membahas majalah Horizon.Majalah sastra Indonesia sekarang berbicara jurnal sastra lebih luas lagi karena dalam mempublikasikan sebuah karya tidak perlu menunggu kebijakan redaktur media cetak agar karya kita dimuat.

Sekarang, kita bisa membuat blog sendiri dan sebarkan melaui facebook atau twiter.Dengan demikian, karya kita akan banyak dibaca masyarakat. Bahkan, bukan hanya masyarakat Indonesia, melainkan masyarakat dunia.

Salah satu web yang menampung berbagai macam karya sastra adalah www.jurnal-sastra.blogspot.com. Dalam web tersebut, termuat berbagai macam karya sastra. Bahkan, dari para sastrawan Indonesia. Mulai drama, cerpen, puisi, esai, artikel, dan makalah yang berkaitan dengan sastra Indonesia. Di sana juga selalu termuat banyak informasi mengenai perkembangan sastra Indonesia.

Artikel-artikel yang berkaitan dengan karya sastra yang dimuat di media cetak. Anda bisa mencarinya di media massa yang terbit hari Minggu karena biasanya artikel tentang budaya, seni sastra, terbit hari itu.

Kompas bisa Anda jadikan sebagai barometer perkembangan cerpen Indonesia karena cerpen-cerpen yang dimuat di Kompas adalah cerpen-cerpen yang berkualitas baik sesuai dengan kaidah sastra serius.
Selanjutnya adalah Media Indonesia, Pikiran Rakyat, dan Koran Tempojuga selalu mengadirkan karya-karya sastra dari seorang penulis yang baik.

Biasanya, setiap hari Minggu di kolom budaya tidak hanya cerpen dan puisi yang dibuat, tetapi juga menghadirkan kritis sastra dari para sastrawan yang bisa Anda jadikan referensi untuk kepentingan akademis.
Jadi, sekarang Anda tidak perlu repot untuk mencari jurnal sastra, cukup membaca koran Minggu atau Anda bisa melihat di media online tentang perkembangan sastra Indonesia.

Cerpen Sastra dalam Jurnal

Perkembangan dunia media massa memberikan peluang yang sangat besar kepada dunia sastra untuk lebih terjun lagi mendekatkan masyarakat ke dalam dunia sastra.

Berbagai cerpen koran biasanya memiliki persyaratan tertentu untuk bisa menjadi salah satu cerita pendek yang memenuhi kriteria sebuah media massa. Misalnya saja, sebuah koran atau media massa berbasis sastra akan lebih memilih karya sastra yang bersifat serius daripada karya sastra yang bersifat popular.

Hal tersebut disebabkan oleh animo masyarakat yang telah menilai karya sastra sebagai bentuk dan bagian dari media massa saat ini. Bahkan di dalam koran, bentuk karya sastra cerpen lebih ditekankan pada tema-tema yang religius, spiritual, dan lebih menekankan makna kehidupan dibandingkan hanya sekadar bercerita tentang keindahan atau kesenangan semata.

Beberapa karya juga biasanya dipilih karena mampu melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Sebagai contoh, belanja dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu hal yang lumrah dan wajar. Namun, dalam sebuah karya sastra, belanja bisa dikaitkan dengan emosi seseorang atau bahkan imajinasi seseorang mengenai hal tersebut.

Imajinasi yang dihadirkan dalam karya sastra serius pun biasanya jauh lebih dalam dan liar dibandingkan dengan imajinasi yang biasa dikeluarkan di dalam karya sastra popular. Itu sebabnya, orang atau pembaca harus teliti dalam memahami karya yang dibacanya.

Beberapa koran atau majalah sastra juga biasanya membatasi jumlah karakter dalam pembuatan cerpen. Kebanyakan dari mereka menetapkan jumlah karakter minimal 1000 untuk setiap cerpen yang masuk. Sementara itu, untuk mengisi kolom puisi, majalah atau koran sastra biasanya membatasi satu sampai empat puisi dalam setiap kolomnya.

Berbagai Kriteria Karya Sastra dalam Media

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, karakter dan kriteria tiap media massa tidak menentukan baik atau buruknya sebuah karya. Hal tersebut bergantung pada selera dari redaksi media massa tersebut sehingga karya yang memiliki cerita yang baik namun memiliki tema yang tidak masuk dalam kriteria suatu media tidak akan dimuat di media massa tersebut.

Beberapa karya biasanya lebih memilih tema yang sederhana namun dengan pengemasan yang menarik dan sastrawi. Namun, ada juga media yang memilih karya dengan tema yang serius tapi disajikan dengan kalimat atau kata-kata yang lugas dan mudah dipahami oleh pembaca.

Beberapa jurnal sastra juga ada yang berbasis religius sehingga karya yang dipilih adalah karya yang memiliki tendensi untuk menyatukan pembaca dalam karya sastra memahami makna religiusitas yang terhidang di dalam karya tersebut.

Tidak menutup kemungkinan jika karya yang diterima oleh media tersebut adalah karya yang bersifat dakwah dan menanamkan nilai-nilai agama di dalamnya sehingga pembaca menangkap maksud penulis dalam memberikan informasi mengenai nilai-nilai agama tersebut.

Sebuah koran atau majalah yang berbasis politik juga biasanya lebih memilih karya yang memiliki tema politik sehingga pembaca bisa memahami berbagai informasi di dunia politik secara tidak langsung dengan membaca karya sastra tersebut.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa setiap koran, majalah, atau media massa apapun memiliki karakter dan kriteria masing-masing untuk memilih karya sastra yang hendak dimuat. Oleh sebab itu, penulis yang hendak mengirimkan karya ke media massa sebaiknya mengetahui terlebih dahulu tema dan basis dari media massa tersebut agar karya yang dikirimkan bisa sesuai dengan kehendak redaksi media.

Speak Your Mind

*