Perselingkungan dan Warna Harmonis Rumah Tangga

Setiap pasangan suami istri yang menikah tentunya berharap perkawinannya akan bahagia, langgeng, dan dapat berlangsung selamanya. Masing-masing akan menjalankan tugas dan perannya berdasarkan kesepakatan yang dibangunnya. Keluarga bahagia dengan penuh warna harmonis tentu menjadi dambaan setiap orang yang berumahtangga.

Tantangan yang akan dihadapi pasangan suami istri tentunya tidak bisa dianggap sebelah mata. Banyak konsultan pernikahan yang menyatakan beratnya tantangan yang dihadapi pasangan suami istri pada 1 hingga 3 tahun pertama pernikahan. Masalah ini bukan saja menyangkut perbedaan dua pribadi yang menyatu dalam satu rumahtangga, melainkan juga dipengaruhi berbagai factor di luar mereka. Terutama ancaman pengaruh perselingkungan.

Peningkatan Gugat Cerai

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah perceraian yang terjadi memperlihatkan gejala yang terus meningkat. Bukan hanya di kota besar, bahkan kecenderungan ini juga terjadi di daerah yang jauh dari pengaruh modernism. Menariknya, dari jumlah perceraian yang ada, jenis gugat cerai yang diajukan pihak istri jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan cerai talak yang diajukan pihak suami.

Fenomena ini tentu harus ditanggapi dengan semestinya dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Apalagi dampak dari setiap perceraian tentu saja pada anak-anaknya. Banyak kajian yang menemukan dampak buruk terhadap tumbuh kembang akibat berpisahnya orang tua mereka. Tak sedikit pula anak-anak yang mengalami gangguan kepribadian (split personality) akibat hilangnya warna harmonis yang selama ini telah mereka rasakan.

Peringkat Utama

Dari sejumlah penelitian ditemukan bahwa perselingkuhan merupakan penyebab utama dalam kasus perceraian maupun pertikaian dalam rumah tangga. Masalah ini tercatat sebanyak separuh dari jumlah kasus yang ada. Sedangkan penyebab perceraian lainnya adalah komunikasi terputus, pertengkaran yang berkepanjangan, problem ekonomi, dan persoalan poligami.

Besarnya jumlah kasus perceraian akibat perselingkungan memperlihatkan makin mudahnya orang melanggar komitmen rumah tangga. Ikatan sakral suami-istri yang terbangun melalui perkawinan semakin terkikis dan tidak lagi memiliki pengaruh dalam rumah tangga. Bahkan fungsi perkawinan sebagai pagar normatif tak lagi dipandang sebagai tameng atau pelindung terhadap perbuatan tercela, seperti perselingkuhan.

Namun fenomena perselingkuhan juga memperlihatkan gambaran yang cukup kompleks karena masalah ini tidak hanya berhubungan dengan unsur kejenuhan rumahtangga. Perselingkungan, dalam banyak kasus, juga bukan sekadar didorong masalah libido ataupun fantasi seksual belaka. Selain akibat pengaruh dari luar yang memang sangat luar biasa besar, perselingkungan juga melibatkan kondisi psikologis dan persepsi mereka tentang pernikahan.

Selain itu perselingkuhan juga berhubungan dengan pola asuh dalam keluarga yang turut berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian suami atau istri. Dari sejumlah kajian juga ditemukan adanya korelasi atau hubungan antara perselingkungan dengan persoalan lain, seperti ekonomi, perjudian dan penggunaan obat-obat terlarang dan narkoba. Karena begitu kompleksnya persoalan perselingkungan, tidak akan bijak bila kita hanya menuduh salah satu pihak sebagai penyebabnya. Warna harmonis rumah tangga tentu saja harus datang dari kedua pihak, yaitu suami dan istri. Sehingga kekuatan ikatan rumah tangga harus dibangun secara bersama-sama oleh suami istri dari sejak dari awal pernikahan.

Kiat-kiat Membina Warna Harmonis Rumah Tangga

Untuk membina rumah tangga harmonis memang diperlukan banyak pengorbanan. Apalagi jika Anda dan pasangan memiliki karakter dan kebiasaan hidup yang berbeda. berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membina hubungan rumah tangga yang harmonis.

1.    Saling Memberi, Saling Menerima, Tanpa Paksaan

Memberi dan menerima di sini tentu saja dalam hal kebaikan. Jika salah satu memiliki kekurangan, maka yang lain bertugas untuk memberikan pengarahan yang baik kepada pasangan agar bisa melakukan hal yang lebih lagi. Kekurangan dan kelebihan di sini tentu bukan terletak pada persoalan materi.

Sebagain orang yang hidup dengan wawasan yang luas tentu akan memahami bahwa dalam sebuah hubungan, diperlukan komitmen untuk bisa saling memberi dan menerima. Oleh karena itu, dalam sebuah biduk rumah tangga juga diperlukan kelapangan dada untuk bisa menerima apa yang diberikan oleh pasangan.

Jika pasangan menuntut sesuatu yang merupakan hal yang baik, maka Anda tidak perlu segan untuk menerima sesuatu tersebut. anda bahkan memiliki kewajiban untuk melengkapi apa yang diberikan oleh pasangan Anda tersebut.

Dalam sebuah rumah tangga, perselisihan memang tidak bisa dihindari. Namun, jika perselisihan itu terus-menerus dianggap sebagai suatu hambatan bagi Anda dan pasangan untuk bisa membuat rumah tangga menjadi harmonis, maka Anda perlu untuk meminimalisasi perselisihan yang terjadi.

Niat untuk berubah menjadi lebih baik dengan menerima kelebihan pasangan, menerima nasihat dan saran dari pasangan, merupakan hal yang penting dalam biduk rumah tangga. Anda bersedia menerima apa pun dari pasangan, maka Anda pun harus siap untuk memberikan sesuatu yang juga baik kepada pasangan Anda.

Dengan begitu, perubahan ke arah yang lebih baik pun akan lebih mudah untuk diwujudkan jika dibandingkan Anda yang masih keukeuh dengan segala sesuatu yang Anda pikirkan dan rasakan. Perubahan yang dirasakan tersebut tidak hanya akan mengubah diri Anda menjadi lebih baik, tapi juga mengubah banyak hal dari hubungan Anda dan pasangan. Oleh sebab itu, jangan segan-segan untuk memberi dan menerima!

2.    Perbaikan dan Pengendalian Diri

Untuk bisa menjadi lebih baik, dibutuhkan pula tindakan dan langkah yang lebih dari sekadar memberi dan menerima, yakni memperbaiki diri dan mengendalikan diri dalam banyak hal.

Banyak pasangan yang mendadak runtuh hubungannya hanya karena satu di antara keduanya, atau bahkan kedua-duanya, memiliki rasa gengsi yang tinggi untuk bisa memperbaiki diri menjadi seseorang yang lebih baik. Selain itu, kebiasaan dalam melakukan hal-hal di luar keinginan pasangan juga bisa menjadi pemicu retaknya suatu hubungan.

Oleh karena itu, perbaikilah diri Anda sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh pasangan. Hal ini tentu akan membuat diri Anda dan pasangan menjadi lebih bahagia. Menuruti tindakan yang diminta oleh pasangan bukanlah suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Anda bahkan bisa merasakannya sebagai bentuk cinta kepada pasangan.

Sementara itu, pengendalian diri yang harus dilakukan adalah untuk berhenti menjadikan diri Anda sebagai pusat dari apa yang seharusnya dilakukan. Anda harus mulai belajar memahami bahwa apa yang Anda dan pasangan pikirkan, rasakan, dan lakukan seharusnya dipusatkan pada diri Anda berdua, bukan pada salah satu pihak saja.

Hal itu tentu perlu dilakukan karena pada saat menikah, Anda dan pasangan bukan lagi menjadi orang atau individu yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang wajib dimengerti dan dipahami satu sama lain untuk bisa mewujudkan tujuan hidup yang searah.

Misalnya saja, Anda yang biasa pulang larut malam ketika belum menikah, tentu harus terbiasa menjaga waktu bermain bersama teman-teman Anda karena sudah ada pasangan yang menunggu di rumah. Atau para perempuan yang biasanya tidak pernah memasak, tentu harus bisa memasak ketika suami pulang bekerja.

Bukan hanya itu, pengendalian diri yang baik juga perlu dilakukan denagn jalan yang baik dan menggunakan segala sesuatu untuk kepentingan bersama. Selain itu, ketika Anda marah, kesal, ataupun merasa tidak enak hati, hindarilah perlakuan yang buruk seperti marah-marah atau membentak pasangan karena dengan melakukan hal tersebut, pasangan akan merasa tidak dihargai.

Speak Your Mind

*