Puisi Sosial Rendra – Rajawali

Ilustrasi puisi sosialPuisi sosial merupakan sebuah puisi yang dipersembahkan khusus untuk kehidupan sosial di Indonesia ini. Banyak kisah yang bisa dituangkan dalam bait puisi. Perjalanan kehidupan sosial kita yang selalu mengalami perubahan sejak zaman penjajahan, dapat terbaca dalam deretan bait puisi.

Ketidakadilan yang dirasakan sebagian masyarakat Indonesia, terutama dalam hal mendapatkan kehidupan layak, seakan membuka mata kita bahwa kita telah mengabaikannya selama ini. Telah berulangkali kita mendengar masih banyak masyarakat yang belum merasakan kehidupan yang sejahtera, tapi tak terlihat wujud peduli yang nyata.

“Diam adalah emas”. Pepatah ini merupakan pepatah yang sangat populer, tapi jika diam yang dilakukan tidak melakukan apa-apa, sama saja dengan membiarkan keadaan semakin tidak kondusif.

Puisi sekiranya bisa Anda tempuh untuk menyampaikan kritik yang cerdas terhadap keadaan sosial kita. Membuat kritik yang cerdas melalui sebuah puisi merupakan cara yang cukup elegan dan modern. Bahasa puisi yang sarat makna dan tajam, seakan bisa menggugah nurani.

Seperti apa kritik cerdas untuk keadaan sosial kita melalui sebuah puisi? Apakah berisi semua aspirasi, keberatan, protes kita belaka? Mengkritik melalui puisi tak perlu secara lugas, tetapi bisa dengan menggunakan bahasa kiasan, seperti yang bisa Anda lihat dalam puisi sosial berikut ini.

Bentuk Puisi Sosial Rendra

Di dalam kehidupan ini, di negara yang menganut sistem demokrasi, sebuah kritik sosial dapat diungkapkan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui sebuah karya sastra berupa puisi. Berikut ini contoh kritik sosial berupa puisi karya Rendra.

Satu sangkar dari besi
Tak bisa mengubah Rajawali
Menjadi burung nuri.

Satu luka perasaan
Maki puji dan hinaan
Tak merubah sang jagoan
Menjadi makhluk picisan

(Rajawali-Kantata Takwa, diadaptasi dari puisi sosial “Rajawali” karya WS Rendra)

Makna Puisi Sosial Rendra

Apa persamaan antara burung rajawali dan air raksa? Burung rajawali dikenal sebagai burung yang kuat, bermata tajam, bercakar runcing, dan berparuh kokoh. Oleh karenanya sejak lama Rajawali disimbolkan sebagai “sosok kuat pembela kaum papa”.

Sulit untuk menundukkan dan menjinakkan rajawali. Walaupun ia dikerangkeng dalam sangkar besi, rajawali tetaplah rajawali. Matanya tetap tajam, paruhnya tetap runcing dan cakarnya tetap kokoh.

Manusia rajawali adalah manusia yang bermata tajam sehingga dapat menyaksikan kedzoliman dan ketidakadilan yang menerjang banyak orang. Ia dapat langsung menukik dengan gerakan yang cepat dan tak terduga untuk membela mereka yang terluka.

Ia tak segan menggunakan paruh dan cakarnya untuk menolong kaum yang papa meski harus mempertaruhkan nyawanya. Bila akhirnya harus dipenjara, rantai kasar dan jeruji besi takkan bisa merubahnya menjadi burung nuri.

Hanya sedikit sosok manusia seperti rajawali ini, kebanyakan mereka seperti nuri yang jinak setelah dimasukkan ke dalam sangkar. Sikap kritis dan vokal sebelumnya seolah sirna, pembelaannya terhadap kebenaran dan keadilan seolah terlupa.

Kekuatan, semangat dan idealismenya tereduksi dengan sempurna, sehingga kini sekan menjadi manusia amnesia. Lain halnya dengan raksa. Raksa lazim digunakan sebagai bahan pengisi termometer, karena sifat alamiah yang dimilikinya.

Raksa memiliki rentang yang jauh antara titik didih dan titik bekunya, sehingga wujud raksa tidak mudah berubah wujud untuk membeku atau menguap. Raksa juga memiliki massa jenis yang besar, sehingga kuat menghadapi tekanan atmosfer. Bila ia mengembang tak terlalu panjang, bila menyusut tak terlalu pendek.

Di samping itu kalor jenis yang dimilikinya tergolong kecil, sehingga raksa cepat tanggap terhadap lingkungannya. Perubahan suhu sedikit saja sudah membuatnya bereaksi dengan cepat.

“Tidak mudah berubah wujud, kuat menghadapi tekanan, namun cepat tanggap terhadap lingkungan”, alasan inilah yang menjadikan raksa digunakan sebagai bahan pengisi termometer.

Tiga sifat itu pulalah yang merupakan kesamaan antara rajawali dan air raksa. Sama halnya dengan kita, manusia. Pribadi-pribadi yang berkarakter kuat dan tahan menghadapi tekanan niscaya akan lebih teruji zaman.

Lain halnya dengan orang-orang bertipikal bunglon, kutu loncat, dan pragmatis yang hanya mencari aman demi kesenangan dirinya sendiri. Orang seperti ini hanya akan tampil sesaat, tidak langgeng dan akan terhempas zaman.

Para politisi yang gemar loncat pagar, pengusaha yang gemar main belakang, jaksa yang suka bermain kasus, penegak hukum yang suka melecehkan hukum, para penjilat yang hipokrit, owner dan kaki tangannya yang suka sekehendaknya, semuanya adalah orang-orang yang bertipikal termometer air.

Mereka sangat mudah untuk berubah wujud, di saat dingin mereka membeku di saat panas mereka menguap. Tak kuat menghadapi tekanan dan godaan, senantiasa merugikan karena memiliki tabung panjang untuk menyenangkan handai taulan.

Pramudya Ananta Toer, Che Guevara, M. Natsir, dan Hasan Al Banna adalah sosok yang tepat untuk mewakili orang bertipikal termometer raksa. Mereka adalah manusia-manusia yang tidak mudah berubah wujud. Dingin tak membuatnya membeku dan takut, panas tak menjadikannya lari dan menguap. Mereka tak bisa dibeli karena punya prinsip. Walau harus dicekal, dipenjara, diasingkan, diburu, dan dibunuh, tapi tetap tak tergoyahkan.

Tentang W.S. Rendra

Rendra adalah seorang sastrawan Indonesia yang melegenda. Rendra mulai terlihat bakatnya ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama. Pada waktu itu, ia mulai menunjukkan kemampuan menulis karya sastra dengan menghasilkan puisi, cerita pendek, dan naskah drama untuk berbagai kegiatan di sekolahnya.

Selain itu, Rendra juga berbakat di atas panggung dengan menampilkan karya dramanya dan ia juga tampil untuk membacakan puisi karyanya sendiri. Karyanya tersebut dinilai sangat bagus oleh para penonton.

Pada tahun 1952, Rendra pertama kali mempublikasikan puisinya di media massa melalui majalah “Siasat”. Kemudian, karya-karya puisinya yang lain pun ikut menghiasai berbagai majalah pada saat itu, seperti pada majalah Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Karya-karya Rendra sejak saat itu terus mengalir sampai dekade selanjutnya. Terutama pada majalah tahun 60-an dan 70-an yang saat itu terbit.

Selain puisi, Rendra juga dapat menghasilkan karya sastra lainnya, yaitu drama. Drama yang pertama kali dipertunjukkan adalah drama yang berjudul “Kaki Palsu” yang ditampilkan ketika ia di bangku SMP.

Pada waktu Rendra duduk di bangku SMA, drama yang berjudul “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah karya drama Rendra pertama yang mendapatkan sebuah penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Penghargaan yang di dapatkan oleh Rendra tersebut menjadi pemicu untuk terus menghasilkan karya-karya baru yang bagus dan berkualitas.

Di dalam buku Sastra Indonesia Modern II, tahun 1989, Prof. A. Teeuw berpendapat bahwa dala sejarah kesustraan Indonesia modern, Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok angkatan ’45, angakatan ’60, atau angkatan ’70. Akan tetapi, Rendra memiliki kepribadian dan kebebasannya sendiri dari hasil karya-karyanya.

Rendra menghasilkan karya sastra yang berkualitas, sehingga karya-karyanya terkenal di luar negeri. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya karya sastra Rendra yang dterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India. Selain itu, Rendra juga aktif dalam mengikuti banyak festival di luar negeri. Festival tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

  • International Poetry Festival tahun 1971 dan 1979,
  • The Valmiki International Poetry Festival di New Delhi tahun 1985,
  • Berliner Horizonte Festival di Berlin tahun 1985,
  • The First New York Festival of The Arts tahun 1988,
  • Spoleto Festival di Melbourne,
  • Vagarth World Poetry Festival di Bhopal tahun 1989,
  • World Poetry Festival di Kuala Lumpur tahu 1992, dan
  • Tokyo Festival tahun 1995.

Sebuah karya memang dapat mengahasilkan sebuah ide yang cerdas untuk membangun keadaan sosial di negeri ini. Keadaan sosial negara ini semakin hari semakin terpuruk. Apakah sistem pemerintahannya yang salah atau masyarakatnya sendiri yang salah menjalani sistem di negeri ini.

Apabila saling menyalahkan satu sama lainnya, maka persoalan yang menyangkut kesejahteraan negeri ini tidak akan selesai. Mulailah memperbaiki diri sendiri dan mensejahterakan diri sendiri.

Mulai memperbaiki diri dengan peduli pada lingkungan sosial sekitar kita. Peduli dengan keadaan sosial di lingkungan kita dan membantu kepada orang yang memerlukan bantuan kita.

Demikian informasi mengenai puisi sosial yang dapat dipaparkan, terutama mengenai seorang sastrawan legenda Indoensia, W.S. Rendra. Semoga informasi tersebut dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda. Selamat berkarya

Speak Your Mind

*