Pulau Samalona, Pulau Kecil dengan Sejuta Pesona

Ilustrasi pulau samalonaBosan dengan rutinitas kerja Anda, liburan yang itu-itu saja, dan tempat-tempat yang sudah Anda hapal betul letaknya? Ingin sesuatu yang baru, segar, sejuk, dan belum pernah Anda kunjungi sebelumnya?

Cobalah untuk benar-benar kabur, get away. Lakukan liburan yang sesungguhnya. Nikmati sebuah liburan seru di Pulau Samalona, Makassar. Pulau kecil ini berada di wilayah Makassar, untuk menjangkaunya cukup mudah, yang Anda perlukan adalah tiket perjalanan menuju Kota Makassar dan petualangan baru pun dimulai.

Akses Jalan ke Samalona

Kota Makassar yang terkenal dengan wisata bahari memang menawarkan berjuta pesona keindahan alami, khususnya pantai. Namun, jarang orang yang tahu sebetulnya banyak sekali pulau-pulau kecil yang indah di sekitar Makassar, salah satunya Pulau Samalona.

Cara untuk sampai ke Pulau Samalona cukup mudah Anda hanya perlu menyewa perahu dari penduduk sekitar pantai Losari Makassar yang biasanya berprofesi sebagai nelayan atau jasa penyewaan perahu. Harga perahu mulai dari 300 sampai 600 ribu rupiah, pulang pergi untuk 10 orang. Namun, ingat jangan lupa tawar-menawar dengan pemilik perahu.

Waktu tempuh untuk sampai ke Pulau Samalona dari Pantai Losari sekitar setengah jam. Sepanjang perjalanan, Anda dapat menikmati hamparan laut biru terbentang luas seakan tak ada batasnya. Anda juga bisa melihat perahu-perahu nelayan yang sedang menangkap ikan.

Keindahan Samalona

Ketika tiba di pulau Samalona, Anda akan disuguhi pemandangan hamparan luas pasir putih pantai, udara sejuk nan bebas polusi, dan pemandangan alam yang masih alami. Bayangkan, air laut yang begitu bening membuat Anda tidak pernah kesulitan untuk melihat indahnya biota laut di dalam sana.

Pulau kecil ini hanya berpenghuni sekitar 16 kepala keluarga dan luasnya tidak lebih dari 100 meter persegi. Serasa memiliki pulau pribadi, bukan? Anda pun bisa menyewa baruga (rumah singgah) yang hanya sekitar 250 ribu rupiah per harinya.

Anda juga bisa menunggu keindahan matahari terbenam di pesisir pantai sambil mengitari pulau kecil itu. Rasakan lembutnya butiran-butiran pasir putih di telapak kaki sambil sesekali memungut kerang yang terseret ombak.

Belum lagi kegiatan voli pantai dan sepak bola di pasir tentu seru dan mengasyikkan. Esok harinya, Anda harus bangun pagi supaya tidak tertinggal melihat indahnya matahari terbit di pulau Samalona. Sungguh panorama yang begitu sulit untuk dilupakan.

Jangan lewatkan kesempatan untuk berenang di laut. Beningnya air laut dan perairan yang dangkal membuat Anda aman untuk berenang di sana. Bawalah kacamata selam dan alat bantu pernapasan agar Anda bisa bersnorkle ria, menyapa ikan-ikan kecil yang beraneka warna dengan terumbu karang yang masih terjaga keasliannya. Jika beruntung, Anda akan menemukan kuda laut yang cantik dan bintang laut yang indah di sana.

Pesona Pulau Samalona

Dari anjungan pantai Losari sebenarnya kita juga bisa melihat beberapa pulau di lepas pantainya yaitu pulau Kahyangan, tetapi agak lebih jauh dari pulau Kahyangan ini nanti kita bisa ketemu lagi dengan pulau yang lebih cantik seperti pulau-pulau yang ada di imajinasi kita selama ini, ,mempunyai pasir putih, pulaunya bisa dikelilingi dan ada beberapa pohon hijau kemudian ada sedikit pondok dan tentunya airnya yang jernih dengan warna biru kehijau-hijauan.

Nama pulau Samalona. Tidak tahu juga persis asal usul nama pulaunya. Pulau ini dapat ditempuh dengan menumpang speedboat dari dermaga di seberang benteng  Fort Rotterdam ataupun dari Pantai Losari dengan biaya carter sebesar 300 ribu untuk PP-nya dengan waktu tempuh lebih kurang setengah jam. Dan sepanjang perjalanan kita juga akan menjumpai banyak kapal-kapal gede yang akan bersandar di pelabuhan Ujung Pandang.

Pulaunya yang kecil ini bisa dikelilingi hanya dalam waktu beberapa menit dan sangat cocok sekali untuk para fotografer untuk mengabadikan keindahan pulau ini sambil berkeliling dengan memanfaatkan objek berupa perahu-perahu nelayan, gubuk-gubuk serta ada enceng gondok di beberapa sisi pulaunya. Sisi pulaunya sebagian besar berpasir putih kecuali di bagian belakang pulau yang berupa karang agak tajam. Untuk penggemar snorkeling atau diving, pulau ini mungkin hanya cocok untuk snorkeling karena perairannya dangkal.

Sepertinya pulau ini tadinya hanya sebagai pulau persinggahan nelayan, terbukti di pulau ini ada beberapa rumah penduduk yang bekerja sebagai nelayan. Tetapi, karena bersihnya pasir putih pantainya dan mulai bayaknya wisatawan mengunjungi pulau ini, penduduk di pulai ini mulai menyewakan kamar-kamar di rumahnya ataupun membangun kamar-kamar layaknya kamar kos.

Tetapi yang sangat disayangkan, karena masih dikelola oleh masyarakat apapun yang ada di pulau ini semuanya serba dihargai oleh warganya seperti bale-bale yang ada didekatnya rumahnya yang hanya terbuat dari susunan bambu dipaku di kayu disewakan dengan harga 30 ribu. Dan jika ingin membasuh badan dihargai 5 ribu pergayung apalagi untuk mandi yang berbak-bak pasti akan lebih mahal.

Pesona Wisata Makassar

Makassar tidak hanya terkenal dengan pulau Samalona yang cantik saja, tetapi juga masih banyak objek wisata lain yang tidak kalah cantiknya. Jika Anda sedang berlibur di Makassar, jangan lupa untuk mengunjunginya. Berikut beberapa objek wisata di Makassar.

1. Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu dibangun pada tahun 1525 oleh Sultan Gowa ke IX. Benteng ini merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang dari Asia dan Eropa. Pada tahun 1669, benteng ini dikuasai oleh VOC kemudian dihancurkan hingga terendam oleh ombak pasang. Tahun 1980-an, benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah ilmuawan.

Pada tahun 1990, benteng ini direkonstruksi sehingga tampak lebih baik. Kini, Benteng Somba Opu menjadi sebuah objek wisata bersejarah di Kota Makassar yang di dalamnya terdapat beberapa bangunan rumah adat Sulawesi Selatan yang mewakili suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Selain itu, terdapat juga sebuah meriam dengan panjang 9 m dan berat 9.500 kg serta sebuah museum yang berisi benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Gowa.

2. Fort Rotterdam

Fort Rotterdam ini awalnya dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa X dengan nama Benteng Ujung Pandang. Di dalamnya terdapat rumah panggung khas Gowa di mana Raja dan keluarganya tinggal. Pada saat Belanda menguasai are Banda dan Maluku, mereka mutuskan untuk manaklukkan Kerajaan Gowa agar armada dagang VOC dapat masuk dan merapat dengan mudah di Sulawesi. Dalam usahanya menaklukkan Gowa, Belanda menyewa pasukan dari Maluku.

Selama setahun lebih Benteng digempur, akhirnya Belanda berhasil masuk serta menghancurkan rumah Raja dan seisi Benteng. Pihak Belanda memaksa sultan Hasanuddin untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tahun 1667, dimana salah satu pasal dalam perjanjian tersebut mewajibkan Kerajaan Gowa menyerahkan Benteng kepada Belanda.

Setelah Benteng diserahkan kepada Belanda, Benteng kembali dibangun dan ditata sesuai dengan arsitektur Belanda kemudian namanya diubah menjadi Ford Rotterdam. Benteng ini kemudian digunakan sebagai pusat pemerintahan   dan penampungan rempah-rempah di Wilayah Indonesia Timur. Pada masa penjajahan Jepang, Benteng ini difungsikan sebagai pusat studi pertanian dan bahasa. Kemudian TNI dijadikan sebagai pusat komando. Dan sekarang Benteng ini menjadi pusat kebudayaan dan seni.

Di dalam Benteng ini terdapat beberapa ruang tahanan/penjara yang slaah satunya digunakan untuk menahan Pangeran Diponegoro. Selain itu, terdapat juga sebuah gereja peninggalan Belanda dan Meseum La Galigo yang menyimpan kurang lebih 4.999 koleksi.

Koleksi tersebut meliputi koleksi prasejarah, numismatik, keramik asing, sejarah, naskah, dan etnografi. Koleksi Etnografi ini terdiri dari berbagai jenis hasil teknologi, kesenian, peralatan hidup dan benda lain yang dibuat dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, da Toraja. Saat ini, selain sebagai tempat wisata bersejarah, Benteng ini juga dijadikan sebagai pusat kebudayaan Sulawesi Selatan.

3. Hutan Kota Jompi

Merupakan hutan kota yang memiliki hutan yang menarik untuk anda kunjungi. Terdapat taman burung dan taman tanaman anggrek serta kolam besar yang dugunakan sebagai penangkaran buaya. Berlokasi di Kecamatan Soreang, Kota Parepare.

4. Pulau Kodingareng Keke

Pulau ini terletak disebelah utara pulau Kodingareng Lompo, dan berjarak 14 km dari Makassar. Bentuk pulaunya memanjang timurlaut – baratdlaya, dengan luas 1 Ha. Pada sisi selatan pulau, pantainya tersusun oleh pecahan karang yang berukuran pasir hingga kerikilan, sedangkan pada sisi utara tersusun oleh pasir putih yang berukuran sedang-halus dan bentuknya berubah mengikuti musim barat dan timur. Tidak tersedia transportasi reguler menuju pulau ini, namun dapat menngunakan perahu motor carteran atau sekoci, 40 PK dengan biaya Rp. 500.000,- PP.

Tidak tercatat adanya penduduk di pulau ini, namun dalam 7 tahun terakhir ini  terdapat beberapa bangunan peristirahatan semi permanen bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau ini. Bangunan dikelola oleh seorang warga negara Belanda, dan telah menanam kembali beberapa pohon pinus. Pada sisi barat terdapat dataran penghalang yang terbentuk akibat proses sedimentasi yang tersusun atas material pecahan koral.

Ada pasang terendah, terdapat dataran yang cukup luas dibagian barat pantai. Perairan sebelah baratlaut merupakan daerah yang cukup luas dengan kedalaman kecil dari 5 meter hingga mencapai 2,5 km dari garis pantai, sedangkan di perairan sebelah timur dan selatan merupakan alur pelayaran masuk dan keluar dari pelabuhan Samudera Makassar.

Speak Your Mind

*