Ramang, Pemain Sepak Bola Legendaris

Ilustrasi pemain sepak bola legendarisMungkin tidak banyak dari Anda yang tahu sosok Ramang. Dia adalah pemain sepak bola legendaris dari Makassar. Pemain kelahiran 1928 ini pernah berjaya pada tahun 1950-an. Selain memperkuat PSM, dia juga terpilih dalam tim nasional membela merah putih.

Karir Ramang

Ramang memulai karirnya tahun 1947 dengan bergabung dalam PSM yang dulu masih bernama Makassar Voetbal Bond. Dia dilamar PSM setelah sebelumnya berhasil membukukan gol sebanyak 9 kali untuk klubnya dalam sebuah pertandingan lokal.

Sejak itu, Ramang mulai berkeliling Indonesia untuk bertanding. Karirnya makin cemerlang ketika bergabung dengan PSSI pada 1952. Berbagai negeri Asia seperti Filipina, Hongkong, Muangthai dan Malaysia disinggahi untuk memperkuat tim nasional. Kecanggihan kaki Ramang mencetak gol dibuktikan dengan hasil 19 gol Ramang dari 25 total gol kesebelasan Indonesia dalam serangkaian pertandingan tersebut.

Berkat prestasi Ramang, Indonesia diperhitungkan sebagai salah satu macan bola Asia. Bahkan satu persatu, kesebelasan Eropa pun mencoba menjajal kekuatan PSSI. Puncaknya ketika Indonesia berhasil bermain imbang 0 – 0 dengan kesebelasan Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956. Saat itu Uni Soviet  favorit juara dan akhirnya terbukti keluar sebagai peraih medali emas olimpiade.

Kehidupan Sang Legenda

Sejak dulu, sulit menggantungkan hidup dari karir olahraga di negeri ini. Banyak cerita pahit dari mantan atlit yang tersia-siakan di masa tuanya. Perjuangan mereka membela negara pada masa muda hampir tanpa bekas. Mereka tidak bisa membiayai kehidupan rumah tangganya. Bahkan sekadar menolong dirinya sendiri.

Banyak cerita atlet yang berakhir tragis. Ramang pun demikian. Sakit paru-paru yang diidapnya selama 6 tahun membuatnya tidak mampu berobat ke rumah sakit karena keterbatasan biaya. Hingga pada tanggal 26 September 1987, Ramang meninggal dalam kesederhanaan dan deraan penyakit.

Ramang, Tinggal Kenangan

Kejayaan sepak bola tanah air tinggal kenangan. Ramang pun seakan tinggal kenangan. Di sudut lapangan Karebosi, pusat kota Makassar, hanya tersisa satu patung profil Ramang. Hanya patung itulah penanda bahwa dulu ada seorang pemain sepakbola legendaris dari Makassar. Namun patung itu pun kini tergusur dengan sebuah mal baru. Janji Pemerintah Kota untuk menggantikan patung tersebut tidak terealisasi hingga kini.

Kenangan Ramang hanya tertinggal dari ungkapan “Toa Mi Ramang” yang artinya kurang lebih “Ramang sudah tua”. Ungkapan ini sering digunakan di Makassar untuk menunjukkan ketidakmampuan akibat umur yang makin lanjut. Apakah nasib PSSI pun berakhir tinggal kenangan ?

Speak Your Mind

*