Resensi Novel Non Fiksi Jasmine

Resensi novel non fiksi adalah salah satu resensi yang menghiasi rubrik resensi di media massa. Ini menjadi bukti, bahwa novel tidak harus selalu fiksi. Tapi, ada juga yang non fiksi. Artinya, ada juga novel yang berdasarkan kisah nyata. Kisah yang dipaparkan untuk dijadikan pelajaran berharga bagi pembaca. Resensi itu sendiri ditujukan untuk memberikan informasi tentang novel yang bersangkutan dengan memberikan gambaran secara berimbang baik mengenai kelebihan atau kekurangannya.

Manfaat Resensi

Resensi novel non fiksi sebenarnya menjadi iklan bagi para penulis novel non fiksi. Selain itu, juga bisa menjadi penyemangat membuat karya yang lain. Cukup banyak peresensi yang berminat untuk meresensi dan membedah novel non fiksi. Sedangkan bagi pembaca, bisa menjadi daya tarik untuk membeli novel tersebut dan membaca hingga tuntas. Dalam resensi tersebut, biasanya tidak hanya alur cerita yang ditulis, tetapi juga ada ulasan lain yang tentunya tidak terlepas dari pengetahuan sang peresensi.

Kelebihan dan kekurangan novel yang dibahas dalam resensi itu juga membuat para pembaca menjadi mengerti sisi lain dari novel itu. Terkadang kebanyakan pembaca tidak terlalu tahu tentang sisi-sisi yang tersirat dalam kisah di suatu novel. Tugas para peresensilah memberikan pengayaan ilmu pengetahuan dan informasi lebih. Dengan demikian, para pembaca menjadi mengerti tentang banyak hal. Peresensi yang berpengalaman akan banyak membandingkan isi novel satu dengan isi novel yang lain.

Bahkan kalau penulis novel yang sedang diresensi itu mempunyai beberapa karya, tidak jarang seorang peresensi akan memberikan masukan dan sedikit analisis mengenai beberapa tulisan sang penulis dalam resensi itu. Hal ini tentu saja akan membuat pembaca semakin memgenal sang penulis. Biasanya ada sesuatu yang sangat khas yang ditampilkan oelh seorang penulis dalam karya-karyanya. Kekhasan itu tidak jarang berkaitan dengan apa yang sedang dialaminya.

Hal ini juga yang membuat banyak karya itu menjadi begitu berwarna. Resensi yang memuat analisis yang sangat tajam akan menjadi sesuatu yang tidak hanya menguntungkan bagi penulis dan pembaca novel, tetapi juga bagi sang peresensi itu sendiri. Dia harus memperkaya keilmuannya dalam melihat, mengobservasi, mengalisis banyak kejadian, agar apa yang diungkapkannya bisa dijadikan sebagai satu referensi bagi banyak orang.

Peresensi yang bijaksana dan tidak banyak berpihak kepada siapa-siapa biasany mampu menampilkan khasanah resensi yang sangat kaya warna. Tulisannya akan mudah dimuat disurat kabar. Caranya memilih satu karya juga sangat teliti agar apa yang ditampilkannya dalam satu resensi itu bukan pengarahan ke karya yang kurang baik. Ia akan sangat selektif memilih satu novel atau buku yang akan dibedahnya. Ada tangung jawab moral yang tidak bisa dilupakan begitu saja bahwa resensi itu adalah iklan.

Kalau yang diresensi merupakan satu karya yang kurang baik, maka sang peresensi juga bertanggung jawab dalam menanamkan investasi dosa kepada dirinya dan orang lain. Koran atau media yang menerima resensi sebuah buku atau karya fiksi tidak jarang juga cukup selektif dalam memilih satu karya. Karya itu harus dari terbitan perusahaan tertentu atau ditulis oleh penulis tertentu. Kualitas dari buku yang diresensi harusnya memang menjadi slaah satu pertimbangan.

Contoh Resensi

Berikut ini merupakan contoh resensi novel non fiksi. Perlu diingat bahwa ada format yang tidak bisa dilupakan ketika akan menulis sebauh resensi sebauh naskah. Pertama, sebuhkan judul buku atau naskah yang diresensi. Kedua, sebuatkan nama penulisnya. Ketiga, sebutkan nama penerbit dan kapan karya itu diterbitkan. Keempat, jumlah halaman atau ketebalan buku atau karya tersebut. Selanjutnya mulai menampilkan alur, setting, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan intrinsik sebuah novel.

Lalu sertakan pesan moral dan usia pembaca yang cocok dengan karya tersebut. Sampaikan pula kelemahan dan kelebihan novel dibandingkan dengan karya sang penulis yang lain. Perkaya informasi dengan membandingkan apa yang tertulsi di novel dengan kenyataan yang ditemukan di lapangan. Kalau yang diresensi merupakan novel non fiksi, maka berikan keterangan tentang keaslian apa yang digambarkan di novel.

Bila perlu berilah referensi yang didapatkan dari keterangan seseorang yang bisa dipercaya atau keterangan yang didapatkan dari buku-buku pelajaran atau buku referensi lainnya mengenai apa yang dibicarakan dalam novel tersebut. Dengan demikian, pembaca menjadi sangat yakin bahwa apa yang dikatakan dalam novel tersebut benar-benar satu kenyataan yang tak terbantahkan. Hal ini tentunya semakin menarik dan semakin membuat pembaca penasaran.

Judul Buku   : Jasmine
Penulis         : Sholeh Gisymar
Penerbit       : Yogyakarta, Idola Qta, 2008
Tebal            : 118 Halaman

Berawal dari kesempatan berpergian ke Mesir, yang menggoreskan banyak kenangan dan pengalaman membuat Sholeh Gisymar menuliskan kisahnya. Kenangan yang diangkat dalam novel kali ini tentang perkenalan dan kedekatannya dengan seorang gadis pramuniaga yang memiliki nama Jasmine. Pengalaman itu begitu berkesan sehingga alam imajinasinya bermain-main dengan rangakaian kata-kata yang terlukis indah terajut dalam sebuah alur kisah yang menarik.

Penulis terkena panah cinta dengan gadis tersebut sehingga tak dapat melupakannya. Bukan karena kecantikan paras Jasmine yang membuat penulis terpikat. Dengan gadis itu, penulis bisa “terpikat” untuk bercanda dan menguji kebolehannya bersyair. Getar jiwa dan simpul otaknya bagaikan selalu menari dari satu pelangi ke pelangi yang lain. Ia tak mampu melepaskan diri dari jerat warna pelangi yang begitu indah.

Gaya Bahasa Mesir
Novel yang diberi judul Jasmine ini berbeda dengan novel penulis sebelumnya, Hamidah. Jika dalam Hamidah penulis mencoba mengeksplorasi romantisme, kerinduan dan gairah dengan gaya yang amat santun, dalam Jasmine batasan-batasan kesantunan itu sedikit diperlonggar. Ia mungkin merasa bahwa ada hal yang indah dalam cinta yang akan kian indah bila dilukiskan dengan sesuatu yang lebih terbuka.

Selain itu, dari segi bahasa penulis mencoba mendekatkan gaya bahasanya dengan gaya bahasa orang Mesir. Dengan kekhasan penulis yang memiliki gaya bahasa yang terkenal puitik, metaforik dan mendayu-dayu menjadi salah satu aksesoris novel ini. Berbagai penggambaran alam dan dunia seisinya semua terekam indah dalam nuansa alur kisah bagai terhanyut dalam lautan cinta yang begitu membuai.

Cinta yang Universal

Novel ini dapat dikatakan menitipkan pesan kepada siapa pun, bahwa cinta adalah bahasa universal yang tak pernah mengenal kelas sosial, batas geografis dan geopolitik. Cinta adalah bahasa jiwa. Meskipun banyak juga manusia yang mencoba mengingkari universalitas cinta dengan membuat hukum-hukum yang berdasarkan logika. Padahal, siapa pun akan sepakat menyatakan bahwa cinta tidak dapat dilogika. Cinta tak mempunyai alasan. Ketika alasan dibuat untuk cinta, hilanglah kekuatan cinta itu.

Gagasan novel Jasmine ini tidak hanya berkisah tantang perempuan cantik, tapi juga tentang adat, budaya dan keyakinan bangsa Mesir. Novel ini adalah kisah nyata, dapat diperkirakan nama dan tempat yang digunakan sebagaian besar nyata. Barangkali, jalinan kisah dan alur yang digunakan adalah imajinasi penulis.

Adat Pernikahan Mesir

Pesan moral lain yang cukup menjadi perhatian tentang betapa beratnya adat dan syarat-syarat untuk menikahi gadis Mesir. Kisah nyata ini membongkar semua itu. Di antaranya, calon suami harus menyediakan sebuah rumah, belum termasuk mahar. Alasan harus menyadiakan rumah hanyalah sebuah kekhawatiran jika si suami ternyata tidak bertanggungjawab. Rumah menjadi simbol rasa aman dan perlindungan yang dibutuhkan seorang perempuan.

Yang dapat dipetik dari novel ini tentang pemahaman berumah tangga menurut masyarakat Mesir. Kehidupan rumah tangga tidak cukup hanya bermodalkan cinta, tidak cukup juga dengan pertimbangan suami-isteri saja. Di sinilah gambaran cinta itu menjadi semakin luas. Juga meliputi kepandaian, kemauan, kerja keras dan juga harga diri.

Jika seorang laki-laki ingin menikahi anak gadis, itu berarti juga ikut menikahi seluruh keluarganya. Menurut masyarakat Mesir, menikahkan anak dengan orang asing dan dibawa ke negeri suami akan membuat terputusnya tali silaturrahim anak gadis dengan keluarganya.

Sasaran Pembaca

Novel ini cocok dibaca para pecinta yang ingin melanjutkan hubungan ke pernikahan. Pengalaman penulis yang merasakan betapa sedihnya ketika cinta tak berakhir di pernikahan menjadi pelajaran yang cukup berarti. Novel ini layak dijadikan bacaan buat siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana kehidupan dan syarat-syarat untuk menikahi wanita Mesir.

Speak Your Mind

*