Seimbangnya Kesalehan Sosial dan Kesalehan Ritual Dalam Beribadah

Ilustrasi kesalehan sosial

Di dalam masyarakat seringkali muncul penyebutan-penyebutan asing yang belum tentu jelas makna serta kebenarannya. Terkadang ada pula yang membedakan istilah saleh. Sempat juga di tengah-tengah masyarakat pernah didengungkan dua kata yang dianggap mempunyai makna yang berbeda. Kedua kata yang sempat menjadi perbicangan tersebut adalah kata kesalehan ritual dan kata kesalehan sosial.

Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial

Kata saleh seringkali muncul di kalangan pondok pesantren atau pun di kalangan masyarakat yang beragama. Saleh adalah lawan dari kata sholihah. Dua kata tersebut adalah dua kata dalam agama Islam.

Perbedaan kata saleh dan kata sholihah adalah untuk orang yand dituju. Kata salih mengacu pada jenis kelamin laki-laki dan sholihah mengacu pada jenis kelamin perempuan. Meskipun demikian penyebutan tersebut kadang kala hanya ada di kalangan masyarakat saja.

Kata yang pertama, yakni kesalehan ritual, diberi arti sebagai perilaku ayng dilakukan oleh sekelompok orang. Perilaku yang dilakukan oleh sekelompok orang tersebut semata-mata untuk beribadah.

Dengan kata lain, semua perilaku yang dilakukan oleh sekolompok orang tersebut adalah usaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Semua kegiatan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan tersebut mempunyai tujuan untuk kepentingan diri sendiri.

Contoh perbuatan yang dimaksud dengan kesalehan ritual adalah melakukan sholat lima waktu, puasa, mengerjalan semua amalan-amalan dari bangun tidur hingga orang tidur kembali. Namun, semua yang dilakukan oleh orang tersebut terlihat tidak memedulikan dengan keadaan lingkungan tempat tinggalnya ataupun sekitarnya.

Sedangkan kesalehan sosial dimaknai sebagai perilaku atau tindakan dari masyarakat yang sangat peduli dengan sifat sosial yang ada dalam nilai-nilai agama Islam.

Sifat-sifat sosial tersebut di antaranya membantu teman yang sedang kesusahan, membantu teman yang terjatuh, menjenguk teman yang sedang sakit, atau seringkali memberikan sebagian hartanya kepada orang yang tidak mampu. Jika orang pertama seringkali disebut dengan hablunminallah, maka tipe kedua ini disebut dengan hablunminannaas.

Dua jenis orang tersebut, sangat mungkin ditemui di masyarakat sekitar kita. Contohnya saja, kita sering melihat orang yang tekun beribadah, siang dan malam tanpa mengenal henti.

Orang tersebut juga sudah berkali-kali pergi naik haji dan selalu menjadi orang yang pertama pergi ke masjid. Namun, tipe tersebut terlihat cuek dengan lingkungan sekitar.

Misalnya saja, tidak peduli jika tetangga belakang rumahnya sedang menangis kelaparan, sedangkan ia telah berkali-kali naik haji. Orang seperti itu adalah orang yang terlihat melakukan hal-hal yang menjadi kewajiban di hadapan Tuhan semata.

Sebaliknya, seringkali kita melihat orang yang begitu berani mengurusi masalah umat, membantu sesama, sering mengunjungi panti asuhan, bahwa setiap bulan menyantuni fakir miskin di rumahnya.

Namun, orang tersebut terlihat tak pernah beribadah menunaikan sholat lima waktu atau pun berpuasa. Bisa dikatakan orang tersebut hanya mentingkan ibadah untuk orang banyak, tanpa mementingkan kehidupan pribadinya.

Dua gambaran mengenai dua jenis manusia di atas yang mengutakamakan kesalehan sosial atau kesalehan ritual tersebut tidak patut di contoh. Karena yang benar adalah sesuai dengan ayat “Udkhuluu fis silmi kaffah”. Ayat tersebut mempunyai arti bahwa tahu kesalehan dalam Islam secara total.

Kesalehan Nabi Muhammad Saw

Jenis kesalehan yang dilakukan oleh umat manusia seharusnya mencotoh Nabi Muhammad saw. Beliau selalu mencontohkan kepada kita hal-hal baik yang bersifat ritual atau pun sosial.

Mengenai puasa, beliau selalu mencontohkan bagaimana puasa yang baik dan benar itu. Begitu pula sikap baik kepada sesama yang selalu diperlihatkan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau adalah orang yang selalu mendoakan dan bersikap baik kepada orang lain. Berikut ini adalah contoh cerita yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw yang mengandung kesalehan ritual dan sosial.

Nabi Muhammad saw adalah orang yang dibenci oleh kaum musyrikin, meskipun begitu beliau tidak pernah membenci orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Beliau tidak marah kepada orang yang sering meludahinya.

Pada suatu masa ada seorang pengemis buta yang berada di daerah keramaian. Orang tersebut sangat membenci Nabi Muhammad saw. Setiap saat dirinya mencaki dan memaki Nabi Muhammad saw. Namun, Nabi tidak pernah membalas dengan keburukan.

Setiap hari pengemis tersebut kedatangan seorang lelaki. Kedatangan laki-laki tersebut sangat ditunggu-tunggu oleh pengemis tersebut karena lelaki tersebut akan membawakan makanan untuknya.

Selain membawakan makanan untuk sang pengemis, laki-laki tersebut selalu mengunyahkan makanan yang dibawanya, sehingga pengemis tersebut tidak merasa kesusahan untuk menelannya.

Setiap kali lelaki itu datang, pengemis itu selalu menceritakan hal-hal yang buruk tentang Nabi Muhammad saw. Laki-laki tersebut juga memaki Nabi Muhammad saw di hadapan orang yang telah memberi makan dan menyuapinya tersebut.

Kejadian tersebut berlangsung dalam waktu yang lama. Kemudian pengemis tersebut berkata kepada laki-laki, bahwa dirinya sangat baik dan jangan dekat-dekat dengan Nabi Muhammad saw karena beliau adalah orang yang tidak baik.

Setelah Nabi Muhammad saw meninggal, tugas Nabi Muhammad saw digantikan oleh Abu Bakar. Abu Bakar melakukan semua pekerjaan dan amalan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw.

Hingga suatu hari Abu Bakar bertanya kepada seseorang, amalan apa yang belum ia lakukan dan perbuatan tersebut seringkali dilakukan oleh masyarakat. Kemudian ia menjawab, memberi makan pengemis. Kemudian Abu Bakar pergi ke tempat di mana pengemis tersebut berada dan menyuapi pengemis tersebut.

Namun, pengemis tersebut malah marah-marah dan bertanya siapa dirinya dan berkata orang yang setiap hari menyuapinya bukanlah orang yang sedang menyuapinya sekarang ini karena orang yang biasa menyuapinya akan mengunyahkan makanan hingga menjadi lembut dan akan menyuapinya dengan sabar dan berhati-hati.

Kemudian Abu Bakar menangis dan berkata orang yang telah menyuapimu selama ini adalah Nabi Muhammad saw, orang yang telah kau hina dan kau maki selama ini dan Nabi Muhammad saw sekarang sudah meninggal.

Begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Bakar, pengemis tersebut lantas menangis. Ternyata begitu mulianya hati Nabi Muhammad saw. Meskipun tiap hari pengemis maki, namun tidak pernah berhenti menyuapinya dengan sabar setiap hari.

Maka dari itu, kita sebagai manusia, tidak hanya melakukan aktivitas yang berkaitan dengan ritual, namun juga diseimbangkan dengan sosial. Contoh saleh yang bersifat sosial yang dapat kita lakukan sehari-hari adalah membantu teman kita yang sedang kesusahan atau membantu menyeberangkan anak kecil di jalan raya.

Semua perbuatan tersebut harus dilakukan tanpa pamrih. Selain itu, kita juga tidak boleh lupa melakukan amalan seperti salat dan berpuasa. Manusia yang berhasil adalah manusia yang dapat hidup seimbang. Ia rajin beribadah kepada Allah, namun ia juga rajin untuk membantu sesama.

Dengan melakukan perbuatan tersebut, maka hidup pun akan menjadi tentram, damai, dan sejahtera karena tidak mempunyai masalah dengan tetangga dan terus menjalankan perintah Agama secara ikhlas dan terus menerus.

Demikian sedikit uraian mengenai kesalehan ritual dan kesalehan sosial yang harus seimbang. Semoga uraian tersebut bermanfaat dan menjadikan pribadi kita yang soleh dan solehah.

Speak Your Mind

*